NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Tak Lagi Sama

Ketika Cinta Tak Lagi Sama

Status: tamat
Genre:Dosen / Selingkuh / Tamat
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Adra

Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.

Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?

Ig deemar38

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKADAR KABAR

Sepanjang hari, tidak ada satu pun pesan yang masuk di antara mereka.

Purbaya sempat beberapa kali membuka ponselnya, lalu menutupnya lagi. Ada niat untuk mengetik sesuatu, tapi selalu urung.

Di sisi lain, Eva juga tidak melakukan hal yang berbeda.

Ia sampai di Surabaya, menjalani agendanya, tanpa merasa perlu memberi kabar.

Seolah-olah, jarak itu bukan hanya soal kota--tapi juga pilihan.

Baru ketika malam mulai turun, Purbaya akhirnya mengalah pada pikirannya sendiri.

Ia membuka ponsel, menatap layar beberapa detik, lalu mengetik.

Purbaya:

Sudah sampai?

Jawaban datang cukup cepat.

Eva:

Sudah.

Singkat. Tidak lebih.

Purbaya membaca, lalu kembali mengetik.

Purbaya:

Nginep di mana?

Eva:

Hotel dekat lokasi meeting.

Tidak ada tambahan apa pun.

Percakapan terasa seperti dua orang yang sedang berbicara karena perlu, bukan karena ingin.

Purbaya menghela napas pelan, jemarinya masih menggantung di atas layar sebelum akhirnya menulis lagi.

Purbaya:

Jaga diri.

Balasan kali ini sedikit lebih lama.

Eva:

Iya.

Hening kembali.

Namun tak lama kemudian, pesan baru muncul dari Eva.

Eva:

Noya gimana?

Purbaya menatap kalimat itu.

Bukan menanyakan kabar tentang dirinya.

Bukan bercerita tentang perjalanannya.

Bukan juga tentang mereka.

Hanya tentang Noya.

Ia mengetik balasan singkat, menjelaskan keadaan anak mereka.

Setelah itu, tidak ada lagi yang dikatakan.

Percakapan berhenti begitu saja--tanpa penutup, tanpa rasa perlu untuk melanjutkan.

Seolah keduanya sama-sama tahu, tidak ada lagi yang benar-benar ingin dibicarakan.

Beberapa menit setelahnya...

Ponsel Purbaya bergetar di atas meja.

Satu pesan masuk.

Dari Alya.

Ia membukanya tanpa banyak pikir.

Alya:

Mas, aku mau pamit. Malam ini aku balik ke Jakarta. Makasih ya... untuk semuanya.

Purbaya membaca pesan itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Sederhana.

Tapi entah kenapa... terasa hangat.

Di saat yang sama, percakapannya dengan Eva beberapa menit lalu masih terasa dingin di kepalanya.

Kontras.

Tanpa sadar, jemarinya mulai bergerak.

Purbaya:

Jam berapa?

Balasan datang cepat.

Alya:

Pesawat malam. Sebentar lagi ke bandara.

Purbaya terdiam sejenak.

Seharusnya cukup sampai di situ.

Tidak perlu ikut campur.

Tidak perlu melakukan apa-apa.

Namun perhatian kecil dari Alya--ucapan terima kasih yang sederhana itu--justru terasa lebih dari cukup untuk mengusik pikirannya.

Tanpa memberi waktu untuk berpikir lebih jauh, ia langsung mengetik lagi.

Purbaya:

Tunggu. Aku antar.

Beberapa detik.

Tidak langsung dibalas.

Lalu--

Alya:

Serius?

Purbaya:

Iya. Tunggu aku.

Pesan itu terkirim.

Dan keputusan itu... sudah diambil.

Purbaya langsung berdiri, meraih kunci mobilnya.

Langkahnya cepat keluar dari ruang kerja.

“Mbok!” panggilnya.

Mbok Sri yang sedang di dapur segera menyahut, “Inggih, Pak?”

“Saya keluar sebentar,” kata Purbaya singkat. “Noya tolong dijaga dulu.”

Mbok Sri sedikit heran, tapi tetap mengangguk.

“Inggih, Pak.”

Tanpa penjelasan lebih lanjut, Purbaya sudah berjalan menuju pintu.

Dalam benaknya, tidak ada lagi ruang untuk mempertimbangkan.

Yang ada hanya satu hal--ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu.

*

*

Jalanan malam itu cukup lengang.

Lampu-lampu kota memantul di kaca depan, bergeser pelan mengikuti laju mobil Purbaya.

Alya duduk di kursi penumpang.

Diam.

Sesekali ia melirik ke arah Purbaya, tapi tidak langsung bicara.

Purbaya sendiri fokus ke jalan.

Tangannya mantap di setir, tapi pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di sana.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Akhirnya Alya yang memecahnya.

“Kamu nggak biasanya kayak gini,” katanya santai.

Purbaya melirik sekilas.

“Kayak gimana?”

“Datang sendiri, jemput aku... terus diam aja.”

Purbaya tersenyum tipis.

“Aku nggak tahu harus ngomong apa.”

Alya mengangguk pelan, seolah memahami.

“Atau lagi mikirin istrimu?”

Pertanyaan itu tidak dijawab.

Namun dari cara Purbaya menghela napas, Alya sudah tahu.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Mas... kamu nggak capek?”

Purbaya mengernyit.

“Capek kenapa?”

“Capek karena jadi orang yang selalu nahan diri.”

Kali ini Purbaya tidak langsung merespons.

Alya menoleh, menatapnya lebih lama.

“Di rumah kamu harus jadi suami yang baik. Di depan orang lain kamu harus kelihatan sempurna,” lanjutnya pelan.

“Padahal kamu sendiri tahu... kamu nggak bahagia.”

Kalimat itu tepat.

Seolah menyentuh sesuatu yang selama ini Purbaya rasakan.

Mobil tetap melaju.

Namun suasana di dalamnya berubah lebih berat.

Di Bandara.

Mobil berhenti di area keberangkatan.

Suara pengumuman terdengar samar dari dalam gedung.

Purbaya mematikan mesin.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Alya melepas sabuk pengamannya, tapi tidak langsung turun.

Ia menoleh ke arah Purbaya.

“Harusnya kamu nggak usah repot-repot,” katanya pelan.

Purbaya menggeleng kecil.

“Gak apa-apa.”

Alya tersenyum tipis.

“Alya,” katanya pelan. “Aku capek, cuma kamu jadi tempat pelarian aku.”

“Mas...”

Jeda sejenak. Seolah ragu untuk mengatakan.

“Aku nggak minta kamu ninggalin istrimu sekarang,” lanjutnya. “Tapi setidaknya... kamu harus jujur sama diri kamu sendiri.”

Purbaya tidak menjawab.

Tidak juga membantah.

Alya membuka pintu mobil.

Namun sebelum turun, ia berhenti.

“Kalau suatu saat kamu benar-benar butuh aku...” katanya pelan, “datanglah-- tapi bukan karena kamu lari.”

Ia keluar.

Menutup pintu.

Purbaya tetap di dalam mobil.

Matanya mengikuti langkah Alya yang semakin menjauh.

Namun anehnya... kali ini ia tidak langsung merasa lega.

Justru sebaliknya.

Ada sesuatu yang tertinggal, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri--sebenarnya, yang ia cari itu... Alya, atau sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di rumah?

*

*

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi.

Tidak ada lagi suara Alya di sampingnya.

Purbaya memarkirkan mobil di halaman rumah.

Lampu ruang tengah masih menyala.

Mbok Sri mungkin belum tidur.

Ia masuk tanpa banyak suara, meletakkan kunci di meja, lalu berjalan pelan ke dalam.

Baru saja ia hendak menuju kamar, ponselnya kembali bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat langkahnya terhenti.

Ibunya.

Purbaya mengangkat panggilan itu.

“Iya, Bu.”

“Pur, kamu lagi di rumah?” suara di seberang terdengar hangat, khas seorang ibu.

“Iya, Bu. Baru sampai.”

“Ibu sama kakakmu mau ke sana besok.”

Purbaya langsung terdiam sesaat.

“Besok?” ulangnya pelan.

Iya,” jawab ibunya. “Dari kemarin Ibu kepikiran sejak kamu pulang dari Jerman, Ibu belum sempat ke tempatmu.”

“Ada saja yang menghalangi,” lanjut sang ibu ringan. “Sekarang mumpung Ibu dan Kakakmu ada waktu.

Purbaya terdiam.

"Kakakmu mumpung libur beberapa hari. Kan besok itu hari kejepit nasional, jadi sekalian saja nemenin Ibu,” jawab ibunya santai."

“Dari Cirebon, paling sore sudah sampai.”

Purbaya mengusap pelan dahinya.

“Siapa saja yang ikut, Bu?”

“Ibu, Mbak Rina, sama Mbak Ningsih,” jawabnya. “Sekalian mau lihat Eva, sama Noya juga.”

Nama itu disebut begitu saja.

Tanpa tahu keadaan sebenarnya.

Purbaya menelan pelan.

“Iya, Bu...”

“Kasih tahu istrimu. Biar nggak kaget.”

“Iya.”

Percakapan tidak lama.

Setelah telepon ditutup, Purbaya tetap berdiri di tempatnya.

Diam.

Besok.

Ibunya datang.

Bersama kedua kakaknya.

Dan Eva tidak ada di rumah.

Purbaya mengembuskan napas panjang.

Dari arah dapur, Mbok Sri muncul.

“Pak, sudah pulang?” tanyanya pelan.

Purbaya menoleh.

“Iya, Mbok.”

Mbok Sri memperhatikan wajah majikannya sekilas.

“Ada apa, Pak?”

Purbaya menggeleng kecil.

“Ibu dan Kakak saya besok datang dan nginep di sini.”

Mbok Sri sedikit terkejut.

“Lho... ndadak, Pak?”

“Iya.”

“Mbok,” panggilnya.

“Inggih, Pak?”

“Besok masak agak banyak, ya,” katanya. “Ibu sama kakak-kakakku. Kemungkinan keponakan juga ikut.”

Mbok Sri langsung mengangguk.

“Inggih, Pak. Berarti tambah lauk nggih?”

“Iya. Yang sederhana saja, tapi cukup.”

Ia berhenti sebentar, seperti baru mengingat sesuatu.

“Sama tolong siapkan beberapa kamar. Bersihkan semua.”

“Inggih, Pak.”

Mbok Sri mencatat dalam ingatannya, lalu menatap Purbaya lagi.

“Bu Eva... sudah dikabari, Pak?”

Pertanyaan itu membuat Purbaya terdiam sesaat.

“Iya... nanti,” jawabnya singkat.

Mbok Sri mengangguk pelan.

Ia tidak bertanya lebih jauh.

Namun dari raut wajah majikannya, ia tahu--ada sesuatu yang belum beres.

Purbaya menarik napas panjang.

Besok rumah ini akan ramai.

Ramai oleh keluarga.

Ramai oleh pertanyaan.

Ia harus memastikan semuanya terlihat baik-baik saja.

1
Yati Susilawati
tak rela.. tamat secepat ini😌
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
Ilfa Yarni
yah ending deh ga ketemu irgi lagi dong
Ilfa Yarni
maaf ya Thor ga suka lihat Purbaya bahagia aku lebih suka lihat eva atau irgi yg bahagia maaf egois hehe
Dee: Makasih ya, Kak udah jujur dan emosional banget baca cerita ini! Berarti karakternya berhasil menyampaikan rasanya ke pembaca. Setiap karakter punya porsinya masing-masing kok, tetap pantau terus dinamika mereka ya..
total 1 replies
Ilfa Yarni
nikmati hukuman atas perbuatanmu ya Purbaya berubahlah km kpd yg lbh baik
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
Ilfa Yarni
udah ga papa irgi klo budi comel toh kenyataannya km mangencintai eva kan ga ada salahnya toh tetap bersikap tegas pd karyawanmu Aku sangat senang kalian akhirnya saling mencintai dan tinggalelangkah ke jenjang yg lbh serius yaitu menikah
Daniah
Aku cemburu💔
Wahyuni Abuzar
mau pake bangeet mas
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
Dee: Hha.. ko berasanya ke aku, Mas😁🫶
total 1 replies
Ilfa Yarni
bagus Purbaya aku sedikit senang liat kejujuranmu
Ilfa Yarni
aaaaaaa so sweet akhirnya irgi mengungkapkan perasaannya pd eva ini yg aku tunggu tunggu Terima Terima ya eva km pantas bahagia dgn orang yg tepat aku tunggu acara dan hari pernikahan kalian
Dee: Siapa sih yg gk mau sama cowok paket lengkap begini😆💖
total 1 replies
Anonim
dih goblok
Ilfa Yarni
dia buka bengkel ya untuk membantu orang2 yg ga punya pekerjaanlah irgi mah ga seperti km punya jabatan sedikit bertingkah selingkuh irgi adalah laki2 yg bertanggung jwb dan sangat baik penyayang pokoknya byk nilai plusnya sebagai laki2 udah gitu kaya dan rendah hati
Wahyuni Abuzar
bengkel yg di kelola irgi itu hanya untuk kamuflase pur..biar g ada penjilat dan perempuan pecinta harta yg nge deketin irgi 🤣🤣
Daniah
mantap
Ilfa Yarni
ya udah km jadian aja sama rania dia suka lho sama km pur aku ingin lihat eva dan irgi bersatu krn aku suka tipe laki seperti irgi klk laki tipe sepertimu dikasih aku jg ga mau sifatnya ga bagus udah gitu suka selingkuh tipe sombong klo lg diatas klo irgi nilai plusnya byk banget eva sangt beruntung nanti klo jadian sama irgi
Yati Susilawati
akhirnya kebohongan harus dibayar mahal..
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
Ilfa Yarni
baguslah dN bagaimana naIbmu nanti itu adalah konsekwensi dr perbuatanmu terimalah dgn lapang dada
Yati Susilawati
sudah kumaafkan... tapi izinkan aku menyayangi noya dan eva.. 🤣🤣🤣

bgm mas pur.. boleh😄😄
Ilfa Yarni
lapor polisi irgi biar dia benar2 sadar dgn apa yg tlah dia lakukan dan sebagai efek jera buat kdpnnya yg salah hr dihukum jgn keenakan cuma dimaafkan saja
Ilfa Yarni
oh ya Thor irgi namanya yg bener siapa irgi pratama atau irgi ardiansyah
Ilfa Yarni: kan aku suka ceritanya aku klo baca pake hati jadi ingatlah
total 2 replies
Ilfa Yarni
aku juga penasaran apakah irgi mau ketemu Purbaya tp feeling aku sih mau up kg donk thor
Dee: mudah2an bisa up satu bab lg ya kak😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!