NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — Bukan Cemburu... Kan?

"Lu kenapa bengong?"

Keenan tersentak. Bola di tangannya hampir terlepas sebelum ia buru-buru mengencangkan genggaman.

"Apa?" Nadanya datar—terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja ketahuan melamun.

Rakha berdiri di depannya. Kaos latihannya sedikit basah di bagian leher, rambutnya berantakan, tapi sorot matanya jernih. Terlalu jernih untuk orang yang beberapa hari lalu masih dipaksa istirahat.

"Dari tadi timing lu suka telat," kata Rakha. Bukan menuduh. Lebih seperti mencatat sesuatu yang tak biasa.

Keenan mendengus. "Lu aja yang kecepatan gerak."

Rakha mengangkat alis. "Serius?"

Tidak ada senyum. Tidak ada juga nada bercanda yang biasanya menyelip di antara mereka.

Hanya tatapan singkat—cukup lama untuk membuat Keenan sadar ia sedang diperhatikan, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.

"Ya udah," kata Rakha akhirnya. Ia memutar bola di tangannya, lalu melangkah menjauh. "Tetap fokus."

Kata itu seharusnya ringan.

Tapi Keenan tahu, ia tidak benar-benar menepatinya.

Latihan tetap berlanjut. Ritme sengaja ditahan. Rakha kembali ke posisinya, bergerak seperlunya, seolah tak ingin memancing perhatian pada tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. Ia membaca ruang, memilih momen dengan hati-hati.

Keenan mengikuti. Setidaknya, ia mencoba.

Beberapa kali, formasi terpecah sebentar—pergantian drill, jeda minum, instruksi singkat yang datang dan pergi. Di salah satu jeda itu, Keenan kehilangan Rakha dari sudut matanya.

Bukan lama.

Hanya cukup untuk membuatnya menoleh.

Di pinggir lapangan, Nayla berdiri di dekat bangku cadangan, kamera tergantung di lehernya. Rakha ada di sana. Tidak jelas sejak kapan. Tidak jelas untuk berapa lama.

Keenan tidak benar-benar memperhatikan percakapan mereka. Ia hanya menangkap gerakan kecil—Rakha yang sedikit menunduk, Nayla yang mengangguk pelan. Tidak ada yang mencolok.

Dan mungkin karena itu, Keenan justru merasa tidak nyaman.

Peluit kecil terdengar. Latihan bergeser lagi.

Bola kembali bergerak. Keenan menerima operan dengan satu tangan, telapak kirinya sedikit terlambat menutup. Bola itu hampir lepas sebelum akhirnya ia dorong asal ke sisi kanan.

"Eh—"

Seseorang mengambil alih. Ritme berlanjut, tapi ada satu detik yang tertinggal.

"Keenan."

Suara itu rendah. Dekat.

Rakha sudah ada di sisinya, berjalan seirama tanpa menoleh. "Lu kenapa sih?"

Keenan menggeleng. "Nggak kenapa-napa."

Rakha tidak langsung menjawab. Ia memperlambat langkah setengah detik, cukup untuk menyamakan napas mereka.

"Kalau capek, bilang," katanya akhirnya.

Keenan mendengus pendek. "Lu ngurus diri sendiri aja."

Rakha menatapnya sekilas. Tidak lama lalu mengangguk kecil dan kembali ke posisinya, seolah percakapan itu tidak perlu diteruskan.

Latihan berjalan lagi.

Keenan mengikuti jalur yang seharusnya ia ambil. Kaki bergerak otomatis, menghafal garis yang sama seperti sebelumnya.

Tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan, meski pikirannya sesekali tertinggal setengah langkah di belakang.

Di jeda berikutnya, ia melirik ke pinggir lapangan.

Rakha sudah tidak di sana.

Nayla kini berbicara dengan Dimas, tertawa kecil menanggapi sesuatu yang Keenan tidak dengar. Rakha berdiri di tengah lapangan, bahunya lurus, fokusnya kembali utuh, wajahnya datar seperti semula—seolah ia memang tidak pernah ke mana-mana.

Keenan menarik napas, lalu menghembuskannya pelan.

Bola datang lagi.

Kali ini, ia menangkapnya dengan dua tangan.

Seharusnya cukup.

Namun ada sesuatu yang tidak kembali ke tempat semula.

Ia tidak tahu kapan pergeseran itu terjadi. Tidak juga bisa menunjuk satu momen tertentu. Hanya terasa—halus, nyaris tak kentara, seperti jarak yang berubah setengah langkah tanpa pernah benar-benar diakui.

"Lu ketat banget jaga gue hari ini," kata Rakha saat jeda minum.

Nada suaranya santai. Terlalu santai. Tapi matanya tidak sepenuhnya begitu.

Keenan membuka botol airnya, meneguk sekali sebelum menjawab.

"Salah?"

"Enggak." Rakha menyeringai tipis. "Cuma…"

Kalimat itu menggantung.

"Apa?" Keenan menoleh.

Rakha menggeleng kecil. "Nggak. Gak jadi."

"Freak," gumam Keenan, lebih ke dirinya sendiri.

Rakha terkekeh pelan, lalu melangkah pergi, meninggalkan botolnya di bangku.

Latihan kembali dilanjutkan.

Dan entah sejak kapan, Keenan mendapati tubuhnya bergerak sedikit lebih cepat setiap Rakha mendekat. Ia menutup ruang yang biasanya ia biarkan terbuka. Mengambil jalur yang dulu ia serahkan tanpa pikir panjang.

Ia tidak salah. Tidak juga berlebihan. Semuanya masih masuk akal.

Hanya saja ia terlalu sigap.

Rakha menerima bola dengan posisi setengah membelakangi ring. Ia menahan sepersekian detik—cukup lama untuk membaca ruang lalu mengirim operan ke samping.

Bola nyaris lolos.

Dimas menyambar di detik terakhir, terkekeh pendek sambil menggeleng.

"Tipis banget."

Rakha ikut tersenyum. Bukan karena komentar itu, melainkan karena operan tadi hampir sempurna.

Dan Keenan, tanpa benar-benar sadar, merasakan sesuatu bergeser lagi... sedikit saja, tapi cukup untuk membuatnya tidak nyaman.

Ia menangkap tawanya di sudut pandang.

Bukan karena suara itu.

Melainkan karena jarak—karena Rakha berdiri terlalu dekat dengan Dimas saat itu, bahu mereka nyaris bersentuhan.

Keenan memalingkan pandangan lebih dulu.

Mungkin ia cuma lelah.

Mungkin ritme hari ini belum sepenuhnya

kembali ke tempatnya.

Atau mungkin—tanpa ia sadari—ada sesuatu yang tidak ingin ia bagi, bahkan sebelum ia tahu apa namanya.

Latihan terus berjalan. Matahari makin rendah, bayangan mereka memanjang di lantai lapangan, saling tumpang tindih, lalu terpisah lagi seiring gerak.

Rakha mulai terlihat lebih lepas. Bukan cepat tapi stabil.

Keenan menangkap hampir semuanya.

Hampir.

Satu kali, bola lolos.

"Fokus," kata Rakha singkat.

Nada itu tidak keras. Tidak juga dingin. Namun Keenan merasa seperti ditegur atas sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan.

"Iya," jawabnya cepat.

Mereka kembali bergerak.

Di sela latihan, Nayla mendekat, menyerahkan botol minum satu per satu. Tidak ada yang istimewa dari caranya. Ia hanya menjalankan perannya—tenang, efisien, seperti biasa.

Saat berhenti di depan Rakha, Rakha menerima botol itu dengan anggukan kecil.

"Makasih, Nay."

"Jangan maksain," jawab Nayla. "Kalau pusing, bilang aja."

Rakha tersenyum tipis. "Siap, Bu Manajer."

Nada bercandanya ringan. Terlalu ringan.

Keenan meneguk airnya tanpa sadar lebih cepat dari perlu.

"Apa?" tanya Dimas di sebelahnya.

"Apaan," balas Keenan, singkat.

Dimas menatapnya sekilas, lalu menyeringai kecil. "Lu kenapa sih dari tadi mukanya kayak orang nunggu hujan nggak turun-turun?"

Keenan melirik tajam. "Mulut lu gue gibek."

"Sensian amat," balas Dimas santai. "PMS, ya?"

Keenan tidak menjawab.

Dimas terkekeh pendek, lalu memilih diam.

Rakha sudah kembali ke tengah lapangan. Keenan mengikutinya. Jarak mereka kali ini sedikit lebih dekat dari biasanya. Tidak sampai bersentuhan tapi cukup untuk membuat Rakha menoleh.

"Lu nempel amat," gumamnya.

"Takut lu tumbang," jawab Keenan, spontan.

Rakha menatapnya lebih lama dari perlu. Seperti sedang mencari nada bercanda di wajah Keenan dan tidak menemukannya.

"Oh," katanya akhirnya. "Santai aja. Gue nggak serapuh itu."

Keenan tidak menjawab. Ia hanya memalingkan pandangan, kembali ke posisinya.

Latihan ditutup tanpa insiden. Pelatih Arwin memberi evaluasi singkat, lalu membubarkan mereka. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada yel-yel. Hari itu berakhir begitu saja.

Satu per satu, anak-anak mulai beres-beres.

Di dekat bangku cadangan, Nayla menutup tas kameranya, menggulung kabel dengan rapi. Saat ia mengangkat kepala, Rakha sudah berdiri di sana.

"Besok kamu datang lagi?" tanya Rakha.

"Iya," jawab Nayla. "Kalau jadwal aku nggak padat."

"Oke."

Percakapan itu singkat. Biasa. Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu jauh.

Tapi Keenan, yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka, merasa ada sesuatu yang tertinggal di dadanya.

Ia tidak tahu kenapa ia berhenti.

Rakha menoleh. "Lu nggak pulang?"

Keenan mengangkat bahu. "Nunggu."

"Nunggu apaan?"

"Nunggu lu kelar ngobrol."

Kalimat itu keluar tanpa persiapan. Terlalu jujur untuk disebut bercanda.

Nayla melirik mereka bergantian, menangkap ketegangan tipis yang menggantung di udara. "Eh… aku duluan ya," katanya, memilih mundur.

Rakha mengangguk. "Hati-hati."

Setelah Nayla pergi, suasana tidak langsung kembali normal.

Rakha menyandarkan botol minumnya ke bangku. "Lu kenapa sih?"

Keenan membuka mulut. Menutupnya lagi.

"Nggak kenapa-kenapa."

"Lu bilang gitu mulu."

"Ya emang nggak."

Rakha menghela napas pelan. Bukan kesal. Bukan juga marah. Lebih seperti lelah berhadapan dengan sesuatu yang tidak ia lihat, tapi terus ia rasakan.

"Kalau ada yang mau lu omongin—"

"Nggak ada," potong Keenan cepat.

Rakha terdiam. Kali ini, ia menatap Keenan lebih lama. Tidak defensif. Tidak menyerang. Hanya mencoba mengerti.

"Lu aneh hari ini," katanya akhirnya, pelan.

Keenan terkekeh kecil. Kering. "Lu baru sadar?"

Rakha tidak ikut tertawa.

Mereka berdiri berhadapan, jarak satu lengan. Terlalu dekat untuk diabaikan. Terlalu jauh untuk disebut apa pun.

"Apa gara-gara gue ngobrol sama Nayla?" tanya Rakha tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Keenan membeku sepersekian detik.

"Apaan sih," jawabnya cepat. Sedikit terlalu cepat. "Nggak."

Rakha mengangkat alis. "Bohong lu jelek."

Keenan mendecakkan lidah. "Lu kebanyakan mikir. Efek habis sakit."

"Yang kebanyakan mikir siapa?"

Sunyi jatuh di antara mereka.

Keenan menunduk, menatap lantai lapangan yang mulai dingin. Garis-garis cat di bawah kakinya terlihat lebih jelas dari biasanya.

"Gue nggak suka aja," katanya akhirnya. Suaranya nyaris bergumam.

Rakha terdiam.

"Nggak suka apa?" tanyanya pelan.

Keenan menghela napas. "Nggak tau."

Dan itu jujur.

Rakha mempelajari wajahnya lama. Seolah sedang menyusun potongan-potongan yang belum lengkap.

"Lu takut gue kenapa-kenapa?" tanyanya.

Keenan menggeleng. "Bukan."

"Cemburu?"

Keenan tersentak. "Apaan sih—"

"Tenang," kata Rakha. "Gue nanya doang."

Keenan tertawa kecil. Singkat. Tidak sampai ke matanya.

"Gue cuma kesel."

"Kenapa?"

Hening sebentar.

"Karena kemarin lu kayak nutup diri," kata Keenan akhirnya. "Hari ini lu ketawa—kayak nggak ada apa-apa."

Rakha membeku.

"Dan gue nggak tau," lanjut Keenan, lebih pelan sekarang, "gue harus ada di mana."

Kalimat itu menggantung. Tidak ditarik kembali.

Rakha menatapnya lama, lalu menghela napas pendek. "Lu ribet,"katanya.

"Lu aja yang bikin ribet."

Rakha tidak langsung menjawab. Ia melangkah setengah langkah lebih dekat lalu berhenti, seolah sadar jaraknya sendiri.

"Kemarin kondisi gue belum sepenuhnya pulih," katanya akhirnya. "Sekarang udah mendingan."

Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada pembelaan. Dan anehnya, itu justru membuat dada Keenan terasa lebih penuh.

"Udah, ayo pulang," kata Rakha.

Keenan mengangguk.

Mereka berjalan berdampingan. Tidak saling bicara. Jarak itu masih ada—tak terlihat, tapi tidak lagi asing.

Dan Keenan tahu, rasa di dadanya belum selesai. Tapi setidaknya sekarang, ia tahu kenapa.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!