Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Perasaan yang menggangu
Gaharu duduk di ruang kerjanya. Di depannya banyak sekali laporan-laporan perusahaan yang harus ia selesaikan. Tangannya sibuk menganalisis dan membolak-balikkan kertas-kertas itu.
Suasana di dalam ruang kerja tersebut tampak sunyi, hening tanpa ada kebisingan apapun selain suara kertas dan goresan pulpen yang pria itu gunakan.
Sudah hampir 1 jam, namun ia tidak dapat fokus pada pekerjaannya. Seharusnya, ia sudah menyelesaikan banyak pekerjaannya. Namun entah kenapa bayang-bayang wajah istrinya tiba-tiba terlintas di dalam benaknya.
Gaharu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Meraih secangkir teh yang akhir-akhir ini sering ia konsumsi. Teh yang di rekomendasikan oleh istrinya saat pertama kali gadis itu memasak sarapan dan bekal makan siang untuknya.
“Sial! Ada apa denganku?”
Gaharu membanting pulpennya ke atas meja, membiarkan benda mahal itu menggelinding hingga jatuh ke lantai. Suara benturan kecilnya terasa sangat keras di ruangan yang kedap suara itu. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang kerjanya yang tinggi dan dingin.
“Dia hanya pion kecil keluarganya, hanya orang asing, jangan terlalu di pikirkan.” Gumam Gaharu. Pria itu memejamkan matanya sejenak, namun bayangan wajah Laura yang selalu tersenyum akhir-akhir ini terlintas di pikirannya.
“Sial! Sial! Sial! Apa yang sudah dia lakukan kepadaku?”
Gaharu menatap cangkir teh di mejanya. Bayangan Laura yang tadi datang dengan secangkir teh dan seulas senyum manis terus menghantuinya. Sikap gadis itu selama 1 bulan belakangan ini benar-benar berubah drastis. Yang awalnya terlihat takut dan gugup, terkadang bersikap seolah-olah berani menantang, kini dengan terang-terangan gadis itu bersikap seperti seseorang yang sedang berusaha meluluhkan benteng hatinya.
Di tambah lagi dengan kecupan ringan yang dengan berani Laura lakukan waktu itu. Benar-benar mengganggu konsentrasinya.
2 Minggu yang lalu, sebelum satu bulan perjalan pernikahan mereka. Laura masih dengan pendiriannya untuk mencoba meluluhkan suaminya. Rutinitas paginya selalu teratur dari bangun tidur sampai ia pulang dari kampusnya.
Laura selalu membuatkan sarapan khusus untuk Gaharu, memberikan kotak bekal makan siang, dan juga jus segar setiap harinya. Teh chamomile tidak pernah absen untuk ia buat. Sudah menjadi minuman rutin yang harus ia buat untuk suaminya.
Bukan pagi hari saja, tapi saat suaminya sedang berada di rumah. Seperti saat ia melihat Gaharu berwajah kusut, dengan cekatan gadis itu membuatkan teh. Atau saat ia tidak sengaja mendengar dari sekertaris Juan jika Gaharu terlalu lama mendekam di dalam ruang kerja.
Mendekam di dalam ruang kerja dalam jangka waktu yang lama berarti ada sebuah pekerjaan yang tidak di kerjakan dengan prosedur yang pria itu inginkan.
Yah.. setidaknya selama 2 Minggu ini Laura sedikit memahami tentang suaminya itu.
“Suami!” Laura menyapa dengan riang. Ia mulai menyajikan hidangan sarapan paginya. Tidak lupa dengan teh chamomile yang tidak pernah lupa ia sajikan.
Laura duduk dengan tenang, memakan sarapannya dengan khidmat. Namun tidak dengan Gaharu. Di meja makan ini, ada sekertaris Juan, sementara pelayan Kim berdiri di pojokan memperhatikan.
Si sekertaris prosedur jelas merasakan hawa tidak mengenakan dari Tuan mudanya. Namun ia total abai dan hanya diam memperhatikan sembari sesekali menyuapkan sandwich di tangannya.
Beralih kepada Laura, gadis itu meletakan sisa sandwich-nya. Melirik Gaharu yang berada di sampingnya.
“Suami, hari ini akhir pekan. Kamu tidak libur?”
Gaharu menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih cangkir teh. Ia melirik Laura sekilas, lalu beralih pada Juan yang tampak terlalu santai mengunyah makanannya. Suasana meja makan yang biasanya formal kini terasa aneh karena kehadiran Laura yang terlalu... hidup.
“Pekerjaanku tidak mengenal kata akhir pekan,” jawab Gaharu dingin, suaranya datar namun tegas.
Laura tidak menunjukkan raut kecewa. Ia justru menopang dagunya dengan satu tangan, menatap suaminya dengan binar mata yang sulit diartikan. “Begitu ya? Padahal aku berencana mengajakmu keluar sebentar.”
Juan tersedak pelan, segera meraih gelas air yang berada di samping piringnya. Sebagai sekretaris yang sudah bertahun-tahun mengikuti Gaharu, ia tahu betul bahwa bosnya paling tidak suka jadwalnya diganggu, apalagi untuk alasan sepele seperti 'udara segar'.
“Kamu memiliki sopir dan juga pengawal pribadi, kamu bisa pergi bersama mereka.”
“Tapi mereka bukan suamiku,” balas Laura cepat, nada suaranya tetap ceria namun terselip keberanian yang membuat pelayan Kim di pojok ruangan tanpa sadar menahan napas. “Lagipula, Sekretaris Juan juga butuh istirahat, 'kan? Lihat wajahnya, dia sudah seperti robot yang kekurangan oli.”
Juan hampir saja menjatuhkan sandwich-nya saat mendengar namanya di bawa-bawa. Ia melirik Tuan mudanya yang hanya diam sambil menikmati teh paginya.
Gaharu menghela napas panjang. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit dentingan yang cukup keras di atas meja. “Laura, jangan mulai. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?” Gaharu melirik tajam, namun Laura tidak merasa gentar sedikitpun.
“Tujuanku membuatmu rileks, santai, tidak marah-marah, dan yang pasti membuat otot kepalamu tidak tegang karena tekanan perkejaan.” Laura tersenyum manis dengan masih mempertahankan posisinya.
Gaharu mendengus, mencoba menyembunyikan fakta bahwa argumen Laura sebenarnya cukup masuk akal.. atau mungkin karena pijatan tak kasat mata dari aroma chamomile itu sudah mulai bekerja.
“Rileks?” Gaharu mengulang kata itu dengan decihan sinis. “Kamu tahu berapa kerugian perusahaan jika aku membuang-buang waktu hanya untuk 'bersantai' seperti maumu?”
Laura mengangkat bahunya acuh. “Kerugiannya pasti tidak seberapa dibandingkan jika direkturnya kehilangan kewarasan karena terlalu kaku,” sahut Laura ringan. Ia tersenyum manis setelah mengatakan hal itu.
Juan menatap Tuan mudanya yang terdiam kaku mendengar perkataan Nyonya mudanya. Ia tidak berani bersuara untuk menyala perkataan Nyonyanya, namun di dalam hatinya ia mengacungkan kedua jempol akan keberanian Laura akhir-akhir ini.
Jika orang lain mungkin saja Gaharu akan langsung meledak. Tapi belakangan ini Tuan mudanya terlihat dapat menahan emosinya di hadapan Laura.
“Tapi tidak masalah jika kamu tidak ingin keluar denganku, biar aku saja yang datang padamu. Aku akan mengantarkan bekal makan siang untukmu nanti, tunggu aku di kantor ya suami, muahhh!”
Hal yang paling tidak terduga, benar-benar tidak terduga. Gaharu mematung mendapatkan serangan tiba-tiba dari istrinya. Sebuah kecupan ringan di pipi bagian kirinya. Bukan hanya Gaharu yang terdiam, namun kedua pria berbeda usia di dalam ruangan inipun ikut mematung.
Di pojok ruangan pelayan Kim membulatkan matanya, terkaget-kaget dengan apa yang di lakukan oleh Nyonya mudanya. Begitupun dengan sekertaris Juan. Ia tersedak oleh air liurnya sendiri melihat adegan itu. Pria itu berdehem pelan dan membenarkan simpul dasinya yang mana jika di lihat pun sudah terlihat rapih.
“Tuan muda saya akan siapakan mobil,” ujar Juan. Pria itu memilih melarikan diri dengan dalih menyiapkan mobil, meninggalkan suasana hening di dalam ruang makan itu.
Siang menjelang, Gaharu kira perkataan Laura di meja makan tadi pagi hanya omong kosong belaka. Namun kini ia dapat melihat gadis itu, gadis yang menjadi istrinya sedang berdiri di ambang pintu ruang kantor miliknya. Dengan menenteng satu wadah yang berisikan bekal makan siang juga sebuah tumblr berisikan minuman.
“Selamat siang suami!” sapa Laura riang, tidak lupa dengan senyuman yang terus terukir manis di wajahnya. “Maaf karena telat lima menit. Aku membawakan makan siang kesukaanmu, nasi ayam teriyaki, tumis sayur, dan juga jus buah naga.”
Gaharu terdiam di balik meja kerjanya yang luas. Ia tidak langsung menjawab, melainkan hanya menatap Laura yang berjalan mendekat dengan langkah ringan tanpa beban. Suara ketukan sepatu Laura di atas lantai marmer ruang kantornya seolah-olah berirama, selaras dengan detak jantung Gaharu yang mendadak tidak beraturan.
“Siapa yang mengizinkanmu masuk?” tanya Gaharu ketus, berusaha mendapatkan kembali wibawanya yang sempat runtuh. “Aku sedang meninjau laporan, Laura. Aku tidak punya waktu untuk piknik di kantor.”
Laura sama sekali tidak terpengaruh oleh nada dingin suaminya. Dengan santai, ia meletakkan wadah bekal dan tumblr itu di atas satu-satunya area meja yang tidak tertutup kertas.
“Sekretaris pro—eh maksudku sekertaris Juan yang mengizinkan,” jawab Laura enteng sembari mulai membuka tutup wadah bekalnya. Aroma manis gurih dari ayam teriyaki seketika memenuhi ruangan yang biasanya hanya berbau kertas dan parfum maskulin itu.
Tentu saja ia memaksa masuk. Ia memiliki 1001 cara agar dapat masuk, hal sepele seperti ini mah kecil untuknya. Walaupun pada awalnya si sekertaris prosedur itu menghadangnya untuk dapat masuk.
“Makanlah, ini masih hangat.”
Gaharu melirik ke arah pintu yang tertutup, mengutuk sekertarisnya dalam hati karena membiarkan pertahanannya ditembus semudah itu. Ia kembali menatap Laura yang kini sedang menata peralatan makan di depannya.
“Aku tidak lapar,” bohong Gaharu. Tepat saat ia mengatakan hal itu, perutnya mengeluarkan bunyi keroncongan yang cukup jelas.
Laura menahan tawa, bahunya berguncang kecil. “Perutmu berkata lain, Suami.”
Mata Gaharu menyipit. “Kamu menertawakanku?”
“Tidak,” sanggah Laura. “Makanlah, turunkan egomu. Menunda lapar karena pekerjaan akan membuatmu tidak fokus pada pekerjaan Tuan direktur.”
Gaharu menatap sumpit di tangan Laura, lalu beralih ke wajah istrinya yang tampak tulus namun penuh kemenangan. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk mengusir gadis ini, namun bayangan kecupan di pipi tadi pagi kembali terlintas, membuat rasa panas menjalar ke telinganya.
Dengan helaan napas panjang yang terdengar seperti pasrah, Gaharu akhirnya meraih sumpit itu. Memakannya dengan gestur yang enggan. Namun saat satu suapan pertama berhasil masuk, gerakan tangan itu kembali menyuapkan makanan dengan cepat.
Laura tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
“Aku tidak bisa menemanimu makan sampai selesai,” ucap Laura yang sontak membuat kunyahan di mulut Gaharu terhenti. Pria itu mengangkat wajahnya.
“Kenapa?” Gaharu langsung saja menurunkan pandangannya saat pertanyaan itu lolos dari dua belah bibirnya, merutuki ucapannya sendiri.
“Ututututu... Suami sudah mulai penasaran, ya?” goda Laura. Gadis itu terkekeh ringan. “Aku masih memiliki tugas kuliah yang belum aku selesaikan. Ah ya, aku juga akan mampir untuk membeli cat dan juga kanvas sebelum pulang nanti.”
“Semangat kerjanya ya, suami. Dan.. habiskan makan siangmu, jangan sisakan sedikitpun. Aku pergi dulu, aku akan menunggumu pulang di rumah, muahhh..”
Kembali, hal tadi pagi yang terjadi di meja makan terulang lagi. Laura bersikap biasa saja, namun tidak dengan Gaharu. Pria itu kembali mematung. Sumpit di tangannya terlepas begitu saja. Matanya menatap kosong ke depan, tempat di mana ia melihat Laura yang hilang tertelan pintu ruangannya.
“Sia! Sial! Sial!”
Gaharu mengacak rambutnya saat mengingat kejadian dua Minggu yang lalu. Kejadian yang sukses membuat pikirannya kacau.
“Apa yang sudah kamu perbuat padaku, Laura.”
***
Kamis, 30 April 2026
Published : Kamis, 30 April 2026