NovelToon NovelToon
DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

DETIK TERAKHIR BERSAMAMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

"Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku harus menjadi orang paling jahat di dunia."



Semua orang bilang Arsenio itu dingin, kejam, dan tak punya hati.
Terutama bagi Keyla. Gadis itu benci setengah mati pada pria yang tiba-tiba datang dan merenggut segalanya. Keyla benci cara Arsenio memaksanya tinggal, benci tatapan dinginnya, dan benci kenyataan bahwa pria itu seolah menikmati penderitaannya.

"Kau tidak lebih dari budak di sini, Keyla. Jangan harap aku akan bersikap manis."

Setiap hari Keyla berdoa agar Arsenio mati.
Setiap hari Keyla berencana kabur.
Hingga suatu malam, tanpa sengaja ia mendengar percakapan yang memecahkan dunianya.

"Waktumu tinggal 3 bulan, Arsen. Tumor di otakmu tidak bisa dioperasi. Kau akan mati perlahan, dan akan sangat sakit."

"Biarkan saja. Asal dia tidak tahu. Biarkan dia membenciku. Biarkan dia membenciku sampai detik terakhir. Lebih baik dia menangis karena aku jahat, daripada dia hancur karena aku pergi selamanya."

Dunia Keyla runtuh.
Ternyata se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU TAK DIUNDANG

Siang itu, suasana di teras belakang yang sempat terasa hangat—meski Keyla masih menjaga jarak—tiba-tiba berubah mencekam saat ponsel Arsyad berdering nyaring. Nama yang terpampang di layar membuat senyum ceria di wajah pria itu langsung lenyap tak bersisa.

"MAMA"

Arsyad buru-buru mengusap tangannya ke serbet makan, lalu mengangkat telepon itu dengan cepat. Wajahnya yang biasanya santai kini berubah menjadi sangat serius, bahkan sedikit tegang.

"Halo, Ma?" jawab Arsyad, suaranya berubah menjadi lebih lembut namun penuh kewaspadaan.

Keyla yang melihat nama itu di layar, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Ibu... Ibu mertuanya. Sudah dua tahun Arsenio tiada, dan hubungan mereka semakin membeku. Ibu Sarah adalah tipe wanita yang sangat keras, dominan, dan selalu merasa paling berkuasa.

Di seberang telepon, suara wanita paruh baya itu terdengar tegas, dingin, dan penuh tuntutan, cukup keras hingga Keyla yang duduk agak jauh bisa mendengar samar-samar.

"Syad! Kamu di mana saja sih?! Mama telpon dari tadi nggak diangkat-angkat! Kamu sudah ke rumah Keyla belum?!"

"Belum, Ma. Aku masih di hotel, baru mau beres-beres barang sebentar lagi ke sana," jawab Arsyad berbohong sedikit, matanya melirik sekilas ke arah Keyla yang kini menunduk mematung.

"Jangan banyak alasan! Sekarang juga kamu jemput Mama! Kita mau ke rumah itu sekarang juga! Rumah Arsenio dan Keyla! Mama sudah rindu, tapi lebih dari itu, Mama mau bicarakan soal harta, warisan, dan perusahaan yang sekarang jadi milik kamu!" suara di telepon terdengar semakin mendesak.

"Ingat Syad, selama 15 tahun Keyla menikah dengan Arsenio, sampai akhirnya Arsenio meninggal dua tahun lalu, Mama yang pegang kendali banyak hal! Jangan pikir karena Arsenio sudah nggak ada, Keyla bisa seenaknya menguasai segalanya! Sekarang kamu pulang, kamu yang harus ambil alih! Ayo jemput Mama sekarang, Arshinta juga ikut!"

Telepon dimatikan secara sepihak tanpa memberi kesempatan Arsyad menjawab.

Arsyad menghela napas panjang, napasnya terdengar berat. Dia menatap Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa tidak enak hati dan peringatan.

"Kak... sepertinya kita harus siap-siap. Mama dan Arshinta mau datang ke sini. Sekarang juga. Aku harus jemput mereka dulu," kata Arsyad pelan, suaranya berat.

Keyla menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Dadanya sesak mendengar percakapan tadi. 15 tahun menikah... sampai Arsenio meninggal... Kalimat itu terngiang di telinganya seperti cambukan. Selama ini dia memang merasa hanya dianggap sebagai "hiasan" atau "pajangan" di keluarga itu, meskipun dia adalah istri sah Arsenio.

"O... oke," jawab Keyla terbata, suaranya hampir tak terdengar. "Aku akan rapikan rumah."

Arsyad segera membereskan sisa makanan dengan cepat, lalu mengambil kunci mobilnya. Sebelum pergi, dia sempat menatap Keyla lekat-lekat.

"Kakak tenang ya di dalam. Jangan keluar dulu kalau belum perlu. Aku usahakan cepat kembali," ucapnya, ada nada protektif di sana, tapi situasinya memang membuat segalanya terasa berat.

 

Sekitar empat puluh lima menit kemudian...

Suara derum mesin mobil sport hitam milik Arsyad terdengar garang memasuki halaman rumah yang luas dan megah itu. Mobil melaju pelan lalu berhenti tepat di depan tangga utama, menimbulkan kesan sangat berwibawa namun menakutkan.

Pintu sisi pengemudi terbuka. Arsyad turun dengan wajah yang sangat berbeda dari pagi tadi. Tidak ada senyum, tidak ada canda. Wajahnya datar, kening berkerut, dan tatapannya tajam. Dia terlihat persis seperti Arsenio saat sedang menghadapi masalah besar.

Dengan langkah cepat dan gagah, dia berjalan memutar ke sisi pintu penumpang belakang.

Pintu mobil terbuka lebar.

Turunlah seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang sangat memukau namun memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Itu Nyonya Sarah, ibunda Arsenio dan Arsyad. Ia mengenakan setelan kebaya modern berwarna hitam pekat yang melambangkan kekuasaan dan kesedihan yang tak pernah usai. Rambutnya disanggul rapi, tanpa sehelai pun rambut yang berantakan.

Matanya yang tajam langsung menyapu seluruh sudut halaman rumah itu seolah sedang mencari kesalahan. Tatapannya dingin, menilai, dan penuh dominasi. Seolah-olah rumah ini adalah miliknya dan Keyla hanyalah penumpang gelap.

"Mama..." panggil Arsyad lembut, membantu ibunya turun.

Belum sempat kaki Nyonya Sarah menyentuh tanah sepenuhnya, dari sisi yang sama turunlah sosok lain yang tak kalah mencolok. Seorang wanita muda, cantik dengan riasan yang sangat tebal dan sempurna, tubuh tinggi jenjang dengan busana desainer yang sangat modis dan mahal. Itu Arshinta, adik bungsu keluarga itu.

Namun, apa yang membuat suasana seketika menjadi sangat tidak nyaman dan penuh ketegangan adalah tatapan Arshinta.

Saat matanya menangkap bayangan Keyla yang berdiri mematung di balik pintu utama, menunggu menyambut, bibir Arshinta langsung menyunggingkan senyum miring yang sangat sinis. Tatapannya bukan tatapan saudara, melainkan tatapan seekor elang yang sedang mengincar mangsa, atau penilai yang merasa dirinya jauh lebih superior.

"Wah... wah... rumah ini masih sama saja ya," celetuk Arshinta dengan nada suara yang manja namun sangat menusuk, sambil perlahan merapikan ujung gaunnya yang mahal dengan gerakan dramatis. "Sepi, gelap, dan... bau orang mati. Nyesek banget sih kalau lama-lama di sini."

Nyonya Sarah tidak menyela, bahkan dia seakan menyetujui ucapan putrinya itu. Beliau berjalan mendahului, melewati tangga dengan langkah anggun namun kaku. Matanya tak langsung menatap Keyla, melainkan menatap sekeliling ruangan dengan wajah masam.

"Arsyad," panggil Nyonya Sarah pelan tapi tegas, tanpa menoleh. "Kamu lihat kan? Begini caranya Keyla menjaga rumah suaminya? Dua tahun ditinggal suami, rumah ini malah makin terlihat seperti kuburan mewah. Tidak ada kehidupan sama sekali. Beda banget waktu Arsenio masih ada."

Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Keyla. Wajahnya memerah, campuran antara malu dan marah yang tertahan. Dia maju selangkah, mencoba tetap sopan meski hatinya hancur.

"Selamat siang, Bu... Selamat siang, Shinta," sapanya pelan, kepalanya sedikit menunduk menghormat.

Nyonya Sarah baru saja menoleh. Tatapannya tajam menelusuri wajah Keyla dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun, seolah sedang memeriksa barang dagangan.

"Kamu masih di sini rupanya," ucap Nyonya Sarah datar, tanpa senyum. "Mama pikir setelah dua tahun Arsenio tiada, kamu sudah sadar diri dan mau mengembalikan rumah ini pada keluarga. Ternyata kamu betah juga ya numpang hidup enak di sini."

Keyla tertegun, bibirnya bergetar menahan air mata. "Bu... ini rumah aku dan Arsenio. Ini warisan dari dia untuk aku..."

"Warisan? Hah!" Arshinta yang berdiri di samping ibunya langsung tertawa mengejek, suaranya nyaring dan menyakitkan. "Kak Keyla ngomong apa sih? Selama 15 tahun nikah sama Kak Arsenio, kamu ngasih apa sih? Anak pun nggak ada! Apa pantas kamu dapat semua ini? Sekarang Om Arsyad sudah pulang, dia yang berhak jadi pemilik segalanya! Kamu itu cuma mantan ipar, Kak! Mantan!"

Arshinta melangkah maju, mendekati Keyla hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Aroma parfum mahal dan arogansi bercampur menjadi satu. Tatapannya sangat sinis, matanya menyipit penuh selidik dan kebencian.

"Enak ya hidup kamu, Kak. Dua tahun ditinggal suami, tapi masih bisa hidup mewah, pakai baju bagus, tinggal di rumah sebesar ini. Padahal kan... siapa tahu Kak Arsenio pergi karena nggak kuat hidup sama istri yang kering dan membosankan kayak kamu," bisik Arshinta lirih, tapi cukup keras agar Arsyad dan ibunya juga mendengar.

"Shinta!" tegur Arsyad dengan suara berat, suaranya bergema di ruang tamu yang luas itu. Aura marah mulai terlihat jelas.

Tapi Arshinta tak peduli. Dia justru menyenggol bahu Keyla dengan keras saat berjalan melewatinya untuk masuk lebih dalam ke ruang tamu.

"Ayo masuk Ma, jangan di depan pintu terus. Nanti dikira kita hormat banget sama yang punya rumah padahal aslinya... cuma penumpang," ucap Arshinta keras-keras, tertawa sinis.

Nyonya Sarah hanya melirik sekilas ke arah Keyla dengan tatapan dingin yang membekukan hati. "Masuk, Syad. Mama banyak mau bicara soal nasib rumah ini, perusahaan, dan masa depan kamu. Jangan biarkan orang yang tidak punya hak seenaknya mengatur segalanya."

Keyla berdiri mematung di ambang pintu. Tangannya mengepal kuat sampai kuku-kukunya memutih. Dadanya sesak, napasnya terasa berat.

Dua tahun dia berjuang sendirian menjaga nama baik Arsenio, menjaga rumah ini, dan sekarang mereka datang seolah ingin merenggut segalanya. Mertua yang dingin, adik ipar yang tajam menusuk, dan Arsyad... di mana posisi Arsyad sekarang?

Apakah dia akan membiarkan ibunya dan adiknya menghancurkan Keyla?

Suasana di ruang tamu yang luas dan megah itu mendadak terasa sempit dan pengap. Udara seakan berhenti berputar, digantikan oleh aura dingin dan menekan yang dipancarkan oleh Nyonya Sarah dan Arshinta.

Keyla berdiri kaku di dekat pintu, merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Selama 15 tahun dia menjadi istri Arsenio, dia tahu betul posisinya di mata keluarga ini. Dia dianggap tidak lebih dari seorang pendamping yang beruntung, wanita yang "hanya" cantik dan penurut, tapi tidak memiliki kekuatan apa-apa. Apalagi setelah Arsenio tiada dua tahun lalu, anggapan itu semakin menjadi-jadi.

Nyonya Sarah duduk di sofa utama dengan pose yang sangat anggun namun penuh wibawa yang menakutkan. Punggungnya tegak lurus, tangan beliau terlipat rapi di pangkuan. Matanya yang tajam mengamati setiap sudut ruangan, seolah mencari cela untuk dikritik.

Arshinta duduk di sofa sebelahnya dengan gaya sangat santai namun sok penting. Kakinya disilangkan, jari-jarinya yang bermanikur rapi mengetuk-ngetuk lengan sofa dengan irama yang membuat orang lain gelisah. Senyum sinis tak pernah lepas dari bibirnya, dan matanya tak lepas dari sosok Keyla yang berdiri takut-takut di dekat dinding.

Arsyad berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap mereka. Tubuhnya yang tinggi besar tampak kaku. Bahunya terangkat sedikit, tanda bahwa dia sedang menahan amarah yang meledak-ledak di dalam sana.

"Syad, sini duduk sama Mama," panggil Nyonya Sarah, suaranya lembut tapi memerintah.

Arsyad berbalik perlahan. Wajahnya datar, sulit dibaca. Dia berjalan mendekat dan duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan ibunya, posisi yang strategis agar bisa melihat Keyla dan sekaligus menghadapi keluarganya.

"Jadi begini Syad," mulai Nyonya Sarah, suaranya tegas dan langsung pada inti. "Selama dua tahun ini, semenjak Arsenio... pergi, Mama yang pegang kendali semua aset. Mama yang pastikan perusahaan tetap jalan, Mama yang pastikan uang tetap masuk. Dan rumah ini... rumah ini tetap berdiri kokoh."

Beliau menatap tajam ke arah Keyla.

"Tapi, mengurus segalanya dari jauh itu tidak mudah. Apalagi ada orang di dalam sini yang seolah-olah menjadi raja dan ratu, padahal kontribusinya nol besar. Kamu tahu kan Keyla? Selama 15 tahun kamu menikah dengan Arsenio, apa yang kamu berikan untuk keluarga ini? Apa yang kamu berikan untuk perusahaan?"

Keyla menelan ludah, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku... aku menjaga rumah ini, Bu. Aku menjaga nama baik Arsenio. Aku selalu ada buat dia saat dia butuh..."

"Hah! Ada buat dia?" potong Arshinta dengan tawa mengejek yang sangat menyakitkan. "Kalau benar-benar ada buat dia, kenapa Kak Arsenio pergi lebih awal? Kenapa dia harus stres terus? Mungkin karena dia nggak betah di rumah sama istri yang kaku, dingin, dan nggak bisa ngasih keturunan kayak kamu!"

"Arshinta!" bentak Arsyad tiba-tiba. Suaranya keras, bergema di seluruh ruangan, membuat Arshinta tersentak kaget dan langsung diam.

Nyonya Sarah menatap putranya itu dengan alis terangkat. "Kenapa kamu marah Syad? Mama cuma ngomong fakta. Fakta bahwa istri kakakmu itu mandul. Selama 15 tahun nggak bisa ngasih cucu buat Mama. Dan sekarang, dia malah menguasai semua harta peninggalan Arsenio seolah-olah itu hak mutlak dia."

"Mama," Arsyad berbicara pelan tapi setiap katanya terasa berat. "Keyla adalah istri sah Arsenio. Secara hukum dan agama, dia berhak atas segalanya yang Arsenio tinggalkan. Termasuk rumah ini."

"Hukum bisa diatur Syad!" sahut Nyonya Sarah tak kalah keras. "Lagipula, Arsenio kan kembaranmu. Daripada harta sebesar ini jatuh ke tangan orang luar yang nggak ada hubungannya lagi setelah Arsenio mati, mending dikembalikan ke keluarga! Ke kamu! Ke Arshinta!"

"Bu, tolong jangan bicara seperti itu. Keyla masih keluarga..."

"Keluarga?!" Arshinta kembali menyela, kali ini dengan nada yang lebih tinggi dan emosional. Dia berdiri dari duduknya, menatap Keyla dengan tatapan penuh kebencian dan selidik yang makin dalam. "Selama Kak Arsenio hidup aja aku nggak pernah anggap dia kakak ipar! Dia cuma pembawa sial! Lihat tuh penampilannya! Pake baju hitam terus, muka murung terus! Bikin suasana rumah jadi suram kayak kuburan! Enak banget ya dia, hidup mewah cuma modal inget suami yang udah mati!"

Arshinta berjalan mendekat ke arah Keyla. Jarak mereka sangat dekat. Wanita itu menatap Keyla dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang luar biasa.

"Dengerin ya Kak Keyla, sekarang Om Arsyad udah pulang. Segalanya bakal berubah. Kamu pikir kamu bisa terus-terusan manfaatin harta Kak Arsenio? Nggak bakal bisa! Om Arsyad itu cerdas, dia nggak bakal kayak kakaknya yang kebaperan sama wanita cantik tapi kosong kayak kamu."

Arshinta mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di depan wajah Keyla yang pucat pasi.

"Mending kamu sadar diri ya. Minta uang pesangon seberapa aja, terus keluar dari rumah ini. Jangan sampai kita usir dengan cara yang nggak enak. Kasihan lho, mantan nyonya besar akhirnya jadi gelandangan. Hihihi..."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Keyla. Dadanya sesak, rasanya ingin menangis tapi dia berusaha sekuat tenaga menahannya demi harga dirinya. Dia merasa kecil, merasa tak berdaya. Kata-kata itu terlalu tajam, terlalu menyakitkan. 15 tahun pengabdian, 15 tahun kesetiaan, dihapus begitu saja hanya karena dia tidak bisa memberikan anak dan dianggap tidak berguna.

Dia menatap Arsyad memohon. Memohon agar pria itu berkata sesuatu, memohon agar pria itu membela dia setidaknya sekali saja.

Arsyad duduk di sofa, tangannya saling bertaut menutupi mulutnya. Wajahnya tertunduk, membuat Keyla tidak bisa melihat ekspresinya. Keyla merasa hatinya hancur berkeping-keping. Jangan bilang... Arsyad juga setuju dengan ibunya dan adiknya? Jangan bilang dia datang kesini bukan untuk jagain aku, tapi untuk ambil alih semuanya?

Hening yang mencekam kembali menyelimuti ruangan.

Nyonya Sarah tersenyum tipis melihat putranya diam. Dia mengira Arsyad sedang mempertimbangkan kata-katanya.

"Gitu kan Syad? Mama tahu kamu anak pintar. Kamu pasti paham bahwa kepentingan keluarga jauh lebih penting daripada perasaan seorang janda yang sudah nggak ada gunanya..."

Belum sempat kalimat Nyonya Sarah selesai...

BRAKK!!

Suara hentakan tangan di atas meja kopi membuat seluruh penghuni ruangan terlonjak kaget.

Arsyad berdiri tegak. Wajahnya memerah menahan amarah yang luar biasa. Matanya yang biasanya ceria kini berubah menjadi gelap dan tajam, persis seperti mata Arsenio saat sedang sangat marah. Aura yang dipancarkannya kini begitu besar dan menakutkan, bahkan melebihi aura ibunya sendiri.

"CUKUP!"

Suara Arsyad rendah tapi bergema, penuh dengan otoritas yang tak bisa dibantah.

"Sudah cukup kalian menghina dia hari ini!" Arsyad melangkah maju, berdiri di antara Keyla dan Arshinta, secara fisik melindungi Keyla di belakang punggung lebarnya.

"Syad... kamu..." Nyonya Sarah terlihat kaget melihat perubahan drastis pada putranya.

"Mama!" Arsyad menoleh menghadap ibunya, suaranya gemetar menahan emosi. "Selama 15 tahun Keyla sama Arsenio, siapa yang selalu ada di samping Kakak saat sakit? Siapa yang nemenin dia saat semua orang meninggalkan dia? Bukan Mama! Bukan Arshinta! Tapi Keyla!"

"Tapi dia nggak bisa ngasih..."

"SOAL ANAK ITU RAHASIA TUHAN, MA!" potong Arsyad keras. "Jangan pernah gunakan alasan itu untuk merendahkan dia! Keyla adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal. Dia bertahan sendirian di rumah ini selama dua tahun, menjaga nama baik Arsenio, menjaga semua kenangan ini. Dan kalian datang kesini cuma untuk menghina dan merampas haknya?"

Arsyad menatap tajam ke arah Arshinta yang kini mundur ketakutan melihat kemarahan kakaknya.

"Dan kamu, Shinta... Jangan pernah sekali-kali bicara kasar atau sinis sama Keyla lagi. Selama aku ada di sini, dia adalah Nyonya di rumah ini. Dia lebih berhak memakai sepatu ini daripada kamu yang cuma datang buat bikin onar!"

Arshinta ternganga, wajahnya memerah karena malu dan marah tapi tak berani membantah.

Arsyad menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri tapi tatapannya masih dingin. Dia berbalik menghadap Keyla yang masih berdiri mematung dengan mata berbinar. Dengan gerakan lembut yang kontras dengan amarahnya barusan, Arsyad memegang bahu Keyla.

"Kakak tidak perlu takut," ucapnya pelan, cukup keras agar semua mendengar. "Selama aku masih bernapas, tidak ada yang berhak mengusir Kakak dari rumah ini. Rumah ini milik Kakak, warisan dari Arsenio. Dan aku di sini... aku di sini untuk jagain Kakak, bukan untuk ikut-ikutan merugikan Kakak."

Dia menatap kembali ke arah ibunya dengan tatapan tegas namun tetap sopan.

"Mama dan Shinta silakan beristirahat atau minum dulu. Tapi tolong hormati Keyla sebagaimana kita menghormati Arsenio. Kalau kalian tidak bisa menghormatinya, lebih baik kalian pulang."

Nyonya Sarah terdiam. Dia menatap putranya itu dengan pandangan tak percaya sekaligus kagum. Baru sekarang dia sadar, Arsyad bukan lagi anak kecil yang bisa dia atur. Dia pria dewasa yang memiliki prinsip kuat, dan dia benar-benar mencintai serta melindungi menantunya itu.

Namun, di balik tatapan hormat Nyonya Sarah, terselip sedikit kecurigaan... dan mungkin ada niat lain yang belum terungkap.

1
Arasya Radit
mf Thor mau apa kah arsenio ga puny keluarga..disaat sakit parah KY gitu ko ga ada org Laen selain Keyla SM Arsen doang🙏
rara
👍🏼👍🏼 lanjut thor
Nessa
kapok sarah
Dian Fitriana
update
M ipan: siap kakak,, terima kasih udah mampr
total 1 replies
rara
Keyla dibuat karakter tegas juga thor dia kan istri sah arsenio jangan dibikin menye²
M ipan: siap,, setiap saran dari semua pembaca insakallah saya turutin, semoga harimu menyenangkan🌹💪
total 1 replies
rara
dasar MC² maruk
M ipan: terima kasih udah mampir kak🌹
total 1 replies
Nessa
bagus arsyad 👍🏻👍🏻
M ipan: terima kasih dukungan nya kakak
total 1 replies
Nessa
smngt arsyad 😊
M ipan: 💪 semangat dekatin kakak ipar
total 1 replies
Wiwit
cerita ini tentang mereka ber 2 ja kh
M ipan: iya nanti nambah adik nya sama yang jahat nya
total 1 replies
Nur Mei
sedih banget 🥲
M ipan: terima kasih udah mampir🌹
total 1 replies
M ipan
😭🌹
Nessa
mencintai sampai maut memisahkan nyeseeek bgt euy 😭😭😭😭
meongming
semangat thor💪
M ipan: terima kasih kakak atas dukungan nya❤️
total 1 replies
Nessa
baru baca sinopsis nya udah nyesek duluan membayangin bab2 berikutnya fikx bikin mewek ni novel 😭
M ipan: terima kasih kakak sudah mau mampir
total 1 replies
Zia Zee
😭😭😭😭
M ipan: insakallah kakak, semoga kakak setia di buku saya ya🌹
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!