"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku Siti
Hampir satu minggu berlalu sejak Siti menempati rumah barunya. Hari itu langit tampak mendung, seolah ikut merasakan beratnya suasana yang akan terjadi. Ketika mobil yang dikenalnya berhenti di halaman, jantung Siti seketika berdegup kencang. Ia melihat Yusuf turun, diikuti Nora yang berjalan tegap di sampingnya. Hati Siti terasa berdebar campur bingung—ia senang bisa bertemu lagi, namun nalurinya berkata bahwa kedatangan ini membawa kabar yang tidak baik.
Siti menyambut mereka dengan sopan, namun wajahnya tampak pucat. Ia mempersilakan duduk di ruang tengah yang kini terasa begitu sempit dan pengap. Suasana hening dan berat, tak ada satu pun yang berani memulai pembicaraan, hingga akhirnya Nora membuka suara dengan nada yang tenang namun tegas.
"Terima kasih sudah menyambut kami, Siti. Kami datang ke sini bukan sekadar berkunjung, tapi ada hal penting yang harus diselesaikan hari ini juga."
Siti menelan ludah, tangannya menggenggam ujung kain baju dengan erat. "Ada apa, Mbak Nora, Mas Yusuf? Apakah ada yang kurang atau ada masalah dengan kebutuhan kami?"
Yusuf menunduk, suaranya terdengar berat dan serak, seolah ada batu besar yang menekan tenggorokannya. "Bukan begitu, Ti. Semuanya sudah beres dan cukup. Kami datang karena ada satu hal yang harus kita bahas dan putuskan hari ini, atas permintaan Nora... dan keputusan yang sudah kami sepakati bersama."
Nora menatap lurus ke arah Siti, tanpa ragu sedikit pun. "Siti, aku minta pada Mas Yusuf untuk menjatuhkan talak padamu. Hubungan suami istri antara kalian berdua harus berakhir mulai hari ini. Ke depan, tidak ada lagi ikatan pernikahan. Yang tersisa dan tetap terjaga hanyalah tanggung jawab Mas Yusuf sebagai ayah dari anak yang kau kandung dan lahirkan. Nafkah, biaya hidup, pendidikan, dan segala hak anak akan tetap kami penuhi sampai kapan pun, sama seperti kesepakatan awal. Tapi status sebagai istri harus hilang. Aku tidak bisa menerima dan tidak akan tenang selama nama kamu masih tercatat sebagai istri Mas Yusuf, meskipun kalian tidak tinggal bersama dan jarak memisahkan."
Dunia seakan berputar dan runtuh di depan mata Siti. Kakinya terasa lemas, napasnya tertahan, dan air mata hampir saja tumpah seketika. Ia menatap Yusuf dengan pandangan yang penuh rasa sakit dan tak percaya, berharap pria itu akan menolak atau setidaknya terlihat ragu, namun Yusuf hanya diam dengan wajah yang penuh penderitaan, tak berani menatap matanya lama-lama.
"Mas Yusuf..." panggil Siti lirih, suaranya bergetar hebat. "Apakah... apakah benar Mas setuju dengan keputusan ini? Mas benar-benar mau menceraikan aku?"
Yusuf mengangkat wajah perlahan, matanya memerah dan berkabut. "Maafkan aku, Ti... Maafkan aku. Aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Cara inilah satu-satunya jalan supaya semuanya jelas, supaya tidak ada lagi keraguan, dan supaya hati Nora bisa benar-benar tenang dan aman. Tanggung jawabku sebagai ayah tidak akan berkurang sedikit pun, aku berjanji. Tapi ikatan pernikahan ini memang harus diakhiri. Demi kebaikan kita semua."
Rasa sakit yang dirasakan Siti melebihi apa pun yang pernah ia alami seumur hidupnya. Ia merasa seolah-olah tanah berpijak ditarik dari bawah kakinya. Ia segera bangkit berdiri, lalu dengan gemetar berlutut di hadapan mereka, air matanya akhirnya mengalir deras membasahi pipi. Ia memegang ujung baju Yusuf dengan tangan yang gemetar, seolah takut jika ia melepaskannya sebentar saja, pria itu akan hilang selamanya.
"Jangan, Mas... Tolong jangan lakukan ini padaku! Aku mohon, aku memohon sekuat tenagaku, jangan ceraikan aku!" isaknya, suaranya pecah sepenuhnya. "Aku berjanji! Aku bersumpah demi Tuhan dan demi nyawa anak kita, aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan rumah tangga Mas dan Mbak Nora! Aku tidak akan pernah menuntut hak apa pun selain yang sudah disepakati! Aku tidak akan pernah datang, tidak akan pernah mencari, dan tidak akan pernah berharap menjadi bagian dari hidup Mas lagi! Biarkan saja aku tetap tercatat sebagai istri Mas, meskipun hanya nama saja, meskipun hanya status yang kosong, aku sudah sangat bersyukur dan cukup!"
Siti menoleh menatap Nora dengan pandangan yang penuh permohonan, rasa rendahan diri dan kesedihan yang mendalam. "Mbak Nora, aku mohon sama Mbak! Kasihanilah aku! Biarkan saja aku membawa status ini sampai mati. Bagiku, Mas Yusuf adalah satu-satunya pria yang kucintai dan akan kucintai selamanya. Aku tidak akan pernah menikah lagi dengan orang lain, tidak akan pernah mau menjadi milik orang lain selain Mas Yusuf. Cintaku ini akan kubawa sampai ke liang lahat, Mbak. Biarkan saja aku hidup dengan status ini, sebagai istri yang jauh, yang tak pernah mengganggu, dan tak pernah menuntut apa pun. Itu satu-satunya permintaan dan keinginan terbesar dalam hidupku, Mbak. Hanya itu..."
Ia kembali menatap Yusuf, matanya memancarkan ketulusan yang tak terlukiskan. "Mas, pikirkan juga anak kita nanti. Bagaimana perasaannya saat besar nanti mengetahui bahwa ayah dan ibunya bercerai? Apakah dia tidak akan bingung? Apakah dia tidak akan merasa kurang? Biarkan saja dia tahu bahwa ibunya tetaplah istri ayahnya, meskipun hidup terpisah. Itu akan membuatnya merasa lebih baik dan lebih utuh, Mas. Aku tidak meminta harta, tidak meminta tempat di sisi Mas, tidak meminta kasih sayang. Aku hanya meminta satu hal saja. Biarkan aku tetap menjadi istri sah Mas di atas kertas dan di hadapan Tuhan. Itu saja, Mas... Itu saja yang membuatku merasa masih ada ikatan, masih ada harapan, dan masih merasa bahwa aku pernah menjadi milik Mas, meski hanya sebentar."
Yusuf terlihat sangat terguncang. Air matanya jatuh juga melihat keadaan Siti yang begitu hancur namun tetap berjuang demi satu hal yang paling berharga baginya. Ia menatap Nora seolah meminta pertimbangan kembali, namun Nora tetap diam dan tegas, meskipun raut wajahnya pun terlihat tergugah namun tak berubah pendiriannya.
"Siti, dengarkan aku baik-baik," kata Nora dengan suara yang sedikit melunak namun tetap tegas. "Aku tahu perasaanmu, aku tahu ketulusanmu. Tapi bagiku, selama status itu masih ada, rasa cemas dan ragu ini tidak akan pernah hilang. Di tambah dengan pengakuanmu yang begitu mencintai mas Yusuf. Selama namamu masih tertulis di sana, ada kemungkinan dan peluang yang membuatku tidak tenang. Ikatan itu membuat kalian masih memiliki hak dan kewajiban yang bisa kapan saja muncul kembali. Aku tidak bisa hidup dengan rasa itu, Siti. Aku butuh kepastian mutlak dan batas yang tak bisa ditembus siapa pun. Hak anak akan tetap ada, dan Mas Yusuf akan tetap bertanggung jawab sepenuhnya. Tapi ikatan pernikahan itu harus diputus. Itu syarat mutlak yang aku minta dan aku butuhkan."
Yusuf menghela napas panjang, lalu perlahan menarik tangan Siti yang memegang ujung bajunya, menggenggamnya dengan lembut namun penuh rasa sakit.
"Maafkan aku, Ti... Sungguh, maafkan aku. Aku tahu permintaanmu itu sangat wajar dan sangat berharga bagimu. Aku tahu betapa tulusnya cintamu, dan aku tahu kamu tidak akan pernah melanggar janji. Tapi keputusan ini sudah bulat, dan aku sudah berjanji pada Nora. Aku tidak bisa mengubahnya lagi. Aku sudah memutuskan, dan aku akan menjatuhkan talak padamu hari ini juga. Jangan benci aku, Ti... Jangan anggap aku kejam. Aku hanya berusaha menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan menjaga janji serta kepercayaan yang sudah kuberikan."
Siti terkulai lemas, tubuhnya gemetar hebat seakan seluruh tenaga dan harapan yang ia miliki telah dicabut paksa dari dalam dirinya. Ia menatap Yusuf dengan pandangan yang kosong namun masih menyimpan sisa cinta yang begitu besar.
"Jadi... sudah tidak ada lagi harapan sama sekali ya, Mas? Sudah tidak ada jalan lain selain ini..." lirihnya dengan suara yang hampir tak terdengar. "Baiklah... Jika memang ini kehendak Mas, dan jika memang ini yang membuat hati Mas dan Mbak Nora tenang dan damai, aku tidak bisa menolak lagi. Aku menyerah... Aku terima semuanya, meskipun hatiku hancur."
Siti menyeka air matanya dengan tangan yang gemetar, lalu tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan dan kesedihan yang mendalam.
"Tapi ingatlah selalu, Mas... Di mana pun aku berada, apa pun statusku, aku tetaplah wanita yang paling mencintaimu di dunia ini. Cintaku ini tidak akan berubah, tidak akan pudar, dan tidak akan pernah berakhir meskipun ikatan ini sudah putus. Aku tidak akan pernah menikah lagi, dan namamu akan tetap menjadi satu-satunya nama yang terukir di hatiku sampai aku mati. Dan untuk anak kita nanti... aku akan jelaskan sebaik-baiknya, aku akan mendidiknya agar tetap menghormati dan menyayangi ayahnya, serta memahami segala keadaan ini."
Yusuf memejamkan matanya rapat, menahan rasa sakit yang luar biasa. "Terima kasih, Ti... Terima kasih atas segalanya. Kamu wanita yang paling mulia dan paling sabar yang pernah aku kenal. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan apa pun selain rasa sakit ini."
"Sudah waktunya, Mas," potong Nora pelan namun tegas.
Yusuf membuka matanya, menatap Siti untuk terakhir kalinya sebagai suami, lalu dengan suara yang berat dan bergetar namun jelas terdengar, ia mengucapkan kalimat yang menjadi akhir dari segalanya.
"Aku Yusuf bin ... menjatuhkan talak satu kepada Siti binti ..."
Hati Siti serasa tercabut keluar saat kalimat itu selesai diucapkan. Rasanya seperti langit runtuh di atas kepalanya, namun ia hanya diam, menangis dalam diam, menerima semuanya dengan kepala yang tertunduk dan hati yang remuk redam. Ia tahu, mulai detik ini, ia benar-benar sendirian. Mulai detik ini, Yusuf bukan lagi miliknya, bahkan hanya sekadar nama di atas kertas pun sudah tidak ada lagi. Namun di dalam hatinya, ia berjanji lagi dan lagi—bahwa rasa cinta ini tidak akan pernah berakhir, dan ia akan tetap menjadi wanita yang setia, meskipun kesetiaan itu kini hanya untuk kenangan dan rasa cintanya sendiri.
Nora mengangguk puas, lalu berdiri. "Sekarang semuanya sudah jelas dan selesai. Kami pamit, Siti. Ingatlah kesepakatan kita, dan kami pun akan menepati janji kami."
Yusuf berjalan mengikuti Nora keluar, namun sesaat sebelum melangkah melewati ambang pintu, ia menoleh sejenak. Tatapan mereka beradu, penuh dengan perasaan yang tak terucapkan, namun keduanya tahu bahwa jalan mereka kini sudah terpisah selamanya.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Siti yang terkulai di lantai, menangis sepuasnya, meratapi nasib dan cinta yang tak pernah bisa ia miliki sepenuhnya. Di dalam hatinya, ia terus berbisik. "Mas Yusuf, meski sudah tidak ada ikatan lagi, kamu tetaplah cinta pertamaku dan terakhirku. Aku akan membawamu dalam hatiku selamanya, sampai napas terakhirku berhenti."
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣