Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.
Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.
Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"
Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!
!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Wajar?
Setengah jam kemudian, Valeria Francesca tiba di stasiun kereta cepat. Di luar stasiun, Valdo dan seorang gadis berwajah manis berdiri di bawah terik matahari sambil memegangi koper. Gadis itu sibuk mengibas diri dengan tangan sambil merengut kesal, sementara Valdo menyeka keringat di wajah gadis itu dengan tisu. Saat Valdo hendak menelepon, ia melihat Valeria berjalan mendekat.
"Kak, kenapa lama banget? Kami hampir mati kepanasan!" protes Valdo begitu Valeria sampai.
Valeria menjawab dingin, "Kenapa mendadak ke kota ini? Nggak bilang-bilang lagi."
"Kemarin aku minta tolong carikan tempat magang di perusahaan pacarmu tapi Kakak nggak mau. Ya sudah, aku datangi langsung saja."
Valeria heran melihat kulit tebal adiknya yang meminta bantuan tanpa tahu malu seperti itu. Ia kemudian melirik gadis di samping Valdo yang sejak tadi mengamatinya. "Ini siapa?"
Valdo merangkul pundak gadis itu. "Kenapa lupa bilang, ini Nia, pacarku di kampus."
Nia langsung tersenyum ramah. "Halo Kak Valeria, aku sering dengar tentang Kakak dari Valdo."
Gadis ini terlihat licik dan matre. Cara dia menilai pakaian Valeria sejak awal menunjukkan bahwa dia setipe dengan pemilik tubuh asli. Valeria hanya tersenyum formalitas.
Valdo melirik ke belakang Valeria. "Kak, kamu nggak bawa mobil?"
Valeria sibuk memesan taksi online lewat ponselnya. "Memangnya aku punya mobil?"
"Katanya pacarmu kaya raya? Masa kasih mobil saja nggak mau?"
Tanpa mendongak, Valeria membalas, "Kamu pikir orang kaya itu bodoh? Belum menikah sudah harus belikan rumah dan mobil? Mereka jauh lebih cerdik darimu."
Valdo mencibir dan bergumam lirih, "Ternyata nasibmu nggak sehebat yang kamu pamerkan." Valeria pura-pura tidak mendengar. Tak lama kemudian taksi online pesatannya datang, dan mereka bertiga segera masuk.
Mobil berhenti di depan sebuah hotel tua yang biasa saja. Valdo langsung memasang wajah jijik, begitu pula Nia yang mengernyit samar.
"Kak, kenapa pesan hotel murah begini? Layak huni nggak sih?" protes Valdo.
"Uangku kan habis dikirim ke rumah, kamu nggak tahu?" cetus Valeria. "Kalau nggak suka, silakan pesan sendiri."
Kalau bukan karena Valdo membawa pacarnya, Valeria enggan membuang uang sepeser pun. Valdo langsung bungkam. Uangnya habis untuk memanjakan Nia, mana ada sisa untuk memesan hotel mewah. Terpaksa, mereka tetap melakukan check-in.
Begitu masuk ke kamar, Valeria melihat mereka meletakkan koper lalu berpamitan. "Kalian sudah sampai, aku pulang dulu. Cari makan malam sendiri ya."
"Kak, tunggu!" Valdo menahan. "Aku dan Nia belum dapat tempat magang. Tolong dong bilang pacarmu agar masukkan kami ke perusahaannya."
Ternyata dia masih belum menyerah. Valeria menolak tegas, "Sudah kubilang, cari sendiri."
Nia ikut bicara, "Kak Valeria, Valdo kan adik kandungmu. Pacarmu sesukses itu, masa memasukkan dua orang saja nggak bisa?"
"Benar, Kak," timpal Valdo sinis. "Jangan-jangan omonganmu dulu soal calon kakak ipar kaya raya cuma bualan?"
Valeria tidak terpancing. "Terserah kalian mau pikir apa. Intinya aku nggak bisa bantu soal magang. Selesaikan sendiri." Ia langsung berbalik dan pergi.
Begitu pintu kamar hotel tertutup, Nia membanting tasnya kesal. "Valdo, maksudnya apa? Katanya kalau ikut ke kota ini bisa magang di perusahaan besar? Kakakmu sama sekali nggak mau bantu!"
Wajah Valdo juga masam. Ia tidak menyangka kakaknya mendadak bersikap sedingin ini. Kata ibunya, belakangan ini Valeria memang sudah jarang mengirim uang ke rumah.
"Lalu bagaimana? Tempat magang dari kampus sudah hangus. Kamu mau kita telantar?" keluh Nia.
Valdo segera menenangkan, "Tenang saja. Kalau kakakku nggak mau mengenalkan, kita bisa datangi calon kakak ipar langsung."
Nia tertegun. "Maksudmu?"
Valdo menyeringai. "Kakakku cuma gengsi minta bantuan. Kalau kita langsung mendatangi pacarnya, mana mungkin pria sekaya itu tega menolak?"
Nia agak ragu. "Tapi kalau dia nggak setuju bagaimana? Dia kan belum resmi menikah dengan kakakmu."
"Nggak mungkin. Kamu lihat sendiri barang-barang mewah yang dikirim kakakku ke rumah? Semua dibelikan oleh pacarnya. Kalau nggak suka, mana mau dia buang uang. Begitu aku minta tolong, dia pasti nggak akan bisa menolak."
Mata Nia berbinar, langsung memeluk lengan Valdo. "Sayang, kamu memang pintar." Valdo tersenyum jemawa.
Hari sudah malam saat Valeria tiba di vila. Begitu naik ke lantai atas, ia berpapasan dengan Alessandro yang baru keluar dari ruang kerja.
"Temanmu sudah selesai diantar?" tanya Alessandro.
Valeria merasa bersalah. "Sudah, kami sempat makan bersama. Karena dia kelelahan dan mau istirahat di hotel, aku langsung pulang."
"Teman SMA yang mana? Apa dia ikut reuni waktu itu?" tanya Alessandro tenang.
Valeria menjawab asal, "Enggak, waktu itu dia berhalangan hadir."
Menangkap gelagat mata Valeria yang tidak tenang, Alessandro hanya menatapnya dalam keheningan tanpa mendesak lebih jauh.
Di kamar tidur, Alessandro masuk ke kamar mandi untuk mandi, meninggalkan ponselnya begitu saja di atas meja. Valeria melirik ponsel itu. Ucapan Jovanka siang tadi mendadak terngiang di kepalanya.
“Pria mana yang tidak suka menonton video dewasa?”
Memangnya Alessandro juga suka menonton hal seperti itu? Valeria sama sekali tidak bisa membayangkan wajah kaku pria itu saat menontonnya. Di dalam novel pun tidak pernah diceritakan.
Sesaat, ia penasaran ingin memeriksa ponsel Alessandro. Namun, niat itu langsung diurungkan. Walau wajar jika sepasang kekasih saling memeriksa, lancang membuka ponsel orang lain tanpa izin tetap terasa keterlaluan.
Mendengar suara air di kamar mandi berhenti, Valeria buru-buru naik ke kasur dan berpura-pura tidur. Tak lama kemudian, Alessandro menyusul naik ke tempat tidur, membawa aroma sabun yang segar.
Kamar kembali sunyi. Valeria memejamkan mata, namun rasa penasaran akibat ucapan Jovanka justru membuatnya tidak bisa tidur. Lewat pancaran sinar bulan, ia mencuri pandang ke arah pria di sampingnya yang sedang memejamkan mata dengan raut wajah dingin seperti biasa.
Masa orang sekaku ini suka menonton video dewasa?
Rasa ingin tahunya semakin bergejolak. Setelah bergelut dengan batinnya, Valeria akhirnya tidak tahan dan bertanya lirih, "Alessandro, apa kamu pernah menonton video... seperti itu?"
____
Bersambung~~