NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 25 Saat Takdir Mulai Mendekat

Langit malam mulai sepi ketika Arum pulang dengan langkah ringan dan senyum yang belum hilang dari wajahnya. Tangannya masih sesekali menyentuh cincin pemberian Ravin sambil menahan malu sendiri mengingat kejadian di bukit tadi.

Jantungnya terasa hangat.

Untuk pertama kalinya…

ia merasa perasaannya terbalas.

Namun begitu sampai di depan rumah, langkah Arum perlahan berhenti.

Suara pertengkaran terdengar jelas dari dalam.

“Aku tidak setuju!”

Suara ibunya terdengar penuh emosi sampai bergetar.

Arum langsung terdiam di depan pintu.

“Apa tidak ada cara lain selain menjadikan Arum cenayang?!”

Napas Arum tertahan.

Di dalam rumah, ayahnya terdengar menghela napas berat.

“Ini demi keselamatan Arum sendiri.”

“Keselamatan apa?!” suara ibunya mulai pecah menahan tangis. “Kau tahu kehidupan cenayang seperti apa!”

Arum perlahan menurunkan tangannya dari pintu.

Tubuhnya mulai terasa dingin.

“Aku tidak mau putriku hidup sendirian…” suara ibunya semakin lirih. “Menghabiskan hidup hanya membaca takdir orang lain…”

“Tidak ada pilihan lain.”

Nada suara ayahnya terdengar berat penuh keterpaksaan.

“Kalau Arum tetap berada dekat istana tanpa perlindungan…”

Pria itu berhenti beberapa detik seolah sulit melanjutkan.

“…dia akan berada dalam bahaya.”

Mata Arum langsung membesar pelan.

“Bahaya?”

Di dalam rumah, ibunya menangis pelan.

“Aku lebih rela kehilangan jabatan daripada kehilangan anakku…”

Ayahnya memejamkan mata lelah.

“Aku juga ayahnya.”

Suasana rumah terasa sesak penuh tekanan.

“Aku melakukan ini justru karena ingin Arum tetap hidup.”

Kalimat itu membuat dada Arum terasa sakit.

Tangannya perlahan mengepal kecil di sisi tubuhnya.

Selama ini…

orang tuanya ternyata menyembunyikan sesuatu darinya.

Dan semuanya berkaitan dengan dirinya.

Arum menundukkan kepala pelan.

Senyum bahagia yang tadi memenuhi wajahnya perlahan hilang.

Ia tidak jadi masuk ke rumah.

Hanya berdiri diam di luar dengan mata yang mulai memerah menahan sedih.

Sementara itu di kediaman selir Ratih, suasana makan malam mendadak berubah aneh.

Ravin yang sedang makan bersama beberapa pelayan langsung mengernyit saat melihat ibunya baru saja pulang namun terburu-buru masuk ke kamar lalu keluar lagi dengan wajah dingin.

“Ibu?”

Ratih bahkan hampir tidak menjawab.

Wanita itu berjalan cepat menuju pintu keluar.

Ravin langsung berdiri.

“Ada apa?”

Namun selir Ratih hanya berkata singkat—

“Ibu harus pergi.”

Dan langsung meninggalkan rumah.

Tatapan Ravin berubah bingung.

Ia belum pernah melihat ibunya terlihat semarah itu.

Di sisi lain istana, pintu ruang pribadi raja terbuka keras.

Raja langsung menoleh terkejut saat melihat Ratih masuk dengan wajah dingin penuh kemarahan yang jarang sekali terlihat.

“Ratih—”

“Aku dengar semuanya.”

Suasana ruangan langsung menegang.

Raja perlahan berdiri dari kursinya.

“Tenangkan dirimu dulu.”

Namun Ratih tidak bergerak sedikit pun.

Tatapannya tajam penuh luka dan amarah tertahan.

“Berani sekali kalian menyentuh Aruna lagi.”

Raja langsung diam.

Ratih menggenggam sesuatu erat di tangannya.

Tusuk konde bulan terakhir miliknya.

Perhiasan kesayangan yang dulu selalu dipakainya saat masih menjadi ratu.

Cahaya lilin memantulkan kilau perak konde itu.

“Aku sudah diam selama bertahun-tahun.”

Suara Ratih mulai bergetar.

“Aku rela turun tahta.”

Tatapannya mulai memerah menahan emosi.

“Aku rela hidup sebagai selir…”

“Ratih…”

“Aku bahkan tetap tinggal di istana demi dirimu.”

Kalimat itu membuat raja membeku.

Ratih melangkah mendekat perlahan.

“Tapi kalau ada yang mencoba menjadikan Aruna tameng pondasi…”

Tangannya menggenggam konde itu semakin kuat.

“…aku tidak akan diam.”

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, raja benar-benar melihat kemarahan Ratih sebagai seorang ibu.

Bukan lagi wanita lembut yang selalu mengalah.

Bukan lagi mantan ratu yang memilih diam demi kerajaan.

Melainkan seorang ibu yang siap melakukan apa saja demi anaknya.

“Aruna adalah anakku.”

Suara Ratih terdengar rendah namun penuh tekanan.

“Kalau kau tidak bisa melindunginya sebagai ayah…”

Tatapannya langsung menusuk mata raja.

“…maka aku yang akan melindunginya.”

Raja perlahan mengepalkan tangannya.

“Tidak ada yang akan menyakiti Aruna.”

“Lalu kenapa ritual itu masih dibicarakan?!”

Ratih hampir menangis kali ini.

“Kenapa takdir buruk itu terus mengejar anakku?!”

Ruangan menjadi sunyi.

Ratih memejamkan mata beberapa detik sebelum berkata lirih penuh luka—

“Aku sudah kehilangan mahkotaku…”

Air matanya akhirnya jatuh.

“…aku tidak akan kehilangan anakku juga.”

Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Malam semakin larut ketika Selir Ratih berjalan keluar dari paviliun utama istana. Langkahnya tetap tegak dan anggun meski matanya masih memerah setelah perdebatan dengan raja.

Angin malam meniup lembut rambutnya.

Ratih mengusap cepat air mata di sudut matanya sebelum siapa pun melihat kelemahannya.

Namun baru beberapa langkah berjalan…

ia bertemu dengan Ratu Shima yang datang diiringi beberapa pelayan dan dayang kerajaan.

Gaun kebesaran Ratu Shima berkilau di bawah cahaya lampion istana. Wanita itu tersenyum tipis begitu melihat Ratih.

“Sudah larut malam,” ucap Shima lembut penuh kepura-puraan. “Apa yang dilakukan adikku di sini?”

Ratih berhenti berjalan.

Tatapannya langsung berubah dingin.

Meski status mereka sekarang berbeda…

aura mantan ratu dalam diri Ratih masih begitu kuat sampai para pelayan di belakang Shima ikut menunduk gugup.

“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu.”

Shima masih mempertahankan senyum tipisnya.

“Aku hanya khawatir.”

Ratih tertawa kecil sinis.

“Khawatir?”

Tatapannya perlahan turun melihat mahkota kecil di kepala Shima.

“Tenang saja.”

Nada suaranya mulai menusuk.

“Aku tidak tertarik merebut apa pun milikmu.”

Senyum Shima perlahan memudar.

Ratih melanjutkan pelan namun tajam—

“Lagipula… kau sudah mendapatkan semuanya dengan merebut milik orang lain.”

Wajah Shima langsung menegang.

Para pelayan bahkan menunduk semakin dalam ketakutan.

Untuk sesaat suasana lorong istana terasa begitu dingin.

Ratih menatap Shima lurus tanpa rasa takut sedikit pun.

“Jadi tak perlu cemas.”

Setelah itu Ratih berjalan melewati Shima begitu saja dengan kepala tegak dan langkah anggun penuh harga diri.

Sementara Shima berdiri diam dengan tangan mengepal di balik lengan bajunya.

Tatapannya berubah dingin dipenuhi amarah.

“Ratih…” bisiknya lirih penuh kebencian lama yang belum pernah hilang.

Di sisi lain istana, suasana kamar Ajeng jauh lebih sunyi.

Ajeng duduk di depan meja kecil sambil fokus menyulam kain halus berwarna putih. Jemarinya bergerak hati-hati membentuk nama—Yudra.

Pelayan di sampingnya tersenyum kagum.

“Sulaman nona sangat indah.”

Ajeng tersenyum kecil malu.

“Yang Mulia Putra Mahkota pasti akan menyukainya,” lanjut pelayan lain penuh semangat.

Namun senyum Ajeng perlahan memudar.

Tangannya berhenti bergerak.

“Aku rasa… tidak.”

Pelayan langsung saling menatap bingung.

Ajeng menundukkan kepala pelan.

“Putra Mahkota tidak pernah benar-benar tersenyum padaku.”

Nada suaranya terdengar kecil dan sedih.

“Beliau hanya menjalankan kewajibannya.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Ajeng memandang nama Yudra yang sedang disulamnya dengan mata berkaca-kaca kecil.

“Aku mencintainya…”

Suaranya hampir seperti bisikan.

“Tapi sepertinya… cintaku cuma bertepuk sebelah tangan.”

Untuk pertama kalinya Ajeng mulai menyadari—

menjadi calon putri mahkota tidak berarti mendapatkan hati pria yang dicintainya.

Sementara itu di kediaman Selir Ratih, Ravin berdiri gelisah di depan rumah sambil sesekali melihat jalan luar.

Angin malam terasa dingin namun ia tetap menunggu.

Begitu melihat sosok ibunya kembali dari kejauhan, wajah Ravin langsung berubah lega.

“Ibu!”

Ratih sedikit terkejut melihat putranya masih berada di luar.

“Kau belum tidur?”

Ravin langsung mendekat.

“Aku khawatir.”

Tatapan Ratih perlahan melembut.

Namun ia cepat menyembunyikan emosinya dan kembali terlihat tenang di depan putranya.

“Masuklah.” Ratih mengusap pelan lengan Ravin. “Di luar dingin.”

Namun Ravin tidak bergerak.

Tatapannya penuh curiga dan khawatir.

“Ada apa sebenarnya?”

Ratih diam sesaat.

“Aku melihat ibu pergi dengan wajah marah.”

Ravin menatap ibunya lebih dalam.

“Apakah seseorang mengganggu ibu?”

Hati Ratih terasa sesak mendengar itu.

Karena justru putranya lah yang sedang terancam.

Namun wanita itu tetap memaksakan senyum kecil.

“Tidak terjadi apa-apa.”

Ravin jelas tidak percaya.

“Ibu…”

Ratih akhirnya mengangkat tangan dan menyentuh wajah putranya pelan seperti saat Aruna masih kecil dulu.

Tatapannya dipenuhi kasih sayang sekaligus kesedihan mendalam.

“Dengarkan ibu baik-baik.”

Nada suaranya berubah lembut.

“Apa pun yang terjadi nanti…”

Ravin langsung mengernyit.

Ratih menahan emosinya kuat-kuat.

“…ibu akan selalu melindungimu.”

Suasana malam mendadak terasa berat.

Ravin memandang ibunya bingung.

Namun jauh di dalam hati Ratih…

ia mulai merasa waktu untuk melindungi putranya semakin sedikit.

Pagi itu pasar desa sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Suara pedagang saling menawarkan dagangan bercampur aroma roti hangat, rempah-rempah, dan makanan pagi memenuhi jalanan.

Arum berjalan sambil membawa keranjang kecil berisi beberapa bahan makanan. Sesekali ia berhenti membeli jajanan favorit ibunya sambil tersenyum kecil sendiri mengingat kejadian semalam bersama Ravin.

Namun tak lama kemudian…

langkahnya perlahan melambat.

Ada seseorang yang terus mengikutinya sejak tadi.

Arum mulai menoleh pelan ke belakang.

Seorang pria berpakaian pengawal berjalan beberapa meter di belakangnya dengan wajah tertutup sebagian kain hitam.

Jantung Arum langsung berdegup cepat.

Begitu pria itu mempercepat langkah—

Arum langsung panik dan berlari kecil melewati kerumunan pasar.

“Hei! Tunggu!”

Suara pria itu terdengar dari belakang.

“Jangan ikuti aku!” Arum makin panik sambil memeluk keranjangnya erat.

Namun tiba-tiba seseorang menarik pelan lengannya di gang kecil samping pasar.

Arum langsung membelalak kaget.

“Arum, ini aku.”

Suara itu membuat Arum membeku.

Pria di depannya perlahan membuka penutup wajahnya.

Dan Arum langsung terkejut.

“P-Putra Mahkota?!”

Yudra cepat menutup mulut Arum pelan sebelum gadis itu berteriak lebih keras.

“Ssst.”

Arum benar-benar panik sekarang.

Tatapannya langsung melihat pakaian sederhana yang dipakai Yudra.

“Kenapa Yang Mulia ada di sini?!” bisiknya cepat. “Kalau ketahuan bisa jadi masalah besar!”

Yudra justru terlihat tenang.

Ia memakai pakaian pengawal milik pengawal setianya agar bisa keluar diam-diam dari istana.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Arum makin pucat mendengar itu.

“Tidak boleh!” Arum buru-buru mundur. “Yang Mulia akan menikah dengan Ajeng.”

Nama adiknya membuat Arum semakin merasa bersalah hanya karena berdiri di dekat Yudra sekarang.

Namun Yudra malah melangkah mendekat sedikit.

“Aku datang untuk menagih janji.”

Arum langsung bingung.

“Janji?”

Tatapan Yudra perlahan berubah lebih lembut mengingat masa kecil mereka.

“Dulu kau pernah bilang akan membuatkan kalung namaku.”

Arum langsung terdiam.

Ingatan lama itu perlahan muncul di kepalanya.

Saat kecil dulu mereka sering belajar bersama di istana, dan Arum pernah berjanji akan membuat kalung sederhana bertuliskan nama Yudra sebagai hadiah.

Namun itu dulu.

Sebelum semuanya berubah.

Sebelum Yudra menjadi putra mahkota.

Dan sebelum Ajeng dipilih menjadi calon putri mahkota.

Arum langsung menggeleng cepat.

“Itu cuma ucapan masa kecil.”

“Aku masih mengingatnya.”

Suasana gang kecil itu mendadak terasa sunyi di tengah hiruk-pikuk pasar luar.

Arum menunduk gelisah.

“Situasinya berbeda sekarang, Yang Mulia.”

“Apa bedanya?”

Arum langsung menatap Yudra tidak percaya.

“Banyak!”

Nada suaranya mulai panik.

“Yang Mulia akan menikah dengan Ajeng. Kalau ada orang melihat kita seperti ini, aku dan keluargaku bisa kena masalah.”

Yudra sedikit menegang mendengar itu.

Namun Arum melanjutkan pelan dengan mata penuh kecemasan—

“Aku tidak ingin menyakiti adikku.”

Kalimat itu membuat Yudra perlahan diam.

Untuk pertama kalinya ia sadar…

bahkan berada dekat dengannya sekarang bisa menjadi beban bagi Arum.

Arum menggenggam keranjangnya erat.

“Jadi tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi.”

Tatapannya terlihat sedih sekaligus takut.

Namun Yudra justru memandang Arum lebih dalam.

Karena semakin Arum menjaga jarak…

semakin besar keinginannya untuk tetap mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!