Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah kejadian memalukan di ruang makan tadi, Keisya benar-benar berharap bisa menghilang dari muka bumi.
Ia bahkan masih tidak percaya dirinya menangis seheboh itu di depan seluruh anggota keluarga Jordan.
Yang lebih memalukan lagi, setelah kesadarannya kembali dan emosinya mulai mereda, ia justru menghentikan tangisannya secara mendadak, lalu dengan wajah penuh bekas air mata duduk santai menghabiskan sarapan yang tersaji di atas meja.
Bahkan makanan yang disantapnya adalah milik Alex, seolah tidak terjadi apa-apa.
Pipinya masih basah, hidungnya memerah, sementara matanya terlihat sembap akibat terlalu lama menangis. Namun Keisya tetap menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa menghiraukan tatapan bingung dari orang-orang di sekitarnya.
Begitu merasa kenyang, ia langsung melompat turun dari pangkuan Alex.
Tanpa memberi penjelasan sedikit pun, Keisya buru-buru meraih tasnya lalu meminta Jena mengantarkannya ke sekolah.
Ia sengaja menghindari tatapan penuh pertanyaan dari ayah dan ketiga kakaknya.
Baginya, semakin lama berada di rumah, rasa malunya hanya akan bertambah besar, karena itulah ia memilih kabur.
Sayangnya, tindakan itu justru menimbulkan kesalahpahaman.
Alex, Alden, Ivan, dan Geo hanya mampu memandangi punggung Keisya yang semakin menjauh tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Raut wajah mereka perlahan berubah muram. Mereka mengira Keisya benar-benar sedang menyimpan kesedihan yang tidak ingin ia ceritakan.
***
Plak!
Keisya menepuk kedua pipinya cukup keras sesaat setelah turun dari mobil.
"Bodo amat!"
Ia menarik napas panjang.
"Yang penting sekarang aku harus menyelamatkan Keyla."
Kedua tangannya kembali mengepal penuh semangat.
"Ayo, Keisya! Fokus!"
'Rasa malu bisa dipikirkan nanti, saat ini ada sesuatu yang jauh lebih penting.'
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berjalan memasuki area sekolah.
Suasana sekolah pagi itu tampak jauh lebih ramai dibandingkan hari biasanya. Seluruh siswa yang terlibat dalam acara perpisahan sudah diminta berkumpul di aula utama untuk mengikuti pengarahan terakhir sebelum gladi resik dimulai.
Keisya ikut berdiri di tengah kerumunan.
Setelah beberapa instruksi singkat diberikan oleh guru pembimbing, para siswa langsung berpencar menuju tugas masing-masing.
Suasana aula berubah sibuk.
Sebagian mengangkat properti, sebagian lagi mengatur dekorasi. Ada pula yang mulai mencoba tata suara dan pencahayaan.
Tatapan Keisya perlahan menyapu seluruh isi aula.
Gedung itu memang luar biasa megah.
Sebagai salah satu sekolah swasta elite, aula mereka bahkan lebih menyerupai ballroom hotel berbintang daripada gedung sekolah biasa. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal menggantung indah, sementara panggung besar di bagian depan telah dihias semewah mungkin.
Awalnya pihak sekolah sempat berencana menyelenggarakan acara kelulusan di hotel. Namun atas berbagai pertimbangan dan permintaan dari orang tua murid, akhirnya diputuskan bahwa acara tetap dilaksanakan di sekolah.
Karena itulah dekorasi yang digunakan dibuat semegah mungkin, ada panggung besar dengan lampu sorot profesional, serta berbagai ornamen kayu dan besi.
Semuanya dirancang agar terlihat mewah, sayangnya Keisya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Kesalahan kecil dalam pemasangan salah satu penyangga lampu akan berubah menjadi bencana besar beberapa menit lagi.
"Padahal mereka dibayar mahal..."
Tatapannya mengarah ke bagian atas panggung.
"Sayang sekali masih bisa melakukan kecerobohan seperti itu."
Ia kembali mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang.
Dan benar saja, tak butuh waktu lama hingga akhirnya matanya menemukan sosok yang sejak tadi ia cari.
Keyla.
Gadis itu sedang memindahkan beberapa balok dekorasi menuju bagian depan panggung. Sesekali ia membungkuk untuk merapikan susunannya, terlihat begitu serius menjalankan tugas yang diberikan panitia.
Keisya terdiam cukup lama, rasa haru perlahan memenuhi dadanya. Ia benar-benar bisa bertemu lagi dengan Keyla, seseorang yang dulu hanya bisa ia kenang setelah semuanya terlambat.
Namun sekarang bukan waktunya bernostalgia. Ia harus mengubah masa depan.
Keisya masih mengingat seluruh kronologi kecelakaan itu dengan jelas.
Korban sebenarnya tidak banyak.
Sebagian besar siswa saat itu sudah berpencar mengikuti kelompok masing-masing sehingga hanya beberapa orang yang mengalami luka lecet akibat terkena serpihan dekorasi.
Orang yang mengalami luka paling serius adalah Keyla. Posisinya tepat berada di bawah titik jatuhnya tiang penyangga lampu.
Sedangkan Keisya sendiri, dalam kehidupan sebelumnya, baru menaiki tangga sisi kanan panggung untuk latihan menyanyi ketika dekorasi kayu terlepas dan melukai lengannya.
Lukanya memang cukup mengeluarkan darah, tetapi tidak sampai membahayakan.
Berbeda dengan Keyla, cedera di kepala yang diterimanya hari itu menjadi awal dari semua perubahan hidupnya.
Mengingat hal tersebut, Keisya semakin yakin.
'Sebentar lagi seorang guru akan memanggilku naik ke panggung.'
Dan benar saja..
"Keisya!" Suara seorang guru terdengar dari depan aula.
"Ayo, naik ke panggung! Giliranmu latihan."
Keisya menoleh dan mengangguk pelan sebagai jawaban.
Memang sudah seharusnya ia tampil pertama, karena urutan penampilan telah ditentukan sejak awal dan keluarga Jordan yang merupakan donatur terbesar sekolah tersebut adalah alasan ia terpilih.
Semua orang menunggu dirinya. Namun kali ini Keisya sama sekali tidak bergerak menuju tangga panggung, melainkan menuju Keyla.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu