Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tatapan Sang Penguasa Busur dan Lahirnya Sang Pemburu
Dari sudut pandang Riveria Ljos Alf, dunia selalu memiliki aturan yang pasti.
Sihir membutuhkan rapalan (chant). Monster mati jika batu sihirnya dihancurkan. Dan kekuatan mutlak di dunia ini murni berasal dari rahmat para Dewa—sebuah Falna yang diukir di punggung dengan setetes darah ilahi.
Namun, di tengah neraka es Lantai 60, Riveria menyaksikan bagaimana seluruh aturan absolut itu hancur berkeping-keping.
"Rea Laevateinn!"
Riveria melepaskan sihir api terkuatnya. Pilar lautan api merah menyapu separuh gua gletser, menelan belasan anggota sekte Evilus yang bermutasi. Panasnya menguapkan es menjadi kabut tebal, namun saat kabut itu menipis, pemandangan yang tersaji membuat mata zamrud sang High Elf melebar ngeri.
Mereka tidak mati.
Dari tumpukan abu dan tulang yang hangus, sulur-sulur akar berwarna daging kembali merajut ke atas. Sel-sel membelah diri dengan kecepatan yang menyalahi hukum alam. Abundance—kutukan kehidupan tanpa batas itu tertawa di atas kobaran api sihirnya.
Di garis depan, Finn Deimne mulai terdesak. Sang Braver telah mengaktifkan Hell Fine, mengubah akal sehatnya menjadi insting tempur murni. Rambut emasnya kotor oleh darah ungu. Tombak Tir na Nog miliknya bergerak seperti badai, memotong setiap sulur dan anggota tubuh monster yang mendekat.
Namun, sekuat apa pun Finn menebas, jumlah mereka tidak berkurang. Pendeta raksasa Evilus yang telah menyatu dengan akar Dungeon terus memancarkan gelombang penyembuhan yang menjijikkan.
Kita akan kalah, pikir Riveria, keputusasaan mulai merayap di dadanya. Stamina fana tidak bisa mengalahkan keabadian.
Lalu, sesuatu terjadi pada Finn.
Di tengah kepungan puluhan monster akar, kapten ras Pallum itu mendadak berhenti bergerak. Ia tidak menangkis serangan gada duri yang mengarah ke kepalanya. Ia hanya berdiri mematung, menatap lurus menembus kerumunan monster, tepat ke arah jantung sang Pendeta Evilus.
Mata biru Finn yang biasanya jernih kini kosong, namun di kedalaman pupilnya, Riveria tidak melihat keputusasaan. Ia melihat... obsesi absolut. Sebuah tekad murni, setajam pisau bedah, yang melucuti segala bentuk emosi manusia—ketakutan, kelelahan, bahkan keraguan.
Hanya ada satu perintah di dalam kepala Finn saat itu: Buru anomali ini. Hapus eksistensinya hingga ke akar alam semesta.
Pada detik itu, udara di Lantai 60 berhenti mengalir.
Bukan kiasan. Suara raungan monster, gemeretak es, bahkan suara napas Riveria sendiri... semuanya lenyap terhisap oleh sebuah tekanan tak kasatmata. Gravitasi terasa bergeser.
Di punggung Finn, melampaui zirah dan seragamnya, Riveria sebagai seorang penyihir tingkat tinggi bisa melihat Falna berlogo Loki mendadak bersinar panas. Namun cahayanya bukan merah atau emas seperti biasa, melainkan cahaya cyan—biru kehijauan sedingin bintang mati.
Krek... Krek...
Hukum realitas di sekitar tubuh kecil Finn mulai retak, menciptakan patahan-patahan dimensi di udara seperti cermin pecah. Dari celah retakan itu, memancar energi yang sama sekali berbeda dari Mind (Mana) atau sihir fana. Energi itu purba, kejam, dan memiliki kesadaran.
Riveria menahan napasnya, jantungnya serasa berhenti berdetak. Ingatannya kembali pada naskah laknat yang dibawakan Asfi.
"Mereka adalah ujung tombak dari Familia Lan. Sang Aeon Pemburu (The Hunt). Falna dari Lan tidak memberikan sihir penyembuh atau ketahanan fisik. Falna ini membakar jiwa pemakainya, memberikan kecepatan absolut dan ketajaman yang mampu membelah dimensi."
"T-tidak mungkin..." bisik Riveria, tongkat sihirnya nyaris terlepas dari genggaman. "Itu hanya fiksi. Dewa itu tidak nyata!"
Namun alam semesta menjawab keputusasaan Finn. Keyakinan ribuan petualang di Orario yang telah membaca buku Anonym, ditambah dengan resonansi jiwa Finn yang murni mencari pemusnahan musuh, bertindak sebagai jangkar. Mereka memanggil sesuatu dari luar kubah langit Dungeon.
Di atas Finn, menembus lapisan puluhan lantai Dungeon dari permukaan bumi hingga ke Lantai 60, sebuah siluet raksasa tak berwujud memproyeksikan dirinya dari cahaya cyan. Siluet seorang penunggang kuda cahaya yang menarik busur kosmis raksasa.
Tatapan Sang Penguasa Busur (The Reignbow Arbiter).
Seluruh monster Evilus yang tadinya liar dan tak kenal takut, tiba-tiba menjerit dengan suara ganda. Akar-akar mereka bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, makhluk pemuja Abundance itu merasakan sesuatu yang telah lama mereka lupakan: Teror kematian mutlak.
Siluet kosmis itu melebur, mengalir deras ke dalam tombak di tangan Finn. Tir na Nog yang terbuat dari besi mithril itu kini bersinar seterang bintang yang runtuh.
Finn membuka matanya. Tidak ada lagi sihir Hell Fine. Tidak ada lagi kelelahan fana. Yang ada hanyalah wujud pertama dari seorang Pathstrider di dunia Orario.
Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap oleh mata seorang Level 6 seperti Riveria, Finn mengayunkan tombaknya, bukan untuk menusuk, melainkan menariknya ke belakang layaknya sebuah busur.
"Jatuhlah."
Hanya satu kata yang diucapkan Finn, suaranya bergema dengan paduan suara kosmis yang asing.
Finn melemparkan tombaknya.
Tidak ada ledakan. Tidak ada api. Yang terjadi hanyalah sebuah garis cahaya cyan setipis rambut yang membelah kegelapan Lantai 60 secara horizontal. Garis itu membelah kerumunan monster, membelah Pendeta Evilus, membelah akar-akar raksasa, dan menembus dinding Dungeon di belakang mereka, terus melesat hingga memotong separuh ruang gletser raksasa itu dalam keheningan mutlak.
Satu detik kemudian, efeknya terjadi.
Titik-titik cahaya yang dilewati garis itu tidak terpotong. Mereka terhapus. Pasukan Evilus yang mengklaim diri mereka abadi, berubah menjadi debu cahaya dalam sekejap tanpa sempat beregenerasi. Akar-akar yang menancap di tanah menguap. Bahkan konsep penyembuhan dari Yaoshi yang ada di dalam sel mereka dibakar habis dari akar realitas.
Hanya dalam satu serangan tunggal, seluruh pasukan mutan yang membuat Loki Familia putus asa, lenyap tak berbekas.
Tombak Tir na Nog kembali ke tangan Finn dalam wujud serpihan cahaya, memadat kembali menjadi besi yang kini retak di berbagai sisi karena tak sanggup menahan energi kosmis.
Finn berdiri di tengah lautan es yang kini kosong melompong. Cahaya biru kehijauan di tubuhnya perlahan meredup, namun sisa-sisa tekanan auranya masih membuat lutut Riveria lemas.
Aiz, Gareth, Tione, dan seluruh anggota ekspedisi membeku di tempat mereka. Mereka tidak bersorak. Mereka teror. Kekuatan yang baru saja dilepaskan Finn bukanlah Skill petualang, bukan pula keajaiban sihir. Itu adalah fenomena yang tidak seharusnya eksis di tatanan dunia ini.
Riveria berjalan pelan, kakinya gemetar saat mendekati kaptennya.
"Finn..." panggil Riveria dengan suara parau. "Apa... apa yang baru saja kau lakukan?"
Finn menoleh. Wajah Pallum-nya tampak pucat pasi, matanya membelalak menatap kedua tangannya sendiri. Ia menjatuhkan tombaknya yang retak, napasnya memburu.
"Aku... aku tidak tahu, Riveria," bisik Finn, suaranya sarat akan ketakutan yang mendalam. Ia mencengkeram dadanya, tepat di mana Falna Loki berada. "Bukan aku yang merapalkan sihir itu. Sesuatu... sesuatu dari atas sana menatapku. Dan ia memberiku panahnya."
Riveria menatap langit-langit Dungeon yang membeku. Bulu kuduknya berdiri.
Jika sang penulis misterius di permukaan Orario itu hanya mengarang cerita, maka itu adalah satu hal. Namun jika tulisan orang itu telah menjadi semacam doa massal yang memicu lahirnya dewa-dewa baru yang sesungguhnya... maka Orario tidak hanya sedang menghadapi perang faksi. Mereka sedang menghadapi pergeseran alam semesta.
Path of The Hunt telah turun ke Orario. Dan Riveria tahu, jika ada Pemburu... maka dewa-dewa kosmis yang lain hanya tinggal menunggu waktu untuk membuka mata mereka.