NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Jejak Baru di Atas Pasir

Pagi hari di pantai Selatan Jawa terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Mungkin karena Aisha tidak lagi terbangun dengan rasa cemas yang mencekik dadanya. Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur tanpa mimpi buruk tentang masa lalu.

Matahari baru saja muncul dari ufuk timur, menyapu langit dengan gradasi jingga keemasan. Aisha berdiri di tepi pantai, kaki telanjangnya merasakan dinginnya pasir basah. Ombak bergulung pelan, seolah enggan membangunkan siapa pun yang masih terlelap.

“Bu!”

Aisha menoleh. Baskara berlari ke arahnya dengan celana pendek dan kaus oblong bergambar dinosaurus. Rambutnya masih acak-acakan, matanya masih sayu karena baru bangun, tapi senyumnya sudah mengembang lebar.

“Nak, kok sudah bangun? Baru jam enam.”

“Aku kebelet pipis, Bu. Terus aku lihat Ibu nggak di kamar. Aku kira Ibu pulang.”

Aisha tertawa. “Ibu tidak akan pulang tanpa kamu. Ibu hanya ingin lihat matahari terbit.”

Baskara berdiri di samping Aisha, menggenggam tangannya. Mereka berdua memandangi matahari yang perlahan naik, menebarkan cahaya ke seluruh penjuru pantai.

“Bu, cantik banget,” bisik Baskara.

“Ya, Nak. Cantik sekali.”

“Bu, aku mau minta sesuatu.”

“Apa?”

“Aku mau kita sering-sering liburan kayak gini. Nggak usah ke tempat mahal. Cukup di sini. Yang penting kita bertiga.”

Aisha memeluk Baskara. “Ibu janji, Nak. Kita akan sering liburan. Berdua, atau bertiga sama Ayah.”

Baskara tersenyum. “Aku seneng Ayah ikut. Ayah jarang tersenyum kalau di Jakarta. Tapi di sini, Ayah sering tersenyum.”

Aisha menatap ke arah penginapan. Arka sedang berdiri di teras, memegang dua gelas kopi. Pria itu tersenyum tipis, lalu berjalan mendekati mereka.

“Kalian sudah bangun sejak kapan?” tanya Arka sambil menyerahkan satu gelas kopi pada Aisha.

“Aku sejak setengah jam lalu. Baskara baru saja.”

Arka mengusap rambut Baskara. “Kamu laper? Ayah pesan sarapan. Nanti kita makan di pinggir pantai.”

“Mau! Aku mau makan sambil liat ombak!”

Baskara berlari kembali ke penginapan, meninggalkan Aisha dan Arka berdua di tepi pantai.

“Dia bahagia,” kata Arka.

“Ya. Untuk pertama kalinya, dia terlihat seperti anak kecil lagi.”

Arka meraih tangan Aisha. “Kita berhasil, Aisha. Kita melewati badai.”

Aisha tersenyum, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman Arka. “Kita belum sepenuhnya melewati. Masih ada luka. Tapi setidaknya, kita tidak lagi tenggelam.”

Mereka berdua berdiri diam, menikmati pagi yang sunyi.

---

Sarapan di pinggir pantai adalah ide Baskara yang ternyata menyenangkan. Arka membawa tikar besar, Aisha membawa kotak bekal berisi nasi goreng, telur dadar, dan irisan buah. Baskara duduk di tengah, sesekali menyuapi Aisha, sesekali menyuapi Arka.

“Bu, Ayah, besok kita ke sini lagi, ya,” pinta Baskara sambil mengunyah pisang.

“Besok kita sudah harus pulang, Nak. Ayah ada rapat Senin pagi.”

“Ah, Ayah mulu. Kerja terus.”

Arka tertawa. “Ayah kerja biar bisa traktir kamu liburan lagi.”

“Janji?”

“Janji.”

Baskara tersenyum puas. Ia menghabiskan makanannya, lalu berlari ke tepi air bermain kejar-kejaran dengan ombak.

Aisha memandangi Baskara dengan perasaan campur aduk. Ada kebahagiaan, ada rasa syukur, tapi juga ada kekhawatiran kecil yang tidak bisa ia hilangkan.

“Kau memikirkan apa?” tanya Arka.

“Aku memikirkan tentang sesi terapi Baskara minggu depan. Dokter Andini bilang kita akan mulai sesi trauma healing yang lebih intensif. Aku sedikit khawatir.”

“Khawatir tentang apa?”

“Khawatir Baskara tidak siap. Khawatir dia akan semakin terpuruk.”

Arka menghela napas. “Kita tidak akan tahu sampai kita mencoba. Yang terpenting, kita ada untuknya. Apa pun yang terjadi, kita dukung dia.”

Aisha mengangguk. “Kau benar. Aku terlalu banyak khawatir.”

“Itu karena kau ibu yang baik.”

Aisha tersenyum. “Terima kasih, Arka.”

Mereka berdua memandangi Baskara yang tertawa riang di kejauhan. Ombak menggulung, sesekali menyentuh kakinya, membuatnya melompat kecil.

---

Sepanjang hari, mereka bertiga menghabiskan waktu bersama. Aisha dan Baskara membuat istana pasir, sementara Arka membantu mengumpulkan kerang untuk hiasan. Baskara begitu bersemangat, sesekali berlari ke tepi air untuk mengambil air agar pasirnya lebih mudah dibentuk.

“Bu, lihat! Istana kita punya menara!” teriak Baskara.

“Bagus sekali, Nak. Ibu foto, ya.”

Aisha mengambil ponselnya, mengabadikan momen itu. Baskara berpose dengan kedua tangannya membentuk V, istana pasir di sampingnya, dan Arka di belakangnya yang sedang tertawa.

Aisha menatap foto itu lama. Ini adalah foto pertama mereka bertiga setelah sekian lama. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kebohongan. Hanya kebahagiaan yang nyata.

“Ibu, foto lagi!” teriak Baskara. “Sekarang Ibu ikut!”

Aisha menyerahkan ponselnya pada Arka. Ia berlari ke samping Baskara, lalu mereka berdua berpose dengan istana pasir di depan. Arka mengambil beberapa foto dari berbagai sudut.

“Bagus,” kata Arka sambil memeriksa hasilnya. “Ini bisa jadi foto keluarga kita.”

“Kita masih keluarga?” tanya Baskara polos.

Arka dan Aisha saling berpandangan. Aisha tidak tahu harus menjawab apa.

Arka berlutut di hadapan Baskara. “Kita tetap keluarga, Nak. Ibu dan Ayah mungkin tidak tinggal bersama lagi. Tapi kita tetap keluarga. Ibu tetap ibumu, Ayah tetap ayahmu. Dan kita berdua akan selalu sayang sama kamu.”

Baskara mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca. “Aku hanya mau Ayah dan Ibu bahagia.”

“Kami bahagia, Nak. Karena punya kamu.”

Baskara memeluk Arka, lalu Aisha. Mereka bertiga berpelukan di pinggir pantai, di antara istana pasir yang perlahan terkikis ombak.

---

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, mereka berjalan-jalan di sepanjang pantai. Baskara berlari ke depan, mengumpulkan kerang-kerang kecil. Aisha dan Arka berjalan berdampingan, sesekali berbincang santai.

“Arka, aku ingin bicara sesuatu.”

“Apa?”

“Tentang masa depan. Tentang kita.”

Arka berhenti, menatap Aisha. “Aku mendengarkan.”

Aisha menarik napas panjang. “Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi. Tapi aku ingin kita menjadi teman yang baik. Untuk Baskara. Untuk diri kita sendiri.”

“Aku juga ingin itu, Aisha. Tapi jujur, aku masih punya perasaan padamu. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk hanya menjadi teman.”

“Aku juga masih punya perasaan padamu, Arka. Tapi kita butuh waktu. Luka kita masih terlalu dalam. Aku takut jika kita memaksakan sesuatu, kita akan melukai diri kita lagi, dan yang paling parah, melukai Baskara.”

Arka mengangguk. “Kau benar. Kita tidak perlu terburu-buru. Kita bisa jalani satu per satu. Fokus pada Baskara dulu. Fokus pada penyembuhan kita masing-masing. Nanti, jika waktunya tepat, kita lihat ke mana arahnya.”

Aisha tersenyum lega. “Terima kasih, Arka, karena masih mau bersabar.”

“Bukan sabar, Aisha. Aku hanya belajar untuk tidak egois. Dulu, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, dengan masa laluku, sampai aku tidak menyadari bahwa kau kesepian. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.”

“Kita sama-sama belajar, Arka. Aku juga tidak mau mengulangi kesalahan.”

Mereka berjalan kembali, bahu-membahu, di atas pasir yang mulai dingin. Baskara berlari menghampiri dengan dua genggam kerang.

“Bu, Ayah, lihat! Aku dapat banyak!”

“Bagus, Nak. Nanti kita bersihin, ya. Terus Ibu buatkan hiasan.”

“Buat hiasan di rumah! Di kamarku!”

“Iya, Nak. Di kamarmu.”

Baskara tersenyum puas. Ia menggandeng tangan Aisha dan Arka, berjalan di antara mereka berdua.

---

Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha dan Arka duduk di teras penginapan. Langit malam di pantai sangat jernih, bintang-bintang bertaburan seperti butiran pasir.

“Aisha, aku sudah bicara dengan pengacaraku. Proses perceraian kita akan selesai bulan depan.”

Aisha menunduk. “Aku tahu. Aku juga sudah menerima surat dari pengacaraku.”

“Kau menyesal?”

“Menyesal karena bercerai? Atau menyesal karena menikahimu?”

“Keduanya.”

Aisha berpikir sejenak. “Aku tidak menyesal menikahimu, Arka. Kau adalah pria terbaik yang pernah aku kenal. Tapi aku menyesal karena aku tidak cukup baik untukmu. Aku menyesal karena aku berselingkuh. Aku menyesal karena aku menghancurkan keluarga kita.”

“Itu bukan hanya salahmu, Aisha. Aku juga punya andil. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku terlalu tertutup tentang masa laluku. Aku tidak pernah benar-benar hadir untukmu, meskipu secara fisik aku ada.”

“Kita berdua salah, Arka. Tapi menyalahkan diri sendiri tidak akan mengubah apa pun. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik.”

Arka mengangguk. “Kau benar. Aku berjanji akan menjadi ayah yang lebih baik untuk Baskara. Dan menjadi teman yang lebih baik untukmu.”

Aisha tersenyum. “Aku juga berjanji. Aku akan menjadi ibu yang lebih baik. Dan menjadi teman yang lebih baik untukmu.”

Mereka berdua terdiam, menikmati malam yang sunyi. Suara jangkrik dan gemericik ombak menjadi latar yang sempurna untuk percakapan mereka.

“Arka, aku mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Apa kau pernah berpikir untuk mencari pendamping baru? Mungkin seseorang yang bisa membuatmu bahagia?”

Arka menatap Aisha lama. “Aku tidak tertarik pada siapa pun sekarang. Mungkin suatu hari nanti, ketika luka ini benar-benar sembuh. Tapi sekarang, aku hanya ingin fokus pada Baskara dan pada diriku sendiri.”

“Aku juga. Aku tidak mencari siapa pun. Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik untuk Baskara.”

“Kita bisa menjadi orang tua yang baik tanpa harus bersama, Aisha. Itu sudah lebih dari cukup.”

Aisha mengangguk. “Ya. Itu sudah lebih dari cukup.”

---

Pagi terakhir mereka di pantai, Baskara menangis karena tidak ingin pulang. Aisha menghiburnya dengan janji akan kembali bulan depan. Arka juga berjanji akan mengajak Baskara ke tempat yang lebih seru.

Baskara akhirnya bersedia pulang setelah Aisha membelikannya gantungan kunci berbentuk kerang. Anak itu menggenggam erat gantungan kunci itu sepanjang perjalanan pulang, sesekali memandanginya dengan senyum bahagia.

Di dalam mobil, Baskara tertidur di kursi belakang. Aisha duduk di kursi depan, sesekali menatap Arka yang menyetir.

“Arka, terima kasih untuk liburan ini.”

“Sama-sama, Aisha. Aku juga senang. Sudah lama tidak merasa sebahagia ini.”

“Kita harus sering-sering melakukan ini. Bukan hanya untuk Baskara, tapi juga untuk kita.”

Arka tersenyum. “Setuju. Mungkin bulan depan kita ke gunung. Baskara pasti suka.”

“Boleh. Aku cari penginapan yang nyaman.”

Mereka berdua tersenyum, melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang lebih ringan.

---

Di rumah, Aisha membongkar tas dan membersihkan kerang-kerang yang Baskara kumpulkan. Ia merendamnya dalam air sabun, menyikatnya satu per satu, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari.

Baskara membantu, meski lebih banyak bermain air daripada membersihkan kerang. Aisha tidak marah. Ia senang melihat Baskara tertawa.

“Bu, besok aku cerita ke teman-teman kalau aku liburan ke pantai,” kata Baskara sambil memegang kerang terbesar yang ia temukan.

“Cerita saja, Nak. Tunjukkan juga kerangnya.”

“Aku bawa ke sekolah, ya, Bu?”

“Boleh. Tapi hati-hati jangan sampai hilang.”

Baskara mengangguk semangat. Ia memasukkan kerang terbesar itu ke dalam tas sekolahnya, di samping buku-bukunya.

Aisha tersenyum melihat antusiasme Baskara. Ini adalah tanda-tanda kesembuhan. Baskara mulai tertarik pada hal-hal di luar dirinya. Ia tidak lagi terpaku pada ketakutan dan trauma.

---

Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha duduk di ruang tamu. Ia membuka album foto lama. Foto-foto ketika Baskara masih bayi, ketika ia dan Arka masih bahagia, ketika semuanya masih sederhana.

Air matanya jatuh ketika melihat foto pernikahannya dengan Arka. Mereka berdua tersenyum lebar, dikelilingi keluarga dan teman-teman. Aisha ingat bagaimana ia begitu yakin bahwa pernikahannya akan langgeng. Bahwa ia akan setia sampai maut memisahkan.

Tapi kenyataan berkata lain. Ia sendiri yang menghancurkan sumpahnya. Ia sendiri yang mengkhianati kepercayaan Arka.

Aisha menutup album itu. Ia tidak ingin larut dalam penyesalan. Ia ingin fokus pada masa depan.

Ia mengambil ponselnya, membuka pesan dari Mia yang belum sempat ia balas. Mia mengirim foto pemandangan dari panti rehabilitasi—gunung yang hijau, langit yang biru, dan bunga-bunga yang bermekaran.

Aisha membalas pesan itu.

*“Mia, terima kasih fotonya. Indah sekali. Aku harap kau cepat sembuh. Aku maafkan kau. Bukan karena kau pantas dimaafkan, tapi karena aku tidak ingin membenci siapa pun lagi. - Aisha”*

Pesan terkirim. Beberapa menit kemudian, Mia membalas.

*“Terima kasih, Aisha. Aku akan berusaha menjadi lebih baik. Untuk diriku sendiri. Untuk Arka. Untuk Baskara. Dan untukmu. - Mia”*

Aisha tersenyum. Ia mematikan ponsel, memejamkan mata, dan berdoa dalam hati.

Doa untuk Baskara, untuk Arka, untuk Mia, dan untuk dirinya sendiri.

Doa untuk masa depan yang lebih cerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!