NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang Mulai Diambil

Pagi datang dengan cara yang berbeda kali ini. Tidak sepenuhnya ringan, tapi juga tidak seberat kemarin. Aurora membuka mata dengan napas yang lebih teratur. Rasa sesak itu masih ada, tapi tidak lagi menekan sekuat sebelumnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya beberapa detik, lalu akhirnya menghubungi Sheila.

“Pagi, Sheil. Berangkat bareng ya hari ini” ucap Aurora pelan.

Sheila langsung menjawab tanpa ragu, “Siap. Aku otw.”

Singkat, tapi cukup membuat Aurora merasa tidak sendirian.

Beberapa menit kemudian, Aurora sudah berada di dalam mobil Sheila. Pagi itu terasa lebih tenang, meskipun masih ada sisa-sisa perasaan yang belum benar-benar hilang.

Aurora menarik napas sebelum akhirnya mulai bicara, “Kemarin aku telepon Mama.”

Sheila melirik sekilas, “Terus?”

Aurora menatap ke depan, “Mama nyuruh aku ke luar negeri. Ikut dia. Katanya kalau aku nggak kuat di sini, mending mulai dari awal di sana.”

Sheila mengangguk pelan, “Sebenernya, itu ide bagus.”

Aurora menoleh sedikit, “Menurut kamu?”

“Iya bagus. Kamu bisa lebih dekat sama orang tua juga. Lingkungan baru biasanya bantu buat move on” jawab Sheila santai.

Aurora menghela napas pelan, “Tapi nyari kerja itu susah…”

Sheila mengangkat bahu, “Makanya aku nggak maksa. Balik lagi ke kamu. Kalau kamu siap, ya jalanin. Kalau belum, ya jangan dipaksa.”

Aurora mengangguk kecil. Ia memang butuh pendapat, tapi tetap saja keputusan itu ada di tangannya sendiri.

Beberapa detik hening, lalu Aurora tiba-tiba tersenyum tipis, “Kalau aku beneran pergi, kamu bakal kangen nggak?”

Sheila langsung meliriknya, “Ya kangen lah.”

Aurora menyipitkan mata, “Cuma gitu doang?”

Sheila tertawa kecil, “Ya nggak sebanget itu. Kan masih bisa telepon.”

Aurora langsung mendengus pelan.

“Tapi yang jelas bakal kangen itu Zayn” lanjut Sheila santai.

Aurora langsung refleks, “Hah? Kulkas tujuh pintu kayak dia kangen? Nggak mungkin.”

Sheila tertawa, “Ya kamu nggak tau isi hatinya.”

Aurora menggeleng cepat, “Kalau aku pergi, paling dia langsung cari sekretaris baru.”

Sheila mengangkat alis, “Bisa jadi. Tapi menurut aku, kamu bakal dicariin sampai ujung dunia.”

Aurora langsung menatapnya, “Lebay.”

“Serius. Dan sekretaris itu nggak bakal ada yang bisa gantiin kamu” balas Sheila.

Aurora menghela napas, “Sekretaris itu penting. Nggak mungkin nggak diganti.”

Sheila hanya menggeleng pelan, “Kamu tuh nggak peka.”

Aurora mengernyit, “Maksudnya?”

“Zayn itu jelas banget kelakuannya kayak orang jatuh cinta. Kamu aja yang denial” jawab Sheila.

Aurora langsung mengerutkan dahi, “Kalau dia cinta, alasannya apa?”

Sheila langsung jawab santai, “Karena kamu cantik.”

Aurora mendengus, “Kalau cuma karena cantik, itu bukan cinta. Itu cuma ketertarikan fisik.”

Sheila terdiam sejenak, lalu berpikir, “Ya mungkin bukan itu.”

Aurora menatapnya menunggu.

“Mungkin karena kejadian malam itu. Semua orang bakal lari, tapi kamu enggak. Kamu tetap tenang. Bisa jadi dia selama ini nyari orang kayak kamu” lanjut Sheila.

Aurora terdiam.

“Mungkin dia baru nemu sekarang. Dan semua yang dia cari itu ada di kamu” tambah Sheila.

Aurora tidak langsung membalas. Dalam hatinya, ia mengakui ada benarnya. Tapi tetap saja, ia belum bisa menerima sepenuhnya.

Sheila tersenyum tipis, “Kalau nggak percaya, kita taruhan.”

Aurora langsung tertarik, “Apa?”

“Kalau aku bener, kamu traktir aku makan.”

Aurora langsung mengangguk, “Deal.”

Sheila tersenyum puas, “Tapi kamu harus balik lagi ke sini seminggu setelah pergi.”

Aurora mengangkat bahu, “Ya jelas lah. Rumahku di sini.”

Percakapan itu membuat suasana sedikit lebih ringan.

Tak lama, mereka sampai di kantor dan kembali ke rutinitas seperti biasa.

Kali ini, Aurora terasa lebih fokus. Ia mulai mengerjakan tugasnya dengan lebih teratur. Meski belum sepenuhnya pulih, setidaknya pikirannya tidak seberantakan kemarin.

Zayn yang kebetulan keluar ke pantry sempat memperhatikan itu.

Ia mendekat ke meja Aurora, “Udah nggak ingat dia lagi?”

Aurora tidak menoleh, “Aku udah terima.”

Zayn menatapnya beberapa detik, “Bagus.”

Aurora hanya mengangguk kecil.

Zayn berbalik, tapi dalam hatinya ada kepuasan kecil. Bukan karena pekerjaannya kembali normal, tapi karena langkahnya berjalan sesuai rencana.

Sementara itu, Aurora sama sekali tidak mengatakan apa pun tentang rencananya ke luar negeri.

Ia melihat Zayn yang terlihat biasa saja, dan itu membuatnya semakin yakin kalau Sheila salah.

“Mana mungkin dia peduli…” batin Aurora.

Jam makan siang akhirnya tiba.

Aurora duduk di mejanya, membuka ponsel, dan mulai mencari tiket pesawat. Jarinya bergerak cepat hingga akhirnya menemukan jadwal yang sesuai.

Besok pagi.

Tanpa ragu, ia langsung memesannya.

Setelah itu, ia menghubungi ibunya, berjalan perlahan ke arah meja Sheila sambil berbicara, “Ma, aku jadi berangkat besok pagi.”

Di sisi lain, Zayn yang lewat tanpa sengaja mendengar potongan kalimat itu. Ia sedikit mengernyit, tapi tidak terlalu memikirkan.

Ia mengira itu hanya rencana biasa.

Aurora kemudian mengajak Sheila makan siang di kafe dekat kantor.

“Kok tumben ngajak ke sini?” tanya Sheila curiga.

Aurora tersenyum, “Traktiran.”

Sheila langsung tertawa, “Wah, enak nih.”

Mereka duduk dan mulai makan.

“Jadi kamu kapan ke Swiss?” tanya Sheila.

“Besok pagi.”

Sheila langsung terkejut, “Cepet banget?!”

Aurora mengangguk, “Biar nggak kebanyakan mikir.”

“Baliknya kapan?”

“Belum tau. Liat nanti.”

Sheila mengangguk pelan, “Terus kerjaan kamu?”

“Aku nggak resign. Paling bilang cuti nanti.”

“Udah izin Zayn?”

Aurora menggeleng, “Belum.”

Sheila menatapnya, “Serius?”

Aurora menghela napas, “Aku takut nggak diizinin.”

Sheila hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.

Setelah makan, mereka kembali ke kantor.

Waktu berjalan hingga akhirnya jam pulang tiba.

Aurora bersiap hendak pulang bersama Sheila, tapi suara Zayn lebih dulu terdengar, “Aku antar.”

Sheila yang baru mau bicara langsung tersenyum diam-diam dan pergi lebih dulu.

Aurora menatap Zayn kesal, “Aku bisa pulang sendiri.”

“Aku nggak terima penolakan” jawab Zayn singkat.

Aurora hanya bisa menghela napas dan mengikuti.

Perjalanan pulang kembali hening.

Sesampainya di rumah, Aurora langsung masuk.

Ia mandi, makan malam, lalu berganti pakaian.

Setelah itu, ia membuka lemari dan mulai memasukkan pakaian ke dalam koper.

Satu per satu barang dimasukkan. Tidak banyak, tapi cukup untuk beberapa hari.

Semua terasa cepat.

Setelah selesai, ia menutup koper dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Aurora duduk sebentar, menatap koper itu.

“Agak berat buat pergi Swiss, tapi kalau nggak pergi bakal lebih susah” gumamnya pelan.

Ia berbaring, menarik selimut, dan memejamkan mata.

Besok, semuanya akan berubah.

Dan tanpa sadar, untuk pertama kalinya sejak kemarin, Aurora tertidur tanpa air mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!