NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Mobil hitam yang membawanya melaju melewati jalan kampung, lalu masuk ke kawasan yang semakin ramai oleh santri bersarung dan santriwati berjilbab panjang.

Tak lama kemudian, gerbang besar pesantren terlihat di depan mata. Tulisan Arab dan nama pondok berdiri megah di atas gapura. Amira refleks menegakkan duduk.

Ia pernah mendengar nama pesantren ini sejak kecil. Semua orang tahu pondok ini. Banyak anak pejabat, pengusaha, bahkan artis menitipkan anak mereka mondok di sini. Dan sekarang ia masuk ke dalamnya bukan sebagai tamu. Melainkan seseorang yang akan tinggal di ndalem.

“Bismillah…” lirihnya pelan.

Mobil terus melaju melewati bangunan-bangunan besar. Santri-santri yang berjalan di pinggir langsung menunduk hormat ketika mobil masuk semakin dalam menuju area ndalem.

Amira makin gugup. Tangannya dingin. Begitu mobil berhenti, seorang khadimah segera membukakan pintu. “Silakan, Bu Amira.”

Amira turun perlahan. Bangunan ndalem tampak jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Halamannya luas, bersih, dan tenang. Tidak banyak suara selain lantunan murajaah samar dari kejauhan.

Dan di depan pintu utama Umi Salma sudah menunggu. “Alhamdulillah sampai,” sambutnya hangat.

Amira buru-buru mencium tangan perempuan sepuh itu. “Assalamu’alaikum, Umi.”

“Wa’alaikumussalam. Mari masuk.” Umi Salma langsung menggandeng tangan Amira masuk ke dalam ndalem.

Beberapa khadimah yang berpapasan tampak memperhatikan Amira diam-diam. Ada yang tersenyum sopan, ada juga yang terlihat penasaran.

Amira makin canggung. Apalagi ketika Umi Salma membawanya ke area yang jauh lebih sepi di bagian dalam ndalem.

“Ini kamar Habibi,” ujar Umi Salma sambil menunjuk sebuah pintu kayu putih. Dan tepat di sebelahnya, “Ini kamar panjenengan.”

Amira sedikit tertegun saat pintu dibuka. Kamarnya cukup besar. Tidak semewah hotel, tetapi sangat nyaman. Tempat tidurnya empuk dengan seprai bersih berwarna krem. Ada sofa kecil dekat jendela, lemari pakaian besar, pendingin ruangan, dan kamar mandi dalam.

Amira berdiri kikuk di ambang pintu. “Umi… saya di sini sendiri?”

“Iya.”

Amira langsung tidak enak hati. “Kamarnya terlalu bagus buat saya…”

Umi Salma tersenyum kecil. “Panjenengan tamu kami.”

Bukan hanya itu. Saat Amira membuka lemari pendingin kecil di sudut kamar, matanya langsung membesar. Penuh. Buah-buahan, susu, yogurt, sari kurma, air mineral, sampai berbagai makanan sehat tersusun rapi di dalamnya. Di atas meja juga sudah tersedia camilan dan vitamin. Amira langsung menoleh bingung. “Umi… ini semua?”

“Untuk panjenengan.”

“Tapi terlalu banyak,"

“Panjenengan harus makan yang baik.” Nada suara Umi Salma berubah lebih lembut. “ASI untuk Habibi bergantung pada kondisi panjenengan juga.”

Amira terdiam. Masih belum terbiasa mendengar dirinya dibutuhkan seperti ini.

Umi Salma lalu membuka lemari pakaian. Di dalamnya sudah tergantung beberapa gamis dan hijab baru dengan warna-warna lembut. “Khadimah yang menyiapkan.”

Amira makin tidak nyaman. “Umi, saya bisa bawa pakaian sendiri dari rumah…”

“Tidak perlu repot.” Umi Salma menatapnya tenang. “Di sini panjenengan tidak perlu memikirkan pekerjaan rumah.”

“Baju akan dicucikan.”

“Makanan sudah disiapkan.”

“Panjenengan hanya perlu menjaga Habibi.”

Hanya perlu menjaga Habibi. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat dada Amira bergetar pelan. Karena baru sehari lalu ia kehilangan anaknya sendiri. Dan sekarang, ia ditempatkan tepat di sebelah kamar bayi lain yang harus hidup dari air susunya.

***

Setelah Amira selesai meletakkan tasnya, Umi Salma kembali mengajaknya keluar kamar. “Habibi pasti sebentar lagi bangun,” ujarnya pelan.

Amira langsung mengikuti di belakang perempuan itu. Begitu pintu kamar sebelah dibuka, langkah Amira langsung melambat.

Kamarnya jauh lebih besar. Hampir dua kali lipat dari kamar yang ditempatinya.

Nuansa ruangan itu lembut dan tenang. Dindingnya berwarna putih gading dengan pencahayaan hangat. Di sudut dekat jendela ada sofa panjang dan rak kecil berisi perlengkapan bayi yang tersusun sangat rapi. Di tengah ruangan berdiri baby box besar berwarna putih.

Sementara aroma khas bayi bercampur minyak telon samar memenuhi udara.

Amira tanpa sadar mengedarkan pandangan perlahan. Semuanya terlihat begitu dipersiapkan dengan penuh cinta. Ada mainan gantung kecil di atas tempat tidur bayi. Ada lemari mungil berisi pakaian bayi yang tertata berdasarkan warna.

Dan di sisi ruangan ada sebuah foto besar seorang perempuan muda yang sedang tersenyum sambil memegang perut hamilnya. Amira merasa tak asing dengan senyum perempuan itu, tapi ia menepisnya. Mana mungkin ia kenal.

Amira langsung tahu. Itu ibu Habibi. Cantik. Wajahnya lembut dengan mata teduh.

Entah kenapa dada Amira langsung terasa sesak saat melihat foto itu. Perempuan itu bahkan tidak sempat menggendong anaknya sendiri.

“Namanya Alya,” ujar Umi Salma pelan, menyadari arah pandangan Amira.

Amira menunduk cepat. “Maaf…”

“Tidak apa-apa.” Umi Salma ikut memandang foto menantunya beberapa detik sebelum menarik napas panjang. “Dia perempuan baik.” Nada suara itu menyimpan kehilangan yang dalam.

Amira tidak tahu harus menjawab apa. Karena luka mereka terasa sangat mirip.

Sama-sama perempuan yang datang ke ruang bersalin dengan harapan menjadi ibu. Namun pulang membawa kehilangan. Bedanya Amira kehilangan bayinya. Sedangkan Alya kehilangan nyawanya.

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah baby box. Eh… eh… Amira spontan menoleh.

Habibi mulai bergerak-gerak dalam bedungnya. Wajah kecilnya tampak mengernyit sebelum akhirnya tangisan pelan keluar dari bibir mungilnya. Dan sesuatu dalam diri Amira langsung bereaksi begitu saja. Langkahnya otomatis mendekat sebelum pikirannya sempat menyusul.

Amira berhenti tepat di samping baby box. Tangisan Habibi masih pelan, lebih seperti rengekan kecil karena baru terbangun tidur. Kedua tangan mungilnya bergerak-gerak di balik bedung. Refleks Amira ingin langsung mengangkatnya. Namun ia menahan diri. Ia melirik sekilas pada Umi Salma yang masih berdiri di belakangnya. “Boleh saya gendong, Umi?”

Umi Salma tersenyum kecil. “Silakan.”

Barulah Amira mengangkat Habibi dengan hati-hati. Gerakannya lembut, tetapi penuh kehati-hatian seperti seseorang yang sangat menjaga batas.

Habibi langsung diam begitu berada di pelukannya. Amira duduk di sofa dekat jendela sambil menimang pelan bayi itu. Tangis kecil Habibi mulai terdengar lagi, mencari susu. Amira menunduk sebentar, lalu berkata pelan pada Umi Salma, “Umi… saya izin menyusui.”

Bahkan untuk hal seperti itu pun, Amira tetap meminta izin. Umi Salma memperhatikannya beberapa detik sebelum mengangguk perlahan. “Iya.”

Amira segera mengambil kain penutup menyusui yang sudah disiapkan di samping sofa. Ia membentangkannya rapi menutupi bagian depan tubuhnya sebelum mulai menyusui Habibi. Gerakannya tenang dan terbiasa menjaga diri. Tidak tergesa. Tidak sembarangan. Tatapannya pun selalu menunduk, memastikan auratnya benar-benar tertutup meski di ruangan itu hanya ada sesama perempuan.

Umi Salma diam-diam memperhatikan semua itu. Cara Amira duduk. Cara ia menjaga pandangan. Cara tangannya membenahi kain berkali-kali agar tidak tersingkap. Dan cara bibirnya terus bergerak pelan membaca shalawat saat Habibi mulai menyusu. Tidak dibuat-buat. Semua itu seperti sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!