NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Harus Temukan Segera!

Udara di ruangan putih ini terasa steril, sangat kontras dengan bau busuk yang memenuhi Sektor 7 beberapa saat lalu. Pria yang mirip dengan ayahnya itu duduk dengan tenang, jemarinya yang pucat mengetuk meja logam di depannya. Namun, Arga tidak tertipu. Harmonika di tangannya masih bergetar, mengirimkan resonansi peringatan bahwa sosok di depannya hanyalah proyeksi sisa memori yang telah dikorupsi oleh algoritma sekolah.

"Kau bukan ayahku," ulang Arga, suaranya kini lebih stabil. "Ayahku tidak akan pernah menjadi bagian dari tempat yang menyiksa anak-anaknya."

"Benar," pria itu menjawab tanpa ekspresi. "Ayahmu adalah kegagalan. Dia memilih moralitas daripada evolusi. Namun, egonya tetap tertinggal di sini, di dalam basis data The Core. Aku adalah simulasi dari ambisinya yang paling gelap."

Tiba-tiba, lampu di ruangan putih itu berkedip merah. Suara raungan mesin terdengar dari balik dinding. Arga merasakan getaran hebat di bawah kakinya.

"Profesor Johan melakukan kesalahan," simulasi itu berdiri. "Dia pikir dia bisa mengunci mereka di luar. Padahal, dia hanya mengunci kalian di dalam ruang pemrosesan limbah biologis."

Seketika, dinding putih itu mulai bergeser, menyingkap jaringan pipa ventilasi raksasa yang saling silang. Dari dalam lubang-lubang saluran udara tersebut, terdengar suara yang membuat bulu kuduk berdiri—bukan sekadar suara angin, melainkan jeritan kolektif yang bernada sangat tinggi, seolah ribuan orang sedang ditarik paksa melalui celah sempit.

Aaaaaghhhh... Toloooong... Panas...

"Itu adalah sisa-sisa 'asap jiwa' dari subjek yang dilarutkan di lab kimia tadi," simulasi itu menunjuk ke saluran udara. "Karena kau menghancurkan tangki pembuangan, gas-gas yang mengandung kesadaran setengah mati itu kini terjebak di saluran udara Sektor 7. Mereka lapar, Arga. Mereka mencari wadah baru."

Pria itu menghilang menjadi butiran piksel biru, meninggalkan Arga sendirian saat salah satu penutup saluran udara di langit-langit terlempar lepas. Asap berwarna kelabu pekat keluar dari sana, membentuk tangan-tangan kurus yang mencoba menggapai Arga.

Arga tidak bisa menggunakan kekuatan Indigo-nya secara sembarangan di sini. Setiap kali ia memancarkan energi, asap itu justru semakin kuat, tersedot ke arahnya seolah ia adalah magnet. Ia harus bergerak cepat. Mengikuti peta mental dari catatan tahun 1970, ia tahu ada satu jalur darurat yang melewati saluran udara ini menuju Gedung C, tempat Raka berada.

Ia melompat masuk ke dalam saluran udara yang luas itu. Di dalam sana, suasananya adalah mimpi buruk klaustrofobik. Logam pipa itu terasa panas dan berlendir. Arga harus merangkak dengan cakar obsidian yang kembali muncul secara perlahan karena tekanan emosionalnya.

Srak... srak... srak...

Suara sesuatu yang merangkak di belakangnya terdengar semakin dekat. Arga menoleh dan melihat wajah-wajah tanpa kulit yang terbentuk dari asap kelabu. Mereka tidak memiliki mata, hanya lubang hitam yang terus mengeluarkan suara jeritan yang memekakkan telinga.

"Pergi!" Arga menendang salah satu wajah asap itu, namun kakinya hanya menembus udara dingin.

Jeritan itu mulai mempengaruhi pikirannya. Ia mulai melihat kilasan memori murid-murid yang tewas. Ia melihat seorang siswa kelas XI yang dipaksa minum cairan hijau, ia melihat seorang siswi yang kakinya dipotong untuk dijadikan manekin. Semua rasa sakit itu kini membanjiri otaknya.

Kenapa kau selamat, Arga? jerit suara-suara itu di dalam kepalanya. Kenapa hanya kau yang memiliki kekuatan? Berikan tubuhmu pada kami!

"Aku tidak akan menjadi wadah kalian!" Arga berteriak.

Ia teringat pesan Profesor Johan tentang frekuensi. Arga kembali meniup harmonikanya di dalam saluran udara yang sempit. Nada-nada biru mulai menyebar, menciptakan gelembung pelindung yang mendorong asap-asap itu menjauh. Namun, getaran suara di dalam pipa logam menciptakan gema yang menyakitkan.

Tiba-tiba, pipa di bawahnya retak. Arga jatuh merosot melalui lorong vertikal yang curam. Ia terus meluncur hingga akhirnya terhempas keluar melalui lubang ventilasi di sebuah ruangan yang penuh dengan botol-botol spesimen.

Ia telah sampai di Gedung C.

Ruangan itu sunyi, namun bau melati kembali tercium. Di tengah ruangan, Lintang sedang bersembunyi di balik lemari, memegang belati peraknya dengan tangan gemetar. Di ranjang darurat di sudut ruangan, Raka tampak sedang menggigil hebat.

"Arga! Kau kembali!" Lintang berlari mendekat, namun ia terhenti saat melihat tangan Arga yang kembali bersisik. "Tunggu... kau... kau baik-baik saja?"

"Aku... masih aku," Arga terengah-engah, menyimpan harmonikanya. "Di mana Guru Biologi? Profesor Johan bilang dia ada di sini."

"Dia belum datang, Arga. Tapi ada seseorang yang terus mengetuk pintu dari luar sejak sepuluh menit lalu. Dia bilang dia adalah utusan dari 'Sektor Bawah', tapi suaranya... suaranya terdengar seperti suara Raka," bisik Lintang.

Arga menatap pintu kayu Gedung C. Di sana, terdengar ketukan pelan yang ritmis. Tok... tok... tok...

"Arga... buka pintunya... aku kedinginan..." suara di balik pintu itu memang persis suara Raka, padahal Raka yang asli ada di depan mereka, masih pingsan.

Arga menyadari bahwa jeritan dari saluran udara tadi hanyalah pengalih perhatian. Ancaman yang sebenarnya kini ada di depan pintu. Sesuatu telah mengikuti Arga dari Sektor 7, sesuatu yang mampu mencuri suara dan identitas.

"Jangan buka pintunya, Lintang," Arga bersiap dengan posisi tempur. "Itu bukan manusia. Itu adalah residu yang keluar dari saluran udara."

Tiba-tiba, saluran udara di atas mereka bergetar hebat. Asap kelabu yang tadi mengejar Arga kini mulai merembes masuk melalui celah-celah ventilasi ruangan itu. Mereka terkurung. Di depan ada penipu suara, di atas ada asap jiwa yang lapar.

"Arga, lihat Raka!" Lintang menjerit.

Tubuh Raka mulai melayang beberapa senti di atas ranjang. Matanya terbuka, namun tidak ada bola mata di sana, hanya cahaya hijau yang memancar terang. Mulut Raka terbuka, dan jeritan yang sama dengan yang ada di saluran udara keluar dari tenggorokannya.

"Eksperimennya... belum selesai..." Raka bergumam dalam trans.

Arga menyadari bahwa Sektor 7 sedang mencoba menarik kembali "asetnya". Jantung mesin di dada Raka bereaksi terhadap sinyal dari bawah tanah. Arga harus menemukan Guru Biologi itu sekarang juga, atau Raka akan hancur dari dalam sebelum fajar menyingsing.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!