NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 021

Hening yang mencekam menyelimuti lapangan SMA Pelita Bangsa. Ratusan pasang mata tertuju pada dua titik: Reygan yang berdiri di tengah lapangan dengan pengeras suara di tangannya, dan pasangan Ziva-Aksa yang baru saja melangkah mendekat dari area parkiran.

Reygan tertawa getir saat melihat Aksa berdiri di samping Ziva. "Bagus! Pemeran utamanya sudah datang!" suaranya menggelegar melalui megaphone, sedikit pecah karena tangannya yang gemetar.

​Ziva melangkah maju, melepaskan diri dari jangkauan perlindungan Aksa sejenak. Ia berdiri tegak, membiarkan sinar matahari pagi menerangi wajahnya yang tanpa riasan. "Rey, turun dari sana. Lo bikin malu diri lo sendiri," ucap Ziva tenang, namun suaranya terdengar jelas di tengah kesunyian.

​"Malu? Gue nggak punya malu lagi sejak lo dan sirkel lo ngerusak reputasi gue!" Reygan menunjuk Ziva dengan kasar. "Semuanya, denger! Zivanna Clarissa Winata yang kalian puja sekarang sebagai 'Ratu Mager' yang pinter itu cuma akting! Dia dendam karena gue nolak dia berkali-kali, makanya dia pake kekayaan bokapnya buat neken keluarga gue! Dia manipulatif!"

​Beberapa murid mulai berbisik. Gosip soal tekanan ekonomi memang sensitif di sekolah elit seperti ini.

Ziva tidak meledak. Ia justru melipat tangan di dada, menatap Reygan dengan tatapan kasihan. "Tekanan ekonomi? Rey, lo yakin mau bahas soal itu di depan umum?"

​Tiba-tiba, dari arah koridor kelas XI, Liana muncul. Ia tidak sendiri, di belakangnya ada Manda dan Tika yang membawa sebuah speaker bluetooth besar. Liana tampak sangat tenang, namun matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

​"Rey, berhenti bohong," suara Liana masuk melalui mikrofon ponselnya yang tersambung ke speaker.

​Liana menekan tombol play.

​"...Gue harus dapetin Ziva lagi. Bukan karena gue suka, tapi karena bokap gue butuh tanda tangan Pak Baskara buat suntikan dana proyek di BSD. Kalau gue berhasil, mobil sport baru gue turun. Gampanglah, Ziva kan bego kalau udah liat muka gue..."

Suara Reygan yang khas terdengar jernih, mengalun di seluruh penjuru lapangan. Rekaman grup chat dan pesan suara yang bocor itu seperti tamparan keras bagi siapa pun yang mendengarnya. Lapangan mendadak riuh dengan sorakan ejekan.

​"Itu... itu editan! Ziva yang suruh lo bikin itu kan, Li?!" teriak Reygan panik, wajahnya yang pucat kini berubah menjadi merah padam.

Reygan berdiri mematung di atas podium kecil lapangan, napasnya memburu. Suara rekamannya sendiri yang baru saja diputar Liana seolah-olah menjadi vonis mati bagi reputasinya. Ia menatap ke arah kerumunan murid yang kini memandangnya dengan tatapan jijik. Teman-teman nongkrongnya yang biasanya berdiri di belakangnya, kini perlahan mundur, tak ingin ikut terseret dalam pusaran rasa malu.

"Editan?" Ziva maju satu langkah lagi. Ia tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat Reygan merasa semakin kecil. "Rey, teknologi emang canggih, tapi nggak ada teknologi yang bisa nyiptain kebusukan sealami itu. Itu suara lo, itu niat lo, dan itu kehancuran lo."

​Aksa yang sejak tadi diam sebagai pengamat, kini mulai melangkah. Ia tidak menuju ke arah Reygan, melainkan berdiri tepat di sisi Ziva, memberikan tekanan aura yang membuat atmosfer lapangan semakin berat.

​"Bahas soal tekanan ekonomi, kan?" Aksa merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya sendiri. "Gue tadinya nggak mau ikut campur urusan bisnis orang tua. Tapi karena lo bawa-bawa yayasan dan keluarga gue di depan umum..."

​Aksa menggeser layar ponselnya, lalu menghubungkannya ke mading digital besar yang ada di pinggir lapangan—fasilitas sekolah yang bisa ia akses kapan saja. Sebuah dokumen audit singkat muncul di sana.

​"Proyek BSD yang lo maksud itu sudah gugur sejak minggu lalu karena manipulasi data dari perusahaan bokap lo," ucap Aksa dingin. Suaranya datar namun menusuk. "Keluarga Winata bukan neken keluarga lo, Rey. Keluarga Winata justru satu-satunya yang narik dukungan karena mereka tahu perusahaan lo cuma cangkang kosong yang nunggu bangkrut. Lo mau mobil baru? Cicilan rumah lo aja kabarnya nunggak tiga bulan."

Seluruh lapangan meledak dalam kegaduhan. Fakta bahwa si "Pangeran Sekolah" ternyata adalah anak dari keluarga yang sedang di ambang kebangkrutan—dan masih sempat-sempatnya menjadikan perempuan sebagai taruhan—adalah skandal terbesar dalam sejarah SMA Pelita Bangsa.

​"Lo... lo dapet dari mana itu?!" suara Reygan melemah, megaphone di tangannya hampir jatuh.

​"Papa gue punya bank, Rey. Data orang-orang kayak lo itu cuma tumpukan kertas di meja kerja gue," sahut Aksa kejam.

​Ziva menatap Reygan yang kini tampak layu. Tidak ada lagi rasa dendam, hanya rasa puas karena kebenaran telah mengambil panggungnya. "Rey, dengerin gue. Ziva yang lama mungkin bakal nangis liat lo begini. Tapi gue? Gue cuma kasihan. Lo kehilangan Liana yang tulus, lo kehilangan gue yang dulu setia, dan sekarang lo kehilangan harga diri lo. Semua cuma demi mobil yang bahkan nggak bakal pernah lo dapet."

​"Cabut, Rey. Sebelum Kepsek dateng dan bikin surat drop out lo jadi lebih formal," tambah Aksa.

Reygan menatap Liana yang berdiri dengan dagu tegak di samping Manda dan Tika. Ia tidak menemukan setitik pun belas kasih di sana. Dengan langkah yang lunglai, Reygan turun dari podium. Ia berjalan menembus kerumunan murid yang kini terang-terangan menyorakinya "penipu" dan "murahan".

​Setelah sosok Reygan menghilang di balik gedung sekolah, suasana lapangan perlahan mencair. Manda dan Tika langsung berlari memeluk Ziva.

​"ZIV! SUMPAH! Lo keren banget tadi! Skakmat parah!" seru Manda heboh.

​"Liana, lo juga gila! Berani banget!" Tika menepuk pundak Liana yang kini tampak lega.

​Ziva hanya tertawa kecil, lalu matanya beralih pada Aksa yang masih berdiri di sampingnya. Cowok itu sudah kembali ke mode "robot" kaku, namun ia tidak beranjak dari sisi Ziva.

Di lantai dua, empat sekawan Black Eagle yang sedari tadi menonton dari balkon koridor akhirnya bisa bernapas lega. Kenan menyandarkan punggungnya ke tembok sambil melipat tangan, sementara Vino dan Bram masih sibuk geleng-geleng kepala melihat pemandangan di bawah.

​"Gue nggak nyangka Aksa bakal sejauh itu," gumam Vino dengan nada takjub. "Sampe buka data internal bank bokapnya? Itu mah udah bukan lagi protektif, itu namanya total war."

"Tapi efektif, kan?" Daren menimpali, sepupu Reygan itu justru tampak tidak sedih sama sekali melihat saudaranya hancur. "Reygan butuh tamparan realita. Dan Aksa... dia baru aja ngebangun benteng yang nggak bakal bisa ditembus siapa pun buat Ziva."

Bram menyengir lebar, lalu menyikut lengan Kenan. "Ken, liat tuh. Si Bos masih berdiri nempel di sebelah Ziva. Kayaknya kita harus siap-siap iuran buat seragam baru nih."

​"Seragam apaan?" tanya Kenan bingung.

​"Seragam buat kawalan Bu Bos, hahaha!" tawa Bram meledak. "Wah, kayaknya kita bakal punya Bu Bos baru nih yang hobby-nya mager. Seru juga kalau basecamp kita nanti isinya bantal semua gara-gara selera Ziva."

​Kenan ikut tersenyum tipis. "Canda lo boleh juga, tapi liat tatapan Aksa. Dia nggak bakal biarin kita ganggu Ziva dalam waktu deket."

​Di Tengah Lapangan.

​Ziva menghela napas panjang, menatap langit pagi yang kini terasa jauh lebih cerah tanpa beban bayang-bayang Reygan. Ia menoleh ke arah Aksa yang sedang memperhatikan reaksi murid-murid lain dengan tatapan waspada.

"Aksa," panggil Ziva pelan.

​"Hm?" Aksa menoleh. Matanya yang tajam melunak sesaat ketika bertemu pandang dengan Ziva.

​"Data yang tadi... lo beneran dapet dari bank bokap lo? Lo nggak bakal kena masalah kan?" tanya Ziva dengan nada khawatir yang tulus.

Aksa memasukkan ponselnya ke saku celana. "Data itu udah jadi konsumsi publik di kalangan investor sejak semalam. Gue cuma bantu 'mempercepat' publikasinya di sini. Lo nggak perlu mikirin itu."

​"Makasih ya," ucap Ziva sambil tersenyum tipis. "Gue nggak tau kalau Senin gue bakal se-heboh ini kalau nggak ada lo."

​"Mami yang bilang," sahut Aksa kaku, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya. "Katanya gue harus jadi payung kalau ada badai. Tapi kayaknya lo tadi udah jadi petirnya sendiri."

Hahaha.

Ziva tertawa renyah, suara tawa yang membuat beberapa anggota Black Eagle di lantai atas bersorak "Cieee!" secara serempak hingga membuat Aksa melotot ke arah mereka.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!