Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - HEWAN YANG TIDAK NORMAL
Pagi hari itu datang bukan bersama kicau burung, melainkan pekikan histeris yang membelah kesunyian. Damar yang baru saja terlelap beberapa jam langsung tersentak bangun dari dipan tipisnya. Insting bertahan hidup yang tertempa selama hari-hari jahanam belakangan ini membuat tubuhnya bergerak reflektif, melompati pintu bahkan sebelum kesadarannya pulih seutuhnya.
Di luar barak, situasi sudah telanjur gaduh. Langkah kaki orang-orang yang berlarian menciptakan kepanikan masal yang menular dengan cepat.
"Ada yang masuk!"
"Tahan gerbang timur! Amankan perimeter!"
"Cepat, bawa senjata!"
Tanpa membuang waktu, Damar meraih linggis besi yang selalu setia tergeletak di samping tempat tidurnya, lalu ikut berhamburan keluar. Udara pagi itu terasa menusuk tulang, sementara langit di atas kamp masih betah menyelimuti diri dengan warna kelabu yang muram. Namun, yang membuat bulu kuduk Damar meremang seketika bukanlah karena embusan angin dingin, melainkan raut horor yang tercetak jelas di wajah para penjaga kamp yang biasa bersikap tegap.
"Ada apa?" tanya Damar setengah berteriak pada salah seorang tentara yang berlari berlawanan arah.
Tentara itu tidak berhenti, hanya menunjuk panik ke arah pagar pembatas timur. "Ke sana! Cepat!"
Damar memacu langkahnya. Begitu tiba di dekat pagar kawat berduri, ia mendapati kerumunan orang sedang melingkari sesuatu yang tergeletak kaku di atas tanah yang becek. Penasaran, Damar menyelinap di antara celah bahu orang-orang untuk mengintip.
Seekor anjing. Atau setidaknya, makhluk itu dulunya memang seekor anjing.
Kondisi bangkai itu luar biasa mengenaskan sekaligus mengerikan. Tubuhnya kurus kering kerontang hingga gumpalan tulang rusuknya menyembul jelas di balik kulit yang mengelupas dan menempel ketat pada daging hitam. Sebagian besar bulunya sudah rontok total, menyisakan kulit korengan dengan sepasang mata yang berwarna merah keruh.
Namun, bagian yang paling membuat perut mual adalah bagian mulutnya. Rahang anjing itu tampak robek paksa ke belakang hingga hampir mencapai pangkal telinga, memamerkan deretan gigi-gigi baru yang tumbuh runcing, panjang, dan tumpang-tindih secara tidak normal.
"Astagfirullah... Gusti..." Damar menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sekering pasir.
Anjing itu memang sudah mati dengan kepala hancur akibat terjangan timah panas para penjaga. Namun, hanya dengan menatap anatomi tubuhnya yang sudah terdistorsi gila-gilaan, insting paling primitif di dalam diri manusia akan berteriak bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Alya muncul dari belakang kerumunan, membelah barisan dengan wajah penasaran. Begitu tatapannya jatuh pada bangkai monster berkaki empat itu, langkahnya langsung tertahan. Semburat pucat menjalar di wajahnya.
"Itu... anjing?" tanya Alya, suaranya agak bergetar.
"Susah buat bilang kalau makhluk jahanam ini masih bisa disebut anjing," sahut salah seorang tentara yang berdiri di dekatnya sambil meludah gusar.
Tak lama, Kapten Rendra tiba di lokasi dengan langkah lebar. Pria paruh baya itu berjongkok di samping bangkai, mengamatinya lurus-lurus selama beberapa saat dengan kening berkerut dalam. "Siapa yang pertama kali lihat?"
"Saya, Pak," seorang penjaga muda berwajah pias mengangkat tangannya dengan ragu.
"Bagaimana ceritanya?"
"Tadi pas subuh, makhluk ini mendadak muncul dari balik semak-semak luar," penjaga itu menjeda kalimatnya, mencoba menata napasnya yang masih syok. "Saya kira cuma anjing liar kelaparan biasa. Tapi pas saya dekati, dia langsung melompat tinggi banget, hampir dua meter, Pak! Dan dia langsung mengincar leher saya dengan mulut robeknya itu."
Seketika itu juga, keheningan yang mencekam langsung menyergap area pagar timur. Tidak ada yang berani bersuara, karena di dalam kepala masing-masing orang, sebuah kesimpulan mengerikan yang sama sedang terbentuk: virus ini tidak lagi terbatas pada manusia. Makhluk itu sedang bermutasi.
Menjelang siang, riak kepanikan di dalam kamp perlahan-lahan mulai mereda, meski suasana batin para penghuninya tidak bisa dikatakan membaik. Desas-desus tentang anjing mutasi tadi pagi menyebar cepat bagai api liar, menjadi topik obrolan penuh ketakutan di setiap sudut barak.
Damar sedang sibuk memaku pasak kayu tambahan untuk memperkuat struktur pagar timur ketika Alya berjalan menghampirinya. Gadis itu menyodorkan sebotol air mineral yang langsung mengembun di bawah terik matahari yang samar.
"Minum dulu, Mar."
Damar menerima botol tersebut dengan tangan kirinya yang bebas, mengusap keringat di dahi dengan punggung lengan. "Makasih."
Alya mengambil posisi duduk di atas sebatang kayu log di samping Damar, menatap kosong ke arah luar pagar. "Kamu... percaya kalau virus sialan ini benar-benar bisa menular ke hewan?"
Damar memutar tutup botol dengan bunyi *klek* yang kentara, lalu meneguknya beberapa kali sebelum menjawab. "Sekarang? Urang percaya apa aja. Mau ada naga sekalipun muncul, kayaknya aku bakal percaya."
Alya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum getir. Sulit untuk mendebat ucapan Damar. Ketika dunia sudah terbalik sekacau ini, garis batas antara hal yang masuk akal dan yang mustahil rasanya sudah kabur sepenuhnya.
Sore harinya, sebuah tim taktis kecil dibentuk atas perintah Kapten Rendra. Misinya sederhana namun krusial: mencari sumber air bersih tambahan di luar perimeter dan memetakan kondisi lingkungan sekitar kamp yang kian hari kian tidak bisa diprediksi. Damar mengajukan diri, begitupun dengan Alya. Bersama mereka, ada dua tentara bersenjata lengkap yang bertindak sebagai pengawal.
Tepat pukul tiga sore, keempatnya mulai melangkah keluar dari gerbang aman. Target utama mereka adalah sebuah stasiun pompa air lama yang berjarak sekitar dua kilometer ke arah timur dari kamp.
Awalnya, perjalanan terasa begitu mulus. Langkah kaki mereka membelah jalanan kota yang dipenuhi rongsokan kendaraan yang terbengkalai. Gedung-gedung jangkung yang kosong berdiri tegak di kanan-kiri jalan, tampak tak ubahnya seperti hantu-hantu beton raksasa yang mengawasi dari ketinggian. Anehnya, jumlah *infected* manusia yang biasanya berkeliaran bebas justru turun drastis hari ini. Hanya ada satu-dua yang tampak linglung di kejauhan.
Justru senyap yang berlebihan inilah yang membuat atmosfer terasa janggal dan mencekam.
"Terlalu sepi," celetuk Alya, menyuarakan firasat buruk yang sejak tadi menyumbat dada semua orang.
Damar mengangguk setuju, matanya waspada menyisir setiap sudut gang. "Enya, berasa aya nu aneh."
Salah satu tentara di depan mereka terkekeh hambar tanpa menoleh. "Di dunia yang sekarang, Dik, kalau suasananya terlalu tenang, itu justru tanda kalau masalah besar lagi mengintai kita."
Beberapa ratus meter kemudian, mereka memasuki sebuah kawasan perumahan tua yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Ilalang dan rumput liar tumbuh subur menembus sela-sela aspal jalan. Beberapa rumah tampak hancur berantakan dengan atap roboh, sementara sebagian lainnya masih berdiri utuh namun dengan aura yang mati.
Tiba-tiba, tentara yang memimpin di depan mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi. Isyarat untuk berhenti.
Seketika itu juga seluruh anggota tim membeku, menahan napas.
"Ada suara," bisik tentara itu pelan.
Mereka semua mempertajam rungu, mencoba menangkap suara di antara siulan angin sore.
*Krek... Krek... Krek...*
Suara gesekan benda tajam yang janggal terdengar ritmis dari balik gundukan sampah besar di dekat selokan jalan. Damar refleks mempererat genggamannya pada linggis besi, hingga urat-urat di lengkannya menegang. Di sebelahnya, Alya sudah mengangkat tongkat aluminiumnya dalam posisi siap memukul.
Suara gemerisik itu terdengar semakin mendekat, meluncur dari balik bayang-bayang sampah. Lalu, sesuatu melesat keluar.
Seekor tikus. Namun, ukurannya sama sekali tidak masuk akal—hampir sebesar kucing rumahan dewasa. Tubuh hewan pengerat itu dipenuhi luka-luka koreng yang membusuk, dan sepasang matanya menyala merah dalam kegelapan sore. Menakjubkannya, tikus itu sama sekali tidak menunjukkan naluri alami hewan untuk kabur saat melihat manusia yang ukurannya jauh lebih besar. Malahan, makhluk itu berdiri tegak, menatap tajam ke arah Damar dan tim sebelum akhirnya mendongak dan melepas lengkingan nyaring.
"CIIIIITTTT!"
"Aduh, cilaka..." Damar merasakan firasat buruk yang luar biasa hebat langsung menghantam dadanya.
Benar saja, hanya berselang satu detik setelah lengkingan itu putus, puluhan suara serupa yang tak kalah melengking langsung menyahut bersahut-sahutan dari segala penjuru mata angin. Dari dalam selokan yang gelap, dari sela pintu rumah-rumah kosong yang terbuka, hingga dari tumpukan sampah; ratusan pasang mata merah mendadak menyala serentak.
"CIIITTT! CIIIIIITTT!"
Wajah kedua tentara pengawal langsung berubah pucat pasi seputih kertas. "Mundur! Mundur sekarang!"
Namun, perintah itu kalah cepat dengan pergerakan musuh. Bak air bah yang jebol dari bendungan, ratusan tikus mutasi itu langsung merubung keluar dan menyerbu ke arah mereka dengan kecepatan yang mengerikan.
"SIALAN! LARI!"
Mereka berbalik arah dan memacu kaki secepat yang mereka bisa. Suara ribuan cakar kecil yang bergesekan dengan aspal di belakang mereka terdengar bising, menyerupai gema suara hujan deras yang mengguyur bumi. Tikus-tikus jahanam ini bergerak jauh lebih lincah dan cepat ketimbang *infected* manusia biasa, dan jumlah mereka yang kolosal membuat perlawanan langsung menjadi tindakan bunuh diri.
Seekor tikus melompat tinggi, mengincar wajah Alya. Namun dengan ketenangan seorang atlet, Alya mengayunkan tongkatnya di udara.
*BRAK!*
Tubuh hewan itu hancur terpental menghantam aspal. Namun, posisi hewan yang mati itu langsung digantikan oleh tiga tikus lain yang melompat dari arah berbeda.
"Jangan berhenti! Terus lari!" teriak tentara satunya sambil melepaskan rentetan tembakan acak ke arah tanah untuk menghambat laju kawanan.
Di depan mereka, ada sebuah rumah dua lantai dengan konstruksi beton yang tampak masih kokoh. Tanpa pikir panjang, tentara di depan menghantamkan badannya ke pintu utama hingga jebol. Mereka semua berhamburan masuk ke dalam, lalu dengan sisa tenaga yang ada, mereka membanting kembali pintu kayu ek tebal itu hingga tertutup rapat.
*BRAKK!*
Belum sempat kunci slot berputar penuh, suara benturan masal langsung terdengar bertubi-tubi dari balik pintu.
*DUG! DUG! DUG!*
Puluhan tubuh tikus menghantam permukaan kayu dari luar dengan beringas, diiringi suara cakar yang menggaruk-garuk frustrasi.
"Gusti Nu Agung..." Damar jatuh terduduk di lantai, napasnya naik-turun tak beraturan dengan dada yang naik-turun hebat.
Alya bersandar pada dinding di sudut ruangan, mencoba menenangkan debar jantungnya. Bahkan untuk ukuran seorang atlet yang memiliki mental baja, guratan syok di wajahnya tidak bisa disembunyikan. "Ini... ini jauh lebih mengerikan daripada zombi biasa, Mar."
"Setuju" sahut Damar dengan sisa tenaganya.
Dari celah kisi-kisi jendela yang berdebu, mereka bisa melihat pemandangan di luar yang mengerikan. Halaman depan rumah itu kini sudah berubah menjadi lautan bulu hitam dan mata merah yang bergerak gelisah. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan, dan semuanya bertingkah luar biasa agresif seolah-olah rasa takut mereka terhadap predator yang lebih besar telah dihapus sepenuhnya dari kode genetik mereka.
Komandan tim tentara mengutuk pendek, menendang lemari di dekatnya. "Virus sialan ini benar-benar sudah merusak alam."
Mereka tertahan di dalam rumah asing itu selama hampir satu jam penuh dalam ketegangan yang menyiksa. Baru ketika matahari mulai tergelincir sepenuhnya di balik cakrawala dan menyisakan kegelapan malam, kawanan tikus mutasi itu perlahan-lahan membubarkan diri, bergerak mencari mangsa lain.
Memanfaatkan kesempatan itu, tim akhirnya berhasil mengendap-endap kembali dan tiba di kamp menjelang malam hari. Namun, mereka pulang dengan tangan hampa tanpa membawa setetes pun air bersih—hanya membawa kabar buruk yang siap merenggut sisa ketenangan kamp.
Kapten Rendra mendengarkan seluruh kronologi laporan dengan gurat wajah yang semakin berkerut dalam di bawah temaram lampu badai. "Anjing mutasi di gerbang timur... lalu sekarang gelombang tikus mutasi di distrik perumahan. Dan jumlahnya masif."
Ruangan taktis itu mendadak hening total. Tidak ada satu pun orang yang menyukai fakta yang baru saja mereka dengar. Karena bagi mereka yang berpikir jauh ke depan, arti dari fenomena ini sudah sangat jelas: musuh umat manusia untuk bertahan hidup tidak lagi sekadar mayat-mayat hidup yang lamban. Alam sedang berbalik melawan mereka. Hewan-hewan sedang berubah menjadi mesin pembunuh baru, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu monster jenis apa lagi yang akan mengetuk gerbang kamp esok pagi.
Malam itu, Damar benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba menutup kelopak mata, bayangan deretan gigi robek anjing mutasi dan kilatan mata merah tikus-tikus tadi siang langsung terbayang di dinding otaknya.
Gundah, ia memutuskan berjalan naik ke area atap kamp untuk mencari udara segar. Di sana, ia kembali menemukan Alya yang rupanya sedang duduk memeluk lutut, menatap hamparan kegelapan kota yang membentang luas di kejauhan. Damar berjalan mendekat lalu mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Aku sempat mikir kalau zombi-zombi itu adalah skenario terburuk yang bisa dikasih dunia ke kita," ucap Alya lirih tanpa menoleh, memecah kesunyian malam yang dingin. "Ternyata aku salah besar."
Damar mengangguk pelan, membiarkan angin malam memainkan rambutnya yang berantakan. "Kalau tikus yang sekecil itu aja bisa berubah jadi sebuas itu..." Kalimat Damar menggantung di udara, sengaja tidak ia selesaikan.
Sebab, baik dirinya maupun Alya, saat ini sedang memikirkan kemungkinan mengerikan yang sama. Jika tikus dan anjing saja bisa bermutasi sekorup itu, bagaimana dengan hewan-hewan lain yang ukurannya jauh lebih masif? Kucing, babi hutan, sapi, atau hewan-hewan pemangsa lain yang ada di kebun binatang kota? Dunia baru ini perlahan bertransformasi menjadi taman bermain bagi monster.
Angin malam kembali berembus pelan, membawa gema erangan parau *infected* manusia dari distrik bawah yang sudah biasa mereka dengar. Namun, tepat pada detik itu juga, sebuah gelombang suara lain yang asing mendadak memotong kegelapan malam, membuat tubuh Damar seketika kaku membeku di tempat duduknya.
Sebuah suara lolongan. Panjang, serak, bergaung berat, dan memiliki frekuensi yang sama sekali tidak terdengar seperti lolongan seekor anjing peliharaan biasa.
*AWWWWWHHHHHH—*
Suara gaib itu menggema dari kedalaman pusat kota yang gelap gulita. Belum sempat gema lolongan pertama itu surut, sebuah suara balasan mulai terdengar dari sudut lain. Satu, dua, lima, lalu belasan lolongan serupa bersahut-sahutan dari berbagai penjuru mata angin, membentuk simfoni malam yang meneror akal sehat.
Alya perlahan bangkit berdiri dari posisinya, seluruh persendiannya menegang dengan wajah yang memucat di bawah sinar rembulan yang redup. "Mar... itu suara..."
Damar ikut berdiri, tangannya tanpa sadar meraba gagang linggis di pinggangnya, sepasang matanya menatap tajam ke arah kegelapan pekat kota di luar sana. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya.
"Makhluk itu... mereka bukan cuma ada satu."
Di balik lautan puing bangunan yang mati dan gelap gulita di depan mereka, sesuatu yang besar, liar, dan lapar sedang bergerak dinamis dalam jumlah banyak. Sesuatu yang bukan lagi manusia, dan jelas bukan zombi biasa yang bisa mereka tangani dengan mudah. Virus jahanam itu telah resmi menemukan inang baru yang jauh lebih mematikan.