Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Daripada Tante bikin masalah disini, dan membuat para tetangga penasaran. Lebih baik, Tante pergi!" Melia tak segan-segan mengusir wanita di hadapan nya itu.
"TANTE?!" seru Anne yang menatap Melia dengan protes, ia masih muda bahkan hanya 2 tahun mungkin perbedaan usia mereka.
Melia mengangguk polos. "Lain kali Tante kalau bertamu, pakai pakaian yang sopan sedikit ya. Ini terlalu murahan"
Deg
Melia mengangkat sebelah alis nya sembari memperhatikan pakaian Anne yang memang kekurangan bahan.
Anne tak bisa berkata-kata lagi, ia langsung pergi dengan dongkol yang begitu terasa di otak dan hati nya.
Selepas kepergian Anne. Melia nampak bernapas lega begitu juga Dimas.
"Dia siapa? Kenapa tadi dia bilang banyak yang kalian laluin? Apa aja yang kalian laluin sejauh ini? Apa yang tidak aku ketahui? Kakak main belakang?" Melia langsung menimpuk Dimas dengan banyak pertanyaan yang harus di jawab oleh Dimas.
Dimas menghela napas pelan. "Dia.. Orang dari masalalu Kakak saja Sayang, Kakak nggak ada niatan buat main belakang apalagi punya pikiran seperti itu" jawab Dimas merangkum semua pertanyaan dari Melia.
Melia berdecak dan melangkah pergi ke kamar, ia harus mengambil buku pelajaran nya dulu.
"Kakak pasti pernah-" gumam Melia terhenti saat tubuh nya di putar balik dan langsung mendapat serangan di bibir nya.
Melia yang tak siap pun hanya bisa melotot dengan posisi tegang, jika Dimas tak mendekap nya mungkin ia akan jatuh ke lantai seperti Anne tadi.
"Maaf.. Kakak akan ceritakan semua nya sekarang" lirih Dimas setelah merasa puas mencium Melia yang kaku.
Melia melirik ke arah jam dinding. "Satu jam" ucap nya sembari melangkah duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Anne.
Dimas pun menceritakan masalalu nya kepada Melia tanpa ada yang ditutupi.
Mulai dari semasa kuliah nya yang sunyi tiba-tiba datang Anne yang menawarkan diri untuk menemani nya, lalu Anne yang berani mabuk di depan nya dan mengatakan akan sekarat karena penyakit yang di derita nya yang membuat Dimas iba dan membiarkan Anne berada di dekat nya, untuk pergulatan itu di lakukan saat Dimas mabuk, itu pun karena tak sengaja meminum alkohol karena merasa begitu merindukan Melia, dan siasat Anne yang menuangkan obat ke dalam alkohol itu, setelah kejadian itu Dimas menyesal dan berniat menebus rasa bersalah nya dengan menerima Anne sebagai kekasih nya, selama itu pula Dimas merasa sudah tak ada kesempatan bagi nya untuk bersama Melia sesuai janji nya, hingga orang tua nya mengatakan akan pulang ke Indonesia untuk menemui keluarga Melia, membuat Dimas merasa ada secercah harapan, dan Dimas pun langsung memutuskan hubungan nya dengan Anne.
Melia dengan setia mendengar cerita Dimas yang membuat alis nya terkadang menukik, lalu tangan yang bersilang di dada juga.
"Jadi dia cuma pelampiasan Kakak? Tante girang itu Kakak jadikan pelampiasan?" tanya Melia setelah Dimas selesai bercerita.
Dimas mengangguk ragu. "Dia usia nya nggak beda jauh dengan mu Sayang, selisih kalian mungkin hanya 2 atau 3 tahun" terka Dimas.
Melia mengernyit. "Kakak ingat tahun lahir dia? Seingat itu ya?"
Deg
Mampus lah kau Dimas!
"Kakak hanya menebak Sayang" elak Dimas, ia tak ingin istri nya itu curiga lagi pada nya dan membuat masalah.
"Tebakan dari mana itu! Lihat saja tadi makeup nya, tebal dan menor. Tidak punya bakat bermake up pun sudah terlihat jelas dia itu tante-tante" ketus Melia, Dimas mengangguk sebagai tanggapan.
Ia tak ingin salah bicara dan membuat Melia makin marah pada nya.
Melia menghela napas dan menatap jam dinding. "Udah setengah jam terlewat, udah selesai kan cerita nya? Aku mau balik ke asrama dulu" Melia segera beranjak, ia harus mengambil buku pelajaran nya itu.
Sret
Tangan Melia kembali di tarik oleh Dimas hingga Melia terduduk di pangkuan nya dengan tatapan protes.
"Kan waktu nya satu jam Sayang bukan setengah jam, kamu nggak mau manja-manja dulu sama aku?" bisik Dimas sembari memeluk pinggang Melia.
Melia berdecak sebal. "Mending Kakak mandi deh, habis di pegang-pegang sama Tante girang tadi, aku nggak mau di sentuh sama Kakak" ketus Melia mencoba bangkit dari pangkuan Dimas.
Dimas ikut berdecak dan tetap menahan Melia dengan erat. "Kalau cuma pakai mandi nggak bersih Sayang, biar hilang bekas nya harus di sentuh sama kamu, bukan sama air" balas Dimas, ia bahkan sudah menelungkupkan wajah nya di ceruk leher Melia.
"Masa iya begitu?" tanya Melia dengan wajah polos, ia pun membiarkan Dimas yang seperti sedang menghisap permen di leher nya.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭