NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 ketenangan sebelum badai dan deru mesin pembantai surgawi

Kesunyian yang menyelimuti lantai puncak Menara Teratai Emas terasa sangat pekat, berbanding terbalik dengan kekacauan energi yang baru saja terjadi. Keenam mayat ahli ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)* telah disingkirkan oleh Mo Chen tanpa meninggalkan setetes darah pun. Di tengah ruangan pualam yang retak-retak, Cang Qixuan duduk bersila dengan mata terpejam, membiarkan esensi jiwa yang baru saja ia telan melebur sepenuhnya ke dalam lautan kesadarannya.

Ini bukanlah proses yang instan. Di dalam novel-novel sejarah kultivasi, menyerap esensi dari satu ahli Jiwa Baru membutuhkan waktu meditasi di ruang tertutup (seclusion) selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memurnikan kehendak asing yang tertinggal di dalam energi tersebut. Jika dipaksakan, sang penyerap bisa mengalami penyimpangan qi (qi deviation) atau kepribadiannya menjadi gila karena tabrakan memori.

Namun, *Seni Pernapasan Menelan Langit* beroperasi di luar batas nalar hukum Dao ortodoks.

Di dalam Dantian Qixuan, entitas *Jiwa Baru Kegelapan* miliknya yang berwujud miniatur dirinya duduk memancarkan cahaya hitam keemasan. Miniatur itu membuka mulutnya, terus-menerus mengunyah dan mencerna enam bola cahaya emas yang berisi ratusan tahun pemahaman kultivasi dari para pembunuh tersebut. Setiap kali energi itu dicerna, sebuah riak gravitasi memancar dari tubuh Qixuan, membuat debu di udara berhenti melayang dan jatuh ke lantai layaknya timah yang berat.

Putri Yan Ling, yang masih memulihkan luka dalamnya di sudut ruangan, menahan napas mengamati fenomena tersebut. Ia bisa melihat dengan mata telanjang bagaimana aura Qixuan memadat, berubah dari gas menjadi cairan spiritual, lalu mengkristal menjadi fondasi yang nyaris tak tergoyahkan di ranah Jiwa Baru tahap menengah. Pemuda ini tidak hanya menyerap kekuatan; ia merampas pemahaman hukum alam musuh-musuhnya.

Satu jam berlalu dalam keheningan absolut. Hanya suara embusan napas Qixuan yang terdengar berirama, panjang dan dalam.

Akhirnya, Qixuan membuka matanya. Sepasang pupil amber-emasnya berkilat tajam sebelum kembali meredup menjadi tatapan malas yang familiar. Ia menghela napas, dan embusan napas itu berupa kabut kelabu yang langsung membekukan cangkir teh pualam di atas meja hingga retak.

"Memakan enam orang tua yang pikirannya hanya dipenuhi cara menggorok leher dari belakang ternyata membuat perut sedikit mual," gumam Qixuan santai, merentangkan otot-otot lengan dan lehernya yang berbunyi renyah.

Ia melirik ke arah Mo Chen yang sedang berdiri memegang sebuah nampan perak berisi enam cincin penyimpanan spasial (storage rings) milik para pembunuh tersebut.

"Hapus segel spiritual pada cincin-cincin itu, Tuanku?" tanya Mo Chen.

Qixuan mengulurkan tangannya. Energi gelap dari ujung jarinya melilit keenam cincin tersebut. Karena pemilik asli cincin itu jiwanya telah dimakan oleh Qixuan sendiri, segel darah pada benda pusaka tersebut hancur tanpa perlawanan.

Pikiran Qixuan menyapu isi keenam cincin spasial itu. Senyum miring yang penuh dengan kalkulasi licik perlahan merekah di wajahnya.

"Sekte Teratai Darah dan Langit Berkabut benar-benar sekte penguasa yang makmur," Qixuan mengambil sebuah gulungan perkamen berwarna merah tua dari salah satu cincin. "Mereka tidak hanya mengirim pembunuh, mereka juga membekali anjing-anjing ini dengan cetak biru (blueprint) formasi pertahanan sekte mereka sendiri agar para pembunuh ini tahu jalur evakuasi jika terjadi kegagalan. Sebuah kehati-hatian yang justru menjadi kunci pintu depan rumah mereka."

Yan Ling melangkah mendekat dengan langkah pelan. "Tuanku... jika Anda memegang peta pertahanan mereka, invasi kita ke Benua Atas akan jauh lebih mudah. Namun, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kedua sekte itu memiliki fondasi ribuan tahun. Leluhur mereka mungkin memiliki senjata pusaka kelas Kaisar yang ditinggalkan oleh dewa purba. Kita tidak bisa hanya mengandalkan tembakan meriam seperti saat menghancurkan Guntur Suci."

Qixuan menatap Yan Ling, seulas senyum mematikan menghiasi bibirnya. "Kau mulai berpikir seperti seorang ahli taktik sejati, Yan Ling. Kau benar. Guntur Suci runtuh karena kesombongan Lei Wuji yang keluar menghadapi kita sendirian. Teratai Darah dan Langit Berkabut kini sudah waspada. Mereka pasti telah mengaktifkan formasi perlindungan tertinggi mereka dan membarikade sekte."

Pemuda itu bangkit berdiri, menyapu debu dari jubahnya. "Berperang secara frontal melawan dua sekte yang sedang bertahan di dalam cangkang kura-kura mereka adalah tindakan bodoh yang membuang banyak waktu dan energi. Itulah sebabnya, aku tidak bermaksud memerangi mereka."

Yan Ling mengernyit bingung. "Tidak memerangi mereka? Lalu, untuk apa armada dan lima ribu meriam raksasa yang sedang disiapkan oleh Nona Hong Lian?"

"Aku tidak mengatakan kita tidak akan menghancurkan mereka," Qixuan mengoreksi dengan nada guru yang sedang mengajari muridnya. "Aku mengatakan kita tidak akan 'berperang' dalam artian tradisional. Peperangan melibatkan pertukaran serangan, pengorbanan nyawa, dan strategi formasi. Itu terlalu melelahkan. Kita akan melakukan sebuah proyek *demolisi*—penghancuran terencana. Dan untuk proyek itu, kita membutuhkan alat berat yang tepat."

Qixuan berjalan melewati Yan Ling menuju pintu lift spiritual yang mengarah ke bagian perut Menara Teratai Emas. "Mari kita lihat apakah 'alat berat' kita sudah siap. Ikut aku."

Di kedalaman seratus meter di bawah tanah Menara Teratai Emas, terdapat sebuah fasilitas raksasa yang panasnya sanggup melelehkan baja biasa dalam hitungan detik. Ini adalah Ruang Tempa Bawah Tanah, markas pribadi Hong Lian.

Ketika Qixuan, Mo Chen, dan Yan Ling melangkah keluar dari lorong, suara dentingan logam yang memekakkan telinga menyambut mereka. Udara dipenuhi oleh asap merah dari pembakaran bijih besi spiritual. Ribuan penempa—baik yang disewa dari serikat senjata Jinling maupun prajurit Naga Hitam yang berbakat dalam elemen api—sedang bekerja tanpa henti di bawah komando sang Teratai Pandai Besi.

Di tengah ruangan raksasa tersebut, berjajar lima ribu laras meriam raksasa yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari *Meriam Naga Pemakan Bintang* generasi pertama. Laras meriam ini berwarna perak kehitaman, memancarkan aura dingin yang sangat menekan, namun di bagian pangkalnya terdapat ukiran naga yang menyala merah membara.

Hong Lian sedang memanjat salah satu laras meriam tersebut, memegang kunci pas spiritual dan memutar sekrup raksasa yang terbuat dari kristal guntur. Seluruh tubuhnya dipenuhi jelaga hitam dan keringat, namun matanya menyala oleh ekstasi yang hanya bisa dipahami oleh seorang seniman gila.

"Hong Lian!" panggil Qixuan, suaranya diperkuat oleh qi agar menembus kebisingan bengkel.

Sang pandai besi legendaris menoleh. Melihat kedatangan majikannya, ia melompat turun dari ketinggian dua puluh meter, mendarat dengan dentuman keras tanpa terluka sedikit pun. Ia berlari mendekat sambil menyeka wajahnya dengan handuk kotor.

"Tuanku! Anda datang tepat waktu!" Hong Lian tertawa bangga, menunjuk ke arah barisan meriam raksasa di belakangnya. "Selamat datang di masa depan peperangan Benua Surgawi! Hamba mempersembahkan... *Meriam Kiamat Timbangan Surga* generasi kedua!"

Qixuan melipat tangannya, mengamati kilauan logam pada senjata-senjata pembunuh massal tersebut. Ia bisa merasakan fluktuasi hukum Dao yang sangat pekat mengalir dari dalam pangkal meriam tersebut.

"Kau berhasil menstabilkan Inti Lava Abadi?" tanya Qixuan, nada suaranya menunjukkan ketertarikan yang serius.

"Itu adalah bagian tersulitnya, tapi berkat artefak koin kuno yang Anda pinjamkan pada hamba, segalanya menjadi mungkin!" Hong Lian mengusap laras meriam terdekat dengan penuh cinta layaknya mengusap bayi.

Hong Lian mulai menjelaskan dengan antusiasme yang meluap-luap. "Pada generasi pertama, kita harus membakar puluhan ribu batu spiritual tingkat atas untuk menghasilkan satu tembakan energi padat. Itu pemborosan yang membuat hati hamba sebagai pandai besi ikut sakit. Namun sekarang, hamba membagi *Inti Lava Abadi*—sumber energi panas tak terbatas peninggalan purba—menjadi lima ribu pecahan kecil menggunakan pembelahan ruang."

Hong Lian menekan sebuah tombol di pangkal meriam. Sebuah panel terbuka, memperlihatkan sebuah ruang kaca kristal di mana pecahan batu lava melayang, memancarkan panas yang ekstrem. Tepat di atas batu lava itu, terdapat sebuah piringan perunggu kecil yang meniru ukiran *Koin Timbangan Surga*.

"Hamba mengukir formasi *Pertukaran Setara* menggunakan pemahaman dari koin Anda ke dalam piringan perunggu itu," lanjut Hong Lian, matanya berbinar gila. "Pecahan lava ini memberikan energi panas (Yang) yang tak terbatas. Namun energi murni saja tidak bisa ditembakkan jarak jauh. Formasi Timbangan ini menyerap energi panas abadi tersebut, dan secara konstan 'menukarnya' dengan qi korosif pemusnah dari kristal racun Yin yang hamba tanam di laras meriam."

Yan Ling yang mendengarkan penjelasan teknis itu merasa kepalanya berdenyut. "Tunggu... maksudmu, meriam ini tidak lagi membutuhkan batu spiritual untuk menembak?!"

"Tepat sekali, mantan Tuan Putri!" Hong Lian menyeringai lebar hingga gigi putihnya terlihat kontras dengan wajahnya yang cemong. "Selama Inti Lava itu masih panas—dan benda itu tidak akan pernah dingin selama ribuan tahun—meriam ini bisa menembak tanpa henti! Kita tidak lagi menembakkan proyektil atau energi mentah. Kita menembakkan *Hukum Kehancuran Murni*! Sekali tekan, sinar yang keluar akan menembus penghalang ruang dan meleburkan apapun hingga ke tingkat molekul atom spiritual!"

Mo Chen menelan ludah secara diam-diam. Menembak tanpa amunisi terbatas. Jika meriam ini dihadapkan pada kota fana, seluruh daratan bisa rata dalam hitungan menit.

Qixuan tersenyum puas. Kualitas barang ini sangat sepadan dengan investasi bahan baku yang ia rampas dari Istana Guntur Suci.

"Sangat mengesankan, Hong Lian. Kau baru saja menciptakan alat yang membuat keberadaan kultivator sekte ortodoks menjadi tidak relevan," puji Qixuan, menepuk laras meriam yang dingin. "Berapa jangkauan efektif tembakannya?"

"Jika menembak secara lurus tanpa terhalang gravitasi planet, bisa mencapai lima puluh li (sekitar 25 kilometer), Tuanku. Sinar tembakannya bergerak dengan kecepatan cahaya spiritual. Tidak ada ahli ranah Inti Emas atau Jiwa Baru awal yang sanggup menghindarinya setelah tombol pelatuk ditarik."

"Sempurna. Pindahkan seluruh lima ribu unit ini ke armada baru kita," titah Qixuan. "Pasang sepuluh unit di setiap kapal pengangkut. Pastikan formasi penyeimbang kapal kuat menahan daya tolak mundur (recoil) tembakannya. Kita tidak ingin armada kita terlempar ke laut saat menembak."

"Sudah diatur, Tuanku! Wakil Jenderal Leng Yue sedang memimpin ribuan kuli angkut untuk menaikkan monster-monster ini ke geladak. Besok fajar, seluruh proses akan selesai!"

Qixuan mengangguk. Ia memutar tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah Yan Ling. "Wali Penguasa, pastikan stabilitas ibukota selama kepergianku. Jangan ada pengeluaran kas negara tanpa persetujuanku. Jika ada tikus istana yang mencoba memanfaatkan kekosongan ini untuk memberontak..."

"Hamba akan mencabut lidah mereka dan menggantung mereka di gerbang kota, Tuanku," potong Yan Ling dengan tatapan mata yang tak kalah mematikan. Ia telah sepenuhnya menyerap esensi kekejaman dari majikan barunya.

"Bagus," Qixuan mengibaskan kipasnya. "Mo Chen, siapkan arak terbaikku dan sepuluh penari musik kecapi untuk menemaniku di kabin utama. Besok kita berlayar melintasi Lautan Kabut sekali lagi. Panggung di Benua Atas sudah terlalu lama sepi tanpa suara ledakan."

Sementara mesin perang yang tak tertandingi sedang disiapkan di Benua Timur, atmosfer yang sangat mencekam dan kental oleh aroma ketakutan menyelimuti dua kutub kekuasaan tertinggi di Benua Atas.

Di wilayah barat yang diselimuti kabut abadi, Markas Besar Sekte Langit Berkabut berdiri di atas pegunungan melayang. Jembatan-jembatan energi menghubungkan setiap puncak gunung yang mengambang di udara. Ini adalah sekte ortodoks yang mengagungkan teknik ilusi dan pergerakan angin.

Namun malam ini, tidak ada angin yang berhembus. Kabut yang biasanya berwarna putih suci kini terasa kelabu dan menyesakkan.

Di dalam Paviliun Awan Tertinggi, Patriark Yun Canghai memegang pecahan plakat jiwa (soul slip) yang sudah hancur menjadi debu. Tiga plakat jiwa milik tiga ahli Jiwa Baru yang ia utus bersama tim dari Sekte Teratai Darah telah musnah secara bersamaan, nyaris tanpa jeda.

"Bagaimana mungkin..." Yun Canghai bergumam pelan, wajahnya yang selalu terlihat bijaksana kini menampilkan kerutan kepanikan yang dalam. "Tiga ahli Jiwa Baru, ditugaskan murni untuk operasi pembunuhan siluman, mati di benua fana yang tidak memiliki qi pelindung? Siapa yang mampu membantai mereka dalam waktu sesingkat itu?"

Di seberang meja gioknya, cermin proyektor gaib kembali aktif, memunculkan proyeksi Patriark Xue Wuyan dari Sekte Teratai Darah. Wajah pucat remaja berusia enam ratus tahun itu tampak terdistorsi oleh amarah yang buas.

"Canghai!" raung Xue Wuyan, suaranya menggetarkan cermin air. "Tiga Master Darahku telah lenyap! Aura jiwa mereka bukan hanya mati, tetapi *ditelan* hingga ketiadaan! Sumpah serapah iblis apa yang sedang kita hadapi?!"

Yun Canghai menekan meja dengan kuat, berusaha menjaga ketenangannya. "Wuyan, tenanglah. Kepanikan tidak akan mengembalikan ahli kita. Kematian mereka membuktikan dua hal. Pertama, Cang Qixuan memiliki kultivasi yang jauh melampaui perhitungan kita, kemungkinan dia sendiri sudah berada di tahap menengah Jiwa Baru atau memiliki artefak pelindung mutlak. Kedua... kegagalan ini berarti kita telah membangunkan naga yang sedang tidur."

"Naga yang tidur?!" Xue Wuyan mencibir kasar. "Dia hanya seekor lintah darat yang memiliki banyak harta! Kita adalah penguasa benua! Jika kita tidak bisa membunuhnya secara diam-diam, kita akan menghancurkannya secara terang-terangan! Aku akan membangunkan Sepuluh Tetua Darah dan mengaktifkan *Formasi Lautan Darah Sembilan Lapis*! Biarkan armada konyolnya datang! Aku akan menenggelamkan mereka semua ke dalam lautan darah!"

"Dengar, Wuyan. Jangan meremehkannya," peringat Yun Canghai, matanya menyipit penuh kalkulasi. "Istana Pedang Guntur Suci runtuh karena Lei Jiantian meremehkan sayembara uangnya. Kita tidak boleh membuat kesalahan yang sama. Tutup rapat-rapat sekte kita. Jangan biarkan satu pun murid atau tetua keluar dari formasi perlindungan."

"Kau ingin kita bersembunyi seperti kura-kura ketakutan di rumah kita sendiri?!" marah Xue Wuyan.

"Ini bukan bersembunyi, ini pertahanan mutlak!" bantah Yun Canghai tegas. "Kekuatan utama pemuda itu adalah uangnya, yang bisa membeli ribuan kultivator liar untuk menyerang kita. Tapi ingat, kultivator liar itu lemah. Jika kita menutup sekte dan mengaktifkan formasi pembunuh raksasa di sekitar gunung kita, tidak ada satu pun kultivator liar yang bisa masuk. Ketika Cang Qixuan dan armadanya terpaksa menyerang formasi raksasa kita, energi mereka akan terkuras. Di saat itulah, kita menggabungkan kekuatan dan menyerang baliknya."

Xue Wuyan terdiam sejenak, otaknya mencerna strategi bertahan tersebut. Memang memalukan bagi sekte raksasa untuk menutup pintu mereka karena takut pada seorang pemuda fana, namun ancaman kehancuran Guntur Suci terlalu nyata untuk diabaikan.

"Baiklah. Aku akan menarik seluruh pasukan ke dalam wilayah Formasi Lautan Darah," Xue Wuyan akhirnya menyetujui. "Tapi jika dia berhasil mendekati wilayah kita, aku tidak akan menahan diri. Aku akan memanggil Avatar Dewa Darah untuk menyedot setiap tetes darah dari tubuh sombongnya itu."

"Kita hadapi badai ini bersama," Yun Canghai mengangguk, sebelum memutus komunikasi.

Sang Patriark Langit Berkabut itu bersandar di kursinya yang terbuat dari awan spiritual. Ia memejamkan mata. Meskipun ia telah menyusun strategi pertahanan yang ia yakini sempurna, ada hawa dingin yang merayap di tengkuknya. Firasat buruk yang belum pernah ia rasakan selama lima ratus tahun terakhir. Sebuah insting yang membisikkan bahwa tembok formasi setebal apa pun tidak akan ada artinya di hadapan seseorang yang tidak bermain menggunakan pedang atau mantra... melainkan hukum kehancuran yang didanai oleh emas tak berujung.

Tujuh hari kemudian, di perbatasan wilayah udara Benua Atas.

Langit cerah mendadak digelapkan oleh formasi barisan yang sangat masif. Dua ratus kapal terbang *Fatamorgana Emas* melesat membelah awan dengan formasi bentuk baji (wedge). Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi, tidak ada penyamaran. Armada ini bergerak dengan kecepatan penuh, menembakkan kembang api spiritual ke udara sebagai proklamasi terang-terangan akan kedatangan mereka.

Di atas kapal bendera, Cang Qixuan berdiri di tepi haluan. Di belakangnya, Leng Yue dan Hong Lian berdiri siaga. Seratus ribu prajurit Naga Hitam berbaris di geladak berbagai kapal, tombak dan perisai mereka yang berlapis emas memantulkan cahaya matahari layaknya lautan bintang yang turun ke bumi.

Angin kencang menerpa wajah Qixuan. Matanya memandang jauh ke arah daratan Benua Atas yang luas, di mana gunung-gunung melayang dan sungai darah terlihat di kejauhan.

"Mereka belajar dari kesalahan tetangga mereka," gumam Qixuan, senyum sinis tersungging di bibirnya. Indera Jiwa Barunya yang tajam telah memindai area pesisir. Tidak ada pasukan musuh yang berjaga. Tidak ada penyergapan. Kedua sekte raksasa itu benar-benar mengurung diri mereka di dalam radius ratusan li dari markas masing-masing.

Shen Feiyan, sang kapten armada, melangkah mendekat dengan peta navigasi gaib di tangannya.

"Tuanku, mata-mata bayangan kita dari serikat dagang lokal melaporkan bahwa Sekte Teratai Darah dan Langit Berkabut telah mengaktifkan formasi perlindungan tertinggi mereka," lapor Shen Feiyan. "Mereka mengevakuasi semua aset di luar sekte dan membarikade pintu masuk. Formasi *Lautan Darah Sembilan Lapis* milik Teratai Darah sangat beracun dan bisa melelehkan perisai kapal kita dalam hitungan menit jika kita memaksa masuk."

"Bagus. Mereka bersembunyi karena mereka tahu sayembara emasku tidak akan mempan pada formasi mati," Qixuan mengibaskan kipas gioknya, matanya memancarkan arogansi absolut. "Mereka berharap kita akan kehabisan energi jika menyerang dinding tebal mereka."

Leng Yue mengerutkan kening. "Lalu apa perintah Anda, Panglima? Apakah kita akan membagi pasukan dan mengepung mereka untuk memutus jalur logistik mereka?"

"Mengepung? Itu taktik zaman batu yang hanya digunakan oleh orang miskin yang tidak punya senjata penghancur," Qixuan tertawa pelan. Ia menoleh ke arah Hong Lian. "Nona Pandai Besi, kau dengar jarak formasi pertahanan mereka? Ratusan li di depan."

Hong Lian menyeringai buas, menjilati bibirnya yang kering karena antusiasme. Ia mengayunkan palu merahnya ke udara. "Jarak tempuh *Meriam Kiamat Timbangan Surga* kita mencapai lima puluh li tanpa halangan. Jika kita menaikkan ketinggian armada ini hingga menembus awan dan membiarkan gravitasi menambah daya dorong sinar meriam, kita bisa menembak langsung dari jarak seratus li tanpa mereka bisa membalas!"

"Tepat," Qixuan menjentikkan jarinya. "Shen Feiyan, bawa armada ini naik ke lapisan atmosfer teratas. Posisikan kapal-kapal ini tepat di batas pandang awan di atas Sekte Teratai Darah. Kita tidak akan membuang waktu mengirim infanteri ke depan pintu mereka."

Shen Feiyan menelan ludah, segera meneriakkan perintah kemudi melalui formasi komunikasi. Seluruh dua ratus armada kapal terbang perlahan mengangkat moncong mereka, menanjak dengan sudut tajam menembus lapisan awan putih, terus naik hingga udara di luar kapal menjadi sangat tipis dan dingin.

Dari ketinggian ribuan meter di atas permukaan tanah, markas raksasa Sekte Teratai Darah terlihat seperti titik merah kecil yang dikelilingi oleh kubah perlindungan berwarna darah murni. Kubah itu terus berdenyut, memancarkan racun korosif yang mencegah siapapun mendekat. Para murid sekte di bawah sana merasa aman, berlindung di bawah cangkang kura-kura yang mereka yakini tak bisa ditembus oleh dewa sekalipun.

"Tuanku," Hong Lian berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di ketinggian. "Lima ribu unit *Meriam Kiamat Timbangan Surga* telah membidik target! Inti Lava Abadi telah dipanaskan hingga suhu peleburan absolut. Hukum *Pertukaran Setara* dalam laras telah menukar panas menjadi energi pemusnah Yin!"

Di geladak puluhan kapal, laras-laras meriam raksasa itu memancarkan cahaya hitam pekat yang dikelilingi percikan merah lava. Tekanan energi di dalam meriam itu begitu masif hingga ruang di sekitar mulut laras mulai retak dan meliuk-liuk. Udara menjerit menahan beban hukum Dao buatan yang dipaksa tercipta oleh kekuatan uang dan kejeniusan tempa.

Qixuan berdiri di tepi haluan. Ia tidak mencabut pedang. Ia tidak merapal mantra yang rumit. Ia hanya membuka kipas gioknya, dan menurunkannya perlahan seperti konduktor orkestra yang memberi aba-aba untuk memulai sebuah simfoni kematian.

"Mereka ingin bersembunyi dari dewa uang?" Qixuan berbisik dingin pada angin. "Kalau begitu, biarkan mereka merasakan bagaimana rasanya saat langit itu sendiri runtuh menimpa kepala mereka."

Pemuda itu menghentakkan kakinya.

"Tembak."

Satu perintah pendek. Satu kata sederhana.

*DZHUUUUMMMM-------!!!!*

Lima ribu meriam raksasa meledak secara serempak. Tidak ada dentuman peluru fisik, melainkan suara robekan dimensi yang sangat mengerikan.

Lima ribu pilar sinar berwarna hitam kemerahan—kombinasi dari hukum pemusnah dan panas magma abadi—melesat dari langit dengan kecepatan cahaya spiritual. Sinar-sinar itu membelah awan putih menjadi dua, menciptakan lubang-lubang vakum raksasa di udara, dan menghujam lurus ke arah kubah pertahanan Sekte Teratai Darah di bawah sana.

Ini bukanlah serangan pasukan fana. Ini bukanlah tebasan pedang dari seorang dewa. Ini adalah artileri surgawi generasi kedua yang ditenagai oleh inti bintang mati, yang ditembakkan secara beruntun tanpa ampun dari ketinggian yang tidak bisa dijangkau oleh musuh.

Matahari Benua Atas tertutup oleh hujan pilar energi hitam. Kiamat telah tiba, dan tagihannya diantar langsung dari langit. Sang Penguasa Langit Berdarah memulai simfoni pembantaian absolutnya.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!