NovelToon NovelToon
Merawat Majikan Lumpuh

Merawat Majikan Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Mafia
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menikah..

Pratama menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh ke depan. "Kita berhutang masa depan pada anak itu, sayang. Dan aku tidak akan membiarkan Arjuna menghancurkannya lebih jauh lagi."

Hamidah mengangguk sependapat.

"Tapi Arjuna sangat keras pa,dia tidak akan setuju dengan ucapan kita." desah nya khawatir.

"Kalau Arjuna keras,kita juga bisa keras." Pratama tetap keukeuh dengan ucapannya.

***

​Indira melangkah gontai keluar dari area sekolah setelah ujian berakhir. Kepalanya berdenyut nyeri.

Di gerbang sekolah, dua mobil hitam sudah menunggu. Salah satunya adalah mobil yang biasa menjemputnya, dan satu lagi adalah mobil sport milik Arjuna.

​Jantung Indira mencelos. Bukankah Arjuna sedang di Semarang?

​Pintu mobil sport itu terbuka. Arjuna keluar dengan kacamata hitam, rahangnya mengeras. Ia berjalan cepat ke arah Indira tanpa mempedulikan tatapan mata siswa-siswa lain yang mulai berbisik.

​"Masuk ke mobil," perintah Arjuna dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan.

​"Saya dari mobil yang biasa menjemput saya saja tuan..."

​"Aku bilang masuk!" bentak Arjuna. Ia menarik lengan Indira dengan kasar menuju mobilnya.

​Di dalam mobil, suasana terasa sangat mencekam. Arjuna melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Indira hanya bisa mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, matanya berkaca-kaca menahan mual yang kembali menyerang akibat cara mengemudi Arjuna yang ugal-ugalan.

​"Siapa laki-laki tadi?" tanya Arjuna tiba-tiba tanpa menoleh.

​"Hanya kakak kelas, Tuan. Dia hanya bertanya soal ujian," jawab Indira pelan, suaranya bergetar.

​"Jangan berbohong! Aku punya mata di mana-mana, Indira. Kamu pikir karena aku di luar kota, kamu bisa bebas tebar pesona? Ingat, kamu sedang membawa anakku!" Arjuna memukul setir mobil dengan keras.

​Indira memejamkan mata. "Tuan... tolong pelan-pelan. Saya pusing..."

​"Pusing atau takut rahasiamu terbongkar? Dengar, Ayahku mungkin ingin mengirimmu kuliah keluar negeri, tapi selama aku belum mengizinkan, seujung rambutmu pun tidak akan keluar dari rumah itu!"

​Ciiiitttt!

​Mobil berhenti mendadak di pinggir jalan yang sepi. Arjuna berbalik, menatap Indira dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kemarahan dan posesif yang berlebihan.

​"Kenapa Tuan begitu jahat pada saya?" tangis Indira pecah. "Tuan sudah mendapatkan apa yang Tuan mau. Tuan bilang saya wanita bersih, tapi Tuan memperlakukan saya seperti tawanan. Kalau Tuan hanya ingin bayi ini, ambil saja nanti setelah lahir! Tapi biarkan saya pergi..."

​"Diam!" desis Arjuna. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Indira. "Kamu tidak akan pergi ke mana pun. Bukan hanya karena bayi itu, tapi karena aku belum selesai denganmu."

Hueekkkk..! hueekkkk..!

Muntahan Indira terkena pakaian mahal Arjuna.

"Maaf tuan,,maafkan saya,,saya tidak.."

Hueekkkk..!

lagi lagi Indira menumpahkan cairannya.

Dan sialnya mengenai pakaian Arjuna juga.

Bukannya marah,atau membentak,Arjuna malah menepuk nepuk punggung Indira.

"keluarkan semuanya,,tidak apa apa.."

Indira menyeka mulutnya menggunakan tissu, kemudian mencoba membersihkan muntahannya di pakaian Arjuna.

"Tidak perlu dibersihkan,,sudah terlanjur kotor, pulang sekarang kerumah." Arjuna memacu kembali mobilnya,melesak kencang menuju pulang.

"Tuan,,perutku sangat sakit kalau mobilnya kekencangan,," ucap Indira takut takut.

Spontan Arjuna mengurangi kecepatan mobilnya.

Ada rasa khawatir yang menyelimuti wajah pria tampan itu.

Sepanjang jalan mereka tidak ada yang berbicara lagi.

Indira merasa waktu setengah jam itu seperti setengah tahun.

sesampainya di rumah,Indira langsung turun,lalu masuk ke kamarnya.

***

​Malam harinya di kediaman keluarga Pratama.

​Suasana makan malam kembali tegang. Kali ini, Pratama sudah menyiapkan berkas di atas meja.

​"Arjuna, Ayah sudah mendaftarkan Indira di sebuah universitas di Australia. Dia akan berangkat setelah kelulusan SMA-nya," ujar Pratama tanpa basa-basi.

​Arjuna yang baru saja menyuap makanan, langsung meletakkan sendoknya dengan denting yang keras. "Aku sudah bilang tidak, Ayah. Dia akan tetap di sini di bawah pengawasanku."

​"Ini bukan permintaan, Arjuna. Ini keputusan," sahut Pratama tegas. "Dan untuk statusnya, Ayah sudah mengatur pernikahan siri untuk kalian minggu depan. Agar anak itu memiliki legalitas, dan Indira memiliki status yang jelas saat belajar di sana."

​Indira yang sedang meminum air, tersedak. Menikah? Dengan pria yang menganggapnya hanya sebagai 'wadah' untuk anaknya?

​"Menikah?" Arjuna tertawa sinis. "Ayah ingin aku menikahi anak pelayan?"

​"Anak pelayan yang kamu hamili, Arjuna!" bentak Pratama. "Jaga bicaramu! kamu sudah menghamili anak pelayan kalau kamu lupa!" desis Pratama emosi.

​Di sudut ruangan, Darsih hanya bisa menangis dalam diam, sementara Hamidah memegang tangan Indira yang dingin membeku.

​"Aku akan menikahinya," ucap Arjuna tiba-tiba, membuat suasana hening seketika. "Tapi dengan satu syarat."

​Arjuna menatap Indira dengan seringai tipis yang mengerikan. "Dia tidak boleh kuliah di luar negeri. Dia harus tetap dirumah ini, dan setelah anak itu lahir, aku yang akan menentukan apakah dia boleh lanjut sekolah atau tidak."

​"Itu namanya perbudakan, Arjuna!" teriak Hamidah tidak tahan lagi.

​"Itu namanya perlindungan, Bu," jawab Arjuna santai.

​Indira memberanikan diri menatap Arjuna. "Tuan... saya akan menikah dengan Tuan, dan saya akan memberikan bayi ini. Tapi saya mohon... izinkan saya tetap sekolah. Itu satu-satunya mimpi yang saya punya." isaknya pilu.

"saya rela merawat bayi ini sampai lahir,dan setelahnya saya juga akan memberikannya pada kalian,tapi saya mohon,biarkan saya sekolah." ulang Indira lagi dengan nada memelas.

​Arjuna bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Indira, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.

​"Mimpimu sudah mati sejak malam itu, Indira. Sekarang, mimpimu adalah aku."

Indira menelan ludahnya kasar.

impiannya mungkin akan lenyap sebentar lagi.

***

​Pernikahan siri itu terjadi dalam kesederhanaan yang mencekam. Tidak ada pesta, tidak ada gaun putih mewah, hanya ada penghulu, saksi, dan keluarga inti di ruang tengah kediaman Pratama yang luas.

​Indira tampak pucat dengan kebaya krem sederhana. Di sampingnya, Arjuna duduk dengan wajah datar, seolah-olah prosesi sakral ini hanyalah transaksi bisnis yang membosankan. Begitu kata "Sah" terucap, Indira merasa dunianya benar-benar runtuh. Dia kini terikat secara agama pada pria yang menghancurkan masa mudanya.

​Satu Minggu Setelah Pernikahan

​Indira baru saja selesai mengerjakan soal ujian terakhirnya melalui daring di kamar. Tubuhnya terasa semakin berat karena usia kandungannya yang terus bertambah. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa diketuk.

​Arjuna masuk dengan setelan jas yang sudah berantakan, dasinya dilonggarkan. Bau alkohol tipis tercium dari tubuhnya.

​"Mana dokumen yang diberikan Ayah tadi siang?" tanya Arjuna dingin.

​Indira mendongak, matanya sembab. "Dokumen apa, Tuan?"

​"Jangan panggil aku Tuan! Kita sudah menikah, panggil namaku!" bentak Arjuna sambil mendekat. Ia mencengkeram dagu Indira. "Ayah memberikanmu formulir pendaftaran kuliah di luar kota, bukan? Berikan padaku."

​"Tuan... maksud saya, Mas Arjuna... itu untuk masa depan saya. Ayah bilang saya tetap bisa kuliah meski sedang hamil," rintih Indira.

​"Aku sudah bilang, TIDAK ADA KULIAH!" Arjuna mulai menggeledah laci meja belajar Indira dengan kasar.

​Ia menemukan sebuah map berwarna biru. Tanpa membaca isinya, Arjuna langsung merobek kertas-kertas di dalamnya menjadi serpihan kecil di depan mata Indira.

​"Mas! Apa yang kamu lakukan?!" Indira histeris, mencoba menyelamatkan serpihan kertas itu. Itu adalah tiketnya menuju kebebasan, satu-satunya harapan yang diberikan mertuanya.

​"Aku tidak ingin anakku lahir di kota lain tanpa pengawasanku. Kamu akan tetap di sini, menjadi istri yang penurut, sampai anak itu lahir. Setelah itu, barulah aku akan mempertimbangkan apakah kamu layak keluar dari rumah ini atau tidak," ucap Arjuna dingin sembari membuang serpihan kertas itu ke wajah Indira.

​Indira jatuh terduduk di lantai, menangis sesenggukan di antara sobekan kertas pendaftarannya.

​Di Ruang Kerja Pratama

​"Kamu keterlaluan, Arjuna!" Pratama menggebrak meja kerja setelah mendengar laporan dari pelayan tentang apa yang terjadi di kamar Indira.

​"Ayah yang keterlaluan! Ayah mencoba menjauhkan dia dariku dengan alasan pendidikan!" balas Arjuna tak mau kalah.

​"Dia bukan barang milikmu, Arjuna! Dia manusia!"

​"Dia membawa darah dagingku! Dan secara hukum agama, dia istriku. Ayah tidak punya hak lagi mengatur ke mana istriku pergi!" Arjuna membusungkan dada, merasa di atas angin karena status pernikahan mereka.

​Hamidah masuk ke ruangan dengan wajah merah padam. "Kalau begitu, kalau kamu menganggapnya istri, perlakukan dia dengan layak! Jangan biarkan dia menangis setiap malam sampai kandungannya lemah. Jika terjadi sesuatu pada bayi itu karena stres yang kamu berikan pada ibunya, Ibu tidak akan pernah memaafkanmu!"

​Arjuna terdiam sejenak. Kata-kata ibunya soal "kandungan lemah" sedikit menyentil egonya.

​Malam itu, Arjuna kembali ke kamar Indira. Ia melihat Indira sudah tertidur di sofa dalam posisi meringkuk, masih dengan sisa air mata di pipinya. Ada rasa asing yang berdenyut di dada Arjuna—sesuatu yang ia sangkal sebagai rasa bersalah.

​Ia mendekat, lalu dengan perlahan mengangkat tubuh Indira ke atas tempat tidur. Saat kulit mereka bersentuhan, Arjuna merasakan perut Indira yang mulai membuncit menempel pada lengannya. Ada tendangan kecil dari dalam sana.

​Arjuna terpaku. Itu adalah interaksi pertama yang ia rasakan dengan bayinya.

​"Aku mau sekolah,," bisiknya parau.

​Arjuna melepaskan tangannya seolah tersengat listrik. Ia menatap wajah polos Indira yang tampak sangat rapuh.

​"Kamu tidak perlu sekolah, Indira. Kamu sudah terjebak denganku," bisik Arjuna pelan, suaranya kini tidak lagi penuh amarah, melainkan dipenuhi dengan obsesi yang makin dalam.

​Keesokan Harinya di Sekolah

​Hari ini adalah pengumuman kelulusan sekaligus perpisahan singkat. Indira datang dengan pengawalan ketat. Bima, yang sejak lama menaruh hati pada Indira, mendekatinya dengan sebuah kado kecil.

​"Indira, selamat ya atas kelulusannya. Ini... ada kenang-kenangan dariku. Kabarnya kamu mau kuliah di luar kota? Semoga kita bisa bertemu lagi di sana," ucap Bima tulus.

​Indira menerima kado itu dengan tangan gemetar. Ia ingin mengatakan bahwa mimpinya sudah dirobek oleh Arjuna semalam, tapi ia hanya bisa tersenyum getir.

​"Terima kasih, Kak Bima. Tapi sepertinya... aku tidak akan ke mana-mana."

​Tanpa mereka sadari, dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, sepasang mata mengawasi dengan kilat kemarahan yang membara. Arjuna mengepalkan tinjunya.

​"Berani-beraninya dia menerima pemberian lelaki lain di depanku," desis Arjuna.

​bersambung...

1
Fitri Ani Silitonga
cerita novel ini sangat menarik, alur cerita nya bagus, tidak pernah bosan untuk baca novelnya karna alurn ceritanya menarik dapat di mengerti alur cerinta
Sila Lahi
lanjut thor ♥️♥️♥️
refinorman norman
up lagi Thor suka dgn cerita kamu ini
Sila Lahi
bakal seru ini ceritanya soalnya bakal kabur indiranya sama bi darsih mengawali hari baru tanpa tekanan♥️♥️♥️
Sila Lahi
semangat thor ♥️☺️
Las Manalu Rumaijuk Lily: terimakasih kk
total 1 replies
Fitri Ani Silitonga
thor kapan Arjuna menyatakan perasaannya pada Indira
semoga aja pernikahan Indira dan Arjuna di warnai cinta
mili
sampai kapan Indira d siksa thor
mili
aku berharap mereka akan saling jatuh cinta dan Arjuna gak egois lagi ke Indira
🇦 🇵 🇷 🇾👎
laki babi... jijik aq
🇦 🇵 🇷 🇾👎
mudh"n.... hd lh wnt yg keras kau
refinorman norman
next
🇦 🇵 🇷 🇾👎
lama jijik aq
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kok mkin yak babi kau... lki monyet... gk tau dr...

klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
mili
seru
ria rosiana dewi tyastuti
bawa minggat aja sdh yah.....👍 biar kapok
🇦 🇵 🇷 🇾👎
Aq dkg ayh z lh...
refinorman norman
q mendukung mu ayah,,, 💪
Manis
good ayah.
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next... bikin risa gk jd nkh dong... yg blh nikh indi... ksian dy... hny di aggp pemuas obt bg juna... dmn rs ht mu kk yg nulis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!