kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Cara mencintai yang berbeda
Xabiru menggelengkan kepalanya perlahan, matanya menatap pemandangan di dalam kamar dengan tatapan realistis.
"Ingat, Archio. Dia hanya menginap. 'Menginap', bukan 'tinggal'," jawab Xabiru tenang.
"Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat lama, bagi Marsha, Dokter Erlan adalah ayahnya. Ikatan mereka jauh lebih kuat karena dibangun di atas sisa-sisa kehancuran. Ayah mungkin adalah pelindung aslinya, tapi Dokter Erlan adalah pegangan hidupnya."
Kenyataan yang Tak Terelakkan
Kalimat Xabiru menghantam telinga kedua adiknya dengan telak. Mereka menyadari bahwa meski Andreas telah merenovasi kamar ini menjadi replika masa lalu, rumah ini tetaplah "asing" bagi Marsha.
Marsha yang sekarang adalah produk dari didikan Erlan yang bijaksana dan tangki cinta Shafira yang tak terbatas. Dia adalah dokter bedah yang mandiri, bukan lagi balita yang membutuhkan perlindungan penuh dari keluarga Halvard.
"Kita hanya bisa menjadi tempatnya berteduh jika dia butuh," tambah Archio, suaranya berat. "Kita tidak bisa memaksanya menjadi 'Marsha Halvard' sepenuhnya jika hatinya sudah menjadi 'Marsha Dominic'."
Di dalam kamar, Marsha masih terisak dalam pelukan Andreas. Ia mendengar bisikan-bisikan halus dari lorong, namun ia tidak peduli. Untuk malam ini, ia membiarkan dirinya menjadi egois. Ia membiarkan dirinya merasakan pelukan yang seharusnya ia dapatkan dua puluh tahun lalu.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua dekade, Marsha tidur dengan perasaan yang benar-benar utuh. Ia memiliki dua ayah yang sangat mencintainya, satu yang menyelamatkannya dari kegelapan, dan satu yang tak pernah berhenti menyalakan lentera untuk menunggunya pulang.
____
Suasana pagi di ruang makan keluarga Halvard terasa begitu unik. Di satu sisi, ada kehangatan dari aroma bubur ayam yang dibuat khusus oleh tangan Andreas sebuah upaya penebusan melalui rasa. Namun di sisi lain, dinamika "kakak-kakak" Marsha mulai terlihat jelas: cara mereka mencintai adalah dengan cara melindungi dan memberi, meski dengan gaya yang berbeda-beda.
Andreas duduk di kepala meja, matanya tidak lepas dari Marsha yang sedang menyuap bubur ayam buatannya. Baginya, melihat Marsha makan adalah pemandangan paling mewah yang pernah ada di rumah ini, jauh lebih berharga daripada saham atau aset propertinya.
Namun, keheningan itu dipecah oleh pengumuman Xabiru."Pah, aku dan Valerina harus kembali ke Indonesia hari ini," ucap Xabiru sambil merapikan jam tangannya. "Ada pertemuan penting yang tidak bisa ditunda, juga peninjauan proyek yang sempat tertunda karena pencarian Marsha kemarin."
Valerina mengangguk kecil, menatap Marsha dengan pandangan yang lebih lembut, meski masih ada gurat rasa bersalah di sana. "Marsha... jika suatu saat kamu butuh gaun pesta, atau apa pun untuk acara rumah sakitmu, ingatlah aku kakakmu. Aku akan buatkan gaun paling eksklusif hanya untukmu."
Marsha hanya diam, menyesap tehnya. Ia masih sulit menanggapi Valerina, namun ia tidak lagi menolak dengan ketus. "Ya, di sini yang benar-benar santai memang cuma Archio," tambah Valerina melirik adik laki-lakinya itu.
Archio terkekeh, sebuah senyum sinis yang penuh percaya diri muncul di wajahnya. "Itu pilihan, Kak. Aku membuat uang bekerja untukku, bukan aku yang bekerja untuk uang." Ia lalu menoleh pada Marsha, matanya berbinar jenaka. "Adik, Kakak sudah mengirimkan 'uang jajan' ke rekeningmu. Anggap saja itu kompensasi karena Kakak tidak bisa memasak bubur seperti Papah."
Xabiru mendengus remeh mendengarnya. "Uangmu tidak seberapa, Archio." Ia mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam legam dan meletakkannya di samping piring Marsha.
"Gunakan kartu ini untuk belanja apa pun yang kamu mau. Kakak mungkin akan cukup lama di Indonesia mengurus perusahaan Papah. Pakai ini jika kamu ingin menghibur diri, berbelanja, atau liburan.”
Marsha menatap kartu hitam dan ponselnya yang terus bergetar karena notifikasi transferan dari Archio. Ia merasa sedikit kewalahan. Di rumah keluarga Dominic, kasih sayang ditunjukkan dengan pelukan dan diskusi mendalam. Di sini, di keluarga Halvard, kasih sayang ditunjukkan dengan proteksi finansial dan pengakuan kekuasaan.
"Aku seorang dokter," ucap Marsha akhirnya, suaranya tenang namun tegas. "Gajiku lebih dari cukup untuk membeli baju dan makan."
"Kami tahu kamu hebat, Sayang," potong Andreas lembut, sambil mengusap tangan Marsha. "Tapi biarkan mereka melakukan tugasnya sebagai kakak. Selama dua puluh tahun mereka kehilangan kesempatan untuk memanjakanmu. Biarkan mereka merasa berguna untuk adiknya."
Xabiru berdiri, diikuti oleh Valerina. Sebelum melangkah pergi, Xabiru mengacak rambut Marsha sebentarbsebuah gerakan canggung namun tulus.
"Jaga diri di sini. Kalau si muka tembok Archio ini mengganggumu, telepon aku," pesan Xabiru.
Valerina hanya berdiri di dekat pintu, ia tidak berani mendekat untuk memeluk, namun ia membungkuk kecil pada Marsha. "Sampai jumpa di Indonesia nanti... jika kamu bersedia pulang ke sana."
Setelah Xabiru dan Valerina pergi, ruang makan itu terasa lebih lengang. Tersisa Andreas, Archio yang sibuk dengan tabletnya (mungkin sedang memantau pergerakan saham), dan Marsha.
Marsha melihat kartu dari Xabiru dan teringat kata-kata semalam tentang "menginap bukan tinggal". Ia tahu, meski kakak-kakaknya mencoba "membelinya" dengan kemewahan, hatinya tetap merindukan kesederhanaan di rumah Erlan.
"Pah," panggil Marsha pelan.
Andreas mendongak. "Ya, Sayang?"
"Setelah sarapan ini... aku harus kembali ke rumah sakit. Dan setelah itu, aku harus pulang ke rumah Daddy Erlan. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan di sana."
Andreas terdiam sejenak. Ada gurat kecewa yang melintas cepat, namun ia segera menutupinya dengan senyuman bijaksana. "Papah mengerti. Papah tidak akan memenjarakanmu di sini. Tapi ingat, kartu dari kakakmu itu... simpan saja. Bukan untuk membelimu, tapi agar kami tahu kamu selalu punya sandaran jika dunia sedang tidak baik padamu."
Marsha mengangguk. Ia mulai menyadari bahwa menjadi bagian dari keluarga Halvard berarti harus siap dengan cinta yang "berisik" dan penuh materi, sebuah kontras yang luar biasa dari kedamaian yang ia miliki bersama keluarga Dominic. Namun, untuk pertama kalinya, Marsha merasa bahwa memiliki dua dunia ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.