Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Liona.
“Gila kamu Liona...!!!” Seru Steve tak peduli dengan tangisan bayi di dalam pelukan Liona.
“Steve… ini permintaan terakhir dariku, aku mohon bantu aku merawat anak ku dan patric.” Lirih Liona yang mendapat tatapan sinis dari Steve.
“Aku masih ingat dulu kamu menyakitiku dengan perselingkuhan kalian, dan sekarang aku harus membantumu merawat anak dari buah cinta kasih kalian….!!! Gila kamu Liona, kamu benar banget tidak waras. Apa kamu lupa bagaimana sakitnya hatiku melihat kalian bermesraan di apartemenmu….!!?” Tunjuk Steve ke arah Liona yang menundukkan kepalanya, sambil berusaha menangkan bayi kecilnya yang menangis.
“Aku masih ingat Steve, tapi aku tidak bisa merawat dia sendirian. Karena… karena aku…” Liona menghentikan ucapannya, rasanya mulutnya seakan tertutup rapat untuk meneruskaan ucapannya.
“Aku tidak mau Liona, aku tidak ingin sakit hati melihat bayi itu….! Asal kamu tahu Liona, hatiku masih sakit mengingat semuanya. Dan kamu tahu, berapa tahun aku harus mengobati rasa sakit itu…!! Satu tahun Liona, satu tahun aku baru bisa mengikhlaskan kebahagiaan kalian….!!!” Seru Steve yang perlahan memelankan suaranya, tapi masih terdengar kekesalan yang ada di setiap nada bisarany?
“Maafkan aku Steve, maafkan aku dan almarhum patric yang sudah menyakitimu.” Lirih Liona merasa bersalah.
Steve menghela nafasnya, hati dan pikirannya terasa sangat berat dan sakit mengingat kejadian yang terasa menyakitkan baginya. Steve menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa, dia ingin menenangkan dirinya sebelum menatap Liona untuk yang ke sekian kali.
“Aku hanya ingin dia mendapat kasih sayang seorang papa, yang tidak mungkin dia dapatkan. Aku juga tidak akan bisa menemaninya, kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku jika mereka mengetahui keberadaan bayi ini, pasti mereka akan membawa pergi jauh bayi ini, dan aku tidka ingin itu terjadi.” Tatapan mata Liona menatap penuh kasih ke bayi yang kini tengah tertidur lelap di pelukannya.
Liona yang melihat bayinya terlelap berusaha berdiri setelah mengancingkan kancing bajunya, dia akan meletakkan bayinya di dalam box bayi. Steve yang melihat Liona merasa tidak tega, dia segera berdiri dan membantu Liona untuk menaruh bayinya ke dalam box yang ada di samping Liona.
“Serahkan bayi itu, biar aku membantumu.” Steve menengadahkan kedua tangannya, dia meminta bayi yang di bawa Liona untuk dia gendong dan taruh di box bayi.
Liona menatap Steve, dia tahu jika Steve tidak akan tega dengan Liona. Dia paham dan hapal bagaimana sifat Steve, karena kebersamaan Steve dan Liona terbilang tidak lama. Tiga tahun mereka menjalin kasih dan memahami karakter masing masing.
Wajah teduh dan imut bayi yang kini dalam gendongan Steve, membuat hati Steve terenyuh. Dia memperhatikan setiap inci wajah bayi Liona, sangat mirip dengan patric sahabatnya dulu,
“Dia sangat mirip dengan patric.” Gumam Steve sambil tersenyum menatap bayi yang ada di gendongan Steve.
“Hmm… sangat mirip dna benar benar mirip.” Jawab Liona dengan suara perlahan.
Steve menaruh bayi merah yang masih tertidur lelap di dalam box bayi dengan perlahan, dia tidkak ingin bayi tersebut terbangun karena gerakkan nya yang sedikit kasar. Liona yang melihat betapa lembutnya Steve menjadikan ingatan Liona berputar ke beberpa tahun lalu, saat dia masih menjadi kekasih Steve.
Steve yang sangat manis dan penuh perhatian memperlakukan Liona, sebelum kedatangan patric di kehidupan mereka berdua. Patric yang menyukai Liona dalam diam sekaan berusaha merebut hati dna perhatian Liona, saat Steve tidak di dekat Liona.
“Liona…” panggil Steve menatap wanita cantik yang pernah menjadi kekasihnya.
“Iya Steve…” jawab Liona menatap Steve penuh kasih.
“Aku akan bantu kamu, tapi….” Ucapan Steve tertahan, dia bingung dengan isi hati dan pikirannya sendiri,
“Kamu bingung bagaimana mengatakan ke kedua orang tuamu…?” Ucap Liona yang seolah tahu akan kegundahan hati Steve.
“Hmm… apa yang harus aku katakan ke kedua orang tuaku, tidak mungkin aku bilang jika dia anak ku. Sedangkan yang mereka tahu selama ini aku ada di Indonesia meneruskan studi ku di sana,” jelas Steve yang membuat Liona menutup Kedua mulutnya tak percaya.
“Jadi selama ini kamu tidak ada di negara ini Steve, selama ini kamu ada di Indonesia…?” Tanya Liona memastikan ucapan Steve.
“Hmm… aku sengaja ke sana, karena aku ingin mengobati sakit hati ku. Juga aku ingin melanjutkan studi ku di sana.” Jawab Steve jujur.
“Maaf Steve…” sesal Liona tak berani menatap Steve.
“Sudahlah Liona, semua sudah berlalu. Kini yang kita pikirkan, bagaimana merawat bayi mu…? Apa langkah yang harus kita lakukan selanjutnya…?”
Liona dan Steve saling berpandangan, mereka tengah berfikir keras mencari jawaban atas pertanyaan yang Steve katakan.
Sedangkan di belahan negara lain, Leon yang tampak bersemangat berjalan di salah satu conter handphone yang ada di mall terbesar di Jakarta. Tampak sedikit tergesa, dia ingin segera membeli ponsel dan menghubungi Steve.
Leon tidak ingin berlama lama membuat Steve menunggu kabar darinya, semalaman Steve tidak pulang dan ponsel yang rusak milik Leon membuat dia merasa gelisah. Tak menunggu lama dan banyak tanya, Leon memutuskan membeli ponsel keluaran terbaru yang sednag viral saat ini.
Setelah memasukkan sim card miliknya di dalam ponsel dan mengikuti langkah langkah yang harus dia lakukan untuk bisa mengaktifkan ponsel pintarnya. Leon segera mencari kontak milik Steve, beruntung Leon menyimpan nomer penting di e mail pribadinya tanpa dia harus bersusah payah mencari nomer milik Steve.
Leon segera menguhungi Steve, terdengar bunyi nada sambung membuat jantung Leon berdetak sangat cepat. Rasa kawatir dan rindunya bercampur jadi satu, terdengar seseorang telah mengangkat telpon dari Leon. Suara wanita yang sangat merdu langsung dapat Leon dengar, dada Leon terasa sesak mendengar suara lembut seorang wanita menjawab telpon Steve.
“Hello... who am i speaking to…?” Tanya lembut suara wanita.
Leon tertegun sesaat mendengar suara yang terdengar asing di sebarang sana, dia tahu jika suara itu bukan dari aura istri dari Alex.
“Where is Steve?” Tanya Leon tanpa basa basi.
“Steve is still in the bathroom, if there is anything you want to say, you can talk to me...” jawab wanita yang menjawab telpon steve.
Mendengar ucapan wanita itu Leon merasa penasaran, bagaimana bisa wanita itu memutuskan tidak ingin memanggil Steve dan harus wanita itu yang menyampaikan ke Steve jika ada yang akan Leon sampaikan.
“Who are you Steve...?” Tanya Leon sangat penasaran.
Tanpa Leon sadari wanita tersebut tersenyum, dia menatap siapa yang telah menguhungi Steve di layar handphone Steve.
“I am his future wife” jawab wanita tersebut.
Dada Leon seakan terhimpit batu besar, nafasnya tercekat mendengar kenyataan jika Steve telah mempunyai calon istri. Leon meraup wajahnya kasar, dia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Leon yang tidak ingin berlama lama berbicara dengan calon istri Steve segera mematikan telponnya sepihak.
Sedangkan di negara lain, Steve yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap Liona yang tersenyum senang. Steve menautkan kedua alisnya, dia penasaran ada apa dengan Liona.
“Apa yang kamu lakukan Liona, sampai wajahmu tersenyum seperti itu…?” Tanya Steve penasaran.
“Oh tidak, hanya senang saja.” Jawab Liona sambil menenarkan posisi duduknya.