Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pintu pagar besar tertutup rapat. Suara mesin mobil dan kegaduhan anak-anak yang tadi memenuhi seisi kompleks The Royal Family kini perlahan hilang, berganti dengan keheningan yang damai. Semua suami sudah berangkat ke kantor, semua anak-anak sudah berangkat ke sekolah maupun kampus. Kini, giliran para ibu yang punya jadwal penting: waktu santai, melepas penat, dan tentu saja... ngobrol sepuas hati.
Di teras rumah keluarga Jung, Mommy Taeyeong baru saja selesai membereskan sisa makanan dan mengunci pintu. Dia menghela napas panjang sambil mengusap pelan dadanya.
"Ah, akhirnya hening juga! Otak gue rasanya mau meledak kalau pagi-pagi lagi dengerin teriakan anak sama kelakuan suami yang ajaib itu," gumam Taeyeong sambil merapikan rambutnya di depan cermin kecil gantung.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Dia mengangkatnya dengan wajah cerah pas lihat nama peneleponnya.
"Halo, Ten? Iya sayang, baru aja berangkat semua nih. Hah? Ke mall? Beli baju terus makan di kafe? Wah, ide bagus banget! Iya iya, panggil Winnie sama Lusi juga ya. Ketemu di kafe langganan kita ya, 15 menit lagi. Oke, bye!"
Taeyeong langsung masuk ganti baju dengan cepat, memakai pakaian santai tapi tetap berkelas, memakai kacamata hitam, lalu melesat naik mobilnya. Tujuannya jelas: pusat perbelanjaan paling mewah di kota, tempat favorit mereka menghabiskan waktu dan uang.
Di sebuah kafe elegan yang ada di lantai atas mal, keempat sahabat itu sudah duduk melingkar di meja sudut yang paling strategis. Di sana mereka bisa melihat ke seluruh penjuru kafe, nyaman, dan jauh dari keramaian orang biasa. Di atas meja sudah terhidang berbagai macam kue cantik, kopi panas, jus buah segar, dan camilan.
Mereka adalah: Taeyeong, Ten, Winnie, dan Lusi. Empat wanita cantik, kaya raya, berkuasa, dan paling bahagia sedunia.
"Ah, nikmat banget rasanya bisa duduk tenang kayak gini. Gak ada yang teriak, gak ada yang nanya dasi mana, gak ada yang bikin ulah," kata Taeyeong sambil menyesap jus pelan, wajahnya santai banget.
"Betul banget! Tau gak sih, pagi tadi Johnny sempat nanya ke gue, 'Yang, ganteng gak hari ini?'. Gue cuma jawab, 'Ganteng apaan lo, dasar sampah masyarakat, udah sana kerja'. Padahal dalem hati gue sayang banget sama dia," cerita Ten lagi bikin ketiga temannya tertawa.
Taeyeong menepuk-nepuk meja pelan sambil nyengir jahil. "Kalian tau gak sih? Jaehyun pagi tadi kelakuannya makin parah! Dia sampe ngelag tau, berdiri diam di depan kulkas selama 5 menit sambil megang botol selai. Gue sih udah biasa, tapi kadang gue mikir, apa gue salah milih suami ya? Hahaha!"
"Udah lah yeong, suami lo sama suami gue sama aja kelakuannya, sama-sama kocak dan ngeselin. Tapi kalau di kantor? Wah, aura bos besarnya keluar banget, berwibawa parah. Gak nyangka ya, manusia itu punya dua kepribadian," timpal Lusi sambil ketawa.
Winnie yang dari tadi cuma dengerin, ikut buka suara sambil senyum lembut. "Kalo Yuta sih... ya gitu deh. Galak banget kalau ada cowok deketin anak ceweknya, tapi pas di rumah? Bisa jadi badut keluarga. Tapi syukurlah ya, anak-anak kita semua rajin, apalagi Dejun, Renjun, sama Nana. Mereka itu anugerah banget, gak pernah bikin ribut pas pagi hari."
"beruntung banget lo win punya anak cewek 3 rajin bantuin lo mana pinter pula gak kayak kecebongnya jhony bikin gue darah tinggi bae" Ucap Ten
"iya nih Ten berkah banget buat gue punya mereka bertiga tapi jangan salah Ten kalau penyakit rendem nya lagi kambuh,, beh sebelah dua belas kayak ayahnya,"
"Ngomongin anak-anak, gue ada ide cemerlang nih, sahabat-sahabatku sayang! Kita kan udah tua, bisnis udah aman, persahabatan kita udah kuat banget. Nah, biar ikatan kita makin erat, bisnis makin gabisa diusik orang lain, sekalian biar anak-anak kita dapet pasangan yang baik dan setara,,, gimana kalau kita jodoh-jodohin mereka?!"
Mata ketiga sahabatnya langsung melotot terkejut tapi penasaran.
"Maksud lo perjodohan gitu, Taeyeong?" tanya Ten.
"Nah iya! Itu dia istilahnya. Kan udah kelihatan tuh benang merahnya. Mark walaupun diem bae sama Haechan sebenarnya tuh suka tapi kayaknya ketutup sama gengsi nya. Jeno sama Nana, jangan ditanya lagi itu mah udah bucin parah Jeno mah, tinggal Nana yang belum sadar perasaannya. Terus Gualin sama Renjun, udah jelas banget kan saling perhatian walau mulutnya sama-sama tajam. Terus si kakak-kakak, Henderi sama Dejun, kan udah pacaran juga. Nah kita dukung aja dong biar cepet resmi!" jelas Taeyeong panjang lebar.
"Setuju banget! Biar mereka gak cari yang macem-macem di luar sana, kan belum tentu selevel sama kita. Lagian kelakuan mereka kalau lagi bareng itu lucu banget, bikin ngakak terus," sahut Ten antusias.
"Terus kita bikin arisan juga dong! Arisan ibu-ibu Roya Family, sekalian tiap kumpul kita pantau perkembangan hubungan mereka. Kalau ada yang bermasalah, kita yang turun tangan selesaikan! Gimana? Sepakat?!" seru Taeyeong.
"SEPAAAAKAT!" jawab mereka berempat barengan sambil tertawa riang. Obrolan pun makin panas, berganti bahasan satu ke bahasan lain, mulai dari gaya rambut suami yang aneh, ulah anak yang bikin pusing, sampai rencana masa depan perjodohan itu. Mereka sibuk banget ngobrol sampai gak sadar ada tiga pasang mata yang dari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan gak suka dari meja sebelah.
Di sudut lain kafe, duduk tiga wanita yang berpakaian menor, perhiasan berkilauan berlebihan, dan riasan wajah yang terlalu tebal. Mereka adalah Sarah, Lena, dan Julia. Dikenal sebagai geng ibu-ibu julid, yang hobinya mengurusi hidup orang lain, iri hati, dan merasa diri mereka paling hebat sedunia.
Dari tadi mereka diam-diam nguping pembicaraan keempat sahabat itu, dan rasa iri di dada mereka makin memuncak.
"Sialan! Lihat tuh mereka, ketawa-ketiwi terus, pamer barang-barang mahal terus. Pasti lagi pamer kekayaan lagi," celetuk Sarah dengan nada sinis.
"Iya bener. Apalagi suami-suami mereka. Kalian ingat gak? Dulu kan gue sempet deketi jaehyun pas acara gala, eh tau apa? Dia malah bilang 'Maaf Bu, saya udah punya istri yang paling cantik, bucin banget sama dia, gak ada tempat buat orang lain'. Gila banget kan? Padahal gue jauh lebih cantik dari istrinya!" kata Lena sambil gebuk meja pelan karena kesal.
"Kalian sama aja nasibnya sama gue. Dulu gue pernah godain Xu Kai pas pertemuan pemilik kapal, eh dia malah diemin gue terus pergi. Dasar sombong! Padahal suami-suami mereka itu ganteng, kaya, berkuasa, sempurna banget. Sayang banget dapetnya sama perempuan-perempuan itu," tambah Julia dengan wajah penuh kebencian.
Sarah berdiri dengan tatapan jahat. "Udah ah ngomongin mereka bikin darah gue naik. Yuk kita samperin aja sana. Gue pengen tau apa sih hebatnya mereka sampe semua laki-laki kaya itu bucin mati-matian."
Mereka bertiga berjalan beriringan dengan langkah anggun tapi penuh kesombongan, mendekati meja tempat Taeyeong, Ten, Winnie, dan Lusi sedang asik tertawa.
"Permisi..." sapa Sarah dengan nada yang terdengar manis tapi bernada meremehkan.
Keempat sahabat itu serentak menoleh. Taeyeong mengangkat alisnya malas, Ten menatap tajam dari atas ke bawah, sementara Winnie dan Lusi cuma diam menunggu.
"Aduh, lagi apa nih empat wanita paling beruntung di kota ini," kata Lena sambil tersenyum palsu.
"Asik banget ya ngobrolnya? Lagi ngomongin apa nih? Pamer harta lagi ya? Atau pamer suami? Emang sih, suami kalian itu ganteng-ganteng dan kaya raya. Tapi sayang ya... dapetnya istri model kalian" cibir Julia sambil menahan tawa mengejek.
Suasana meja itu langsung berubah dingin. Senyum di wajah keempat ibu itu hilang seketika, berganti dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Taeyeong menegakkan punggungnya, menatap ketiga wanita itu satu per satu dengan pandangan rendah. "Maaf ya, siapa nih? Kita kenal? Emangnya kita ngajak ngobrol?"
Sarah tertawa kecil, sok akrab. "Aduh, galak banget sih Taeyeong. Kita kan cuma mau nyapa. Lagian, wajar dong kita heran. Dulu kan kita pernah deket sama suami-suami kalian loh. Tapi aneh banget ya, mereka itu gak ada tertarik sama kita padahal kita jauh lebih menarik. Ternyata ya karena selera mereka emang... yah, begitulah ya."
Mendengar itu, Ten langsung meletakkan gelas kopinya agak keras ke meja, bunyi ting nyaring terdengar jelas. Dia menatap ketiga wanita itu dengan tatapan membunuh, mulutnya mulai bergerak mengeluarkan kata-kata pedas khas dirinya.
"Dengerin ya, sampah-sampah masyarakat. Kalian pikir kalian sih berani-beraninya ngomong gini di depan muka kita?"
Ten berdiri sedikit, makin mempertegas ucapannya. "Kalian bilang kalian lebih menarik? Hahaha! Gila ya? Coba liat cermin deh. Kalian itu cuma kerikil kecil di jalanan, sedangkan kita ini berlian yang bersinar terang. Wajar aja suami kita gak nengok sama sekali ke kalian, karena buat mereka, keberadaan kalian itu sama persis kayak binatang pengganggu atau debu jalanan! Gak ada harganya sama sekali! asal kalian tau mereka itu BUСIN MATI-MATIAN SAMA KITA!,,,so jadi kalian gak bisa rebut mereka dari kita"
Winnie ikut buka suara dengan nada tenang tapi menusuk banget. "Dan satu lagi... jangan pernah iri sama kita. Kalian gak akan sanggup nanggung hidup kita. Kalian cuma bisa liat dari jauh, gak akan pernah bisa nyamain apa yang kita punya. Mulut kalian emang tajam, tapi ingat... jangan sampe kita beraksi, nanti kalian malah nangis minta ampun."
Lusi juga ikut menimpali sambil tersenyum dingin. "Udah sana pergi aja. Nanti kalau ngotot lagi, kita panggil satpam, bilang ada geng ibu-ibu julid yang ganggu ketenangan kita. Gak malu ya umur udah segini kelakuannya kayak anak SD?"
Sarah, Lena, dan Julia terdiam kaku, mukanya merah padam antara marah dan malu. Mulut mereka mau protes tapi kata-kata mereka tertelan mentah-mentah karena aura keempat wanita di depan mereka terlalu kuat dan mengerikan.
"Ka... kalian... tunggu aja ya!" geram Sarah, lalu buru-buru menarik temannya pergi dari situ karena merasa kalah telak.
Pas mereka pergi menjauh, keempat sahabat itu langsung kembali duduk santai seolah tak ada apa-apa terjadi. Taeyeong menyesap kopinya lagi dengan tenang.
"Dasar kerbau kurang ajar! Berani banget ngomong gitu. Untung gue sabar, kalau enggak udah gue lempar kue ke muka mereka," gumam Taeyeong santai.
"Udah lah, biarin aja. Mereka iri kan wajar, siapa sih yang gak iri sama kita? Yang penting rencana perjodohan anak-anak kita jalan terus. Besok kita kumpul lagi ya, di rumah gue, sekalian bahas detailnya," kata Ten sambil tersenyum kembali cerah.
"SIAP! Sepakat!" jawab mereka serempak, lalu kembali tertawa riang melanjutkan obrolan seru mereka.