Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: UANG PERTAMA DAN SEPATU USANG
Bab 17: Uang Pertama dan Sepatu Usang
Suara gemercik air dari keran wastafel bengkel menemani Revan yang sedang menggosok tangannya menggunakan sabun colek hitam. Noda oli yang menyelinap di sela-sela kuku jarinya memang keras kepala, mirip seperti egonya yang menolak tunduk pada keadaan. Sudah dua minggu penuh Revan hidup luntang-lantung tanpa sepeser pun uang dari orang tuanya. Dan malam ini, sebuah kepuasan tak ternilai mampir di dadanya ketika Cak To menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan baru ke atas meja kayu bengkel.
Itu adalah gaji mingguan penuh pertamanya sebagai asisten montir paruh waktu.
"Nih, bagian lo minggu ini, Van. Kerja lo bagus, telaten, gak manja kayak anak-anak kota kebanyakan," puji Cak To sembari menepuk bahu tegap Revan.
Revan menerima uang itu dengan mata yang berbinar. Jarinya perlahan menghitung lembaran uang tersebut. "Empat ratus ribu... Makasih banyak, Cak."
"Sama-sama. Pake buat keperluan sekolah lo. Gue liat sepatu sekolah lo itu udah mangap kayak buaya kelaparan," kelakar Cak To sembari menunjuk sepatu kain hitam Revan yang sol bagian depannya memang sudah robek dan jebol hingga kaus kakinya mengintip keluar.
Revan tertawa kecil, menyembunyikan rasa jengahnya. Ucapan Cak To benar. Sepatu sekolahnya sudah rusak sejak sebulan lalu. Dulu, ia sempat meminta dibelikan yang baru kepada Ibu, tapi Ibu selalu bilang, "Nanti ya, Revan. Tunggu Ayah gajian, uangnya lagi dipakai buat beli persediaan buku paket dan vitamin Abangmu." Kata-kata itu selalu sukses membuat Revan menelan kembali keinginannya.
Tapi sekarang? Revan tidak perlu mengemis lagi.
Malam itu juga, sepulang dari bengkel, Revan mampir ke sebuah toko sepatu murah di pinggir jalan raya. Ia membeli sepasang sepatu sekolah hitam polos bermerek lokal seharga seratus lima puluh ribu rupiah. Saat mencoba sepatu baru itu di atas ubin toko, ada perasaan bangga yang membubung tinggi di dalam dada Revan. Ia merasa telah memenangkan sebuah pertempuran besar melawan takdirnya sendiri.
Lihat gue, Yah, Bu, batin Revan penuh kelancangan, menatap pantulan sepatu barunya di kaca toko. Tanpa uang dari kalian, gue bisa beli barang gue sendiri. Gue gak butuh belas kasihan kalian yang selalu berat sebelah.
Keesokan harinya, Revan sengaja memakai sepatu baru itu ke sekolah. Ia sengaja mengikat talinya dengan rapi, melangkah dengan tegap menyusuri koridor utama sekolah saat jam istirahat pertama tiba. Ada kepuasan tersendiri saat ia berjalan melewati kerumunan siswa dengan dagu terangkat, membuktikan bahwa dia bukan lagi Revan si anak buangan yang serba kekurangan.
Namun, langkah kaki Revan mendadak tertahan saat ia berbelok di koridor tengah dekat ruang laboratorium biologi. Dari arah berlawanan, sosok Arka tampak berjalan perlahan dibantu oleh salah seorang teman sekelasnya.
Revan menghentikan langkahnya beberapa meter di depan mereka, berdiri bersandar pada loker besi sembari menyilangkan dada. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah kakaknya.
Kondisi Arka hari itu terlihat jauh lebih mengenaskan daripada terakhir kali Revan melihatnya di rumah. Seragam putihnya tampak melambai-lambai longgar karena tubuh di dalamnya kian menyusut kering. Kulit wajahnya tidak lagi sekadar pucat, melainkan mulai memancarkan rona keabu-abuan yang redup, layu seperti tanaman yang kehabisan air. Langkah kaki Arka tidak lagi tegap; sepasang kakinya yang kurus tampak gemetar hebat, terseret lambat di atas lantai ubin, seolah-olah menahan beban berton-ton di kedua pergelangan kakinya.
Saat jarak mereka kian dekat, Arka mendongak. Begitu sepasang matanya yang sayu dan redup menangkap sosok Revan, langkah Arka langsung terhenti. Temannya yang memegangi bahu Arka ikut berhenti, menatap Revan dengan pandangan bingung.
Ada binar kerinduan dan kelegaaan yang mendalam terpancar dari mata Arka saat melihat adiknya baik-baik saja di depannya. Mata Arka bergerak turun, tidak sengaja melirik ke arah sepasang sepatu hitam baru yang mengkilap di kaki Revan.
Arka memaksakan sebuah senyuman tipis dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah. "Sepatu... sepatu baru ya, Van? Bagus... muat di kaki lo?" bisik Arka, suaranya terdengar sangat parau, bergetar menahan napasnya yang terasa pendek di dalam dada.
Mendengar sapaan itu, ego Revan yang telanjur membatu langsung bereaksi ketat. Bukannya tersentuh melihat kondisi kakaknya yang payah, pikiran picik Revan justru kembali memutar filter kesalahpahaman yang akut.
Gak usah sok ramah lo sama gue, Bang, kutuk Revan di dalam hatinya yang panas. Jalan aja harus dipapah begitu, sengaja banget kan lo biar semua anak satu koridor ini ngeliatin lo? Biar guru-guru yang lewat langsung iba dan nganterin lo ke UKS? Akting lemes lo bener-bener makin mahir tiap harinya cuma gara-gara gue kabur dari rumah.
Revan sengaja memutar bola matanya malas, memperlihatkan raut wajah muak yang sangat kentara. Tanpa membalas sepatah kata pun ucapan Arka, Revan sengaja melangkah maju, berjalan lurus melewati sisi tubuh Arka begitu saja. Saat bahu mereka berpapasan, Revan sengaja membuang mukanya ke arah lain, bersikap seolah-olah Arka hanyalah seonggok sampah atau orang asing yang tidak kasat mata di koridor tersebut.
"Van... Revan..." panggil Arka lirih, mencoba berbalik badan untuk menggapai jaket adiknya. Namun, gerakan yang tiba-tiba itu membuat keseimbangan tubuhnya yang rapuh goyah. Rasa nyeri yang teramat sangat panas seperti disayat pisau kembali menghantam pinggang belakangnya, tempat ginjalnya yang kian sekarat kini sedang berjuang di fase-fase kritis terakhirnya.
"Ughh..." Arka mengerang pelan, tubuhnya limbung ke depan. Beruntung, teman di sebelahnya dengan sigap menangkap lengan Arka sebelum cowok jenius itu ambruk ke lantai koridor.
"Eh, Arka! Lo gapapa?! Muka lo biru banget, kita ke UKS sekarang ya?!" seru temannya panik, memapah tubuh Arka yang kian lemas.
Revan mendengar seruan panik itu, langkah kakinya sempat terhenti satu detik di ujung koridor. Ada desakan aneh di sudut hatinya, namun ego remajanya yang keras kepala dengan cepat menepis perasaan itu jauh-jauh. Revan mendengus hambar, melanjutkan langkah kakinya menuju arah kantin luar dengan langkah yang dihentakkan keras.
Bagus, lanjutin aja terus akting pingsan lo, Bang, desis Revan dingin di dalam hati sembari mengantongi sisa uang empat ratus ribu pertamanya dengan bangga. Gue gak akan pernah peduli lagi sama semua drama lo.
Revan berjalan menjauh dengan kepala tegak, merasa puas karena telah berhasil mengabaikan keberadaan sang anak emas. Ia melangkah membelah keramaian sekolah dengan sepasang sepatu barunya.
Bersambung......
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...