Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
.
“Ardi, bangun Nak. Ini Ibu…”
Amanda duduk di kursi di samping ranjang pasien sambil menggenggam tangan kecil Ardi. Matanya yang sembab tak berhenti mengalirkan air mata melihat tubuh kecil Ardi yang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di punggung tangan bocah itu.
Di belakangnya, Dirga Wijaya berdiri tegak dengan kedua tangan tersimpan dalam saku celana. Wajahnya tetap datar seperti biasa, namun sorot matanya tak lepas dari Ardi.
“Berhentilah menangis,” ucap Dirga pelan namun tegas. “Tidak terjadi apa-apa pada anakmu. Dia hanya kelelahan dan dehidrasi.”
Mendengar ucapan itu, Amanda segera menghapus air matanya lalu menoleh ke belakang menatap wajah pria itu.
“Terima kasih banyak, Tuan Dirga,” ucap Amanda dengan suara bergetar. “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ardi jika tidak ada Anda.”
Dirga mendengus pelan. “Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya kebetulan ada di sana.”
Amanda menatap pria itu beberapa saat. Untuk pertama kalinya, ia merasa pria itu bukan orang yang dingin. Ada sesuatu yang berbeda dari pria. Bukan lagi pria dengan mulut pedas seperti yang ia kenal beberapa waktu ini.
“Bagi saya itu bukan kebetulan,” balas Amanda lirih. “Anda datang di saat yang tepat.”
Dirga terdiam. Ruangan rumah sakit terasa sunyi. Hanya suara detak jarum jam dan tetesan infus yang terdengar samar.
Tak lama kemudian, kelopak mata Ardi bergerak pelan, bibir pucatnya terbuka. “Ibu…” panggilnya.
Amanda langsung menoleh cepat dan spontan bangkit dari kursinya lalu membungkuk menatap wajah anak itu. Sebelah tangannya mengusap ubun-ubun bocah itu dan sebelah lagi menggenggam erat tangannya yang tidak terpasang infus.
“Ardi? Syukurlah kamu sadar, Nak…” isaknya kembali terdengar disertai rasa lega.
Ardi yang masih lemah mengangkat tangan kecilnya menyentuh pipi Amanda.
“Ardi bikin Ibu nangis, ya?”
Amanda menggeleng cepat sambil mencium keningnya berkali-kali.
“Tidak, sayang. Ibu tidak nangis kok,” jawabnya sambil mengusap cepat air matanya.
Di belakang mereka, Dirga masih setia dengan wajah dinginnya. Namun, untuk pertama kalinya, pria itu tidak merasa Amanda sebagai wanita merepotkannya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Dokter masuk bersama seorang perawat yang membawa papan klip.
“Bagaimana hasil pemeriksaan anak saya, Dokter?” tanya Amanda dengan wajahnya yang masih menyisakan raut cemas.
Dokter mengangguk lalu mulai memeriksa kondisi Ardi, menempelkan stetoskop di dada, memeriksa kelopak mata bocah itu, lalu menatap Amanda dengan wajahnya yang teduh.
“Syukurlah putra Anda sudah sadar,” ucap dokter setelah memeriksa kondisi Ardi. “Tidak ada luka serius. Hanya kelelahan, stres, dan kurang cairan. Besok sudah boleh pulang.”
“Terima kasih, Dok.” Amanda tersenyum dengan wajah berbinar.
Dokter membalas senyuman itu, lalu keluar setelah menundukkan kepala sebagai bentuk hormat pada Dirga, pemilik Rumah Sakit besar tersebut.
Setelah pintu tertutup, Amanda kembali menoleh pada Dirga. “Tuan… saya benar-benar tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Anda.”
Dirga menatapnya datar beberapa detik sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, lalu mengulurkannya pada Amanda.
“Anting saya!” Amanda membelalak kaget dan refleks memegang daun telinganya yang kosong.
“Ya. Benda murahan ini. Apa tidak bisa sekali saja tidak merepotkan orang?” seru Dirga dengan nada kesal khasnya.
“Jadi… Anda sebenarnya datang untuk mengembalikan ini?”
“Kalau bukan karena putriku, apa Kamu pikir aku akan peduli dengan benda sialan itu?” jawab Dirga dingin.
Amanda menarik nafas dalam mencoba mengurai kesabaran. Baru saja beberapa saat lalu dalam hatinya memuji pria itu, sekarang sudah kumat lagi juteknya. Namun entah kenapa, kali ini Amanda malah tersenyum kecil di sela air matanya.
Kening Dirga mengernyit melihat senyum Amanda. “Apa yang lucu?”
Amanda menerima anting itu seraya menggelengkan kepala pelan. “Saya hanya merasa… mungkin Tuhan memang mengirim Anda untuk menolong Ardi,” jawabnya sambil memasang anting itu di telinganya. “Sekali lagi, terima kasih.”
Dirga menatap wajah Amanda yang masih sembab namun terlihat lebih tenang. Ada perasaan asing yang bergerak di dadanya. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan. Dan untuk pertama kalinya, Dirga tidak membantah ucapan Amanda.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas Dirga berdering dan pria itu segera mengambilnya. “Putri?” gumamnya terdengar jelas di telinga Amanda. Dirga segera menggeser icon hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga. “Ya, Sayang?” sapanya lembut. “ Kenapa jam segini belum tidur?” tanyanya.
“Ayah di mana? Kenapa sudah larut dan ayah belum pulang?” di seberang telepon suara Putri terdengar cemas.
Dirga menepuk keningnya sendiri sambil memejamkan mata ia lupa mengabari putrinya. “Maafkan Ayah, Sayang. Ayah lupa. Ini Ayah masih di rumah sakit.”
“Apa, Yah? Di rumah sakit? Ayah kenapa? Apa yang terjadi?” Suara Putri benar-benar terdengar cemas.
“Hei… dengar dulu, Sayang. Ayah tidak apa-apa. Bukan Ayah yang sakit, tapi anak asuhnya Bu Manda.” Dirga kemudian menceritakan tentang penculikan yang terjadi.
Putri meminta ayahnya untuk memberikan teleponnya kepada Amanda karena dia ingin bicara, dan Dirga pun menurut. Beberapa saat lamanya mereka berdua berbincang. Hanya suara Amanda yang terdengar oleh Dirga sedang menjelaskan tentang kondisi Ardi.
Dirga mengamati wajah Amanda saat bicara dengan putrinya. Setiap ekspresi yang tampak tulus, juga ingatan akan Putri yang selalu memuji Amanda. Tiba-tiba Dia teringat akan hubungan rumit antara dirinya, Jameela, Putri, dan Ega. Hubungan Putri dan Ega yang stagnan, dan Ingatan akan perbincangan antara Ega dan Putri ketika di taman.
Amanda yang menyadari dirinya diperhatikan menoleh pelan. Senyumnya saat tadi bicara dengan Putri perlahan pudar. “Ini ponselnya, Tuan,” ucapnya Seraya mengembalikan ponsel Dirga yang berada di tangannya.
Dirga melangkah mendekat. Wajahnya yang datar, tampak serius. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, dua tangannya kembali tersimpan di saku celana. Matanya menatap lurus ke arah bola mata Amanda. “Menikahlah denganku,” ucapnya.
Uhuk uhuk…
Amanda tersedak ludahnya sendiri, matanya membulat sempurna mendengar ucapan Dirga yang tak masuk akal.
“A-apa maksud Anda?” suaranya nyaris tercekat. “Apa lucu bercanda di saat seperti ini?” pekiknya tertahan
“Aku tidak pernah bercanda.”
Jawaban singkat itu membuat Amanda bingung. Otaknya mencoba mencerna informasi yang baru saja masuk ke dalam telinganya.
“Pernikahan kontrak. Hanya sampai Putri dan Ega menikah,” lanjut Dirga membuat Amanda semakin terperangah. Mulutnya terbuka tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar.
“Dan sebagai kompensasinya, aku akan memastikan keamanan keluargamu. Ayahmu, pengobatan adikmu, dan kehidupan anak-anak asuhmu kamu tidak akan lagi perlu bingung dengan kehidupan mereka.”
Amanda menatap wajah Dirga dengan seribu pertanyaan yang bercokol dalam hatinya. Putri dan Ega? Seketika Amanda teringat akan cerita Putri tentang hubungan rumit antara Putri dan Ega, serta Dirga dan mamanya Ega. Akhirnya dia paham maksud dari tawaran Dirga. Pria itu melakukannya demi putrinya.
“Kenapa harus saya?”
Dirga menarik napas panjang. “Karena Kamu satu-satunya orang yang mungkin bisa diterima oleh Putri.”
Amanda terdiam. Hubungannya dengan Putri memang sangat baik, tapi untuk menikah dengan pria yang saat ini menatapnya dengan wajah datar…
Amanda menggelengkan kepala dan mundur selangkah.
“Maaf, saya tidak bisa,” jawabnya. “Itu namanya mempermainkan pernikahan. Jika memang Putri berjodoh dengan tuan muda Ega, pasti akan ada jalan bagi mereka bersatu. Tapi tidak dengan cara menipunya seperti ini. Karena jika suatu nanti Putri mengetahuinya dia akan semakin terluka.
Dirga menatapnya dalam, lalu berkata dengan nada lebih dingin. “Lalu, apa kamu memilih mantan kekasihmu itu datang dan mengusik kembali kehidupanmu dan anak-anak asuhmu? Dengar baik-baik! Mantan kekasihmu itu, dan juga orang-orang yang berada di belakangnya mungkin akan dipenjara. Tapi berapa lama? Mereka memiliki uang. Entah lusa atau lusanya lagi, bisa saja mereka keluar dan kembali mengusikmu. Atau bahkan melakukan hal yang lebih buruk lagi!”
Amanda terdiam, kata-kata Dirga membuat jantungnya berdegup keras. Wanita itu menoleh pada Ardi yang tertidur lemah di atas ranjang. Bayangan ketakutan akan sesuatu yang buruk terjadi pada Ardi, ayahnya, adiknya, dan anak-anak asuhnya yang lain membuat kepalanya menggeleng berkali-kali.
“Tapi…” Amanda menggigit bibir bawahnya ragu. “Bagaimana caranya? Apa tidak aneh jika tiba-tiba kita menikah? Putri pasti akan curiga.”
“Itu tugasmu untuk berpikir,” sahut Dirga datar.
Amanda mengerjap. “Hei… kenapa malah saya?” Amanda berseru kesal, yang butuh siapa yang repot siapa.
Dirga mengangguk tegas. “Kamu harus bisa meyakinkan Putri bahwa kamu jatuh cinta padaku dan mencoba mengejarku!”
Amanda menatap pria itu tak percaya. “Dasar duda gila!”
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.