NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Pesta Perusahaan

Sore menjelang malam.

Elena merias diri. Dia mengenakan gaun hitam anggun. Rambut kemerah-merahannya tergerai bergelombang.

Sekarang tinggal menghiasi wajah memakai bedak dan lipstik merah menggoda di bibir seksinya 

Senyum percaya dirinya terbit. Puas dengan hasil persiapannya untuk malam pesta hari jadi perusahaan.

“Dengan penampilan ini, akan kurebut pak Arvin kembali dan menendang pacar barunya itu.”

Di tempat lain, Arvin dan Ayu juga mempersiapkan hal yang sama.

Arvin sudah berdandan. Rambut hitam pendeknya tertata rapi dan menawan, membuat parasnya makin tampan dan tegas. Serta balutan setelah jas hitam di tubuhnya menambah aura maskulin dan dominannya.

Dia segera membuka pintu, menyambut dan mempersilahkan masuk seorang penata rias wanita yang sengaja ia panggil.

Wanita muda itu membawa box berisi peralatan make up. Sikapnya percaya diri. 

Dia seorang profesional.

Ayu yang masih mengenakan pakaian rumahan mendatangi mereka.

Arvin segera memperkenalkan istrinya.

“Dia istriku. Tolong dandani dia.”

Arvin mengajak si penata rias melihat beberapa benda yang ia telah siapkan di meja.

“Ada sepatu, perhiasan, dan gaun pesta. Bantu istriku juga memakai semua ini!”

“Baik Pak.”

Wanita penata rias membawa barang-barang mewah itu lalu mengajak Ayu ke kamar.

Arvin menunggu di sofa sembari memeriksa beberapa laporan keuangan yang masuk ke HP-nya. Duduk menyilangkan kaki.

Sesekali bola matanya bergerak mengarah ke depan, mengecek ke arah kamar Ayu.

Dia sedikit tidak sabar.

Ingin melihat hasilnya.

Lama karena menunggu, pria itu kini mulai enggan menatap layar HP-nya.

Dia lalu memilih mengarahkan segenap perhatiannya kepada tempat dimana Ayu nanti akan keluar.

Arvin ingin segera meyakinkan dirinya sendiri, bahwa meski Ayu wanita cantik yang menggemaskan, gaun serta perhiasan yang ia berikan tidak akan menghilangkan image Ayu yang kampungan nan b o d oh luntur.

Arvin sangat mengharapkan itu.

Karena jika Ayu keluar dan ternyata berubah menjadi sangat menawan, maka Arvin harus berfikir keras lagi. Mereset otaknya agar tidak jatuh hati kepada istrinya sendiri.

Arvin sudah mereset otak dan hatinya berkali-kali. Dan semoga kali tidak perlu melakukannya lagi.

Seharusnya Ayu tidak boleh ikut ke acara pesta malam ini. Tapi semua orang di perusahaan terlanjur tahu Arvin sudah menikah. Apalagi sebagai keluarga Pradipta paling terhormat, tidak mungkin tidak membawa istri.

Jadinya, Ayu harus akut dan harus ikut berdandan selayaknya golongan keluarga terpandang.

Setelah cukup lama menunggu, Akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar.

Ayu datang melangkah sangat hati-hati di atas sepatu high heels hitam.

Arvin bangkit dari sofa. Berdiri selayaknya slow motion.

Bola mata hitamnya melebar. Enggan untuk berkedip, seolah jika berkedip satu kali saja akan ketinggian momen terbaik di dunia.

Ayu datang dengan balutan gaun merah hati yang berani. Gaun anggun yang mengikuti lekuk tubuh rampingnya.

Rambutnya ditata sanggul rendah, dibuat terkesan longgar. Sementara beberapa helai rambut sengaja jatuh di tiap sisi pinggir wajah cantiknya yang berhias make up natural.

Bagian atas pundak Ayu terbuka. Gaun Hanya menutup dua aset depan Ayu, lalu terus turun dan melebar ke ujung bawah kaki.

Setiap kali melangkah, maka terbukalah p a haa putih mulusnya karena slit gaun yang cukup terbelah tinggi.

Bisa dibilang, ini tampilan sangat berani. Cocok untuk tipe wanita yang cinta pada bahaya. Bukan seperti Ayu yang polos.

Akan tetapi, tatapan Arvin malah seakan mengacungkan jempol besar.

Dia bahkan ragu; jangan-jangan dia bukan Ayu?

Ayu yang dia kenal bukan seperti itu. 

Ayu yang berbalut gaun di sana justru Ayu berbeda yang membuatnya lehernya jadi gerah. 

Serta bikin sesak di bawah.

Bagaimana bisa wanita sekampungan itu dipoles menjadi burung api?

Arvin menelan salivanya.

“Bagaimana Pak Arvin. Apa istri bapak sudah cukup cantik?” tanya si penata rias.

Bukannya menjawab, Arvin melangkah mendekati Ayu.

Arvin berdehem. Hendak berbicara.

“Ayo berang… Ehem!” Suara Arvin tiba-tiba serak. 

Arvin terpaksa berdehem lagi sebelum mengulang. “Ayo berangkat. Kita sudah agak terlambat!”

“Baik Pak Arvin,” jawab Ayu, suaranya kecil. Malu dengan penampilannya sendiri.

Ayu sudah berada di dalam mobil. 

Arvin nampak kurang fokus menyetir.

Suara dehamannya jadi sering keluar dari sejak menghidupkan mesin mobil. Ayu yang duduk di sebelahnya melirik heran.

“Tenggorokan Bapak tidak apa-apa?” tanya Ayu pelan.

“Tidak apa-apa. Tidak perlu pikirkan itu!” jawab Arvin, santai.

Mobil sedan hitam yang dikendarai Arvin melintasi jalan kota. Lajunya melambat karena ada sedikit macet di depan.

Arvin sedikit menoleh ke samping karena mendapati Ayu mulai bergerak gelisah, sesekali menutup bagian p a haa nya yang terekspos.

“Kamu kenapa?” 

Ayu menoleh sungkan. “Maaf Pak. Baju ini terlalu terbuka. Apa bisa ganti baju lain?”

“Tidak bisa!” Arvin kembali fokus menyetir. “Pakaian seperti itu biasa untuk kalangan atas. Tidak usah malu.”

Mau tidak mau, Ayu menurut.

Acara pesta perusahaan diadakan di ballroom hotel mewah.

Ketika melintasi ruangan menuju ballroom utama, langkah Ayu hampir hilang keseimbangan. Sepatunya dirasa terlalu tinggi dan menyulitkan.

Untung Ayu tidak sempat jatuh karena Arvin segera menariknya. Mereka berjalan dengan Ayu meraih lengan Arvin layaknya pendamping resmi.

Sangat sulit bagi Ayu beradaptasi menggunakan sepatu high heels seperti ini.

Apalagi dia memang tipe wanita yang lebih senang tampil sederhana. Dia bahkan tidak mengenal banyak soal make up.

Gaun, perhiasan, dan sepatu yang ia kenakan sekarang adalah hal paling  mewah dalam hidupnya.

Namun tetap saja. Ayu tidak suka gaunnya. Setiap kaki jenjangnya melangkah, bagian atas lutut terbuka pamer.

Ayu lagi-lagi susah payah menutupnya tapi Arvin segera melarang lantang.

“Biarkan! Jangan jadi orang norak. Bersikap yang tenang!”

“Ba-baik Pak Arvin.”

Pintu ballroom utama terbuka.

Ruang pesta yang luas sudah dipadati tamu undangan yang juga berpakaian mewah berkelas.

Meksi ini cuma pesta untuk ulang tahun perusahaan, orang-orang yang datang tampil berkelas layaknya menghadiri pesta kerajaan. 

Tidak semua orang di perusahaan diundang. Hanya orang-orang penting saja. Seperti jajaran direksi, para manajer, partner bisnis penting, dan beberapa tamu kehormatan lainnya.

Begitu Arvin dan Ayu melangkah masuk, semua mata tertuju kepada mereka berdua. 

Semua berseru kagum.

“Akhirnya pak Arvin datang.”

“Wah! CEO kita semakin tampan. Beruntung sekali istrinya.”

“Pak Arvin juga beruntung. Istrinya cantik, lho.”

“Benar. Istrinya pak Arvin cetar membahana. Sepertinya aku langsung ngefans ke nyonya kita.”

“Tapi istri pak Arvin usianya kayanya jauh lebih muda.”

“Berarti gosip itu benar dong. CEO kita suka yang lebih muda.”

Orang-orang saling berbisik dan bergosip. Arvin dan Ayu langsung menjadi buah bibir.

Di tengah-tengah suara kagum orang-orang, berdiri Elena bersama mimik kesalnya. Dia meletakkan gelas minumannya ke meja sebelum pergi menyamping.

“Arvin. Mbak Ayu.” Alden menyambut hangat kedatangan mereka.

“Bang Alden,” ucap Ayu, tersenyum ramah.

“Jadi kalian benar-benar menjadi suami istri nih, ceritanya?” goda Alden sembari menyilang tangan di dada.

Arvin mendengus. “Kita sedang berpesta santai. Jadi jangan bicara macam-macam.”

“Uuh. Siap pak CEO!” ucap Alden, bercanda.

Dari arah samping, datang seorang bapak-bapak paruh baya berperut buncit. Bersetelan jas hitam, ditemani dua pengawal.

“Arvino Pradipta!” panggilnya.

Arvin menyambut kedatangan pria buncit berkumis tebal itu. Seorang Pria buncit yang di mata Ayu terkesan seperti tampang penculik di film-film.

“Jadi dia istrimu?” tanya bapak-bapak itu.

“Benar Pak Toni,” jawab Arvin.

“Wah. Cantik sekali. Siapa namamu, Nona?”

Ayu gugup. Dia menengadah ke Arvin seperti anak kecil menunggu izin.

Arvin pun berkedip kasar, kode ke Ayu agar ‘cepat menjawab!’

“Saya Ayu. Ayu Saraswati.”

“Ayu? Sesuai dengan cantiknya,” puji si bapak sambil mengusap-usap kumisnya.

Arvin ikut tersenyum.

“Jadi benar soal gosip itu. Pak Arvin suka yang lebih muda.”

“Gosip? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, aku memang suka yang lebih muda.”

“Haha. Lalu dimana Pak Hendrik?”

“Kake tidak bisa datang. Sedang ada urusan.”

Selama menghadiri pesta, Ayu juga berkesempatan mencicipi beberapa makanan dan minuman.

Namun selebihnya, Ayu mengikuti langkah Arvin yang selalu didatangi orang-orang penting.

Ayu ikut menyambut, menyapa, lalu sisanya mendengarkan Arvin berbincang panjang lebar. Entah membahas bisnis atau hal-hal yang tidak Ayu pahami.

Sangat membosankan.

Dia pikir pesta yang dimaksud adalah pesta heboh yang banyak teriakan. Rupanya cuma sebatas berbincang-bincang.

Terlalu formal.

“Pak, saya mau ke toilet,” izin Ayu kepada Arvin.

Arvin yang hendak mendekati orang penting lainnya, berpesan sebelum melangkah. “Jangan lama-lama!”

“Iya, Pak.”

Ayu bergegas menuju ruang toilet wanita. Dia tidak tahan lagi.

Terutama dengan sepatu tingginya ini. Dia mau melepasnya sebentar agar kakinya lebih rileks.

Sampai di ruang toilet, Ayu menghembuskan napas panjang sambil memperhatikan penampilannya sendiri di depan cermin lebar.

Dia tersenyum. Dia akui dirinya sangat cantik dengan penampilan ala tukang rebut suami orang ini.

Akan tetapi, Ayu menggeleng. Baginya, cantik yang ia pakai sekarang bukan sosok aslinya.

Dia berharap pesta ini cepat selesai agar langsung melepas penampilannya lalu kembali menjadi dirinya sendiri.

Ayu menunduk hendak melepas sepatunya.

Tiba-tiba, Elena melesat datang dengan mata melototnya.

Ayu cepat-cepat menegakkan punggung.

Namun terlambat.

Bruk!

“Aah!”

Elena sukses mendorong. 

Ayu jatuh terjerembab ke lantai.

“Nyonya? Kau pikir aku sudi manggil kamu Nyonya?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!