Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Roda kereta akhirnya berhenti berputar di pinggiran sebuah desa terpencil yang dikelilingi hutan pinus lebat. Suasana di sini sangat kontras dengan kemewahan ibu kota, udara tercium seperti aroma tanah basah dan pinus.
"Berhenti di sini" perintah Kaelen pelan
sebelum benar-benar memasuki area pemukiman, Kaelen mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya terdapat pakaian berbahan kain kasar, caping bambu dan beberapa helai kain penutup wajah "Kita tidak bisa masuk dengan pakaian seperti ini. Jika warga melihat kain sutra dan sulaman emas, berita keberadaan Putra Mahkota akan sampai ke telinga mata-mata Duke Alaric dalam hitungan jam"
Dengan bantuan Mina, Elara mengganti gaun mewahnya menjadi setelan sederhana berwarna cokelat kusam. Rambutnya diikat asal dan wajahnya sedikit dipoles debu tipis agar tidak terlalu mencolok. Kaelen pun kini tampak seperti pengembara biasa meski aura kepemimpinannya masih sulit disembunyikan di balik caping bambunya.
"Oke, team rakyat jelata siap beraksiiiii" bisik Elara pelan sambil membenarkan letak capingnya.
Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan desa melewati kerumunan warga yang sibuk menjemur hasil tani. Kaelen memimpin di depan, langkahnya mantap menuju sebuah tebing batu yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon besar. Di sana terdapat sebuah celah gua yang tampak kotor, gelap dan dipenuhi lumut tebal.
"Pangeran, beneran kita mau masuk ke lubang tikus raksasa itu?" tanya Elara sambil bergidik melihat sarang laba-laba di mulut gua.
"Ikuti saja" jawab Kaelen singkat. Dia berdiri di depan pintu gua, tangannya membentuk segel rumit sementara mulutnya merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.
Sringgggg
Begitu mereka melangkah masuk, pemandangan gelap gulita itu mendadak lumer seperti cat yang disiram air. Kegelapan gua berganti dengan cahaya matahari yang hangat. Di dalam sana terdapat sebuah lembah tersembunyi yang sangat asri. Gua itu hanyalah ilusi atau sebuah gerbang pelindung yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang memiliki "izin" atau mantra khusus.
Di tengah lembah itu berdiri sebuah rumah kayu sederhana namun sangat indah dan dikelilingi oleh bunga-bunga yang mekar sepanjang musim. Gemericik air sungai kecil menambah ketenangan tempat itu.
"Wah... ini mah bukan gua, tpi ini hidden gem!" gumam Elara takjub.
Kaelen berjalan mendahului mereka menuju taman belakang. Rhea dan Mina mengikuti dengan waspada sementara Elara mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. Dia ingat peringatan Kaelen "Kakek ini benci orang yang tidak serius"
Di samping sebuah kolam jernih yang dipenuhi ikan koi emas mereka melihat sosok pria tua dengan rambut putih panjang yang diikat rapi. Dia tidak memakai jubah sihir agung melainkan hanya pakaian linen biasa yang terkena noda cat. Pria itu tengah duduk di depan kanvas, fokus menggerakkan kuasnya dengan gerakan yang sangat tenang.
Itulah dia Kakek Zoff sang Pahlawan Dunia yang legendaris. Aura di sekitar kakek itu terasa sangat berat namun stabil seolah-olah alam semesta sendiri sedang tunduk pada setiap goresan kuasnya.
Elara langsung memasang wajah formal dan dia berdiri tegak merapatkan tangannya di depan tubuh dan membuang jauh-jauh pikiran konyol tentang "mahar 2 miliar" atau "cupcake selundupan", dia tahu, satu gerakan ceroboh bisa membuat kesempatan belajarnya hilang selamanya.
Kaelen membungkuk hormat diikuti oleh Rhea dan Mina yang bahkan tidak berani bernapas keras "Guru saya datang membawa seseorang yang membutuhkan bimbingan Anda"
Kakek Zoff tidak menoleh, dia masih sibuk memoles warna biru pada lukisan langitnya. Keheningan di taman itu terasa sangat menekan membuat Elara merasa seolah-olah sedang berdiri di depan hakim agung.
"Kaelen" suara kakek itu terdengar rendah namun bergema di dada "Sudah kubilang aku sudah pensiun dari urusan dunia. Aku tidak menerima murid apalagi seorang gadis yang jiwanya sedang berisik"
Elara tertegun. Dia bisa merasakan jiwaku? batinnya, Elara segera membungkuk dalam memberikan penghormatan paling tulus yang bisa dia lakukan.
"Mohon maaf atas kelancangan kami mengganggu ketenangan Anda Tuan Zoff" ucap Elara dengan nada bicara yang sangat tenang dan serius jauh berbeda dari caranya bicara di dalam kereta tadi "Saya datang bukan untuk membawa kebisingan dunia melainkan untuk mencari kunci guna mengunci kekacauan yang sedang terjadi"
Kakek Zoff menghentikan gerakan kuasnya. Dia perlahan menoleh menatap Elara dengan mata yang tampak sangat jernih seolah bisa melihat menembus raga Elara hingga ke akar memorinya.
"Kunci katamu?" Kakek Zoff meletakkan kuasnya lalu berdiri "Dunia ini sudah penuh dengan kunci nak. Masalahnya adalah apakah kau siap memegang kunci yang beratnya bisa mematahkan tanganmu sendiri ap tidak?"
Elara menatap mata kakek itu tanpa ragu "Lebih baik tangan saya patah karena memegang kunci daripada tubuh saya hancur karena pintu yang tidak bisa saya buka Tuan Zoff"
Kakek Zoff perlahan meletakkan kuasnya. Tanpa peringatan, dia mengibaskan tangan kanannya ke udara. Sebuah tekanan angin yang tajam melesat secepat kilat memotong beberapa helai rambut Elara yang menyembul dari balik capingnya sebelum akhirnya membelah daun pohon di belakang gadis itu hingga terbelah dua sempurna.
Elara tidak bergerak sedikit pun, dia bahkan tidak berkedip.
"Kenapa kau tidak menghindar?" suara Kakek Zoff terdengar dingin kini dia berbalik sepenuhnya dan menatap Elara dengan mata yang tajam "Kau bisa mati dalam satu kedipan mata"
Elara menegakkan tubuhnya menatap balik mata pria tua itu dengan ketenangan yang tidak wajar bagi gadis seusianya "Tuan Zoff, Anda tidak punya niat membunuh, jika Tuan ingin saya mati,l saya sudah jadi potongan dadu sejak di mulut gua tadi, sayang kan kalau orang sehebat Tuan cuma dapet rekor membunuh gadis tanpa kekuatan?"
Mendengar jawaban itu Kakek Zoff mendengus kecil lalu tawa pendek keluar dari mulutnya. Kaelen yang berdiri di belakang Elara sampai tertegun, tumben gurunya yang paling kaku itu tertawa?
"Dunia ini terlalu sibuk mengandalkan mana sampai mereka lupa cara menggunakan nyali" gumam Kakek Zoff. Dia kemudian menunjuk ke arah kolam koi yang airnya sangat jernih "Lihat ke dalam sana. Ada satu ikan yang tidak benar-benar ada. Cari tahu yang mana dan jelaskan kenapa, jangan sentuh airnya"
Kaelen dan Rhea ikut memperhatikan kolam itu namun bagi mereka yang memiliki mana semua ikan itu tampak sama, semuanya memancarkan energi kehidupan yang samar.
Elara tidak menggunakan sensor mana karena memang tidak punya. Dia justru jongkok di pinggir kolam, memicingkan matanya dan memperhatikan pantulan cahaya matahari pada permukaan air dan dasar kolam. Tak lama dia menunjuk seekor ikan koi putih perak di sudut terjauh.
"Itu" ucap Elara mantap "Dia bergerak sinkron dengan ikan merah di sebelahnya seperti cermin tapi dia tidak punya bayangan di dasar kolam. Cahaya matahari menembusnya begitu saja tanpa terbiaskan, itu cuma proyeksi cahaya dan bukan makhluk hidup"
Kakek Zoff terdiam sejenak lalu meletakkan palet lukisnya. Dia benar-benar terkesan pada pengamatan murni gadis ini "Kau lulus satu tahap nak, tapi jangan senang dulu. Mulai besok kau akan menyesal pernah datang ke sini untuk meminta latihan dariku"
Elara langsung nyengir lebar, aura bar-bar nya menguap seketika "Wokehhh! berarti besok sarapannya bukan cuma nasihat kan? Laper nihhh"
Kaelen hanya bisa memijat keningnya sementara Kakek Zoff hanya menggelengkan kepala melihat calon muridnya yang sama sekali tidak tahu tata krama ini berbeda kepribadian dengan yang awal tadi....
Jangan cuma minta update ya kakakkkk, like nya juga tinggalin oke biar author juga semangat nulisnya, jangan cuma jdi pembaca goib doang🪓
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/