"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: DI BALIK TOPENG SANG PENGUASA
Malam pertama di mansion tanpa kehadiran keluarga Lynn terasa begitu asing bagi Nerina. Sunyi yang biasanya mencekam kini terasa menenangkan, seolah dinding-dinding rumah ini baru saja menghela napas panjang setelah bertahun-tahun menahan beban kemunafikan.
Nerina duduk di balkon kamarnya, menyesap teh melati yang aromanya memenuhi udara malam. Ia menatap ke arah gerbang depan yang kini dijaga oleh pria-pria bersetelan hitam—bukan lagi staf keamanan dari agensi lokal, melainkan tim elit yang dibawa oleh Ergino.
"Anda memikirkan mereka, Nona?"
Suara rendah Ergino terdengar dari ambang pintu balkon. Ia tidak lagi memakai rompi pelayan. Malam ini ia mengenakan kemeja hitam berbahan sutra yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun sangat dominan. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet tipis.
"Aku memikirkan betapa cepatnya roda berputar, Gino," jawab Nerina tanpa menoleh. "Kemarin aku masih harus memikirkan cara agar tidak disingkirkan dari meja makan ini. Sekarang, aku yang memutuskan siapa yang boleh masuk ke gerbang itu."
Nerina berbalik, menatap Ergino lekat-lekat. "Tapi ada satu hal yang terus mengusikku. Leif Capital. Bagaimana mungkin seorang pelayan yang aku kenal selama setahun ini adalah pemilik dari raksasa investasi yang bahkan Ayah pun takut untuk menyebut namanya?"
Ergino melangkah mendekat, berdiri di samping Nerina. Ia menatap cakrawala kota yang berkelap-kelip. "Nama 'Leif' diambil dari bahasa Nordik kuno yang berarti 'keturunan' atau 'pewaris'. Saya membangunnya sepuluh tahun yang lalu di Zurich, saat saya masih menjadi tentara bayaran di wilayah konflik."
Nerina tertegun. "Tentara bayaran?"
"Dunia ini kejam, Nerina. Untuk melindungi seseorang yang sangat berharga, saya butuh kekuatan yang lebih dari sekadar otot. Saya butuh uang, informasi, dan jaringan global," Ergino menoleh ke arah Nerina, matanya berkilat di bawah cahaya bulan. "Setiap sen yang dihasilkan Leif Capital adalah peluru yang saya siapkan untuk hari ini. Hari di mana saya bisa berdiri di sampingmu tanpa ada satu pun orang yang berani merendahkanmu lagi."
"Tapi kenapa menjadi pelayan?" tanya Nerina, suaranya hampir berbisik. "Dengan kekuasaanmu, kamu bisa saja datang sebagai pangeran dan melamarku dari keluarga Lynn."
Ergino tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tulus namun penuh kepahitan. "Jika saya datang sebagai pangeran, Anda hanya akan melihat kekayaan saya, bukan diri saya. Dan yang lebih penting, saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri siapa saja yang berani menyakitimu di balik pintu-pintu rumah ini. Menjadi bayangan adalah cara terbaik untuk mengetahui di mana letak racunnya."
Ergino menyerahkan tabletnya pada Nerina. "Lihat ini. Ini adalah alasan kenapa saya meminta Anda segera melakukan audit menyeluruh terhadap aset pribadi Nero."
Nerina menggeser layar tablet itu. Matanya membelalak. "Investasi di kasino ilegal di Macau? Dan... perdagangan manusia?"
"Nero bukan hanya sombong, dia juga bodoh," desis Ergino. "Dia terlilit hutang besar pada sebuah sindikat internasional yang disebut 'Viper'. Selama ini ia menutupinya menggunakan dana operasional Lynn Group yang ia ambil secara bertahap. Itulah kenapa ia begitu panik saat Anda mulai membekukan rekening perusahaan."
"Jadi, kejatuhan mereka bukan hanya karena skandal Elysia?"
"Elysia hanyalah pemicunya. Nero adalah bom yang sudah lama berdetak," Ergino mengambil kembali tabletnya. "Malam ini, sindikat Viper mulai mencari Nero karena ia gagal membayar cicilan bunganya. Mereka tidak tahu kalau Nero sudah terusir dari mansion ini."
Nerina merasakan dingin menjalar di punggungnya. "Apa yang akan terjadi padanya?"
"Mereka akan menemukannya di rumah kontrakan kumuh itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Dan percayalah, Nona, orang-orang Viper tidak mengenal kata kompromi seperti hukum yang Anda kenal."
Nerina terdiam. Ia teringat bagaimana Nero selalu menghinanya sebagai "darah kotor". Sekarang, pria yang bangga akan darah murninya itu justru terjerat dengan sampah-sampah dunia kriminal yang paling kotor.
"Gino," panggil Nerina. "Apakah kita harus melakukan sesuatu?"
"Kita akan melakukan sesuatu," sahut Ergino. "Kita akan memastikan Nero tidak menyeret nama Lynn ke dalam masalah hukum mereka. Saya sudah menyiapkan dokumen pemutusan hubungan keluarga secara permanen yang harus ditandatangani Elyas Lynn besok pagi. Dengan begitu, apa pun yang terjadi pada Nero, itu bukan lagi urusan Anda."
Nerina menatap Ergino dengan rasa kagum yang bercampur rasa takut. Pria ini sangat teliti. Ia tidak hanya menghancurkan musuhnya, ia mencabut akarnya agar tidak ada lagi kemungkinan untuk tumbuh kembali.
"Kamu benar-benar menyiapkan segalanya," ucap Nerina.
Ergino melangkah lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Nerina bisa merasakan panas tubuhnya. Ia mengangkat tangannya, membelai pipi Nerina dengan jemari yang kasar namun sangat lembut.
"Aku sudah gagal sekali di masa lalu, Nerina," bisik Ergino, matanya kini memancarkan luka yang dalam. "Aku tidak akan membiarkan ada satu pun variabel yang luput dari pengawasanku kali ini. Tidak Andrew, tidak Elysia, dan tidak juga Nero."
"Lalu bagaimana denganmu, Gino? Setelah semua ini selesai, siapa kamu bagiku?"
Ergino menatap bibir Nerina sejenak sebelum kembali ke matanya. "Aku adalah apa pun yang kamu inginkan. Jika kamu ingin aku tetap menjadi pelayanmu, aku akan tetap di belakangmu. Jika kamu ingin aku menjadi rekan bisnismu, aku akan memimpin pasar bersamamu."
Ergino membungkuk, wajahnya sejajar dengan Nerina. "Tapi jika kamu bertanya apa yang diinginkan hatiku... aku ingin menjadi satu-satunya alasan kenapa kamu tidak perlu lagi merasa takut untuk bangun di pagi hari."
Nerina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih kerah kemeja hitam Ergino dan menariknya mendekat, menyatukan kening mereka. Di tengah sunyinya malam, di rumah yang kini benar-benar miliknya, Nerina menyadari bahwa kemenangan terbesarnya bukanlah harta keluarga Lynn, melainkan kesetiaan tanpa batas dari pria yang melintasi maut demi dirinya.
Namun, di kegelapan luar mansion, sebuah mobil tua terparkir di bawah pohon besar. Di dalamnya, Nero Lynn sedang gemetar hebat sambil memegang sepucuk surat ancaman dengan simbol ular berbisa.
"Elysia... kita harus pergi. Kita harus pergi sekarang juga!" Nero berteriak pada adiknya yang sedang sibuk menghapus riasan di wajahnya yang kuyu.
"Pergi ke mana, Kak?! Kita tidak punya uang!" balas Elysia histeris.
"Ke mana saja! Viper sudah tahu lokasi kita! Nerina... wanita jalang itu sengaja membuang kita ke sini agar kita mudah ditemukan oleh mereka!"
Nero tidak sadar, bahwa setiap langkahnya sudah diprediksi. Dan di balik jendela lantai dua mansion, Ergino sedang menatap ke arah mobil tua itu dengan seringai dingin.
"Permainan dimulai, Nero," gumam Ergino pelan. "Mari kita lihat seberapa lama darah murnimu bisa bertahan melawan taring ular."