NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Tangisan Liora Dan pengakuan cinta terlarang.

Di kediaman besar keluarga William Anderlecht, suasana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Liora memilih mengurung diri di dalam kamarnya. Sejak Dirgantara pergi, ia tidak sanggup menyentuh makanan maupun minuman. Hatinya hancur, memikirkan kenyataan pahit bahwa ia harus merelakan putra semata wayangnya tinggal bersama dua suaminya, Mahendra Warinata dan Dika.

Ia duduk termenung di tepi ranjang ketika suaminya masuk dan mendekatinya dengan hati-hati.

“Sayang, kenapa kamu seperti ini? Cerita sama Mas, ya?” suaranya lembut, penuh kekhawatiran.

Liora menghela napas panjang, suaranya hampir tak terdengar. “Mas… aku benar-benar khawatir dengan anak kita. Aku tidak tahu apakah Dirgantara benar-benar aman di sana… atau jangan-jangan semua ini hanya cara Mahendra untuk menipuku.”

Suaminya menggenggam tangannya. “Kenapa kamu berpikir sejauh itu, sayang?”

“Aku hanya takut…” bisiknya lirih. “Ketakutan yang tidak bisa aku jelaskan.”

Sementara itu, jauh di Thailand, Dirgantara—yang kini dipanggil Michelle oleh kedua suaminya bersikap manja seperti biasa. Ia selalu menempel pada Mahendra dan Dika, seolah takut keduanya menghilang.

“Michelle, sayang, wajah kamu muram. Ada apa?” tanya Mahendra sambil mengusap rambutnya.

“Aku hanya… memikirkan ibuku,” jawab Michelle, menunduk. “Aku takut ibu tidak bisa menerima kalau aku pergi… kalau aku tidak kembali seperti dulu.”

Dika memegang kedua tangan Michelle. “Michelle, dengarkan baik-baik. Kami mencintaimu. Tapi kami tahu… cara kami mengambilmu bukanlah cara yang benar. Kami membuatmu takut. Membuatmu marah. Bahkan membuatmu membenci kami.”

Michelle tersenyum tipis. “Iya… awalnya aku marah. Sangat marah. Karena kita musuh dan karena kalian membuatku merasa tidak punya pilihan. Tapi perlahan, semuanya pudar… digantikan perasaan lain.”

Mahendra memeluknya. “Michelle, dimanapun kamu berada, kami akan selalu mencintaimu. Bahkan kalau maut yang memisahkan kita… cinta kami tidak akan berpindah.”

Michelle menahan air mata. “Aku tidak pernah membayangkan dicintai sedalam ini oleh dua laki-laki sekaligus.”

“Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai suamimu,” jawab mereka bersamaan.

Sementara itu, di kediaman keluarga Bram Alexander, Veriska Alexander William Anderlecht cucu pertama keluarga besar Alexander telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Kecantikannya memikat, tetapi sikapnya dingin, datar, dan tak mudah disentuh oleh siapa pun. Semua itu ia warisi dari ibunya, Viola William Anderlecht Alexander.

Pagi itu, Veriska berjalan anggun menuruni tangga ketika Viola menyapanya.

“Veriska, sayang, mau ke mana kamu?”

“Mau ke kampus, Bu. Aku sudah terlambat,” jawabnya datar.

“Baiklah. Hati-hati ya.”

“Iya, Bu.”

Di universitas yang ia pilih di Italia, Veriska mengambil jurusan bisnis. Ia ingin mengikuti jejak ayahnya, Javi Alexander, menjadi seorang pebisnis yang berpengaruh.

Tak lama setelah semua mahasiswa duduk, dosen mereka masuk Louis Tomlinson. Pria tampan dengan aura yang dingin, tegas, dan sulit ditebak.

“Kita mulai perkuliahan. Kumpulkan semua tugas minggu depan. Kalian sudah hampir lulus, jadi jangan sampai lengah.”

Para mahasiswa mengangguk.

Ketika kelas berakhir, Veriska berdiri dan hendak pergi, tetapi suara Louis menghentikannya.

“Veriska Alexander William Anderlecht, temui saya di ruang dosen.”

Di ruang dosen, suasana hening.

“Setelah lulus, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Louis tanpa basa-basi.

“Saya ingin melanjutkan perusahaan ayah saya.”

Louis tersenyum samar. “Saya sudah tahu latar belakang keluarga kamu. Keluarga Tuan Heron William Anderlecht dan Bram Alexander… siapa yang tidak mengenalnya?”

“Benar, Pak. Tapi apa ada yang ingin Bapak bicarakan?”

Louis mendekat satu langkah. “Saya ingin… dekat denganmu, Veriska.”

Veriska terbelalak. “Pak? Maksud Bapak?”

Louis semakin dekat, hingga tubuh Veriska terhimpit dinding. Napasnya terasa di kulit Veriska.

“Kamu tahu kenapa saya seperti ini? Karena kamu, sayang…”

“Pak, tolong jangan bicara sembarangan.”

“Saya tidak bercanda. Saya menyukaimu. Bahkan mencintaimu.”

Mata Veriska berubah tajam. “Saya rasa Bapak hanya kelelahan—”

“Kamu sangat mirip dengan gadis kecil yang pernah saya gendong delapan belas tahun lalu. Matamu… wajahmu… semuanya sama.”

Jantung Veriska berdegup keras.

Louis menatapnya dalam.

“Namanya… Veriska Alexander William Anderlecht.”

Deg.

Flashback – 18 Tahun Lalu

Saat itu Veriska kecil tengah berjalan dengan orang tuanya di taman kota. Ketika ibunya pergi sebentar untuk membeli minuman, Veriska diminta duduk di bangku taman.

Saat Viola kembali…

Veriska sudah hilang.

Kepanikan melanda.

Tangis pecah.

Di tempat lain, Louis Tomlinson yang saat itu masih menjadi sahabat lama Heron, mengetahui rencana busuk Herlina istri kedua Dirangga Warinata yang menyimpan dendam kepada keluarga William Anderlecht.

Namun Herlina tidak tahu bahwa Louis memata-matainya. Diam-diam, ia menghubungi Heron.

“Heron, cicitmu… diculik Herlina.”

“Apa?!”

“Tenang. Dia aman bersamaku.”

Saat Herlina hendak membunuh Veriska kecil, Louis menyergapnya dari belakang dan menyuntikkan obat bius di lehernya. Herlina pingsan.

Ia menyerahkan Herlina ke pihak berwajib, lalu menggendong Veriska kecil pulang.

Anak kecil itu memeluk lehernya dan berkata, “Terima kasih, Om. Kalau aku lupa suatu hari nanti… Om harus tetap ingat aku, ya.”

Louis hanya tersenyum dan mengusap kepalanya.

Kembali ke masa kini

Air mata Veriska jatuh tanpa ia sadari.

“Om… itu benar? Om yang menyelamatkanku waktu kecil?”

Louis mengangguk pelan.

Veriska langsung memeluknya erat. “Maaf… maaf karena aku melupakanmu.”

Louis gemetar, emosinya pecah setelah bertahun-tahun memendam kerinduan.

“Aku mencintaimu, Veriska…”

Ia mengecup bibirnya.

Veriska terkejut, namun ia tidak menolak. Justru tubuhnya bergerak sendiri membalas ciuman itu. Lengannya melingkar di leher Louis.

“Aku juga mencintaimu… Om,” bisiknya lirih.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!