Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Dua
"Kalian dari mana? " tanya pak Galih menatap anak dan istrinya masuk ke dalam rumah.
Entah ada angin apa laki laki itu bisa pulang lebih awal dari biasanya, karena selama ini pak Galih akan pulang ke rumah orang tuanya setelah dari kantor, dan baru pulang ke rumah bisa sampai jam sebelas malam, kadang lebih larut lagi.
"Ada urusan di luar." ucap bu Soraya santai, berlaku begitu saja melewati suaminya yang duduk di sofa ruang tamu.
Sementara Ares menghampiri sang ayah dan mencium tangan ayahnya dengan takzim, setelah itu dia ikut berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Pak Galih mendesah kasar, sikap anak dan istrinya benar benar sudah sangat berubah, tidak ada lagi anak anaknya yang cerewet, bertanya ini dan itu, seperti perlakuan anak anaknya hanya formalitas belaka, semua benar benar berubah.
Bu Soraya meletakan martabak kesukaan anak anaknya di atas meja.
"Abang, kakak adek, mama bawa martabak kesukaan kalian nih! " panggil bu Soraya, wanita cantik itu sudah duduk menunggu kedatangan anak anaknya.
Sementara pak Galih hanya tersenyum miris di ruang tamu sana, ternyata tidak enak sekali rasanya di abaikan oleh anak dan istrinya.
"Wahhh.... Mama beli martabak." seru Gibran senang.
"Cepat lah makan, jangan teriak teriak terus." kekeh bu Soraya geleng geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya yang selalu ceria.
"Papa sudah pulang dari tadi, pas mama dan abang keluar rumah." bisik Laras.
"Tumben." kekeh bu Soraya.
"Nggak tau." acuh Laras lalu mengambil satu potong martabak manis varian coklat susu keju kesukaannya. "Mmm... Ini lebih enak dari yang biasanya mama beli, pasti bukan di tempat biasa ya." ucap Laras setelah memakan sepotong martabak manis itu.
"Iya, tadi mama beli di desa sebelah, pas pulang abang melihat ada tukang martabak lansung membelokkan motornya ke gerobak martabak, dia ingat adiknya yang sangat suka dengan martabak." kekeh bu Soraya.
"Memang abang yang terbaik, selalu ingat sama adil adiknya, kamu sayang abang Ares banyak banyak, lov sekebon karet pokoknya." seru Gibran dengan mulut penuh dengan martabak.
"Memang kamu tau pohon karet." cibir Laras.
"Nggak." jawab Gibran polos.
"Dasar kamu ini." sewot Laras, bu Soraya terkekeh melihat tingkah anak anaknya itu.
"Abang mana sih, lama banget, aku habiskan baru tau." oceh Gibran celingak celinguk melihat pintu kamar sang abang yang masih tertutup dari dalam.
"Dasar rakus, lihat badan mu, semakin hari semakin gembul." omel Laras.
"Bagus dong kak, berati kerja keras ibu dan abang mencari uang selama ini tidak sia sia kan." seru Gibran lagi.
Laras memutar mata malas, adiknya itu selalu saja ada jawabannya.
Bu Soraya geleng geleng kepala melihat tingkah anak anaknya.
"Ada apa ini ribut ribut." ujar Ares duduk di satu kursi kosong di samping sang ibu, dia sudah berganti baju santai.
"Abang lama sekali keluar kamar, itu bagian kakak mau di habiskan sama adik." adu Laras.
"Nggak apa apa, makan saja klau kalian mau." kekeh Ares, dia senang melihat adik adiknya bisa makan enak seperti ini, dulu mereka harus menahan selera untuk makan enak.
"Mana boleh seperti itu, kita harus adil, apa lagi kakak dan mama sudah capek bekerja seharian." ucap Laras.
"Yang penting kalian senang, abang juga senang, abang akan lakukan apa pun untuk kebahagian kalian." ucap Ares.
Pak Galih menutup matanya dan mengeraskan gerahamnya, mendengar percakapan anak anaknya itu.
"Klau sudah selesai makan, masuk lah ke dalam kamar kalian, kerjakan tugas sekolah kalian." ucap bu Soraya.
"Baik ma." kompak mereka.
Selesai mereka makan martabak, Laras membawa piring dan gelas kotor ke westafel, Gibran pun tidak tinggal diam, anak laki laki itu, membersihkan meja agar tidak ada noda.
Ares tersenyum lembut melihat adik adiknya yang sudah mengerti dengan tanggung jawabnya masing masing.
"Ini abang kasih uang jajan untuk besok, jadi nggak usah lagi minta sama mama." ucap Ares memberi sang adik masing masing sepuluh ribu rupiah.
"Makasih abang." ucap ke dua adiknya, lalu ke dua anak laki laki itu masuk ke dalam kamar masing masing.
"Dek." panggil pak Galih kepada bu Soraya yang duduk di meja rias sederhana miliknya, bu Soraya sedang asik mengoleskan krim malam di wajahnya.
"Hmmm.... " jawab bu Soraya acuh.
Pak Galih mendesah pelan, sikap istrinya selalu dingin.
Pak Galih berdiri di sisi sang istri, lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Istrinya memang semakin hari semakin bersinar, dan tubuhnya yang dulu kurus kering, tidak terlihat lagi, Pak Galih mengangguminya dalam hati.
"Ada apa? " heran bu Soraya menatap bingung suaminya itu.
"Ini uang bulanan untuk bulan ini." ucap pak Galih menyerahkan amplop coklat ke hadapan sang istri, membuat bu Soraya mengerutkan dahinya bingung suaminya kenapa aneh sekali, kenapa memberinya amplop tebal itu, dia yakin uang di dalam amplop itu lebih dari dua juta.
"Ambil lah." ucap pak Galih lembut, tidak ada lagi suara kerasnya, sepertinya lelaki itu mulai menekan egonya, dan juga menerima saran dari temannya kemaren.
"Tidak usah, pegang saja sendiri, aku bisa cari uang sendiri." ucap bu Soraya berlalu dan naik ke atas pembaringannya.
Pak Galih memejamkan matanya, dia tau dia sudah banyak berbuat salah dan menyakiti hati anak dan istrinya, sehingga anak dan istrinya membuat jarak darinya.
"Mas tau mas banyak salah selama ini kepada kamu dan anak anak, mulai hari ini mas mau menebusnya." ucap pak Galih lemah.
"Oh.... " jawab bu Soraya singkat, malas sekali dia mendengar ucapan suaminya itu, mau berubah seperti apa suaminya itu, paling sehari dua hari, setelahnya kembali kemode awal, kali ini bu Soraya tidak ingin luluh lagi.
Melihat istrinya sudah menutup mata, pak Galih hanya bisa mendesah berat, mungkin akan susah meluluhkan hati istrinya itu, bukan hanya istri, tapi anak anaknya juga.
Bersambung....
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti