Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Perang Dunia
Tubuh Valerie gemetaran ketakutan dan lemas, dengan air mata yang membasahi pipinya melihat amarah Nathan yang meledak bak bom waktu yang tidak bisa dihindarkan. Kedua tangan Valerie menutupi telinga kanan dan kirinya seraya menundukkan kepalanya saat Nathan hendak memukul cermin.
Nathan lepas kontrol, memukul cermin berukuran besar tingginya hampir sama dengannya tidak jauh dari tempatnya berdiri, cermin yang biasa Valerie gunakan untuk melihat pantulan dirinya setelah mengganti pakaian dan berdandan. Pecahan kacanya hancur berserakan berterbangan tidak beraturan. Tatapan Nathan begitu tajam seperti pisau yang siap menusuk Valerie kapan saja, tatapan itu yang paling dibenci olehnya. Yang ada di hadapan Valerie saat ini bukanlah Nathan yang dikenalnya.
Mendengar seperti suara pecahan kaca membuat Jeevan dan yang lain kaget bukan main. Sebagian staf perempuan berteriak histeris karena terkejut. Sepertinya sudah terjadi sesuatu dengan Nathan dan Valerie di dalam sana. Mereka sangat khawatir dan ketakutan akan keadaan Valerie, tapi mereka tidak mempunyai pilihan karena tidak berani menghampiri Valeri.
"Suara apaan tuh?" tanya Kenzie kaget menatap Jeevan yang juga ketakutan sedikit gelisah.
"Permisi. Valerie di mana?" tanya Jeevan dengan wajah ketakutan menghampiri staf yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
Mereka semua menoleh secara bersamaan menatap Jeevan yang tidak sadar akan kedatangannya. Jeevan bisa melihat semua wajah staf di sana begitu ketakutan dan cemas.
"Ada di dalam sana sama pacarnya," jawab salah satu staf perempuan dengan nada terdengar ketakutan dan panik.
Deg, Jeevan kaget bukan main mendengarnya. Apa yang didengarnya tadi berasal dari sebuah ruangan yang di dalamnya ada Valerie dan Nathan. Apa mungkin terjadi sesuatu terjadi kepada Valerie, karena suara pecahan kaca berasal dari salah satu ruangan. Tanpa berpikir panjang dengan berlari Jeevan menghampiri salah satu ruangan disusul oleh Kenzie dari belakang.
Tidak terdengar suara Nathan sesaat terasa hening membuat Valerie memberanikan diri untuk melihat keadaan Nathan. Namun belum sempat melihat ke arah Nathan, Valerie melihat tetesan darah jatuh ke lantai lumayan deras menetas mulai membasahi lantai. Darah kental berwarna merah yang masih segar membasahi telapak tangan Nathan yang lama kelamaan begitu banyak jatuh ke lantai. Tubuh Valerie semakin terasa lemas dan kepalanya mendadak pusing. Valerie sudah tidak kuat lagi berada di sana, ia ingin cepat pergi. Adakah yang akan menyelamatkannya?
"Kenapa kamu berbuat seperti ini kepadaku? Apa salahku sama kamu?" tanya Nathan dengan suara lirih dan air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
Hati Nathan terasa sangat sakit tak tertahankan karena Valerie, kenapa bisa orang yang sangat dicintainya berbuat seperti ini kepadanya. Rasa sakit di tangannya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hatinya. Valerie hanya terdiam menangis menatap Nathan dengan begitu sendu, ia tidak kuat lagi berhadapan dengan Nathan.
"Aku tahu kadang egois. Tapi kamu tahu, aku berusaha melakukan yang terbaik buatmu selama ini. Dan apa ini balasanmu?" Nathan mengungkapkan isi hatinya sambil menangis terdengar lirih di telinga Valerie.
Tatapan sendu Valerie terus menatap Nathan yang menangis karena kecewa kepadanya. Bukan hanya Nathan tapi Valerie juga, mungkin hati Vale lebih sakit dari Nathan karena tidak bisa memberitahukan yang sebenernya terjadi. Sampai mati Valerie tidak bisa memberitahukan Nathan, biarlah Nathan menuduh Valerie sebagai seorang perempuan yang sangat jahat.
"Kenapa? Kenapa harus aku yang kamu hancurkan, kenapa?" Nathan terus menangis histeris tidak tahan lagi.
"Kenapa Vale? Kenapa? Kenapa harus aku! Jawab Valerie!?" Teriak Nathan semakin histeris dengan amarah meluap terus menangis merasakan sesak di dadanya.
Di saat bersamaan dengan teriakan Nathan yang terdengar menggema terdengar di setiap sudut ruangan kamar hotel, pintu kamar terbuka karena tidak terkunci. Valerie yang terburu-buru lupa menguncinya sehingga bisa dengan mudah dibuka oleh Jeevan yang berlari menghampirinya ketika mendengar suara pecahan kaca apalagi teriakan Nathan tadi.
Pintu terbuka lebar, hati Jeevan tidak karuan dan ketakutan melihat keadaan di dalam sana begitu kacau bercampur dengan darah yang menetas ke lantai. Kedua bola mata Jeevan membulat terkejut melihatnya apalagi mendapati Valerie sedang berjongkok ketakutan dengan wajah yang begitu lusuh dan pucat basah dengan air mata. Tubuh Jeevan mendadak gemetaran dan amarah mulai memuncak karena tidak terima melihat keadaan Valerie seperti itu.
Tahu akan kedatangan seseorang membuat Valerie dan Nathan menoleh secara bersamaan. Valerie senang karena melihat Jeevan yang sudah sampai di sana, berbeda dengan Nathan yang begitu sinis melihat kedatangan Jeevan, ia bisa menebak jika lelaki yang berdiri tidak jauh darinya adalah lelaki yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Valerie. Senyum sinis terkesan kasar dengan tatapan begitu tajam, Nathan menatap terus Jeevan seperti ingin membunuhnya sekarang juga. Tangan kiri Nathan mengepal begitu kuat seolah siap untuk memangsa Jeevan.
"Anjirrr....apa-apaan nih!" Teriak Kenzie tidak kalah kaget yang berada di belakang Jeevan melihat keadaan di dalam ruangan sana.
"Tolong bawa Vale keluar dari sini!" Titah Jeevan berjalan menghampiri Nathan yang Masih berdiri terdiam terpaku masih menatap tajam ke arahnya.
Sesampainya Jeevan di hadapannya, dengan cepat lelaki berambut curtain haircut menarik kerah kemeja Jeevan dengan kedua tangannya, diremasnya kemeja Jeevan begitu erat sehingga Nathan lupa jika tangan kanannya sedang terluka dan mengeluarkan darah. Cairan kental berwarna merah mulai mengotori kerah baju kemeja Jeevan bagian kanan. Dengan tatapan tajam dan amarah yang tidak bisa dibendung lagi, Nathan mendorong Jeevan begitu keras ke dinding.
Tubuh Jeevan seperti dibanting begitu sangat keras membuatnya kesakitan, dan kepala bagian belakangnya terbentur lumayan keras, namun Jeevan masih bisa menahannya. Sejujurnya Jeevan merasa sedikit lelah karena tadi dirinya baru saja bercanda dengan Kenzie di kantor, energinya sudah sedikit habis meladeni sikap Kenzie yang sedang kekanak-kanakan. Dari sudut ruangan, Valerie hanya bisa menyaksikan Nathan mulai melukai Jeevan. Vale sangat takut jika Nathan akan melukainya juga.
"Jangan sakiti dia, Nathan. Aku mohon!" pinta Valerie yang saat itu juga berlari menghampiri Nathan sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Nathan yang membuat Jeevan kesakitan.
Melihat sikap Valerie yang sangat menghawatirkan lelaki yang telah merebutnya, membuat Nathan semakin menggila dan sangat benci dengan situasi di sini. Amarah Nathan semakin membara dan api cemburu mulai membakar hatinya, kepada Valerie lebih memperdulikan Jeevan daripada dirinya yang sekarang sedang terluka.
"Kamu berlari lebih memilih dia daripada aku?" tanya Nathan dengan suara sedikit bergetar menahan emosi dan amarah menatap tajam Valerie yang berdiri melindungi Jeevan.
Valerie tidak bisa menjawab pertanyaan Nathan, hanya tangisan yang menjadi jawaban bagi Valerie atas semua pertanyaan Nathan kepadanya. Sementara Jeevan masih berusaha menahan rasa sakitnya karena lama-kelamaan merasa tercekik kesulitan bernapas.
"Jadi dia yang akan menikah sama kamu? Kamu lebih memilih dia yang baru dikenal daripada aku, HAH!?" Teriak Nathan membuat Valerie semakin ketakutan.
Melihat Valerie diperlakukan seperti itu membuat Jeevan tidak terima, ia merasa kesal karena Nathan membentaknya.
"Bangsaat! Jangan bentak dia, anjiing!" Bentak Jeevan mulai marah ketika melihat Valerie dibentak di depannya.
Hanya tawa ringan terkesan sinis Nathan melihat sikap Jeevan yang arogan. Tanpa banyak bicara Nathan memukul wajah Jeevan secara membabi buta. Valerie terjatuh terdorong oleh Nathan yang membanting tubuh Jeevan ke lantai. Melihat perkelahian mulai memanas, Kenzie berlari ke arah Valerie menyelamatkannya dan membawa keluar dari sana. Sementara mereka berdua terlibat perkelahian besar. Nathan seperti orang kerasukan memukuli Jeevan yang tubuhnya berada di bawah Nathan.
"Anjiing. Lo pikir bisa ngehancurin hubungan gue sama Vale!" Nathan terus memukuli Jeevan tanpa ampun.
Bukan Jeevan namanya jika tidak bisa bela diri, meski mendapat beberapa pukulan dari Nathan dengan cepat Jeevan bisa membalas serangan Nathan. Tidak memerlukan waktu lama, Jeevan berhasil membalas pukulan Nathan begitu tepat sasaran.
"Nggak akan pernah gue biarin lo nyakitin Vale, apalagi ngebentak dia!" Balas Jeevan berteriak.
Kenzie membawa Valerie ke mobil tapi Valerie begitu mengkhawatirkan Jeevan yang masih berkelahi dengan Nathan. Dengan langkah kaki tertatih-tatih dan lemas, Valerie mengikuti langkah kaki Kenzie yang sangat cepat membawanya menjauh dari sana.
"Jeevan bagaimana?" tanya Valerie kepada Kenzie yang terus berjalan di depannya seraya menggenggam erat tangan Valerie tanpa dilepas.
"Sekarang bukan waktunya buat lo mikirin dia. Yang terpenting adalah sekarang harus ke dalam mobil," ucap Kenzie tegas terus berjalan tanpa menoleh dan menghentikan langkah kakinya.
"Tapi Nathan bisa negbuhun Jeevan!" Teriak Valerie dengan melepaskan tangannya dari genggaman Kenzie sekuat tenaga.
Tangan Valerie berhasil lepas dari genggaman Kenzie dan langkah kaki mereka berdua terhenti sesaat di lobi. Kenzie yang sedari tadi begitu fokus tanpa menoleh ke belakang, kini harus bersiaga menjaga Valerie.
"Jeevan yang akan negbuhun gue kalau nggak cepet bawa lo ke mobil!" balas Kenzie tegas membuat Valerie terdiam mendengarnya.
"Lo nggak usah mikirin dia. Berantem kaya gini bukan hal baru buat dia. Asal lo tahu, kalau dia udah sering ngelakuin kaya gini sama orang lain." Kenzie mencoba berbohong dan meyakinkan Valerie agar tidak menghawatirkan sahabatnya, meskipun sebenarnya Kenzie gue merasakan perasaan yang sama seperti Valerie yang ketakutan akan keadaan Jeevan di sana.
Entah apa yang terjadi dengan Jeevan, apa dia baik-baik saja di sana? Apa dia bisa mengalahkan Nathan? Dan apakah tidak akan ada yang mati di antara mereka berdua? Itulah isi di dalam pikiran Kenzie saat ini. Ingin rasanya Kenzie kembali lagi ke sana tapi Jeevan meminta dirinya untuk melindungi Valerie. Mendengar ucapan Kenzie membuat Valerie yang tadinya merasa panik dan khawatir tentang keadaan Jeevan justru menjadi ketakutan akan sosok Jeevan yang sebenarnya.
"Denger omongan gue sekarang! Lebih baik kita pergi dari sini dan tunggu Jeevan di mobil, oke?" ajak Kenzie yang begitu sabar dan tenang membuat Valerie akhirnya mengikuti ucapannya.
Ternyata apa yang diucapkan oleh Kenzie tidak sesuai janjinya, tadi Kenzie bilang kepadanya akan menunggu Jeevan di dalam mobil. Namun nyatanya Kenzie hendak membawa Valerie pulang dan meninggalkan Jeevan sendirian di sana.
"Kita mau kemana? Bukannya tadi kamu bilang mau nunggu Jeevan di sini?" tanya Valerie ketika Kenzie menyalakan mesin mobil hendak meninggalkan area parkiran.
Sesaat Kenzie menarik napas panjangnya, kenapa di saat dirinya sedang begitu panik dan ketakutan menunggu kabar dari sahabatnya, justru Valerie harus banyak bicara.
"Jeevan bilang suruh anter lo pulang sekarang," jawab Kenzie dengan wajah yang terlihat sangat khawatir namun mencoba untuk tenang.
"Nggak! Aku nggak mau pulang tanpa Jeevan!" Tolak Valerie mentah-mentah dengan kedua bola mata yang membuat sempurna membuat Kenzie merasa putus asa.
"Dia justru khawatir kalau lo masih di sini, nanti dia nyusul ke rumah lo."
"Aku nggak mau pergi dari sini sebelum lihat Jeevan, paham!"
Percuma saja bagi Kenzie untuk membujuk Valerie agar ikut dengannya dan segera pulang, yang nyatanya dirinya begitu keras kepala masih menanti kedatangan Jeevan yang sedari tadi masih berada di kamar hotel. Sial, Kenzie sudah tidak tahan lagi karena dia juga belum bisa melihat keadaan Jeevan yang membuatnya merasa tidak tenang.
"Lo berdua cocok banget. Sama-sama keras kepala," celetuk Kenzie menyindir Valerie.
Hampir setengah jam Valerie dan Kenzie menunggu kabar dari Jeevan, namun belum juga menghubungi Kenzie. Sampai akhirnya Jeevan menelepon Kenzie untuk menjemputnya di pintu masuk lobi hotel. Sepertinya masalah sudah selesai tapi mereka berdua tidak tahu bagaimana akhirnya, yang terpenting mereka berdua sedikit lega mendengar kabar dari Jeevan.
Valerie kaget bukan main melihat keadaan calon suaminya yang banyak luka pukul di bagian wajah dan pelipisnya. Serta keadaan bajunya yang berantakan ada noda darah Nathan membekas di kerah sebelah kanannya. Anehnya Valerie tidak memikirkan dan khawatir dengan keadaan Nathan, yang sangat dikhawatirkan olehnya adalah keadaan Jeevan saat ini.
"Kenapa kamu nggak pulang lebih dulu sama Kenzie?" tanya Jeevan saat dalam perjalanan pulang mengantar Valerie yang duduk di sampingnya.
"Aku khawatir sama kamu," jawab Vale dengan suara terdengar sedikit parau menatap Jeevan dengan tatapan sendu.
Hati Jeevan terhenyak sesaat mendengarnya, kenapa di saat seperti ini sikapnya menjadi gugup dan salah tingkah.
"Kamu baik-baik aja, kan? Apa ada yang terluka?" Jeevan bertanya mengganti topik pembicaraan mengalihkan perasaannya yang mulai kacau tida karuan.
Kedua bola mata Jeevan memperhatikan tubuh Valerie dengan seksama tidak ada yang luput dari pandangannya, ia takut jika ada bagian tubuh Vale yang terluka karena kejadian tadi. Tapi nampaknya tidak ada luka serius di tubuh Vale, hanya rasa ketakutan dan trauma yang Vale rasakan.
"Bukan aku yang terluka tapi kamu," balas Valerie menatap Jeevan begitu sendu seolah dirinya ketakutan akan kehilangan Jeevan.
"Kamu harus segera diobati," tambah Valerie lagi seraya tangan kanannya mulai memegang wajah tampan Jeevan membuat tubuhnya kaku sementara dan jantungnya berdekat semakin kencang lagi.
Keringat dingin keluar dari pelipis dan kening Jeevan ketika telapak tangan lembut Valerie menyentuh wajahnya. Intonasi jantungnya tidak berirama normal, ada kekacauan yang lebih serius di dalam hatinya. Tubuhnya mendadak beku dan tidak bisa digerakkan, serta keringat dingin yang keluar dari telapak tangan dan kening Jeevan. Perasaan aneh yang kini muncul lagi entah karena apa.
"Kita pergi ke dokter dulu, ya?" ajak Valerie meminta bertanya kepada Jeevan.
"Nggak, perlu!" Jeevan tersadarkan sambil melepaskan tangan Valerie dari pipinya.
Wajah Jeevan mendadak memerah merona, dan sikapnya gugup. Terlihat jelas di mata Kenzie jika sahabatnya sedang dibuat salah tingkah oleh Valerie, namun perempuan cantik itu tidak menyadarinya.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪