NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua kabar

Sebuah mobil mewah terparkir sempurna di halaman rumah sepi. Raynor diam tak bergerak, memandang gadis yang duduk pada kursi penumpang di sampingnya.

"Cepat turun, masih ada waktu untuk istirahat sebelum makan malam,"

"Baik, kak" Vivian mengangguk lemah.

Raynor menatapnya sejenak, seakan ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun urung. Ia tahu pekerjaannya belum selesai. "Aku harus kembali ke kantor. Masih ada urusan."

"Iya, Kak."

Pandangannya mengikuti laju mobil yang kian menghilang, lantas Vivian melangkah masuk sendirian.

Rumah itu sunyi, senyap, luas dan dingin. Ia tak lagi mempedulikan apapun, rasa lelah menuntunnya untuk segera menemukan tempat untuk rebah.

Ia menjatuhkan diri pada pembaringan yang nyaman. Dalam sekejap, ketenangan mulai menggenggam. Matanya perlahan terpejam, terbuai kantuk yang tak tertahankan.

Sampai hari menginjak petang. Membangunkan Vivian dari tidur singkatnya. Kamarnya gelap, tak ada cahaya menyapa, hanya kegelapan yang menguasai panca Indra.

Suara deru mobil terdengar samar ketika gadis itu menapaki tangga. Suaranya semakin jelas memecah keheningan. Pintu terbuka, sepasang kaki melangkah masuk. Bukan satu, melainkan dua.

"Sayang... dingin sekali di luar..." suara renyah itu terdengar jelas, nadanya manja mendayu-dayu.

Raynor berjalan di sampingnya, tampak lelah namun tetap menahan diri. "Sudah kubilang, istirahatlah di rumah sendiri."

"Tak apa, biar besok bisa lebih awal. Kalo dari sini jaraknya lebih dekat, iya kan sayang" bujuk Stela tak mau kalah. Tangannya melingkar penuh posesif pada lengan pria itu.

Raynor menghela napas panjang. Tak tega menolaknya lagi. "Terserah saja."

Suara mereka perlahan menjauh, namun sayup-sayup terdengar hingga ke lantai atas.

Vivian melangkah perlahan, menapaki anak tangga dengan ponsel di tangan. Dadanya terasa sesak, entah karena sakit yang belum sembuh, atau karena rasa perih yang tiba-tiba menyusup ke hatinya.

Di bawah sana, suara tawa renyah Stela masih terdengar sesekali, memecah kesunyian malam. Sementara Raynor... hanya terdiam.

Ia berhenti sejenak, menatap layar yang menyala karena panggilan masuk dari ayahnya.

"Halo, Ayah..."

"Hallo sayang... Ini ibu, pake ponsel ayah" suara Ibu Dina terdengar riang dari seberang.

Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya tentang kabar masing-masing dan sebuah berita yang mengejutkan.

Mata Vivian seketika membulat lebar. Rasa lelah dan pusing yang tadi mendera seketika lenyap begitu saja, seolah tak pernah ada. Wajahnya berubah cerah seketika.

"Benarkah, Bu?"

"Tentu saja benar. Siap-siap ya sayang, besok sore berangkatnya atau ambil penerbangan malam, kata Ayah. Tiketnya nanti biar kakakmu yang urus, untuk masalah lainnya sudah kami siapkan di sini,"

Panggilan berakhir, tapi Pacuan hebat di dadanya belum berhenti juga. Vivian merasa sehat seketika.

Ia melompat sampai menuruni dua anak tangga sekaligus, tak peduli keselamatannya.

"Ya ampun, sampai lupa pakai baju..." ia membekap mulutnya, dan kembali melesat cepat ke kamarnya. Ia lupa, hanya memakai tanktop tipis, yang akan sangat berbahaya jika di lihat kakaknya.

Langkahnya tergesa menyusuri lorong lantai dua. Namun ia mendadak berhenti sejenak. Tak jauh di sana, di depan pintu kamarnya sendiri, berdiri Satria.

Pria itu meletakkan ponsel di telinga. Seperti tengah bertelepon, suaranya rendah, wajahnya tampak tegang, sesekali melirik ke kanan dan kiri. Terlihat... mencurigakan.

Vivian mengernyit pelan, namun tetap melewatinya. Dengan cepat memakai baju apa saja yang bisa menutupinya, lantas kembali turun menumui kakaknya di bawah.

Ia duduk tenang di meja makan. Raynor muncul lebih dulu, diikuti Stela yang berjalan beriringan dengannya. Mereka berdua tampak hendak menaiki tangga.

"Ada apa?" tanya Raynor, menyadari tatapan Vivian yang tampak mencurigakkan.

Vivian mengangkat ponselnya sedikit, wajahnya kembali berseri. "Ibu barusan menelepon. Mengajak kami untuk menyusul liburan ke Bali. Besok sore, tapi harus kerja dulu kata ayah."

Wajah Stela seketika berbinar. "Ke Bali? Aku ikut!" Ia menatap Raynor dengan mata penuh harap. "Sayang, aku ikut saja ya? Aku belum pernah ke Bali bersamamu."

Namun Raynor menggeleng pelan, jawabannya tegas. "Tidak bisa. Besok ada jadwal pemotretan yang sudah lama kamu tunggu-tunggu. Kamu sendiri yang menyebutnya tak boleh diundur."

Wajah Stela seketika layu. Bibirnya mengerucut tak rela. "Tapi... pemotretan itu bisa diatur ulang..."

"Sudah disepakati jauh hari sebelumnya," potong Raynor tenang namun tak terbantahkan. "Tidak mungkin kamu batalkan begitu saja."

Stela terdiam, gigi-giginya terkatup rapat menahan rasa kesal yang mendadak menyergap.

Sementara di ujung tangga, Satria perlahan menyembunyikan ponselnya, lalu menatap Vivian dengan senyum yang tak sepenuhnya tulus.

****************

Obat yang diminumnya seketika terasa berkhasiat, ditambah kabar gembira yang seolah menyuntikkan semangat baru ke dalam nadinya.

Vivian bergerak lincah, wajahnya berseri-seri, seolah rasa sakit dan kelemahan yang tadi mendera tak pernah ada sama sekali.

Tangannya bergerak cepat, ia memasukkan barang-barang ke dalam koper, bahkan tanpa sadar ikut menyelipkan gaun yang dulu dipilihkan Stela untuknya. Semua dimasukkan begitu saja, yang penting siap berangkat.

Turun ke bawah, ia menyantap sarapan dengan senyum lebar dan wajah ceria. Raynor memperhatikannya sekilas, merasa lega melihatnya tampak segar kembali, tak sedikit pun menyangka gadis itu baru saja menderita dan terluka di kantor kemarin.

Sebaliknya, Satria yang duduk tak jauh di sana terus menunduk dalam. Rasa malu bercampur tak berdaya membuatnya tak berani menatap wajah Vivian sedikitpun.

Sesampainya di kantor, Vivian nyaris terlambat. Ia berlari tergopoh-gopoh menyusuri lorong menuju ruangannya, sementara Satria berbelok arah menuju ruang rapat.

Baru saja melangkah masuk, sepasang mata di ruangan itu beralih kompak kepadanya. Bisik-bisik halus terdengar samar, tak cukup jelas untuk dipahami namun cukup membuat bulu kuduk meremang.

Tatapan-tatapan itu... penuh makna mengejek, seakan ada sesuatu yang mereka ketahui namun tak ia pahami. Vivian mengerutkan kening, berusaha tetap tenang dan mengabaikannya.

Belum sempat ia meletakkan tasnya, suara-suara itu mulai terdengar lantang.

"Dari mana saja? Jam segini baru masuk?" celetuk seseorang dengan nada menyindir.

"Ssttt... jangan begitu. Lihat wajahnya, sepertinya kelelahan sekali," sahut yang lain disertai senyum miring.

"Kelelahan habis ngapain, maksudnya? Habis melayani siapa... Ups..."

Suara tawa meledak seketika, menyusup tajam ke telinga Vivian. Ia tak mengerti apa maksud ucapan mereka, tak tahu dari mana asal tuduhan tak masuk akal itu, namun tatapan dan tawa itu jelas bermaksud menjatuhkannya.

Saat keheningan menyelimuti ruangan, Bila melangkah mendekat dengan senyum yang terasa menjijikkan. Ia mencondongkan wajahnya pelan, lalu berucap dengan nada manis namun penuh racun.

"Vivian, ajari aku dong... caranya merayu Tuan Raynor sampai begitu tertarik padamu. Aku juga ingin diperlakukan istimewa seperti dirimu..."

Tubuh Vivian seketika menegang kaku. Darah seakan mendidih di ubun-ubun. Tatapannya berubah tajam menatap Bila, napasnya memburu menahan amarah yang nyaris meledak.

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!