Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 kesepakatan di bawah cahaya bulan darah
Darah memercik menghiasi pilar kristal Gedung Menara Kaca, menciptakan lukisan abstrak yang mengerikan di bawah pendaran lampion malam. Mayat seorang pria berpakaian abu-abu jatuh terjerembab dari balik bayangan, tenggorokannya robek oleh satu tebasan presisi yang bahkan tidak menyisakan ruang bagi korban untuk menjerit.
Mo Chen berdiri di atas genangan darah tersebut. Pedang hitamnya telah kembali ke dalam sarung tanpa ada setetes pun noda merah yang menempel pada bilahnya. Gerakannya begitu cepat, melampaui batas pandangan para tamu pelelangan yang masih membeku di kursi mereka.
Jeritan tertahan terdengar dari beberapa pelayan wanita. Para penjaga Menara Kaca segera menghunus senjata, mengepung area lorong keluar dengan wajah tegang.
Cang Qixuan berdiri tepat dua langkah dari mayat itu. Ia menunduk menatap tubuh tak bernyawa di dekat kakinya, lalu perlahan mengangkat kaki kanannya dengan ekspresi jijik yang luar biasa teatrikal.
"Astaga, Mo Chen! Kau mengotori sepatu sutraku!" rutuk Qixuan dengan nada melengking, mengibaskan kipasnya ke arah wajah seolah sedang mengusir bau busuk. "Sepatu ini dibuat khusus oleh penjahit Istana Selatan dari sutra laba-laba es! Jika darah kotor anjing jalanan ini meresap, bahkan sepuluh nyawanya tidak akan cukup untuk menggantinya!"
Ia menendang tubuh mayat itu pelan, memastikan pria tersebut benar-benar sudah mati, sekaligus diam-diam mengalirkan secercah qi spiritual untuk memeriksa sisa energi di dalam meridian korban. *Pembentukan Fondasi tahap pertengahan. Racun bayangan di bawah lidahnya... Pasukan rahasia Pangeran Mahkota.* Ternyata bukan Klan Pei atau Putri Yan Ling, melainkan Pangeran Mahkota yang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menarik. Jaring intrik di ibukota semakin kusut, dan Qixuan sangat menyukainya.
Seorang pria tua berjubah abu-abu dengan lencana pengawas Menara Kaca bergegas mendekat, wajahnya memucat melihat pelanggan VVIP-nya diserang. "T-Tuan Muda Cang! Kami memohon ampun yang sebesar-besarnya! Kami tidak tahu bagaimana pembunuh ini bisa menyusup melewati formasi pelindung kami!"
"Simpan permintaan maafmu, Manajer Tua," Qixuan mendengus sombong, melempar sekantung kecil keping emas ke dada pria itu. "Urus tumpukan daging ini. Jika besok pagi sepatuku masih bau darah, aku akan menyuruh kakekku meratakan menara kristal ini dengan tanah. Ayo pulang, Mo Chen! Tempat ini membuat seleraku untuk minum-minum hilang sama sekali!"
Sambil merangkul pelayan wanita yang masih gemetar di sisinya, Qixuan berjalan keluar gedung dengan gaya angkuh seorang pemabuk yang tak tertandingi. Para bangsawan dan kultivator di dalam ruangan saling bertukar pandang penuh cemoohan. Di mata mereka, Tuan Muda Cang tidak lebih dari seorang pengecut kaya raya yang bersembunyi di balik kekuatan pengawalnya, sama sekali tidak memiliki kepekaan atau martabat seorang kultivator sejati.
Tepat itulah yang Qixuan inginkan. Biarkan mereka menganggapnya sampah; sampah tidak pernah dicurigai saat kerajaan mulai terbakar.
Kereta kuda berlapis emas milik Klan Cang melaju meninggalkan pusat kota, membelah jalanan Jinling yang basah oleh sisa hujan. Malam semakin larut, kabut tipis mulai turun menyelimuti sudut-sudut bangunan kuno.
Di dalam kabin kereta, postur Qixuan kembali tegap. Ekspresi wajahnya yang bodoh menguap tanpa sisa, digantikan oleh ketajaman setajam bilah es. Kotak giok berisi Akar Nadi Naga terletak dengan tenang di atas pangkuannya.
"Tuan Muda," suara Mo Chen terdengar dari luar. "Ada blokade di depan. Jembatan Bulan Sabit ditutup."
Qixuan membuka sedikit tirai jendela kabin. Di ujung jembatan batu yang melengkung melintasi kanal utama kota, berdiri barisan prajurit berbaju zirah perak bersih. Mereka bukan prajurit biasa. Lambang bunga teratai es di perisai mereka menandakan identitas yang sangat spesifik—Pengawal Pribadi Putri Kekaisaran.
Di tengah jembatan, menghalangi jalan kereta Qixuan, terparkir sebuah kereta giok putih yang ditarik oleh dua ekor Kuda Bertanduk Salju. Dari dalam kereta itu, memancar hawa dingin yang luar biasa pekat, membekukan embun di udara menjadi serpihan es kecil yang melayang jatuh.
"Putri Yan Ling," Qixuan bergumam pelan, seulas senyum licik tersungging di bibirnya. "Dia jauh lebih tidak sabaran dari dugaanku."
Qixuan menendang pintu kereta kudanya hingga terbuka. Ia melangkah keluar dengan gaya gontai, berpura-pura sedang meminum sisa arak dari sebuah guci pualam kecil.
"Hei! Siapa yang berani menghalangi jalan pulangku?!" teriak Qixuan, suaranya membelah kesunyian malam. "Apakah kalian tidak tahu kereta siapa yang kalian hentikan? Minggir, atau aku akan membeli jembatan ini dan menjadikannya kandang babi!"
Tirai kereta giok putih perlahan terbuka. Sesosok wanita anggun melangkah keluar, diiringi oleh seorang tetua bungkuk yang memancarkan aura setingkat Komandan Bumi.
Putri Yan Ling memiliki kecantikan yang membuat bulan purnama terasa redup. Kulitnya seputih pualam, matanya sedingin danau beku di utara. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru es, memberikan kesan suci dan tak tersentuh. Sebagai putri jenius dari Istana Naga Langit, ia biasa ditatap dengan rasa hormat dan puja-puji.
Alih-alih bersujud, Qixuan justru bersiul panjang dengan nada menggoda.
"Wah, wah... Aku mengira ada bidadari yang jatuh dari langit, ternyata Yang Mulia Putri Yan Ling," Qixuan membungkuk asal-asalan, tatapannya menyapu tubuh sang putri dengan kelancangan seorang hidung belang sejati. "Mencegatku di tengah malam yang sepi begini... Apakah Yang Mulia akhirnya menyadari ketampananku dan ingin mengajakku minum teh berdua di Paviliun Teratai Malam?"
Udara di sekitar jembatan mendadak turun beberapa derajat. Beberapa prajurit perak menghunus pedang mereka, geram melihat junjungan mereka dilecehkan secara lisan oleh seorang pemuda tanpa meridian.
Tetua bungkuk di samping Yan Ling mendengus kasar. "Cang Qixuan! Jaga mulut kotor-mu! Berlututlah saat berhadapan dengan anggota keluarga kerajaan, atau aku akan mematahkan kedua kakimu!"
"Oh? Mematahkan kakiku?" Qixuan tertawa terbahak-bahak, berjalan terhuyung mendekati mereka. Mo Chen mengikutinya dalam diam, tangannya bersiap di gagang pedang. "Silakan saja! Patahkan kakiku sekarang juga. Besok pagi seluruh ibukota akan tahu bahwa Putri Kesayangan Kaisar mengeroyok cucu Jenderal Besar yang sedang sakit parah di tengah jalan. Wah, sungguh kisah kepahlawanan yang luar biasa untuk dicatat oleh ahli sejarah!"
Wajah Yan Ling sedikit menggelap. Ia tahu pemuda di depannya ini tidak tahu malu, seakan kebal terhadap segala bentuk intimidasi martabat.
"Cukup omong kosongnya, Cang Qixuan," suara Yan Ling terdengar semerdu denting lonceng perak, sangat jernih dan sarat akan otoritas mutlak. "Aku tidak punya waktu bermain-main dengan pria tidak berguna sepertimu. Serahkan kotak giok berisi Akar Nadi Naga itu. Benda itu bukan untuk orang fana sepertimu."
Qixuan pura-pura terkejut, memeluk kotak giok di balik jubahnya dengan gerakan berlebihan. "Yang Mulia meminta barang milikku? Benda ini kubeli dengan lima puluh ribu emas asli! Aku berencana merebusnya menjadi sup tonik untuk mengobati penyakit lemah syahwatku. Bagaimana bisa aku memberikannya begitu saja?"
Mendengar kata 'lemah syahwat', para prajurit pengawal hampir tersedak ludah mereka sendiri. Benar-benar sampah tanpa harga diri!
"Tuan Muda Cang, kesabaranku memiliki batas," mata Yan Ling menyipit, memancarkan niat membunuh yang perlahan bocor keluar. "Klanmu saat ini sedang berada di ujung tanduk. Ayahanda Kaisar bisa saja mencabut sisa gelar kebangsawananmu besok pagi. Serahkan akar itu, dan aku akan menjamin keselamatan ibumu di istana. Ini bukan permintaan. Ini adalah penawaran hidup dan mati."
Suasana seketika berubah tegang. Ancaman Yan Ling sangat nyata. Menggunakan pengaruhnya di telinga Kaisar, nasib keluarga Cang memang bisa dipelintir dengan mudah.
Qixuan menghentikan tawa bodohnya. Ia menatap lurus ke mata Yan Ling. Di bawah tatapan itu, Yan Ling entah kenapa merasakan secercah hawa dingin merayap di tengkuknya. Pandangan pria hidung belang ini... terasa sangat kuno, seolah menembus langsung ke dasar jiwanya.
"Menjamin keselamatan ibuku?" Qixuan bergumam pelan, nada suaranya berubah menjadi sedikit lebih berat, menghilangkan kesan mabuknya sejenak. "Yang Mulia Putri terlalu baik hati. Sangat disayangkan..."
Qixuan tiba-tiba mengeluarkan kotak giok tersebut dan membukanya lebar-lebar di depan wajah Yan Ling. Pendaran keemasan langsung menerangi jembatan batu.
"Sangat disayangkan, akar ini terlalu besar untuk kurebus sekaligus. Jika Yang Mulia sangat menginginkannya, aku bisa membaginya. Asalkan..." Qixuan menyeringai licik, kembali ke persona bajingannya. "...Yang Mulia mau memberiku Kompas Bintang milikmu sebagai jaminan."
Tetua bungkuk itu melotot marah. "Lancang! Kompas Bintang adalah artefak spiritual kelas Bumi milik Yang Mulia! Bagaimana bisa ditukar dengan akar tanaman?!"
"Hanya setengah akar," ralat Qixuan santai. "Lagi pula, aku dengar Yang Mulia membutuhkan akar ini untuk menyembuhkan 'penyakit rahasia' Kaisar. Setengah akar saja sudah cukup untuk menekan racun dingin di jantungnya selama lima tahun. Jika Yang Mulia tidak mau, silakan suruh pengawal tua ini membunuhku sekarang, lalu ambil mayatku beserta akarnya. Pasti sangat seru."
Yan Ling terdiam. Pikirannya berpacu. Ia menatap pemuda di depannya dengan saksama. Cang Qixuan jelas-jelas tidak bisa bela diri, meridiannya mati. Tingkah lakunya menjijikkan. Penawarannya sungguh kurang ajar. Mustahil dia tahu soal racun dingin Kaisar, itu pasti hanya tebakan asal dari desas-desus.
Menyadari ia tidak mungkin membunuh cucu Jenderal Besar di tengah jalanan ibukota secara terbuka—terutama dengan situasi pengadilan yang sedang panas—Yan Ling mengambil keputusan. Ia melepaskan sebuah kompas tembaga kuno dari pinggangnya, lalu melemparnya ke arah Qixuan.
"Potong akarnya sekarang," perintah Yan Ling dingin.
Qixuan menangkap kompas itu dengan tangan kirinya. Menggunakan tangan kanannya, ia mematahkan sepertiga bagian Akar Nadi Naga tersebut tanpa menggunakan pisau, melainkan murni dengan sedikit aliran qi yang disamarkan dengan kekuatan fisik kasarnya. Ia melempar potongan kecil itu ke arah sang tetua bungkuk.
"Terima kasih atas bisnisnya, Yang Mulia. Kapan-kapan mampirlah ke rumahku, kita bisa membahas anatomi tubuh manusia lebih lanjut," Qixuan mengedipkan mata, berbalik arah dan melompat masuk kembali ke keretanya.
Yan Ling menggenggam potongan akar itu. Energinya memang sangat pekat. Ia mendengus jijik menatap kereta Qixuan yang mulai menjauh.
"Tuan Putri, haruskah saya mengikuti mereka diam-diam?" tanya tetua bungkuk itu.
"Tidak perlu. Biarkan si sampah itu merasa menang. Kompas Bintang itu telah kupasang segel pelacak roh. Kita bisa memantau pergerakannya dari jauh," jawab Yan Ling, kembali memasuki keretanya. "Kita kembali ke Istana. Ayahanda membutuhkan obat ini segera."
Di dalam keretanya yang terus melaju, Qixuan memegang Kompas Bintang tersebut dengan senyum tipis. Ia mengalirkan secercah qi gelap dari Seni Pernapasan Menelan Langit ke dalam artefak itu. Bunyi retakan halus terdengar. Segel pelacak roh milik sang putri hancur tanpa sisa, dimakan habis oleh energi Qixuan yang sangat buas.
"Menukar sepertiga akar dengan artefak navigasi kelas Bumi yang bisa menembus ilusi pelindung perbatasan," Qixuan terkekeh pelan. "Putri kecil itu benar-benar mengira dia yang memegang kendali. Mo Chen, perintahkan bagian logistik Jaring Bayangan. Malam ini, aku ingin melihat peta jalur suplai militer rahasia Istana di atas mejaku."
Memasuki tengah malam, Kediaman Cang kembali tenggelam dalam kesunyian mematikan. Hanya rintik air dari dedaunan sisa hujan yang memecah hening.
Di ruang rahasia bawah tanah, Qixuan bergegas mendekati ranjang batu es tempat kakeknya berbaring. Wajah Jenderal Besar Cang Baotian kini jauh lebih rileks, napasnya lebih teratur berkat qi pelindung yang ditanamkan Qixuan sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, Qixuan duduk bersila di hadapan kakeknya. Ia mengeluarkan sisa potongan besar Akar Nadi Naga dari kotak gioknya. Aroma tanah purba dan kehidupan yang sangat kuat langsung memenuhi ruangan sempit tersebut.
Dengan menggunakan kedua telapak tangannya, Qixuan mengapit akar tersebut. Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya.
"Pusaran Pertama, Buka. Pusaran Kedua, Buka."
Di dalam tubuhnya, dua pusaran energi yang berada di dada dan perut bagian bawah berputar sinkron. Daya isap yang sangat kuat muncul dari telapak tangannya. Alih-alih menyerap energi untuk dirinya sendiri, Qixuan bertindak sebagai penyaring hidup. Ia menarik sari pati murni dari akar tersebut, menahan elemen tanah yang keras dan agresif di dalam dantiannya, sembari memisahkan elemen kehidupan (vitalitas murni) untuk dialirkan keluar.
Akar keemasan di antara tangannya perlahan-lahan mencair, berubah menjadi setetes cairan emas kental yang mengambang di udara.
Qixuan menggerakkan jarinya, menuntun tetesan emas tersebut melayang tepat di atas dada kakeknya, langsung menembus kulit dan meresap ke dalam jantung yang rusak akibat racun Bayangan Istana.
Seketika, tubuh sang Jenderal tersentak pelan. Urat-urat hitam di sekitar leher dan wajahnya yang menandakan penyebaran racun mulai menyusut, memudar bagai tinta yang tersapu air jernih. Detak jantungnya yang sebelumnya lemah kini memukul rongga dada bagai genderang perang yang baru dibangkitkan.
Cang Baotian membuka matanya dengan tarikan napas panjang. Sepasang mata harimau tua itu kembali memancarkan cahaya kehidupan. Ia mencoba duduk, merasakan kekuatan di dalam tulangnya telah pulih hingga mencapai tujuh puluh persen dari masa puncaknya. Saluran jantungnya yang nyaris hancur telah dijahit kembali oleh energi akar spiritual tersebut.
Sang jenderal menatap cucunya yang masih duduk bersila. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi pemuda itu.
"Xuan'er..." panggil Cang Baotian serak, suaranya mengandung haru dan kebanggaan yang menggunung.
"Jangan bergerak, Kakek," ucap Qixuan tanpa membuka matanya. Wajahnya sedikit berkedut menahan sakit. "Sisa racun dingin masih ada di dalam sumsum tulangmu. Untuk sementara, Kakek harus tetap berpura-pura lumpuh. Jika Istana mengetahui kau telah sembuh, mereka akan mempercepat rencana pembunuhan berikutnya."
"Bagaimana denganmu?" Cang Baotian menyadari adanya fluktuasi energi yang tidak wajar di dalam tubuh cucunya. Sisa energi dari Akar Nadi Naga kini mengamuk di dalam sistem meridian Qixuan yang kosong, mengancam akan menghancurkan organ dalamnya jika tidak segera dikendalikan.
"Malam ini..." napas Qixuan tersengal, "aku akan membangun fondasiku."
Qixuan tidak menunda lagi. Ia memutus aliran qi ke kakeknya, membiarkan seluruh fokusnya tertuju pada bagian tengah perutnya. Dua pusaran energinya meraung, mencoba menjinakkan elemen tanah purba yang baru saja diserap.
Seni Pernapasan Menelan Langit bukanlah teknik kultivasi biasa; ini adalah teknik pencurian dari langit itu sendiri. Elemen tanah di dalam akar tersebut melawan, menabrak dinding perut Qixuan dengan kekuatan setara pukulan gajah raksasa.
Darah segar merembes dari sudut bibir Qixuan. Tulang rusuknya berderak, seakan hampir patah dari dalam. Namun, tekad pemuda itu jauh lebih keras dari baja. Di kehidupan sebelumnya, ia telah mengalami kehancuran yang jauh lebih menyakitkan. Lima tahun dihina, dianggap sampah, dipandang rendah oleh dunia... semua itu menjelma menjadi bilah mental yang memotong habis rasa sakit fisiknya.
"Pusaran Ketiga... Titik Bumi. Terbentuklah!"
Qixuan memaksakan tangannya membentuk segel naga turun. Energi biru kelam miliknya menelan habis sisa amukan elemen emas, menekannya secara brutal ke satu titik di bawah pusar.
*BOM!*
Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam tubuh Qixuan, menggetarkan debu di langit-langit ruang rahasia. Gelombang qi melingkar menyapu ruangan, membuat jubah kakeknya berkibar kencang.
Di bawah kulit perutnya, kini terbentuk pusaran ketiga yang bercahaya keemasan gelap. Tiga pusaran itu—dada, perut atas, dan perut bawah—kini terhubung oleh satu benang energi tipis, menciptakan siklus tanpa akhir yang jauh lebih kuat daripada meridian manusia normal.
Qixuan membuka matanya. Pupilnya kini memancarkan pendar emas samar yang langsung menghilang dalam kedipan mata. Tingkat kultivasinya meledak naik menembus batasan.
Dari tingkat Pengumpulan Qi tahap akhir, langsung merobek tabir dan masuk ke ranah Pembentukan Fondasi (Foundation Establishment) tahap awal. Kulitnya mengelupas perlahan, digantikan oleh lapisan kulit baru yang seputih giok namun sekeras baja ringan. Panca inderanya menajam sepuluh kali lipat; ia kini bisa mendengar kepakan sayap nyamuk di luar manor dalam jarak seratus meter.
Cang Baotian menatap cucunya dengan mulut sedikit terbuka. Meraih tingkat Pembentukan Fondasi di usia dua puluh tahun, apalagi dengan meridian yang hancur... jenius seperti ini bahkan belum pernah tercatat dalam sejarah ribuan tahun Benua Surgawi.
"Luar biasa," gumam Jenderal Besar tersebut. "Jika ayahmu masih hidup melihat ini, dia pasti akan tertawa hingga air matanya habis."
Qixuan berdiri, membersihkan sisa darah dari bibirnya. Ia mengepalkan tangannya ringan, merasakan tenaga pukulan seberat sepuluh ribu kati mengalir di tulangnya. Walaupun ia baru berada di Pembentukan Fondasi tahap awal, kemurnian energinya memungkinkan dirinya untuk bertarung secara seimbang melawan kultivator Pembentukan Fondasi tahap akhir tanpa kesulitan berarti.
"Kekuatan ini hanya cukup untuk bertahan dari serangan anjing-anjing pengawal, Kakek. Untuk menghancurkan harimau di atas singgasana, kita masih butuh lebih banyak keping catur."
Qixuan melangkah menuju rak senjata di sudut ruangan, mengambil sebuah topeng perunggu setengah wajah, dan mengenakannya. Auranya seketika berubah. Dari seorang pemuda arogan yang gemar foya-foya, menjelma menjadi sosok tanpa emosi yang memerintah dari dalam bayangan.
"Beristirahatlah, Kakek. Besok, fajar menyingsing membawa masalah baru. Aku harus menemui seseorang."
Di luar ruang bawah tanah, fajar mulai mewarnai langit timur dengan semburat ungu dan jingga. Mo Chen sudah menunggu di halaman belakang, mengenakan jubah penyamaran pedagang keliling. Di sisinya ada tiga kuda cepat bermata merah, kuda ras iblis yang bisa berlari tanpa henti selama tiga hari.
"Tuan Muda," Mo Chen menunduk hormat melihat kedatangan Qixuan. Ia sedikit terkejut merasakan perubahan aura di tubuh tuannya, sangat padat dan menekan. Ia menyadari tuannya baru saja menerobos batas.
"Kirimkan pesan pada Lu Zhen," perintah Qixuan seraya menaiki salah satu kuda iblis tersebut. "Katakan padanya, hari ini di sidang istana, aku ingin dia mengusulkan pemotongan anggaran perawatan kuda perang kekaisaran dengan alasan penghematan nasional untuk menutupi kerugian korupsi Klan Pei. Jika dia berhasil, aku akan menghancurkan setengah dari sisa surat hutang anaknya."
Mo Chen mencatat pesan itu dalam ingatannya. "Lalu, kita akan pergi ke mana sekarang, Tuan Muda?"
"Ke Lembah Gagak Hitam, di perbatasan kota. Tempat para kultivator buangan dan buronan bersembunyi," Qixuan memasang tudung jubahnya, menyembunyikan topeng perunggunya dari cahaya fajar. "Dengan dihentikannya uang dari istana, kas klan kita perlahan mulai menipis, bahkan dari cadangan Jaring Bayangan. Kita butuh sapi perah yang baru. Kudengar di lembah itu bersembunyi seorang Alkemis Sinting bernama Gu Lie yang diburu oleh Menara Obat Surgawi karena eksperimen terlarangnya."
"Gu Lie sangat berbahaya, Tuan Muda. Pil yang ia buat sering kali membunuh peminumnya. Dia tidak memiliki etika moral sama sekali."
"Tepat sekali," seringai tipis muncul di balik topeng Qixuan. "Orang tanpa moral adalah senjata terbaik. Aku akan memberinya dana tanpa batas untuk melakukan eksperimen gilanya, dan sebagai gantinya, dia akan memproduksi racun dan obat penyiksa rahasia untuk melumpuhkan tulang punggung pasukan Mu Chenghai di perbatasan sana. Mari kita lihat, apakah wakil jenderal pengkhianat itu bisa mempertahankan kesetiaan pasukannya saat setengah dari prajurit elitnya mendadak lumpuh massal tanpa alasan medis."
Qixuan menarik tali kekang kudanya. Kuda iblis bermata merah itu meringkik pelan, mengembuskan asap tipis dari hidungnya.
Di bawah langit pagi ibukota Jinling yang sibuk merayakan kejatuhan Klan Pei, tidak ada yang menyadari bahwa monster sejati baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang, siap merajut jaring sutra beracun yang kelak akan mencekik seluruh benua. Babak kedua telah dimulai, dan setiap keping emas yang akan dibuang oleh Tuan Muda Cang kini berlapis darah musuh-musuhnya.