Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : PERJAMUAN BERDARAH DI LANTAI PENJARA
Vanya, perlahan mulai mencoba "move on" dari bayang-bayang Reyhan. Walaupun di lubuh hatinya yang dalam dia tidak mudah melupakan saat kebersamaannya dengan Reyhan, Reyhan sepertinya seakan yelah menyuntikkan "virus" kenangan manis bersama Vanya.
Derian yang saat itu bersamanya mencoba untuk menghibur dan "menjadi pahlawan" bagi vanya menerima notifikasi pesan singkat.
"Tuan hari ini.. Eksekusi target akan dilakukan, japra dan kawannya telah bersiap..!"
notifikasi dari penjara sana.
"Bagus, biar si koceo itu hilang selamanya dari kehidupan vanya, atau setidaknya dia terus membusuk dipenjara..!!" rutuk Derian dalam batinnya.
Konspirasi di Balik Meja Makan
Sementara itu, di balik tembok tinggi penjara yang angker, pengap, dan terisolasi dari peradaban manusia, jam makan siang adalah waktu yang paling dinantikan sekaligus momen yang paling mematikan bagi para pendosa. Aula makan yang luas nampak penuh sesak oleh ratusan narapidana. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat busuk, dipenuhi aroma nasi keras, keringat berlebih, dan sayur hambar yang hampir basi.
Reyhan duduk di ujung bangku kayu yang panjang, sendirian, terasing dari kerumunan. Wajah tampannya yang masih menyisakan memar kebiruan tetap nampak tenang, datar, dan angku. Punggungnya tegak lurus menantang dunia, meskipun ia tahu dengan sangat pasti bahwa saat ini ada puluhan pasang mata penuh kebencian yang sedang mengincar nyawanya dari kegelapan.
Japra, preman kurus dengan tato kalajengking di lehernya dan tatapan mata yang licik, berjalan mendekat dengan langkah yang disengaja. Di belakangnya, beberapa anak buah bertubuh kekar mengiringi. Tak ketinggalan, Bruno dan Acil ikut berjalan di dalam barisan itu dengan wajah dingin yang garang.
Japra merasa berada di puncak dunia hari ini. Ia merasa sangat bangga dan besar kepala karena berhasil membawa "singa penguasa jalanan" sekelas Bruno ke dalam kelompok kecilnya untuk mengeksekusi tahanan baru. Preman kelas teri itu sama sekali tidak tahu, bahwa Bruno hanyalah seekor naga raksasa yang sedang menyamar menjadi anjing pelacak demi melindungi tuannya.
Bruno menarik kursi kayu dengan kasar, lalu duduk tepat di hadapan Reyhan. Matanya menatap tajam menembus manik mata pria di depannya, namun jauh di dalam kilat matanya, ada getaran rasa hormat dan kepatuhan yang mutlak.
"Halo, warga baru yang sombong," ucap Bruno dengan suara parau yang berat, getarannya seolah mampu menggetarkan meja kayu di antara mereka. Sembari berbicara, Bruno memberikan sebuah isyarat kecil—kedipan pendek dengan pola khusus yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Kode rahasia yang bermakna: Maaf Tuan Muda, saya terlambat masuk.
Reyhan mendongak pelan, menatap Bruno dengan santai. Sudut bibirnya yang robek perlahan menyunggingkan sebuah senyum tipis yang nyaris tak kasat mata oleh orang lain. "Hmm... Bruno. Ternyata kamu."
Japra yang berdiri di samping meja merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia tidak terima melihat seorang tahanan baru kasus pembegalan berani berbicara dengan nada sesantai dan sedatar itu kepada Bruno yang ia takuti. Terlebih lagi, Japra ingin memamerkan kekuatannya di depan seorang oknum petugas sipir bayaran Derian yang saat ini sedang berdiri mengawasi dari sudut ruangan dengan tangan memegang tongkat pemukul.
"Heh, Gembel sialan! Yang sopan mulut lo kalau ngomong sama Bang Bruno!" gertak Japra dengan suara melengking. Wajahnya mengeras penuh amarah yang dibuat-buat. Pria kurus itu kemudian meraih sebuah gelas plastik berisi air teh kental yang dingin dan pekat dari atas meja, berniat untuk mengguyurkannya tepat ke atas kepala Reyhan demi menghancurkan martabat pria itu di depan umum.
Namun, sebelum air teh itu sempat menyentuh sehelai rambut pun, Reyhan bergerak. Gerakannya begitu cepat, sebuah refleks militer yang luar biasa presisi. Dengan satu tepisan ringan namun mengandung tenaga dalam yang masif, pergelangan tangan Japra terdorong kuat ke arah samping.
BYUUURRR!
Air teh kental dan dingin itu justru muncrat dengan telak, membasahi seluruh permukaan wajah garang milik Bruno.
Seketika itu juga, aula makan yang tadinya bising berubah menjadi sunyi senyap seolah-olah waktu dihentikan paksa. Suara denting sendok plastik yang jatuh ke lantai semen terdengar begitu jelas dan nyaring. Japra membelalakkan matanya dengan sempurna, wajahnya mendadak pucat pasi bagai mayat, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat menyadari bencana besar apa yang baru saja ia perbuat.
Thriller dalam Keheningan
Bruno tidak langsung berteriak. Ia justru mengusap sisa air teh yang mengalir di wajahnya dengan gerakan yang sangat perlahan menggunakan telapak tangan besarnya. Gerakan lambat itu justru terasa ribuan kali lebih menakutkan dan mengintimidasi daripada sebuah teriakan kemarahan yang meledak-ledak. Ini adalah skenario tingkat tinggi yang sudah ia susun bersama Acil sejak malam kemarin di dalam sel selasar.
"Bajingan... cari mati lo di sini? Berani-beraninya lo siram muka gue?!" raung Bruno tiba-tiba dengan suara yang menggelegar dahsyat, menggetarkan seisi aula makan dan meruntuhkan mental siapa pun yang mendengarnya.
"Nggak... Bang Bruno... sumpah demi tuhan nggak sengaja, Bang! Tadi si gembel supir ini yang menangkis tangan saya, Bang—"
BUGH!
Tanpa memberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, satu pukulan mentah, keras, dan bertenaga penuh dari tangan kekar Bruno mendarat telak di rahang bawah Japra. Suara gemertak tulang yang beradu terdengar mengerikan. Tubuh kurus Japra seketika terjungkal ke belakang, menghantam dan melewati meja makan hingga terkapar di lantai.
Anak buah Japra yang berada di lokasi, yang tidak tahu apa-apa mengenai rencana terselubung ini, langsung tersulut emosinya. Didorong oleh rasa kesetiakawanan yang bodoh dan buta, mereka segera bangkit dan merangsek maju untuk mengeroyok Bruno.
Keributan massal pun pecah tak terkendali di dalam aula makan. Kursi-kursi kayu beterbangan di udara, piring-piring aluminium berdentang keras menghantam lantai. Acil dengan sigap langsung merangsek masuk ke tengah-tengah kerumunan massa yang mengamuk, menghalau dan menjatuhkan setiap anak buah Japra yang mencoba mendekati posisi Bruno dengan teknik bela diri jalanan yang sangat efisien dan mematikan.
Di tengah-tengah hiruk-pikuk kekacauan berdarah itu, Reyhan tetap duduk dengan tenang di atas bangkunya. Ia tidak bergeser satu sentimeter pun. Dengan gerakan yang sangat elegan, ia kembali menyuap sesendok nasi keras ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan santai seolah-olah perkelahian brutal yang menumpahkan darah di depannya hanyalah sebuah tontonan televisi kelas dua yang membosankan.
Dari kejauhan koridor, seorang oknum petugas sipir—pria paruh baya berwajah kejam yang merupakan orang bayaran Derian—berlari kencang mendekati kerumunan dengan tongkat pemukul besi di tangannya. Sorot matanya dipenuhi kilat pembunuh; ia berniat memanfaatkan momentum kerusuhan massal ini sebagai alasan legal untuk menghabisi nyawa Reyhan atau membuatnya cacat total atas dalih mengamankan situasi.
"Hentikan semuanya! Tiarap di lantai!" teriak oknum polisi penjara itu dengan lantang, namun fokus pandangannya sama sekali tidak tertuju pada para pelaku tawuran, melainkan hanya terkunci pada tempurung kepala Reyhan.
Reyhan melirik sekilas melalui sudut matanya. Menyadari pergerakan sang eksekutor, ia memberikan sebuah kode kedipan mata yang tajam kepada Bruno yang sedang bergulat di dekatnya. Sebuah perintah mutlak tanpa kata untuk mengeksekusi rencana yang lebih gelap dan berdarah.
Saat oknum sipir bayaran itu sudah berada di dalam jarak jangkau yang ideal, Bruno melakukan manuver yang sangat cepat, rapi, dan terencana dengan matang. Di tengah hiruk-pikuk tubuh para narapidana yang saling hantam, Bruno menusukkan sebilah sikat gigi plastik yang bagian gagangnya telah diasah selama berhari-hari hingga setajam belati militer tepat ke arah pinggang bagian belakang oknum tersebut. Gerakannya begitu halus, tersembunyi dengan sempurna di balik bayangan tubuh tahanan lain yang sedang bergulingan di lantai semen.
"Aaargh!"
Oknum sipir itu menjerit kesakitan yang teramat sangat. Tubuh berseragam birunya seketika terkapar di atas lantai yang kotor, darah segar berwarna merah pekat mulai merembes dengan cepat, membasahi pakaian dan lantai semen penjara.
Sebelum kesadaran orang-orang di sekitar kembali dari kepanikan, Bruno dengan gerakan kilat menarik paksa tangan Japra yang saat itu sedang terkapar pingsan akibat pukulannya tadi. Dengan kasar, Bruno menjejalkan gagang sikat gigi berlumuran darah itu ke dalam genggaman jemari Japra yang lemas, memposisikan tubuh preman itu sedemikian rupa seolah-olah dialah sang penusuk utama yang kedapatan memegang senjata tajam.
Senyum Dingin Sang Penguasa
Detik berikutnya, bel tanda bahaya penjara meraung-raung dengan sangat nyaring di seluruh penjuru gedung. Puluhan petugas sipir lainnya dengan persenjataan lengkap dan tameng huru-hara merangsek masuk ke dalam aula. Beberapa tembakan gas air mata dilepaskan ke udara, menciptakan kabut putih yang perih dan menyesakkan dada. Semua narapidana yang berada di aula makan dipaksa untuk tiarap dengan tangan di atas kepala, termasuk Bruno, Acil, dan sisa komplotan Japra.
Sementara itu, si oknum petugas sipir bayaran Derian yang kini bersimbah darah di lantai, dengan sisa-sisa tenaganya yang kian menipis, menunjuk-nunjuk lemah ke arah tubuh Japra yang berada di dekatnya sebelum akhirnya matanya mendelik dan ia kehilangan kesadaran total akibat pendarahan hebat.
"Japra... berani-beraninya lo main-main dan menusuk petugas dari belakang, hah?!" teriak salah seorang komandan sipir yang baru datang, langsung salah paham melihat senjata tajam di tangan Japra.
"Japra... makanya jangan main-main lo sama gue di sini," gumam Bruno dengan suara rendah yang penuh kepuasan, pura-pura meringis kesakitan sambil tiarap tepat di samping tubuh Japra yang mulai siuman dan nampak kebingungan luar biasa melihat tangannya sendiri memegang senjata berdarah.
Petugas dengan kasar menjambak dan menyeret tubuh Japra yang masih setengah sadar menuju ke dalam ruang isolasi bawah tanah yang gelap. Fokus perhatian seluruh otoritas penjara sore itu langsung teralihkan sepenuhnya pada kasus penyerangan petugas, membersihkan area Blok B dari ancaman.
Bruno perlahan menolehkan kepalanya di antara kabut tipis gas air mata yang mulai menguap, menatap ke arah Reyhan yang masih duduk tegak di posisinya dengan mata yang sama sekali tidak berair akibat gas. Bruno memberikan sebuah kode jempol pendek yang disembunyikan di balik lengannya—sebuah tanda konfirmasi bahwa "hama" berbahaya yang dikirim oleh Derian untuk menyiksa Reyhan kini telah disingkirkan dari papan catur untuk selama-lamanya dengan cara yang bersih.
Reyhan berdiri dari bangku kayunya dengan sangat perlahan. Ia mendongakkan wajah tampannya, menatap lurus ke arah lensa kamera CCTV yang terpasang di sudut langit-langit aula makan, seolah-olah ia tahu dengan sangat pasti bahwa di balik layar monitor di suatu tempat yang jauh, Derian atau antek-anteknya mungkin sedang mengawasinya dengan cemas.
Reyhan menyunggingkan sebuah senyum dingin—sebuah senyum manipulatif yang penuh dengan intimidasi murni, sarat akan pesan bahwa kekuasaan sejati tidak akan pernah bisa dikurung oleh jeruji besi setebal apa pun.
Japra yang sempat melirik ke belakang sebelum tubuhnya diseret keluar pintu aula, seketika merasakan seluruh bulu kuduk di tubuhnya berdiri tegak karena rasa takut yang teramat sangat. Di detik-detik terakhirnya sebelum mendekam di sel isolasi, preman itu baru menyadari satu hal yang sudah sangat terlambat: pria bernama Reyhan itu bukanlah seorang supir gembel yang tidak berdaya. Reyhan adalah pusat dari pusaran badai kehancuran ini, dan siapa pun yang berani mencoba menyentuh atau mengusiknya, akan berakhir menjadi tumbal tak bernyawa.
Jauh di belahan kota yang lain, di dalam kamarnya yang ber-AC dan dipenuhi interior mewah, Vanya Hutama sedang berdiri di depan cermin raksasa. Ia sedang mencoba sebuah gaun formal baru yang akan ia kenakan untuk menghadiri persidangan lanjutan lusa nanti bersama Derian yang setia mendampinginya di samping. Vanya tertawa kecil, wajahnya nampak merona mendengar lelucon romantis yang dilontarkan oleh Derian, sama sekali tidak memiliki petunjuk apa pun bahwa di dalam penjara yang kotor, sebuah perang berdarah baru saja dimenangkan dengan mutlak oleh pria yang selalu ia panggil dengan sebutan "kecoa kotor".
Vanya tidak pernah menyadari, bahwa saat persidangan digelar lusa nanti, bukan wajah memohon ampun dari seorang penjahat yang akan ia temui, melainkan senyuman dingin penuh kuasa dari sang naga Dirgantara yang akan menyambut seluruh rangkaian kesaksian palsunya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan