NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Selena berdiri diam di tengah ruangan, napasnya pendek dan jantungnya berdebar.

Di depannya Lucian tersenyum penuh kemenangan. Di belakangnya puluhan manusia serigala yang terperangkap menatapnya dengan harapan dan ketakutan.

Pikirannya berputar cepat. Jika Lucian mengatakan yang sebenarnya berarti Dewan telah memburu kaumnya selama ini. Mereka tidak hanya ingin menghancurkannya, mereka juga ingin menghapus seluruh darahnya dari muka bumi.

"Apa jaminannya?" akhirnya Selena bertanya.

Lucian mengangkat alis. "Jaminan?"

"Jaminan bahwa kamu benar-benar akan membebaskan mereka, bahwa kamu tidak hanya menggunakanku sebagai alat untuk mencapai tujuanmu sendiri," lanjut Selena.

Lucian terkekeh dan melipat tangannya di dada. "Kamu semakin cerdas, Selena. Aku suka itu."

Ia melangkah mendekat, tetapi Selena tidak mundur. "Aku tidak butuh jaminan, aku butuh kepastian."

Lucian menatapnya sejenak, lalu mendesah seolah ia sedang berhadapan dengan seseorang yang keras kepala.

"Aku bukan pembohong, Selena, jika aku ingin menghancurkan mereka, aku sudah melakukannya sejak dulu."

Ia melambaikan tangannya ke arah sel-sel besi di belakang Selena. "Lihat mereka! Aku bisa membunuh mereka sekarang juga, tapi aku tidak melakukannya. Aku menyimpan mereka, karena aku tahu mereka bisa berguna."

Selena menggertakkan giginya. "Jadi mereka hanya alat bagimu?"

Lucian tersenyum miring. "Sama seperti kamu, Sayangku."

Amarah Selena hampir meledak, tetapi ia menahannya. Ia tidak bisa gegabah dan perlu tahu lebih banyak sebelum mengambil keputusan.

"Apa rencanamu sebenarnya, Lucian?" tanyanya akhirnya.

Lucian mengamati wajahnya sebelum menjawab, "Aku ingin menghancurkan Dewan. Aku ingin membangun tatanan baru. Aku ingin dunia ini dikuasai oleh mereka yang layak bukan oleh manusia lemah yang berpura-pura menjadi penguasa."

Mata emasnya bersinar penuh ambisi.

"Kita bisa mengubah dunia, Selena, bersama-sama."

Selena menelan ludah. Apakah ia benar-benar bisa mempercayainya? Ia melirik ke belakang ke wajah-wajah putus asa yang menatapnya dari balik jeruji. Jika ia menolak, mereka semua akan tetap terperangkap atau lebih buruk lagi, mati di tangan Dewan, tapi jika ia menerima, apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri? Ia menatap Lucian sekali lagi dan mencoba mencari kebohongan di balik matanya.

"Aku ingin bukti," katanya akhirnya.

Lucian menyeringai. "Bukti seperti apa yang kamu inginkan, Sayangku?"

Selena mengambil napas dalam. "Bebaskan satu orang dari sel ini. Tunjukkan bahwa kamu benar-benar bisa membebaskan mereka!"

Lucian diam sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Baiklah, kamu ingin bukti? Akan kuberikan padamu."

Ia berbalik dan melangkah ke salah satu sel. Dengan satu gerakan tangannya, kunci besi berkarat itu bergetar, lalu terbuka dengan bunyi klik.

Dari dalam sel, seorang pria muda dengan rambut gelap dan mata perak melangkah keluar dengan ragu-ragu.

Pria itu menatapnya dengan kelegaan. "Terima kasih!"

Sebelum Selena bisa menjawab, suara Lucian terdengar di belakang mereka.

"Jadi bagaimana? Sudah cukup membuktikan niat baikku?" tanyanya santai.

Selena menoleh dan menatapnya dengan curiga.

"Kamu benar-benar akan membiarkan dia pergi?"

Lucian mengangkat bahu. "Seperti yang kamu minta. Aku tidak punya alasan untuk menahannya."

Lucian memberikan isyarat dengan kepalanya dan pria muda berambut gelap itu melangkah melewati Selena dengan langkah yang masih goyah. Ada aroma tanah basah dan besi yang pekat menguar dari tubuhnya, aroma seseorang yang sudah terlalu lama mendekam di bawah tanah.

​Selena tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu. Ada sesuatu dalam gerak-geriknya yang terasa berbeda dari serigala-serigala lain di dalam sel, sebuah kewaspadaan yang tajam meski tubuhnya terlihat lemah.

​"Tunggu!" panggil Selena sebelum pria itu mencapai pintu keluar yang gelap.

Pria itu berhenti dan bahunya menegang. Ia berbalik perlahan menatap Selena dengan mata perak yang tampak berkilat di bawah cahaya obor ruangan yang temaram. Ada rasa terima kasih di sana, tetapi juga ada rahasia yang terkunci rapat.

​Selena melangkah mendekat mengabaikan tatapan Lucian yang mengawasi mereka seperti burung pemangsa yang sedang bosan.

​"Siapa namamu?" tanya Selena.

​Pria itu terdiam sejenak, melirik ke arah Lucian seolah mencari izin atau mungkin sekadar memastikan sesuatu sebelum kembali menatap Selena.

​"Riven," jawabnya dengan suara serak seolah pita suaranya sudah lama tidak digunakan. "Namaku Riven dari kawanan North-Bound."

​Pria bernama Riven itu menatapnya, lalu melirik Lucian sebelum kembali menatap Selena lagi.

"Bagi kami yang tersisa, Anda adalah harapan. Darah Bulan yang mengalir di tubuh Anda bukan sekadar legenda bagi kami yang membusuk di sel ini."

​Selena mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia tahu ia berbeda, ia tahu cahaya yang kadang muncul dari kulitnya saat bulan purnama adalah kutukan sekaligus anugerah, tapi mendengar pria ini menggantungkan nasib padanya membuat napasnya terasa sesak.

​"Aku bahkan tidak tahu apa itu Dewan," aku Selena dengan suara bergetar. "Aku tidak tahu mengapa kalian dikurung atau mengapa namaku begitu penting bagi mereka."

Riven mendekat satu langkah, suaranya merendah menjadi bisikan tajam.

"Anda tidak perlu tahu seluk-beluk politik kami untuk melihat kekejaman, Selena. Mereka mengurungku karena aku menolak menyerahkan lokasi Breaker, senjata yang hanya bisa disentuh oleh kaummu tanpa menjadi abu."

​Selena tertegun dan matanya membelalak. Ia menoleh ke arah Lucian yang masih bersandar santai di dinding batu.

​"Kamu membebaskannya bukan karena ingin membuktikan kebaikanmu," tuduh Selena, suaranya naik satu oktav. "Kamu membebaskannya karena kamu ingin aku mengikuti jejaknya, kan? Kamu ingin aku mencari senjata itu!"

​Lucian tertawa renyah. "Kamu cerdas, meskipun kamu buta tentang duniamu sendiri, Sayangku. Riven bebas sekarang. Dia akan menjadi pemandumu menuju apa yang menjadi hak milikmu."

Selena tiba-tiba terdiam, namun otaknya bekerja keras memproses pengakuan Riven. Ia menoleh tajam ke arah Lucian dan matanya menyipit penuh selidiki.

​"Kenapa harus aku?" tanya Selena, suaranya menuntut. "Kalau memang senjata itu hanya bisa disentuh oleh Darah Bulan, bukankah Riven juga memilikinya? Dia juga sisa dari keturunan itu, kan? Kenapa bukan dia saja yang mengambilnya untukmu?"

​Lucian terhenti dari tawanya. Ia melangkah mendekat dan bayangannya yang besar menyelimuti tubuh Selena. Ia menatap Selena dengan tatapan yang sulit diartikan antara kekaguman dan rasa haus akan kekuasaan.

​"Riven memang memiliki darah itu," ujar Lucian, suaranya kini merendah dan terdengar berbahaya. "Tapi darahnya telah tercemar oleh ambisi dan kegelapan Dewan. Dia adalah prajurit yang dibentuk, Selena, sedangkan kamu ...."

Lucian mengangkat tangannya seolah ingin menyentuh helai rambut Selena, namun tertahan oleh tatapan sengit gadis itu.

"Kamu adalah Darah Murni yang Terjaga. Breaker bukan sekadar senjata besi, itu adalah peninggalan yang memiliki kesadaran. Ia hanya akan merespons seseorang yang jiwanya belum ternoda oleh struktur kekuasaan Dewan atau haus darah kaum kita. Riven mungkin kuat, tapi jika dia menyentuh Breaker, senjata itu akan membakarnya hidup-hidup, karena dia telah mengkhianati hakikat aslinya," lanjut Lucian.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!