NovelToon NovelToon
Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:712
Nilai: 5
Nama Author: Agung Noviar

Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 PERSIAPAN TERAHKIR UNTUK PERANG

Suasana di taman istana perlahan mereda setelah tubuh Raiga yang tak sadarkan diri dibawa pergi oleh ayah dan ibunya dengan tergesa-gesa. Raja Iblis mendehem keras, memecah keheningan para bangsawan yang masih terpaku.

Raja berdiri dengan pongah, senyum kepuasan menghiasi wajahnya. "Lihatlah, para tamu sekalian! Kekuatan di Ibu Kota sudah lebih dari cukup untuk melumat pasukan Zetobia di Lembah Nox. Jika hanya menghadapi kroco-kroco itu, kami tak butuh bantuan. Kecuali jika perang dunia pecah, barulah kami akan memanggil kota-kota lain untuk menyumbang nyawa."

Para bangsawan segera berdiri dan bertepuk tangan riuh, meski beberapa dari mereka tampak memaksakan senyum.

Di pinggir lapangan, Stella menghampiri Zeta yang tengah mau mengembalikan pedang itu ke penjaga. "Zeta! Bagaimana bisa kau melakukan Sihir tanpa rapalan? Dan teknik pedang beraliran mana itu... itu luar biasa!"

Zeta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tertawa kecil. "Hehehe... sejujurnya aku hanya iseng mencoba, Stella. Aku pernah mendengar warga membicarakan kengerian Jenderal Tharos yang bisa mengalirkan sihir ke pedangnya. Aku pikir, 'Kenapa tidak dicoba?' Eh, ternyata bisa."

Lytia ikut bergabung, menepuk bahu Zeta dengan bangga. "Hebat juga kau. Tanpa kulatih pun, kau sudah mencapai tahap ini. Kau benar-benar kotak kejutan, Zeta."

"Terima kasih, Lytia," jawab Zeta tulus.

Raja iblis kemudian berseru, "Sudah cukup perayaannya! Kita harus bergegas sebelum malam tiba. Pasukan harus segera dimobilisasi ke garis depan. Besok adalah penentu nasib kerajaan kita!"

Mendengar itu, beberapa bangsawan dari kota-kota Beltrum. "Baginda, kami dengan ikhlas ingin meminjamkan pasukan dari kota kami untuk memperkuat barisan."

Raja mengangguk setuju. "Baiklah. Jika pasukan dari Kota Aren dan Lunareth ingin bergabung dengan sukarela, kami terima."

Tak lama kemudian, rombongan utama yang terdiri dari Stella, Lytia, Jenderal Airon, dan Zeta sudah berada di luar gerbang kerajaan. Para bangsawan mulai berpencar kembali ke kota masing-masing. Namun, di antara kerumunan, Celia putri bangsawan yang tadi menatap Zeta dengan ngeri tampak bersikeras ingin ikut ke medan tempur.

"Ibu, Ayah, aku ingin ikut! Aku ingin melihat bagaimana mereka bertarung!" seru Celia.

"Tidak, Celia! Ini perang, bukan tontonan!" bentak ayahnya sambil menarik tangan putrinya masuk ke kereta kuda. Celia hanya bisa menatap punggung Zeta dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.

Rombongan tempur itu pun memacu kuda mereka menuju Lembah Nox. Setibanya di sana, pemandangan berubah drastis. Lembah yang biasanya sunyi kini dipenuhi benteng-benteng kayu, meriam yang diarahkan ke celah bukit, dan ribuan tenda kamp tentara.

Tiga Ksatria merah Iblis sudah menunggu di depan gerbang kamp. Salah satu dari mereka, seorang wanita bernama Erika dengan zirah perak yang elegan, berjalan menghampiri Stella.

"Selamat datang kembali, Putri Stella," Erika memberi hormat. "Persiapan di sini sudah seratus persen. Alat berat dan strategi pertahanan sudah tertata. Kami hanya menunggu pasukan tambahan. Saya sempat mengintai ke wilayah lawan, dan pasukan Zetobia sepertinya sudah menyiapkan sesuatu yang besar."

"Bagus, Erika. Kau memang bisa diandalkan," puji Stella. "Kenalkan, ini Zeta. Ksatria yang kita panggil dari dunia lain."

Zeta dan Erika bersalaman singkat. Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikiran Zeta. Ia mendekat ke arah Stella dan berbisik. "Putri Stella, kenapa tadi ayahmu mau menerima pasukan dari Kota Aren dan Lunareth? Padahal Castellan punya ksatria berbakat seperti kalian. Bukankah lebih kuat jika kita kalian menurunkan kesatria kalian itu tanpa harus memanggil ku kesini?"

Stella menghela napas, wajahnya sedikit mendung. "Begini Zeta... Ayahku tidak ingin Duke Arvando dari kota Castellan mengambil alih seluruh komando kerajaan. Jika Castellan terlalu dominan dalam kemenangan ini, posisi Ayah sebagai Raja bisa terancam secara politis."

"Mengambil alih kerajaan? Jadi ada politik internal juga ya..." gumam Zeta paham.

"Intinya begitu, tapi sekarang lebih penting kita siapkan mental untuk besok," pungkas Stella.

Lytia tiba-tiba melempar sebuah pedang baru ke arah Zeta. *Hup!* Zeta menangkapnya dengan sigap. "Gunakan itu besok. Pedang besi biasa tak akan kuat menahan mana anginmu dalam waktu lama. Pedang ini lebih cocok untukmu."

Malam tiba. Mereka duduk melingkar di depan api unggun di tengah kamp. Erika, yang masih penasaran, bertanya pada Lytia.

"Lytia, aku dengar ada kabar buruk kalau Ibu Kota diserang Naga Fulnox? Naga legendaris itu benar-benar muncul?"

"Iya benar," jawab Lytia serius. "Tapi kami berhasil mengatasinya berkat kerja sama tim."

Erika mengerutkan kening. "Aneh... Semenjak perang dengan Zetobia dimulai, monster-monster di hutan Lembah Nox mendadak hilang, seolah mereka kabur ketakutan. Dan tiba-tiba, naga muncul di Ibu Kota yang jauh dari habitat mereka. Ini tidak masuk akal."

Lytia teringat sesuatu. "Zeta, ngomong-ngomong... apa yang sebenarnya terjadi saat kau latihan sendirian di hutan dekat gerbang 3 ibu kota kemarin? Kau belum menceritakan detailnya secara lengkap."

Stella dan Laksmana Airon pun menoleh, menatap Zeta dengan penuh rasa ingin tahu.

Zeta menarik napas panjang, menatap kobaran api unggun. "Kemarin saat aku latihan mencoba sihir angin... aku melihat seekor Griffon. Dia membantai kawanan Minotaur dengan brutal."

"Apa?! Griffon di hutan dekat gerbang 3 ibu kota?" Erika terkejut.

"Ya. Aku berhasil mengalahkan Griffon itu, tapi kemudian muncul Boss Minotaur yang ukurannya sangat besar," lanjut Zeta.

"Seharusnya Boss Minotaur berada di hutan terdalam lembah nox, bukan di hutan dekat gerbang 3," potong Stella dengan nada khawatir.

Zeta mengangguk. "Minotaur itu awalnya ingin membalas dendam pada Griffon, tapi dia malah menyerangku. Aku sempat kewalahan karena lengah, tapi akhirnya aku bisa membunuhnya. Nah, setelah itu... saat aku mencari buah karena lapar, aku berjalan lebih dalam ke hutan."

Zeta merendahkan suaranya, membuat suasana semakin tegang. "Aku melihat lingkaran sihir. Dan yang membuatnya bukan penyihir manusia atau iblis, melainkan tiga ekor Minotaur."

Seketika, Lytia, Stella, Airon, dan Erika tersentak. "Mana mungkin?! Monster tidak bisa menggunakan lingkaran sihir serumit itu!" seru Airon.

"Ada yang aneh dengan mereka," tambah Zeta. "Mata mereka berwarna berbeda, seperti berpendar aneh. Mereka tampak seperti boneka yang dikendalikan oleh seseorang."

Stella memijat pelipisnya. "Sihir pengontrol monster yaaa seingat ku Elf bisa menggunakan itu tapi hanya beberapa saja dan di ras manusia Zetobia aku pernah dengar satu orang juga bisa mengendalikan Monster tapi aku masih ragu."

"Lalu," Zeta melanjutkan, "tiba-tiba lingkaran sihir itu meledak. Dari sana muncul naga api yang sangat kuat. Dia menyemburkan api ke arahku. Aku berhasil menghindar, tapi saat aku lengah,salah satu Minotaur menghempaskanku sampai aku pingsan."

Lytia memegang tangan Zeta, wajahnya tampak cemas. "Lalu apa yang terjadi padamu? Bagaimana kau bisa selamat?"

Zeta menatap langit malam yang gelap. "Saat aku pingsan... aku merasa aku akan mati. Tapi di dalam kegelapan mimpi itu, sesosok makhluk dengan mata mengerikan yang besar berbicara kepadaku. Suaranya bergema di kepalaku, seolah dia mengenalku..."

Api unggun di tengah kamp Lembah Nox sesekali meletup, mengirimkan bunga api ke udara malam yang dingin. Pertanyaan Stella memecah keheningan yang mencekam.

"Siapa yang mengajakmu bicara di dalam mimpi itu, Zeta?" tanya Stella dengan mata tak lepas dari pemuda itu.

"Mata Naha," jawab Zeta singkat.

Seketika, semua orang yang duduk di sana

Lytia, Erika, dan Jenderal Airon terperanjat. "Hah?! Mata Naha? Kenapa bisa? Lanjutkan, Zeta!" seru Erika tak sabar.

Zeta menatap telapak tangannya sendiri. "Di dalam mimpi itu, Mata Naha memberikan seluruh kekuatan penuhnya kepadaku. Dia bilang, dia tidak akan lagi mencoba mengambil alih tubuhku. Sekarang, energi sihirnya sudah menyatu sempurna dengan manaku. Itulah sebabnya seranganku terasa jauh lebih kuat sekarang."

Zeta menghela napas, mengingat kembali kejadian di hutan. "Makanya saat aku keluar dari hutan, aku sendiri kaget melihat Naga Api itu sudah berubah menjadi naga kepala dua. Saat dia mengumpulkan sihir terakhirnya, aku menyerangnya dengan seluruh kekuatan baru itu. Setelah itu... aku tidak ingat apa-apa lagi karena pingsan cukup lama."

Stella mengangguk perlahan, ekspresinya penuh rasa lega. "Pantas saja... Aku menyadari aura yang sangat mengerikan saat kau menahan serangan Fulnox di ibu kota. Ternyata itu adalah kekuatan murni Mata Naha yang sudah kau jinakkan."

"Zeta, saat itu kau sangat berbeda benar benar sangat kuat," puji Lytia tulus.

Zeta tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Tidak juga, hahaha. Itu hanya kebetulan yang menguntungkan."

"Syukurlah," timpal Erika dengan semangat. "Kekuatan kita berlipat ganda dengan adanya kau. Pasukan Zetobia akan hancur dalam sekejap besok!"

Tak lama kemudian, deru langkah kaki dan denting zirah terdengar mendekat. Seorang prajurit melapor dengan hormat, "Yang Mulia Putri Stella, pasukan bantuan dari Kota Aren dan Lunareth telah tiba dan siap menerima perintah!"

"Bagus," jawab Stella tegas. "Suruh mereka beristirahat secara bergantian. Kita butuh tenaga penuh untuk besok."

Suasana kembali tenang. Sambil menikmati kehangatan api, Zeta menatap Stella. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu, Zeta," jawab Stella lembut.

"Tapi jangan tanya yang aneh-aneh ya!" celetuk Lytia ketus namun bercanda.

"Cih, tidaklah!" Zeta mendengus. "Aku hanya penasaran, sebenarnya bagaimana awal permulaan perang kalian dengan Zetobia itu?"

Putri Stella menjawab, "Ah iya, sepertinya kami memang belum memberitahu kamu bagaimana awal mulanya."

"Iya Putri, jadi tolong jelaskan," pinta Zeta.

Putri Stella pun mulai bercerita, "Begini Zeta, aku akan menceritakan sejarah dunia ini. Pada awal Era Cipta, di dunia ini hanya ada dua ras saja: Elf dan Manusia. Di saat itu, para Elf belum menyadari kekuatan sihir mereka dan masih belum tahu cara menggunakannya."

Zeta menyimak dengan saksama.

"Pada masa itu, manusia yang lemah juga belum memiliki kekuatan sihir. Kedua ras ini saling bekerja sama dalam hal menambang hingga bercocok tanam. Semuanya mereka lakukan dengan kekuatan fisik masing-masing. Namun, kebersamaan itu mulai goyah saat memasuki tahun ke-30, di mana para Elf mulai merasakan energi sihir di tubuh mereka, walaupun saat itu baru satu elemen saja."

"Beberapa Elf menyadari bahwa kerja sama dengan manusia hanya membebani mereka. Mereka merasa manusia itu lemah, kerjanya lelet, dan Elf merasa dirugikan karena fisik manusia tidak kuat. Elf yang mulai menguasai sihir menyadari bahwa pembangunan kerajaan mereka bisa selesai jauh lebih cepat tanpa bantuan manusia."

"Elf tersebut kemudian mulai mengajarkan cara menggunakan sihir kepada Elf lainnya. Setelah para Elf banyak menggunakan sihir, perlahan manusia mulai tersingkirkan karena bantuan mereka betul-betul tidak diperlukan lagi."

"Masuk ke tahun ke-50, ras Elf berkembang sangat pesat. Mereka telah menciptakan berbagai variasi elemen sihir. Tidak disangka, hanya dalam waktu 20 tahun, mereka sudah memiliki lebih dari satu elemen sihir. Elf pertama yang menyadari energi sihir tersebut akhirnya menjadi pemimpin; namanya adalah Elarion Silvi, seorang Elf laki-laki yang sangat cerdik dan hebat."

"Ketika Elarion menjadi pemimpin, ia pun mengusir manusia keluar dari wilayah para Elf. Banyak Elf yang menganggap manusia seperti hama yang kotor dan bau. Mereka mengusir manusia dan membangun dinding besar untuk mencegah manusia masuk kembali ke wilayah mereka. Saat itu, Elf merasa diri mereka adalah ras yang suci dan sangat kuat."

"Seiring berjalannya waktu, berdiri kerajaan pertama di dunia ini yang dinamakan sama dengan pemimpinnya, yaitu Kerajaan Elarion. Hingga sekarang, kerajaan itu masih menjadi yang terkuat di antara para Elf lainnya. Sementara itu, manusia terpaksa mencari lokasi tempat tinggal sendiri meskipun mereka sering dibunuh oleh monster dan hewan buas. Mereka sering berpindah tempat dan membangun pedesaan yang lokasinya tidak jauh dari Kerajaan Elarion. Mereka harus berjuang bertahan hidup sampai benar-benar mengorbankan nyawa."

"Akhirnya, para manusia mulai menjauh dari wilayah Elf mencari tempat kosong yang sangat luas. Setelah berhasil bertahan hidup walau tanpa sihir, mereka pun membangun kerajaan sendiri, yaitu Kerajaan Zetobia. Pemimpin pertama mereka memiliki tekad yang hebat dan semangat yang sangat kuat."

"Ketika memasuki tahun ke-100, kerajaan Elf lainnya mulai berdiri hingga berjumlah lima kerajaan. Ras Elf benar-benar berkembang sangat pesat. Di sisi lain, manusia baru mendirikan tiga kerajaan saja. Setelah para Elf tahu bahwa manusia tidak musnah dan memiliki kerajaan masing-masing, mereka mulai mencari dan menyerang kerajaan manusia tersebut."

"Manusia kalah jauh; mereka pun mengancam manusia untuk memberikan beberapa warga nya untuk di jadikan bawahan di kerajaan elf jika tidak, mereka akan di hancurkan. Ras Elf memiliki nafsu yang buruk dan ingin memiliki budak, sehingga mereka menjadikan manusia sebagai budak dan pemuas nafsu mereka. Manusia terus tertindas selama 20 tahun lamanya."

Mendengar itu, Zeta menyela, "Berarti yang jahat Elf dong? Elf yang menyerang manusia, dan sekarang kalian menyerang manusia juga? Wah, apa kalian juga sama jahatnya dengan Elf?"

PLAK!

Zeta ditampar oleh Lytia. Zeta kaget dan berseru, "Ada apa, Lytia?!"

Lytia membentak, "Jangan pernah kamu samakan kami dengan Elf! Kami para Iblis tidak mau disamakan dengan makhluk rendahan seperti mereka! Setidaknya dengarkan dulu sampai habis!"

Zeta merasa tidak enak hati dan menjawab, "Maaf... maaf Lytia, seharusnya aku tidak menyela dulu."

1
T28J
udah lama saya gak baca si Zeta 🙏
Pak Heru2025
lanjut thor
T28J
karena keren saya kasih anda /Rose//Rose//Rose/
Frando Wijaya
oh? cerita yg menarik...tpi nanti aja gw baca...krn ada novel lain yg gw blom baca
Zetavia: yeeyyy makasih kakk 😍😍
total 1 replies
Pak Heru2025
💪 lanjut min
Zetavia: siappp kakkk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut
Zetavia: okee kakk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut min
Alia Chans
semangat thort👈
Zetavia: makasih kakk
total 1 replies
Juun
kerjasama airon sama lytia keren hebattt
Juun
😍😍😍😍
Wawan
Semangat ✍️
T28J
kereeen 👍
Juun
wahh gilaaaaaaa asik bangettt
Zetavia: terima kasih 💪🙏😍
total 1 replies
Juun
keren dah
Juun
kalo di buat anime bagus loh ini
Juun
asikk bangettttt makin penasaran😍
Juun
suka banget biasanya pahlawan lawan raja iblis ini beda🤣
T28J
Zeta ... Zeta 🤣
T28J
mampir kemari,
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍
Zetavia: terima kasih kak boleh tuhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!