Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit?
"Nanti kita beli baru sepedanya ya. Warna dan merknya juga sama," ucap Axel mencoba menenangkan Mika yang duduk di atas tanah. Dia sedikit malu dengan posisi Mika yang duduk di depan warung membuat beberapa orang melihat ke arah mereka.
Bahkan kaki Mika menendang angin berulangkali setelah melihat sepedanya dicat warna hitam oleh El dan Reska. El malu jika harus membawa sepeda berwarna pink, tapi bingung cara menolaknya bagaimana. Sedangkan Reska, dia memberikan ide kepada El agar mengecat sepeda Mika menjadi berwarna hitam. Benar saja, keduanya langsung mengecat sepeda Mika dengan warna hitam.
Axel kesal sekali dengan El dan Reska yang asal mengecat sepeda milik oranglain. Padahal Mika itu adalah orang asing yang baru mereka kenal. Mereka juga belum tahu bagaimana sifat asli Mika. Terlihat sekali saat ini jika Mika mempunyai sifat yang manja dan tantruman. El dan Reska tampak bingung bagaimana harus minta maaf pada Mika.
Hiks... Hiks...
"Nggak mau. Itu sepeda yang belikan Nenek gayung. Nggak ada duanya," seru Mika sambil menangis sesenggukan.
"Nenek gayung siapa? Kok kaya nama setan," bisik Reska pada El yang berdiri di sampingnya.
"Nggak mungkin lah. Masa setan bisa belikan sepeda manusia," ucap El yang merasa pikiran Reska itu sudah konslet akibat bingung dengan ketantruman Mika.
"Mungkin Neneknya kali," lanjutnya.
"Ya udah, kita beli sepedanya nanti juga sama Nenek gayung ya." ucap Axel berusaha membujuk Mika.
Huaaa...
Bukannya tenang, Mika malah tambah menangis. Axel, El, dan Reska sampai kebingungan harus melakukan apa. Teman-teman geng motor AMOR pun tampak menatap aneh pada pemandangan itu. Ketua geng motor membujuk seorang gadis remaja yang sedang ngambek karena sepeda dicat berwarna hitam. Ega yang notabene baru datang, tampak kebingungan melihat apa yang terjadi. Apalagi melihat Mika yang duduk di atas tanah sambil menangis.
"Kalian apain itu bocah?" tanya Ega sambil menunjuk ke arah Mika.
"Sepeda keramatnya kita ganti catnya jadi warna hitam. Mau dibelikan sepeda baru sama Axel tapi malah nangis begini. Padahal kan sepedanya juga udah jelek begitu," jawab Reska sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ada-ada aja sih," Ega sampai menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Reska.
"Kamu kenapa menangis, Mika? Kan itu sepedanya mau dibelikan lagi sama yang baru oleh Axel. Kamu juga bisa pilih sepeda yang lebih mahal," ucap Ega yang kini berjongkok di depan Mika.
"Itu sepeda dari Oma Mika. Omanya sudah meninggal. Terus gimana mau belinya sama Oma Mika?Kenangannya ilang semua. Gimana?" seru Mika yang terus menangis.
Setelah mendengar ucapan itu membuat El dan Reska merasa bersalah. Ternyata itu sepeda pemberian Mama Martha yang sudah tiada. Memang benar Mika bisa membeli sepeda yang lebih mahal dan bagus. Namun tetap saja tidak bisa membeli kenangannya. El dan Reska hanya bisa saling pandang melihat ketantruman Mika itu. Mereka bingung harus mengatakan apa setelah mengetahui sejarah dari sepeda itu.
"Masa kita gali kuburan Omanya Mika sih buat antar beli sepeda. Ngeri kali," bisik Reska sambil bergidik ngeri.
"Lo sih... Idenya agak-agak, sesat amat." ucap El menyalahkan Reska.
"Lo juga ngapain ngikutin ideku itu coba?" Reska tentunya tak mau disalahkan. Keduanya menatap Axel yang terus melihat ke arah Mika. Terlihat sekali jika Axel sama bingungnya sekaligus kasihan pada Mika.
Kita suruh mereka berdua membersihkan cat hitam di sepeda kamu ya. Entah bersihkannya pakai apa, biar mereka yang pikirkan.
Harus bersih ya, Kak Axel.
Iya,
Gimana cara bersihinnya, Axel?
Ya kalian pikirkan itu. Bisa mengecatnya kok nggak mampu membersihkannya,
Astaga...
***
Brakk...
"Ronand, tolong Kakak." ucap Janice dengan raut wajah paniknya saat masuk ke dalam ruang kerja sepupunya.
Ronand yang sedang fokus pada laptopnya langsung berdiri. Apalagi melihat raut wajah panik sekaligus ketakutan dari Janice. Ronand menarik tangan Janice untuk duduk di sofa. Ronand memberikan segelas air minum untuk Janice agar Kakak sepupunya itu sedikit tenang. Janice menghela nafasnya berulangkali untuk menenangkan diri.
"Sudah lebih tenang?" tanya Ronand dan dijawab anggukan kepala oleh Janice.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi," titahnya pada Janice.
"Ada orang yang mengikuti Kakak dari rumah sampai sekolah Angga. Bodohnya Kakak, nggak bawa pengawal. Kakak kira tidak ada masalah, tapi hari ini..." Janice tak kuasa untuk berbicara. Dia terlihat sangat ketakutan sekali.
"Biar Ronand yang minta seseorang untuk mengawasi Angga di sekolah. Kakak tenang saja, semua akan aman dan baik-baik saja." ucap Ronand sambil mengelus lembut lengan Janice.
"Awasi Mika juga, Ronand." ucap Janice dengan tatapan permohonan.
Ronand menganggukkan kepalanya mengerti. Hari ini dia sedang di perusahaan karena badan Julian sedang tidak baik-baik saja. Beruntung Janice langsung mengarahkan mobilnya ke perusahaan Ronand untuk meminta perlindungan. Janice baru sadar ada yang mengikutinya setelah Angga masuk ke dalam sekolahnya. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju perusahaan milik Ronand yang jaraknya dekat dengan sekolah Angga.
"Kira-kira orang yang mengikuti Kakak itu seperti apa?" tanya Ronand meminta Janice menjelaskan tentang siapa yang patut dicurigai.
"Kaya preman atau bodyguard gitu perawakannya, Ronand. Apa ini ada hubungannya dengan racun semalam ya?" tanya Janice balik dengan raut wajah kebingungan.
"Racun?" Janice menganggukkan kepalanya. Dia pun menceritakan tentang dugaan Mika tentang makanan yang disediakan oleh Rania dan acara makan malam semalam bersama keluarga suaminya.
"Mika itu punya kepekaan yang tinggi. Aku yakin kalau Mika itu tidak asal bicara. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tahu kalau di dalam makanan itu ada racunnya," ucap Ronand sambil menghela nafasnya pelan.
"Iya. Kakak juga percaya pada Mika. Hanya saja, kita harus mencari bukti dan tujuan keluarga Mas Rifki ingin meracuniku. Jangan sampai kita menuduh tanpa bukti," ucap Janice yang percaya pada ucapan Mika.
Ronand menganggukkan kepalanya. Ronand bersyukur Kakaknya itu percaya pada Mika. Setidaknya jika nanti Mika dituduh macam-macam, ada keluarga yang membela dan mempercayainya. Ronand pun mengeluarkan sebuah alat berbentuk semut kecil dari dalam laci mejanya.
"Lepaskan alat ini di depan pos satpam area perumahan Opa, Kak."
"Nanti biar alat ini mengikuti mereka yang ingin menguntit Kak Janice. Aku sudah mengaktifkan sistem alat ini agar bisa mengidentifikasi orang yang mencurigakan. Dia akan merekam suara dan gambar dari sekitarnya," ucap Ronand memberikan alat kecil itu pada Janice.
"Kakak akan dijaga dari jauh oleh pengawalku. Ingat... Jangan panik kalau ada orang yang mencegat atau mendekat," lanjutnya.
Ya. Terimakasih, Ronand.
Sama-sama. Kita keluarga, sudah sepantasnya untuk saling tolong dan jaga.
Awas saja itu orang-orang rusuh. Jangan harap bisa menyentuh keluargaku lagi,
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄
lanjuttttt💪😄