RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Keduanya terpaku saling menatap, sama-sama terkejut tak terkira dengan keberadaan satu sama lain. Di dalam hati Raven, keyakinan yang semula samar kini makin menguat dengan sangat cepat. "Heh! Ternyata mereka memang ada hubungan istimewa!"
Sementara itu, Leon juga bergumam dalam hati penuh kebingungan. “Kenapa Raven bisa ada di sini? Apakah Nona Sara yang memintanya untuk menyemputnya?”
Mereka masih diam terpaku, saling memandang tanpa sepatah kata pun, masing‑masing menyimpan tanda tanya besar di benaknya. Hingga akhirnya Raven yang lebih dulu membuka suara, nada bicaranya pelan namun tegas dan tajam.
“Kau… Pak Leon, kan? Guru olahraga di SMA Bina Bangsa?” tanyanya dengan penuh selidik.
Belum sempat Leon menjawab, suara Sara terdengar jelas dari dalam kamar, diikuti oleh langkah kaki yang semakin dekat.
“Siapa yang datang, Kak?” tanyanya dengan nada santai sambil berjalan keluar menuju pintu.
Hati Raven seakan tiba-tiba dicengkeram kuat oleh rasa tidak nyaman. "Kak? Bukankah Sara pernah bilang jika ia tinggal sendirian di kota in tanpa ada sanak saudara sama sekali? Tapi kenapa ia memanggil pria ini dengan begitu akrab? " Rasa curiga dan sedikit cemburu semakin menggelayuti dirinya.
Begitu Sara sampai di ambang pintu dan melihat sosok yang berdiri di hadapannya, matanya langsung terbelalak tak percaya. Wajahnya yang tadinya riang langsung berubah menjadi penuh kejutan.
“Raven? Kau… kenapa ada di sini?” tanyanya dengan suara yang sedikit memecah, ia benar-benar tak menyangka kalau Raven akan datang secepat ini untuk mencarinya.
Melihat reaksi itu, keyakinan Raven makin kuat bahwa Sara menyembunyikan sesuatu. Ingin sekali ia berteriak. "Aku ke sini karena kau! Aku dipaksa Mommy dan Daddy! Aku bahkan diusir dari mansion!" Namun semua kata itu tertahan rapat di tenggorokannya. Ia tak mau rahasia pernikahan mereka terungkap hanya karena emosi, apalagi masih ada Leon di sana. Tanpa ia tahu jika Leon sudah tahu semuanya.
“Kau lupa siapa aku?” sahutnya dingin, matanya tak lepas menatap tajam ke arah Leon seolah menuntut penjelasan.
“Ah! Mana mungkin aku lupa, kamu ketua geng motor Phoenix kan!” jawab Sara dengan cepat, tangan kanannya dengan cepat menarik lengan Raven dengan sedikit tergesa.
"Ayo masuk dulu aja! Jangan berdiri di luar gak enak di lihat tetangga.” seru Sara dengan nada becanda mencoba mencairkan suasana. Ia sadar betul bahwa kesalahpahaman sudah tak terelakkan lagi, dan harus segera mengatasinya.
Leon yang melihat keadaan itu langsung mengerti apa yang terjadi. Ia menoleh pada Sara dengan senyum yang penuh pengertian.
"Sara, aku kembali ke unitku dulu ya. Jika kamu butuh bantuan apa pun, segera hubungi Kakak,” ucapnya tegas ikut memainkan perannya sebagai Kakak. Lalu segera berbalik dan berjalan menuju pintu sebelah tempat tinggalnya sendiri yang persis bersebelahan dengan apartemen milik Sara. Ia tahu kapan harus mundur supaya tidak mencampuri urusan pribadi gadis yang dijaganya itu.
Begitu pintu apartemen ditutup rapat dan Leon sudah tidak ada di depan mata, Raven langsung menoleh ke arah Sara dengan wajah penuh dengan pertanyaan yang menekan.
“Sekarang kau bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya dengan suara yang lebih tegas. Kekecewaan jelas terlihat terpampang di matanya, meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya dengan sikap dinginnya.
Sara menghela napas panjang dengan perlahan, lalu menatap Raven dengan pandangan pasrah tapi mantap. Ia sadar bahwa sudah tidak ada bisa lagi untuk menyembunyikan segala sesuatu dari suami dadakannya itu.
"Santai dong! kamu terlihat seperti orang yang sedang kesal karena istrinya selingkuh saja!" jawab Sara santai dengan candaannya.
"Kau terlalu banyak nonton drama Sara, aku hanya penasaran saja! Kenapa Pak Leon seorang guru bisa ada di apartemen murid perempuannya?" kilah Raven cepat.
"Benarkah!?"
"Tentu saja! Aku hanya butuh penjelasan yang masuk akal. Siapa tahu nanti jika Mommy atau Daddy melihat kalian berdua, aku bisa ikut membantu menjelaskan,” jawabnya dengan nada menyindir halus.
"Oh gitu ya! Aku salah menebaknya ternyata. Hmm! Kalau begitu akan aku jelaskan semuanya dengan jelas… tapi kau harus berjanji satu hal dulu,” ucapnya dengan serius.
“Kau harus berjanji bahwa akan menjaga rahasia ini dengan sebaik-baiknya dan tidak akan menyebarkannya ke siapapun.”
“Tergantung apa yang akan kamu ceritakan,” jawab Raven dengan singkat, masih mempertahankan gengsinya yang seolah tak peduli.
“Kalau begitu kau tak perlu tahu sama sekali. Biarkan saja kau mati penasaran selamanya!” tantang Sara dengan cepat sambil membalikkan badan seolah hendak pergi meninggalkan Raven sendirian.
“Baiklah! Aku janji!” seru Raven dengan cepat, tangannya segera menahan pergelangan tangan Sara agar gadis itu tidak pergi.
“Cepatlah katakan apa yang sebenarnya terjadi!”
Mendengar janji itu, Sara langsung tersenyum lebar dan kemudian mulai menceritakan segala sesuatu secara singkat, siapa sebenarnya Leon, tugas apa yang diembannya untuk menjaganya, dan mengapa hubungan mereka bisa sedekat hubungan kakak dan adik sendiri.
Setelah mendengar penjelasannya, Raven masih ingin memastikan sekali lagi.
“Jadi… kau dan Pak Leon benar-benar tidak memiliki hubungan khusus kan?”
“Seperti yang sudah kukatakan,” jawab Sara dengan suara yang tegas dan meyakinkan. “Aku hanya menganggap dirinya sebagai Kakak, begitupun sebaliknya ia juga menganggap aku sebagai adiknya tak lebih."
Raven menghela napas panjang, seolah beban berat yang menindih dadanya sejak tadi lenyap seketika. Wajahnya tampak jauh lebih tenang di susul senyum tipis menghiasi bibirnya.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau begitu cepat mencariku? Apa ada hal yang penting?" tanya Sara yang kini malah ia yang penasaran akan kehadiran Raven, matanya menatap wajah Raven dengan seksama.
Bersambung....