Kisah perjalanan cinta gadis tomboy yang di jodohkan dengan seorang pria yang ternyata seorang ketua mafia bernama Leonathan Nugroho. Dia adalah putra pertama dari pasangan Shandy Nugroho dan Merlin Syafira. Nathan itu terkenal dengan kekejamannya di dunia hitam. Bahkan dia juga sering di juluki dengan sebutan king dragon.
Gadis tomboy itu bernama Seinara horison dia adalah anak kedua dari Ardi horison dan Adelia Rasya. Seinara mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Abraham horison. Abraham lebih memilih untuk membangun bisnisnya sendiri di luar negeri. Sehingga dia jarang punya waktu untuk keluarganya, namun dia sangat menyayangi adik semata wayangnya yaitu Seinara. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, sepeti saat mendengar Seinara akan di jodohkan. Abraham adalah orang pertama yang menentang keras rencana tersebut. Namun apalah dayanya, dia tidak bisa mengubah keputusan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugup
Seinara kembali ke rumah dengan kondisi yang kacau. Wajahnya penuh lebam karena pukulan dari Firly. Melihat itu, Nathan sedikit terkejut dan penasaran.
"Darimana kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Nathan ketika Seinara memasuki rumah.
"Saya habis dari rumah teman" jawab Seinara tegas.
"Huft..." Nathan menghela nafasnya mendengar jawaban dari sang istri, lalu dia segera bangkit dari tempat duduknya dan menatap sang istri.
"Astaga...! Kamu kenapa?!" seru Nathan terkejut melihat wajah Seinara.
"Nggak apa-apa kok, cuma... Luka kecil doang. Di kompres juga sembuh kok" jawab Seinara sambil nyengir kuda.
"Kamu ini" gerutu Nathan.
"Bi...! Bi Surti...!!" teriak Nathan memanggil pembantunya.
"Eeeh... Nggak usah! Nggak perlu teriak-teriak begitu! Saya bisa kok sendiri!" tegas Seinara menghentikan teriakan Nathan.
Kemudian Seinara pun berjalan menuju ke dapur untuk membuat air hangat. Ternyata Nathan mengikutinya di belakang, dia merasa ragu dengan penampilan Seinara.
"Aku kok ragu ya, apa dia bisa membuat air hangat untuk mengompres lukanya?" tanya Nathan dalam hati sambil mengikuti langkah Seinara.
Sampai di dapur, Seinara segera merebus air untuk mengompres lukanya. Dia tidak perduli keberadaan sang suami yang terus menatap dirinya dari ambang pintu dapur. Selesai airnya hangat, Seinara pun mengompres lukanya sendiri. Dia enggan meminta bantuan sang suami yang masih setia mengamati dirinya.
"Ngapain sih dia masih disini? Bikin gue salah tingkah aja deh. Huft..." lirih Seinara dalam hati ketika melihat sang suami.
"Kenapa? apa butuh bantuan saya?" tanya Nathan melihat sang istri yang menghela nafasnya.
"Hem... Nggak usah! Saya masih bisa sendiri kok" jawab Seinara sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh..." jawab Nathan, yang kemudian kembali sibuk dengan handphonenya.
Selesai mengompres luka di wajahnya, Seinara pun beranjak pergi. Dia berjalan menuju ke kamarnya, namun Nathan menghentikan langkahnya.
"Tunggu...!" seru Nathan pada Seinara.
"Huft... Ada apa lagi?" tanya Seinara segera.
"Tadi siang kamu kemana? Kok saya nggak lihat kamu di kampus, apa kamu bolos kuliah?!" tanya Nathan menuduh Seinara.
"Kalau nggak tau apa-apa mending nggak usah ngomong deh. Bikin gue kesel doang, tau nggak!" jawab Senara dengan wajah kesalnya.
"Saya ini suami kamu! Apa saya salah kalau tanya sama kamu?" tanya Nathan yang juga ikut kesal.
"Loh, bukannya anda sendiri yang bilang sama saya, kalau kita nggak usah saling ikut campur jalan hidup masing-masing? Terus kenapa sekarang anda ikut campur urusan saya?" tanya Seinara mengingatkan perkataan sang suami ketika mereka baru saja sah menjadi pasangan suami istri.
"Ya... Saya hanya ingin tau saja kemana kamu pergi? Apa saya salah?" jawab Nathan gugup.
Karena dia melupakan janji itu, sehingga dia bertanya seperti itu pada istrinya. Seinara yang tidak ingin berdebat terlalu lama pun mengalah. Dia menjawab pertanyaan sang suami dengan jelas.
"Baiklah... tadi pagi saya ikut lomba di luar kampus. Jadi wajar kalau anda nggak bisa menemukan saya" jawab Seinara pasrah.
Setelah itu Seinara melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Dia tidak ingin terlalu lama berada di dekat sang suami. Karena setiap melihat ataupun berada di dekat Nathan, jantung Seinara selalu berdegup kencang. Sehingga Seinara lebih memilih untuk menghindar dari sang suami.
"Huft... Cek... Cek... Ternyata susah juga mendekati gadis labil seperti dia" lirih Nathan sambil berdecak.
Lalu Nathan pun memilih untuk berjalan menuju ke kamarnya. Begitu juga dengan Seinara, dia juga segera merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Kemudian Seinara menghubungi nomor seseorang, dan meminta orang itu untuk melakukan sesuatu.
"Halo, Arga?!" sapa Seinara pada orang di seberang telfon.
"Hei... Queen...! apa kabar loe? Tumben banget telfon!" seru orang yang di panggil Arga dari seberang telfon.
"Kabar gue baik, gue punya tugas buat loe!" jawab Seinara.
"Tugas, tugas apa nih? Apa ada yang membuat loe marah? biar gue singkirkan dan hancurkan sekarang juga!" tanya Arga penasaran.
"Gue mau loe bikin wakil ketua BEM kampus gue di keluarin! Karena dia sudah bikin nama baik gue tercemar!" jawab Seinara dengan penuh dendam.
"Siap! Memang apa yang sudah dia lakukan sama loe?" jawab dan tanya Arga pada Seinara.
"Dia sudah nyebarin Fitnah untuk gue di forum kampus. Jadi gue ingin memberikan dia pelajaran" jawab Seinara.
"Kenapa loe hanya ingin dia di keluarin dari BEM doang? Kenapa loe nggak minta gue untuk hancurkan perusahaan keluarganya?" Tanya Arga kesal.
Mendengar masalah yang sedang di hadapi Seinara, Arga pun menjadi kesal. Karena dia memang orang yang sangat peduli pada Seinara. Dia sama seperti ketiga sahabat cewek Seinara. Bahkan Arga sudah menganggap Seinara seperti kakak kandungnya sendiri. Usia Seinara lebih tua dari Arga, itulah mengapa Arga menganggap Seinara sebagai kakaknya.
"Nggak perlu, karena ini kesalahan Bianca. Bukan kesalahan orang tuanya" jawab Seinara.
"Ah, loe nggak asyik. Kalau kita langsung hancurin perusahaannya kan lebih seru Queen!" ucap Arga kesal.
"Untuk sementara itu saja Ar, nanti kalau keluarganya ikut campur, baru loe bertindak lagi untuk hancurkan perusahaannya!" jawab Seinara tegas.
"Hahahaha... Itu baru Queen kakak gue! Baiklah Gue akan lakukan sesuai keinginan loe! Dan gue juga akan terus mengawasi orang itu. Jika dia berusaha untuk mencelakai loe lagi, maka gue nggak akan segan lagi sama dia" ucap Arga.
"Oke gue tunggu kabar selanjutnya besok, gue mau besok sudah ada hasilnya pas berangkat kuliah!" ucap Seinara.
"Siap sekarang juga gue akan kerjakan! Tapi sorry gue tutup dulu telfonnya ya. Biar gue bisa fokus melaksanakan tugas yang kamu berikan ini" jawab Arga.
"Ya, good luck brother!" jawab Seinara juga.
Panggilan telfon pun berakhir, Seinara baru bisa memejamkan matanya. Sedangkan di kamar Nathan masih menunggu kabar dari Alex. Hingga dini hari belum juga ada kabar dari Alex, sehingga Nathan pun memutuskan untuk tidur.
Esok harinya, Nathan keluar dari kamar dengan pakaian santai. Karena hari ini tidak ada pekerjaan penting yang harus di kerjakan. Jadi dia memilih untuk tetap berada di rumah, sedangkan Seinara keluar dari kamarnya sudah rapi. Hari ini dia ada kulia pagi, sehingga dia harus buru-buru berangkat ke kampus.
"Pagi kak Nathan...! " sapa Seinara pads Nathan sambil memasuki ruang makan.
Nathan pun mengernyitkan keningnya mendengar sapaan sang istri untuk dirinya.
"Apa? Dia panggil saya kakak? Memang saya setua itu apa? Tapi lebih baik sih dari pada pak Nathan, terlihat lebih tua" protes Nathan dalam hati.
"Hem..." jawab Nathan sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh my God...! Suami gue ternyata ganteng banget kalau pakai baju seperti ini. Dia terlihat seperti anak kuliahan" lirih Seinara dalam hati memuji sang suami.
"Duh... Jantung gue kenapa berulah lagi sih, bikin gue gugup aja" lirih Seinara lagi dalam hati.
Melihat sang istri yang gelisah, Nathan pun bingung dan penasaran
"Kamu kenapa? Kok gelisah begitu?" tanya Nathan segera pada Seinara.
"Ehm... nggak apa-apa kok. Aku cuma takut terlambat aja berangkat kuliah, jadi agak sedikit gelisah" jawab Seinara berbohong.
"Oh... Gitu, ya udah kamu habiskan dulu sarapannya baru berangkat kuliah" ucap Nathan sambil tersenyum tipis.
Ternyata senyuman Nathan membuat Seinara semakin nggak tahan. Ingin sekali dia memeluk dan mencium wajah tampan di depannya.
"Nggak...! Gue nggak bisa seperti ini. Lebih baik gue segera berangkat, daripada gue salah tingkah di depan dia" lirih Seinara dalam hati.
"Ehm... Aku berangkat kuliah dulu ya, soalnya udah siang" pamit Seinara yang langsung meminum susunya dengan cepat.
Karena dia biasa bersalaman dengan kedua orang tuanya, kini pada Nathan pun dia menadahkan tangan untuk menyalimi suaminya. Namun sikap Seinara membuat Nathan salah paham. Nathan pikir sang istri meminta uang saku, padahal dia ingin menyaliminya.
"Kamu minta apa? Saya nggak ada uang cash" tanya Nathan segera dengan wajah bingung.
"Huft... Siapa juga yang minta uang sama kamu?! Saya cuma mau salim aja kok" jawab Seinara yang langsung meraih tangan kanan Nathan lalu menyaliminya.
Setelah itu dia berlalu begitu saja meninggalkan Nathan yang masih diam terpaku mendapatkan perlakuan yang tak biasa dari sang istri.