Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangatnya Cinta
Bara tiba-tiba berhenti di dekat sebuah pohon beringin besar yang agak jauh dari keramaian stand makanan. Ia berbalik dan menangkap kedua pergelangan tangan Laras dengan lembut sebelum gadis itu sempat "menyerang" balik.
"Oke, oke... aku menyerah," bisik Bara, suaranya mendadak rendah dan dalam.
Jarak mereka kini sangat dekat. Napas Laras yang memburu perlahan mulai teratur seiring dengan binar matanya yang terkunci pada tatapan Bara. Suasana riuh di sekitar taman seolah memudar, menyisakan hanya mereka berdua di bawah lindungan bayangan pohon.
Bara perlahan melepaskan pegangannya, namun tangannya tidak menjauh. Alih-alih merogoh saku untuk mencari tisu atau sapu tangan, ia justru menggunakan ibu jarinya sendiri. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Bara mengusap sisa es krim yang menempel di pipi halus Laras.
Sentuhan kulit yang langsung itu terasa hangat, membuat Laras seolah tersetrum pelan. Ia menahan napas saat merasakan ibu jari Bara bergerak perlahan, memastikan pipinya kembali bersih. Mata Bara yang biasanya jenaka kini menatapnya dengan intensitas yang begitu dalam, seolah sedang membaca setiap rahasia yang tersimpan di mata Laras.
"Maaf ya," ucap Bara lirih, suaranya parau. "Pipi cantiknya jadi kotor gara-gara aku."
Laras terpaku, hatinya berdegup kencang hingga terasa sampai ke tenggorokan. Ia bisa merasakan kehangatan jemari Bara yang masih tertahan di pipinya setelah mengusap noda tadi. Alih-alih menjauh, Bara membiarkan tangannya tetap di sana, membingkai wajah Laras dengan sentuhan yang begitu protektif.
"Bar..." panggil Laras hampir berbisik.
"Ya?"
"Makasih ya buat hari ini. Aku... aku nggak pernah merasa sebebas dan sebahagia ini sebelumnya." Laras memberanikan diri menatap mata Bara, mencari perlindungan di sana. "Sama kamu, aku ngerasa jadi Laras yang biasa. Bukan cucu siapa-siapa."
Bara tersenyum tulus, senyum yang mencapai matanya. Ia mengelus pipi Laras sekali lagi dengan punggung jarinya sebelum perlahan melepaskannya. "Kamu emang Laras yang biasa buat aku, Ras. Anak kecil yang dulu pernah aku kasih istana pasir, dan sekarang jadi pemilik hati aku."
Bara kemudian meraih tangan Laras, menggenggamnya erat dan menyatukan jari-jemari mereka. "Aku janji, apa pun yang terjadi nanti, aku bakal tetap jadi orang yang sama yang bakal gendong kamu kalau kamu jatuh."
Laras tersenyum sangat manis, menyandarkan kepalanya di bahu Bara, menikmati aroma parfum Bara yang bercampur dengan hembusan angin malam yang tenang. Di bawah naungan pohon itu, Bara memejamkan mata sejenak, berdoa dalam hati agar momen manis ini tidak pernah dihancurkan oleh pahitnya kebenaran yang sedang ia perjuangkan.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Suasana kamar Laras yang luas dan elegan biasanya terasa sunyi, namun malam ini, kehangatan yang asing mendadak memenuhi ruangan itu. Laras berbaring menyamping, menyurukkan separuh wajahnya di balik selimut sutra yang lembut. Ia letakkan ponselnya tepat di samping bantal dengan mode loudspeaker yang menyala.
Di seberang sana, hanya ada keheningan yang nyaman. Sesekali terdengar suara napas teratur Bara yang diselingi suara jangkrik dari luar jendela kamar cowok itu—sebuah melodi alam dari lingkungan yang jauh lebih sederhana.
"Bar... kamu belum tidur?" bisik Laras pelan.
Suaranya serak-serak basah, khas seseorang yang sudah mengantuk namun enggan memutus percakapan.
"Belum, Ras. Masih dengerin suara kamu," sahut Bara.
Suaranya terdengar lebih berat dan lembut lewat telepon, membuat jantung Laras berdesir.
Laras tersenyum kecil, ia menggigit bibir bawahnya sebelum memberanikan diri.
"Mau Video Call?"
Bara menarik napas panjang di ujung sana. Ia segera duduk tegak, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari, lalu menekan ikon kamera. Seketika, layar ponsel itu dipenuhi wajah Laras yang mengenakan piyama satin merah muda. Ia berbaring di atas tumpukan bantal empuk dengan pencahayaan lampu kamar yang temaram.
Laras melambaikan tangan ke kamera dengan senyum lebar yang sangat tulus. Bara terkekeh, meski hatinya berdegup kencang melihat kecantikan Laras yang tampak alami.
"Udah malem, buruan tidur, Sayang."
"Gimana mau tidur kalau kepalaku isinya kamu terus?" goda Laras dengan nada manja yang membuat Bara salah tingkah.
"Eh eh... udah bisa ngegombalin aku sekarang ya?"
Laras kemudian menyipitkan mata, memperhatikan latar belakang video Bara yang hanya berupa tembok semen tanpa cat.
"Bar, kamu di kamar? Itu apa di belakang? Kok gelap banget?"
Bara mendadak canggung. Ia sedikit menggeser posisi ponselnya agar tidak terlalu memperlihatkan kondisi kamarnya yang sempit dan sederhana.
"Iya, ini kamarku. Memang lampunya nggak seterang kamar kamu, nanti malah silau kalau terlalu terang."
Laras terdiam sebentar, menatap wajah Bara dengan saksama. Ia bisa melihat guratan lelah di sana, namun ada keteduhan yang selalu membuatnya merasa aman.
"Kamu udah ngantuk kah?"
"Belum, Sayang."
"Tapi wajah kamu kelihatan capek banget."
"Sedikit," jawab Bara jujur.
"Tapi liat muka kamu begini, capeknya langsung ilang setengah kok."
"Ih, gombal!" Laras menutup wajahnya dengan sebelah tangan, tapi matanya tetap mengintip lewat celah jari.
"Bar, deketin dikit HP-nya ke muka kamu. Aku mau liat mata kamu lebih jelas."
Bara menuruti permintaan itu. Kini, wajah mereka di layar seolah hanya berjarak beberapa sentimeter. Suasana mendadak menjadi sangat intim, hanya ada suara detik jam dinding dari kamar masing-masing yang seolah saling beradu.
"Bar..." panggil Laras lirih.
"Ya?"
"Kamu sayang aku enggak?"
Bara tersenyum lembut, matanya menatap tepat ke arah kamera seolah menembus mata Laras.
"Ya sayanglah."
"Makasih, Sayang... Makasih ya sudah mau jadi bagian dari duniaku yang membosankan ini. Apapun yang terjadi, kamu harus janji, jangan pernah nyerah ya?"
"Iya, Sayang. Janji," ucap Bara mantap.
Laras tersenyum sangat manis. Ia menyentuh layar ponselnya tepat di bagian pipi Bara, seolah sedang membelai cowok itu secara nyata.
"Andai aku bisa beneran ada di situ buat usap capek kamu."
"Gini aja sudah cukup, Sayang," balas Bara lembut.
"Bar, boleh tanya sesuatu?" tanya Laras tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Awal kita ketemu, di depan toko buku itu... kamu dikejar preman, kan? Kalau boleh tau, itu kenapa?"
Bara menghela napas, ingatannya melayang kembali ke hari itu.
"Oh itu... cuma kesalahpahaman."
(Flashback: Masa Itu)
Sore itu, motor Bara sedang bermasalah, memaksanya pulang sekolah dengan berjalan kaki. Saat melewati sebuah gerai ponsel, ia berpapasan dengan Anton, teman SMP-nya. Setelah bertegur sapa singkat, Bara melanjutkan perjalanannya. Namun tak lama, Anton menghampirinya kembali dengan membawa tiga orang preman yang membawa senjata.
"Woi! Lu nyolong HP gue ya?" teriak Anton penuh tuduhan.
Bara tertegun, langkahnya terhenti.
"Maksud lu apa, Ton? HP apa?"
Tanpa penjelasan lebih lanjut, salah satu preman itu langsung melayangkan pukulan ke wajah Bara. "Alasan aja lu!"
Mereka mengeroyok Bara tanpa ampun. Bara tidak tinggal diam; ia fokus membalas serangan Anton untuk membela diri. Namun, karena kalah jumlah empat lawan satu, mustahil baginya untuk menang. Dalam keadaan terdesak, Bara memilih melarikan diri, hingga akhirnya takdir mempertemukannya dengan Laras di depan toko buku itu.
Bara menceritakan kejadian tersebut kepada Laras.
"Ooo, gitu. Kurang ajar banget sih si Anton itu! Bisa-bisanya nuduh orang tanpa bukti," Laras bersungut-sungut kesal setelah mendengar cerita Bara.
Bara justru terkekeh melihat wajah pacarnya yang sedang emosi.
"Ya nggak apa-apa, berkat mereka, kita bisa ketemu, kan?"
"Hehehe, iya juga sih," Laras kembali tersenyum malu.
Mereka terus mengobrol tentang banyak hal kecil, berbagi tawa dan rahasia seolah waktu telah berhenti berputar. Tak ada yang ingin mengakhiri panggilan itu lebih dulu, hingga akhirnya mata Laras mulai menyipit dan suaranya mulai melambat karena kantuk yang tak lagi terbendung.
"Tidur ya, Ras," bisik Bara.
"Aku temenin lewat sini."
Laras mengangguk pelan. Ia memposisikan ponselnya di samping bantal agar tetap bisa melihat wajah Bara sebelum benar-benar terlelap. Dengan sisa kesadarannya, ia berbisik ke arah mikrofon.
"Mimpi indah, Pahlawanku..."
Bara tidak mematikan panggilan itu. Ia tetap diam menatap layar, melihat napas Laras yang mulai beraturan dalam lelapnya. Di bawah temaram lampu kamarnya yang redup, Bara merasakan dadanya sesak oleh rasa sayang yang begitu besar—sekaligus tekad yang semakin bulat untuk segera membersihkan nama ayahnya.
Ijin mampir🙏