Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sakit yang Tak Berujung
Bab 10 : Rasa Sakit yang Tak Berujung
Udara pagi di Paviliun Naga Melingkar terasa berbeda dari biasanya.
Langit di atas ibu kota tertutup awan kelabu. Angin musim gugur bertiup pelan melewati halaman paviliun, menggoyangkan dedaunan bambu yang saling berdesir lembut seperti bisikan rahasia.
Aroma tanah lembap setelah hujan semalam masih tersisa di udara.
Di gerbang paviliun berdiri A-Shun, dengan sikap tegap seperti biasa. Namun kali ini ekspresinya terlihat sedikit ragu.
Ketika Su Yelan datang membawa panci bubur hangat di tangannya, ia segera melangkah maju untuk menghentikannya.
“Su Guniang…” katanya pelan.
Su Yelan berhenti. Uap hangat dari bubur yang ia bawa perlahan naik ke udara, membawa aroma beras lembut bercampur sedikit wangi obat herbal.
“Ada apa?” tanyanya.
A-Shun menghela napas pendek, seolah mencari kata yang tepat.
“Hari ini… hari yang sangat istimewa bagi Tuan Keenam.”
Ia menundukkan kepala sedikit.
“Mohon maaf, tapi mungkin pemeriksaan denyut nadi bisa ditunda satu hari.”
Nada suaranya sopan, tetapi jelas menunjukkan jarak.
Dalam hati, A-Shun memang tidak terlalu yakin pada kemampuan medis Su Yelan.
Sudah lebih dari sepuluh hari gadis itu merawat Yan Yuxing. Namun mata tuannya belum menunjukkan perubahan yang berarti.
Ia mendengar bahwa Perdana Menteri Liang Guozheng merekomendasikan gadis ini.
Namun dalam pikirannya, mungkin itu hanya usaha sang perdana menteri untuk memberi sedikit harapan kepada Yan Yuxing yang hampir putus asa.
Su Yelan tentu cukup cerdas untuk membaca pikiran orang lain.Ia menatap A-Shun sejenak, lalu menghela napas panjang.
“Begitu ya…”
Uap bubur perlahan menyelimuti wajahnya yang pucat.
“Kalau Tuan Keenam sudah menyerah…”
“Sepertinya tidak ada gunanya aku tetap tinggal di sini.”
Ia menyerahkan panci bubur itu ke tangan A-Shun.
“Kalau begitu aku akan kembali ke kamar dan mulai berkemas.”
“Kau bisa mencari tabib lain yang lebih hebat.”
Kata-katanya terdengar tenang.
Namun di balik ketenangan itu, ada kelelahan yang sulit disembunyikan.
A-Shun tertegun.
Ia tidak menyangka gadis ini akan berkata seperti itu.
Namun sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan.
“Masuklah.”
Suara itu rendah dan tenang.
Namun ada otoritas yang tidak bisa ditolak.
Itu suara Yan Yuxing.
A-Shun langsung menundukkan kepala.
“Silakan masuk, Su Guniang.”
Su Yelan mengambil kembali panci bubur itu dan berjalan masuk.
Di dalam Paviliun Naga Melingkar, suasana terasa sunyi.
Ruangan besar itu dipenuhi cahaya redup dari lampu minyak yang masih menyala meskipun hari sudah terang. Tirai sutra putih bergoyang perlahan tertiup angin yang masuk melalui jendela terbuka.
Tidak ada pelayan lain di ruangan itu.
Hanya Yan Yuxing.
Ia duduk di dekat meja bundar dari kayu cendana.
Di tangannya ada sepotong kayu kecil seukuran telapak tangan.
Di tangan yang lain, ia memegang belati kecil.
Dengan gerakan perlahan namun terampil, ia mengukir kayu itu.
Su Yelan berhenti beberapa langkah dari meja.
Ketika matanya jatuh pada benda di tangan Yan Yuxing, ia langsung membeku.
Itu adalah patung wanita.
Bahkan belum selesai sepenuhnya, patung itu sudah terlihat sangat hidup.
Rambutnya disanggul rapi dengan jepit rambut manik-manik.
Gaun panjangnya terukir dengan lipatan yang lembut.
Namun yang paling mencolok adalah wajahnya.
Begitu lembut.
Begitu familiar.
Su Yelan merasa napasnya tercekat.
Ia melangkah lebih dekat.
Baru saat itulah ia menyadari bahwa di atas meja bundar itu tidak hanya ada satu patung.
Ada banyak.
Belasan patung wanita kecil berdiri di sana.
Setiap patung memiliki pose berbeda.Ada yang tersenyum lembut.
Ada yang cemberut manja.
Ada yang duduk sambil memegang kipas.
Ada yang berdiri dengan tangan terlipat.
Namun semua patung itu memiliki wajah yang sama.
Wajah Shen Lanruo.
Pupil mata Su Yelan langsung membesar.
Tangannya tanpa sadar menggenggam panci bubur lebih erat.
Seolah merasakan kehadirannya, Yan Yuxing berbicara tanpa mengangkat kepala.
Ia meletakkan patung yang baru saja diukirnya dengan hati-hati di atas meja.
Lalu ia mengulurkan tangannya ke depan.
“Waktu yang dibutuhkan untuk membakar setengah batang dupa…”
“Sudah cukup, bukan?”
Su Yelan terdiam sejenak sebelum akhirnya mendekat.
Ia mendorong tangan Yan Yuxing kembali ke meja.
“Habiskan buburnya dulu.”
“Baru aku akan memeriksa denyut nadimu.”
Yan Yuxing mengangkat alisnya sedikit.
“Bubur pedas lagi?”
Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu sering menjadi korban.
Su Yelan tidak menjawab.
Ia meletakkan panci bubur di depannya lalu membuka tutupnya.
Uap hangat segera mengepul.Aroma lembut beras bercampur wangi herbal memenuhi ruangan.
Yan Yuxing sedikit terkejut ketika mencium aromanya.
Ia mengangkat alis lagi.
“Kali ini… tidak pedas.”
Su Yelan menyerahkan sendok perak kepadanya.
“Makanlah.”
Nada suaranya pelan.
Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Yan Yuxing memiringkan kepala sedikit.
“Tidak ada racun di dalamnya?”
“Atau obat yang membuatku diare, gatal-gatal, atau ruam di seluruh tubuh?”
Su Yelan langsung kesal.
Ia menarik kembali sendok itu.
“Kalau kau takut mati, jangan makan!”
Yan Yuxing tertawa kecil.
Tawa itu rendah namun jelas terdengar di ruangan yang sunyi.
Ia mengambil kembali sendok itu dari tangannya.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau aku mati karena bubur ini…”
“Kau akan menjadi korban persembahanku.”
Su Yelan mendengus kesal.
Yan Yuxing mulai makan.
Buburnya hangat dan lembut.
Rasanya jauh lebih enak dari yang ia bayangkan.
Ia makan beberapa sendok dengan cepat.
Namun mungkin karena terlalu panas atau ia terlalu terburu-buru, tiba-tiba ia tersedak.
Bubur di sendoknya tumpah mengenai punggung tangannya.
Ia mendesis pelan.
“Jangan disentuh!”
Su Yelan segera memegang tangannya.
Dengan sapu tangan sutra putih, ia menyeka bubur dari kulit Yan Yuxing dengan gerakan hati-hati.
“Bukankah kau sudah dewasa?”
“Bagaimana bisa sampai melepuh karena bubur?”
Ia memarahinya sambil menyeka tangannya.
Nada suaranya terdengar… sangat akrab.
Begitu akrab hingga membuat Yan Yuxing tiba-tiba terdiam.
Jantungnya berdetak aneh.
Nada suara itu…
gerakan itu…
perasaan itu…
Sangat mirip dengan seseorang di masa lalu.
Dulu ada seseorang yang juga sering memarahinya dengan nada seperti itu.
Lembut.
Namun penuh perhatian.
Setelah menyadari apa yang ia lakukan, Su Yelan segera menarik tangannya kembali. Ia berpura-pura batuk kecil.
Lalu ia menunjuk ke meja.
“Semua patung ini… kau yang membuatnya?”
Yan Yuxing mengangguk perlahan.
“Hari ini adalah peringatan kematian istriku.”
“Wanita dalam patung-patung ini adalah dirinya.”
Su Yelan menatap patung-patung itu.
Ekspresi mereka begitu hidup.
Seolah-olah Shen Lanruo masih berada di ruangan ini.
Yan Yuxing menyentuh salah satu patung dengan lembut.
“Waktu berlalu begitu cepat.”
“Sudah enam tahun sejak dia meninggalkanku.”
Ia tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar pahit.
“Dulu aku berjanji akan merayakan ulang tahunnya setiap tahun.”
“Tapi sekarang…”
“Aku hanya bisa memperingati hari kematiannya.”
Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.
Su Yelan tanpa sadar mengangkat tangannya.
Ia hampir menyeka air mata itu.
Namun tangannya berhenti di udara.
Wajah pria di depannya bukan hanya kenangan.
Ia juga adalah sumber luka terdalam dalam hidupnya.“Sekarang dia sudah mati,” katanya pelan.
“Apa gunanya melakukan semua ini?”
Yan Yuxing tersenyum tipis.
“Benar.”
“Tidak ada gunanya.”
Ia memegang patung kayu di tangannya dengan lembut.
“Aku hanya berharap suatu hari nanti…”
“Ketika mataku sembuh…”
“Aku bisa melihat wajahnya lagi.”
Su Yelan terdiam.
Yan Yuxing melanjutkan dengan suara sangat pelan.
“Setelah dia mati, aku sebenarnya ingin mati bersamanya.”
“Tapi aku masih menunggu.”
“Menunggu suatu hari arwahnya datang dalam mimpiku dan mengatakan bahwa dia telah memaafkanku.”
“Ketika hari itu tiba…”
“Aku akan pergi menemuinya tanpa beban.”
“Apa?!”
Su Yelan langsung berdiri.
“Itu omong kosong!”
“Dia tidak akan muncul dalam mimpimu!”
“Karena dia sudah mati!”
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Kalau kau tahu semuanya akan berakhir seperti ini…Kenapa dulu kau mengejarnya sampai mati?!”
Ruangan langsung sunyi.
Su Yelan tiba-tiba menyadari apa yang ia katakan.
Ia cepat-cepat menyeka air matanya.
“Aku hanya mendengar cerita itu dari orang lain.”
“Semua orang mengatakan kau pria yang kejam dan berdarah dingin.”
Setelah mengatakan itu, ia berlari keluar ruangan.
Gaun panjangnya berkibar tertiup angin.
Yan Yuxing tetap duduk di tempatnya.
Ia perlahan mengerutkan kening.
Nada suara Su Yelan tadi, tterdengar seperti seseorang yang menuntut keadilan atas penderitaannya sendiri.
Seolah-olah…
ia adalah korbannya.
Beberapa saat kemudian A-Shun masuk ke ruangan.
Ia menundukkan kepala.
“Tuanku.”
“Rumah leluhur Su Guniang berada di Kabupaten Luohe, Provinsi Nan‟an.”
“Beberapa tahun lalu terjadi banjir bandang besar di sana.”
“Tabib Ilahi Mo Qingyuan kebetulan melewati daerah itu dan menyelamatkannya.”
“Karena itulah ia menjadi murid Tabib Mo.”
A-Shun berhenti sejenak.
“Dalam bencana itu, hampir seluruh desa meninggal.”“Hanya sedikit yang selamat.”
“Termasuk Su Guniang.”
Dua hari yang lalu, Yan Yuxing memang telah memerintahkan A-Shun untuk menyelidiki latar belakang Su Yelan.
Namun saat ini, entah mengapa di dalam hatinya muncul perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Seolah-olah gadis itu menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.