NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN DI UJUNG KORIDOR

Pagi di Singapura selalu datang dengan keteraturan yang membosankan bagi Clarissa. Suara roda troli obat, bau cairan disinfektan yang tajam, dan rutinitas pengecekan suhu tubuh telah menjadi dunianya selama dua minggu terakhir. Namun, pagi ini terasa berbeda. Ada kegelisahan yang aneh di dadanya, seolah-olah sesuatu yang besar akan terjadi.

Clarissa baru saja selesai melaksanakan salat Subuh di atas tempat tidurnya dengan gerakan terbatas. Ia mengenakan jilbab instan berwarna putih bersih. Wajahnya yang pucat tampak bersinar di bawah lampu kamar rumah sakit, meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa disembunyikan.

"Bas, hari ini jadwalnya apa?" tanya Clarissa pada Bastian yang sedang sibuk dengan laptopnya di sofa.

"Hari ini cuma observasi, Clar. Istirahat saja," jawab Bastian pendek tanpa menoleh. Clarissa tidak menyadari bahwa kakaknya itu sedang menahan senyum dan berkali-kali melirik jam tangannya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, pintu kamar rawat terbuka perlahan. Clarissa mengira itu adalah suster yang akan mengganti cairan infusnya. Ia tetap menunduk, sibuk memutar butiran tasbih birunya.

"Permisi, apakah pasien bernama Clarissa Mahendra ada di sini?"

Suara itu. Suara bariton yang rendah, hangat, dan sangat ia kenali.

Clarissa mendongak dengan cepat. Di ambang pintu, berdirilah Adrian. Pria itu tampak sedikit kuyu mungkin karena penerbangan paling pagi dari Jakarta namun senyumnya tetap cerah. Ia mengenakan jaket yang pernah Clarissa puji dulu, membawa sebuah kantong kecil dan sebuah buket bunga tulip segar.

"Adrian?" bisik Clarissa tak percaya. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

"Hai, Sayang," sapa Adrian lembut. Ia melangkah mendekat, namun tetap berhenti dalam jarak yang sopan dari ranjang Clarissa. "Maaf ya, aku datang tanpa kabar. Aku nggak tahan cuma denger suara kamu lewat telepon."

Clarissa menutupi mulutnya dengan tangan, tangisnya pecah. "Kenapa kamu di sini? Pertandingan basket kamu gimana? Kuliah kamu?"

"Semuanya sudah aku atur," jawab Adrian sambil meletakkan bunga di meja nakas. "Gimana aku bisa fokus main basket kalau jantung aku ada di Singapura?"

Bastian diam-diam keluar dari kamar, memberikan ruang bagi keduanya untuk berbicara. Adrian duduk di kursi samping tempat tidur, menatap Clarissa dengan pandangan yang penuh dengan rasa haru sekaligus sedih melihat selang-selang yang menempel di tubuh kekasihnya.

"Kamu kurusan banget, Clar," bisik Adrian.

"Aku emang lagi susah makan, Dri. Rasanya semua makanan di sini kayak kertas," keluh Clarissa manja, sebuah sisi yang hanya ia tunjukkan pada Adrian dan keluarganya.

Adrian mengeluarkan kantong kecil yang ia bawa. Ternyata isinya adalah kurma dan air zam-zam yang sudah didoakan. "Ini dari Mama aku. Beliau titip salam buat kamu. Katanya, kamu harus kuat. Jangan pernah berhenti berharap sama Allah."

Clarissa menerima pemberian itu dengan tangan bergetar. "Makasih ya, Adrian. Sampaikan makasih juga buat Mama kamu. Aku merasa... jauh lebih baik sekarang karena kamu di sini."

Namun, momen manis itu tidak berlangsung lama. Beberapa jam kemudian, tim dokter masuk untuk menjemput Clarissa guna menjalani prosedur biopsi sumsum tulang sebuah prosedur yang sangat menyakitkan untuk memantau perkembangan sel kanker.

Wajah Clarissa seketika berubah tegang. Ia sangat membenci prosedur ini. Rasa sakit jarum yang menembus tulang pinggulnya adalah trauma tersendiri baginya.

"Adrian... aku takut," bisik Clarissa, tangannya mencengkeram sprei.

Adrian berdiri, ia mendekat dan menatap mata Clarissa dengan sangat dalam, memberikan kekuatan melalui tatapannya. "Aku bakal nunggu tepat di depan pintu ruang tindakan. Setiap detik kamu merasa sakit, ingat kalau aku lagi bacain doa buat kamu di luar. Kamu itu pejuang, Clar. Jangan biarkan rasa takut mengalahkan iman kamu."

"Janji jangan ke mana-mana?"

"Janji. Aku nggak bakal beranjak satu senti pun sampai kamu keluar dari sana," tegas Adrian.

Selama hampir satu jam, Adrian duduk di lantai koridor depan ruang tindakan, bersandar pada dinding dingin rumah sakit. Ia tidak mempedulikan tatapan orang yang lewat. Di tangannya, ia memutar tasbih yang sengaja ia bawa dari Jakarta. Bibirnya tak berhenti bergerak, melafalkan doa-doa untuk keselamatan Clarissa.

Bastian datang membawa dua cup kopi dan duduk di samping Adrian. "Makasih ya, Dri. Gue tahu lo tulus banget sama adek gue."

"Gue yang harusnya makasih, Bas. Karena lo sudah izinin gue buat jadi bagian dari hidupnya Clarissa sekarang," balas Adrian tulus.

Saat pintu terbuka dan Clarissa didorong keluar di atas brankar dengan wajah lemas namun sadar, hal pertama yang ia cari adalah sosok Adrian. Saat melihat Adrian berdiri dan tersenyum padanya, Clarissa merasa rasa sakit di tulang pinggulnya seolah memudar, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa.

Malam harinya, mereka duduk berdekatan (dengan Bastian tetap mengawasi di sofa). Mereka melihat pemandangan lampu-lampu Singapura dari jendela besar kamar lantai 10 itu.

"Adrian," panggil Clarissa pelan.

"Iya, Sayang?"

"Kalau nanti aku bener-bener sembuh... laku mau kita ke Mekkah bareng-bareng sama Papa dan Bastian. Aku mau sujud di depan Ka'bah buat terima kasih karena Allah sudah kasih kamu ke aku."

Adrian tersenyum, ia menatap refleksi Clarissa di kaca jendela. "Aku bakal tabung uang dari sekarang buat itu. Kita bakal pergi ke sana, Clar. Aku janji. Tapi sekarang, tugas kamu cuma satu: istirahat dan jangan mikir yang macam-macam."

Clarissa menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal, merasa sangat tenang. Kedatangan Adrian bukan hanya membawa bunga atau kurma, tapi membawa kembali harapan yang sempat meredup. Di balik jilbab putihnya, Clarissa kini memiliki tekad baru: ia harus sembuh, bukan untuk kembali jadi ratu, tapi untuk menjadi pendamping yang salihah bagi pria yang mencintainya tanpa syarat.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!