Samanta tidak menyangka,setelah ia bertemu dengan pria bernama Alfin ia meras hidup di antara dua alam, akankah tumbuh perasaan di antara mereka, bisakah hantu dan manusia bisa bersama.
Yuk ikuti kelanjutan ceritanya,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deii Haqil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA DUA DUNIA
Bab 21
Setelah sampai di kostan. Sam yang menahan lapar sejak tadi langsung membuka bungkusan makanan yang tadi ia beli. Terlihat sangat enak sampai membuat Sam mencecap indra perasa nya.
Cepat cepat ia berlari menuju dapur untuk mengambil tempat untuk ia sajikan. "Makannya pelan pelan ya.." Alfin yang hanya duduk memperhatikan Sam, yang bersiap memasukan nasi dan ayam di kepalan tangan nya.
"Iya! Ini juga baru mulai,." Alfin selalu di buat tersenyum dengan tingkah yang Sam lakukan. Bagaimana tidak,seorang gadis cantik yang sedang menyantap makanan sambil duduk bersila,ia juga memasukan makanan dengan ukuran yang besar. Mungkin satu potong ayam ini saja,Sam hanya memakannya dengan sekali suap. "Ya. Ampun.." Alfin sambil menggelengkan kepalanya melihat ke bar bar'an Sam saat makan.
"Umm,,enyak..kamu mau,?" dengan mulut penuh makanan, Sam menawari Alfin yang hanya memperhatikan nya dengan serius.
"Tidak"
Sam yang mendengar jawaban Alfin mendadak berhenti, ia memandang Alfin sejenak. Bagaiman cara hantu makan ya..
Ia mengedikkan bahu, tak ingin pusing memikirkan Alfin, ia kembali fokus dengan makanan nya dengan hati senang.
.
.
Tak beberapa lama,kini mereka berdua berada di teras depan kostan. Hanya beberapa orang saja yang lalu lalang, karena waktu masih menujukan pukul 20:30 malam.
"Sam, kenapa kamu belum punya kekasih..?" di tengah dinginnya malam Alfin tiba tiba bertanya sesuatu yang sangat intens.
Sam menoleh ke arah Alfin heran.
"Apa sih, kamu kok jadi ketularan kak Sinta."
Alfin yang tak sadar pun tidak tahu, kenapa ia berkata seperti itu.
"Entah lah. Aku hanya penasaran tentang dirimu." Ia yang merasa bodoh hanya memalingkan perhatiannya ke arah lain.
Mendengar ucapan Alfin, Sam hanya menghela nafas sambil menyenderkan punggung dan melipat tangan di dadanya. "Dulu.. Tiga tahun yang lalu. Aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang berada satu Desa dengan ku. Dulu kami sangat bahagia dan saling mencintai, sampai sahabat dari orang tuanya datang membawa seorang gadis yang telah mereka jodohkan sewaktu ia masih kecil. Pacarku dulu, sempat membantah mereka. Akan tetapi janji orang tuanya tetap harus di terpenuhi demi kelangsungan bisnis yang mereka buat." Ucap Sam panjang lebar.
"Terus ??" Alfin semakin penasaran
"Terus, apa ?! Ya kita putus lah.. di saat itu juga aku putuskan untuk pergi ke kota, meninggalkan kampung halamanku dan cinta lamaku. Sampai saat ini rasa itu, belum ada lagi di dalam hatiku. Atau mungkin memang aku yang membentengi diriku untuk mengubur rasa cinta itu, makanya sampai saat ini aku merasa sangat Happy dan tidak terbebani." Mata Sam berbinar saat ia menceritakan tentang dirinya saat ini.
"Apalagi sekarang ada kamu. Hari hariku jadi semakin berwarna saat ini.." Sam menatap Alfin saat ini, terlihat gurat kebahagiaan di mata indahnya.
Tiba tiba, Alfin menjadi salah tingkah dan berbalik badan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. Entah kenapa dengan nya saat ini, rasanya seperti ada bunga bermekaran yang tumbuh di hati Alfin saat Sam menatap nya.
"Sam sebaiknya kamu istirahat, aku pergi ya.. Semoga bermimpi indah." kata Alfin tanpa melihat Sam dan langsung ia menghilang dari pandangan.
Sam yang belum merasakan apa apa, hanya terdiam saja. Lalu ia bangun dari duduknya lalu masuk kedalam kostan nya.
.
.
.
.
Pagi yang sangat sibuk hari ini, beruntung Sam tidak kesiangan lagi dan saat ini ia sudah di sibukan dengan tugas²nya yang menumpuk di atas meja.
Terlihat Sinta tengah menghampiri Sam yang akan meyerahkan beberapa laporan untuknya.
"Sam, ini kalau sudah selesai, tolong antar ke ruangan Direktur ya.." Perintah Sinta saat sampai di depan meja kerjanya.
"Loh!. Bukannya itu tugas Nita, kenapa sekarang aku.." Keluh Sam saat melihat ke arah map yang di bawa Sinta.
Sinta yang di tanya seperti itu, buru² mengalihkan perhatian nya. "Nita sedang ada tugas keluar. Ini.. Tolong cepat ya. "Sinta dengan cepat menyerahkan berkas itu lalu ia melenggang pergi meninggalkan Sam yang terpaku disana.
Hehe.. Tenang Sam, ini untuk kebaikan kamu kok. Ucap Sinta dalam hati, ia belum menyerah untuk bisa mempersatukan Sam dan Radit. Sampai ia sengaja menyuruh Nita mengerjakan tugas di lapangan, agar Sam bisa kembali bertatap muka dengan atasan nya itu.
Dengan sedikit kesal Sam mengambil dan membuka map tersebut, lalu ia lekas mengerjakan nya.
Setelah 15 menit berkutat dengan beberapa dokumen itu, Sam akhirnya selesai dan ia bersiap untuk menyerahkan nya.
Saat Sam mengetuk pintu Ditektur lalu ia masuk kedalamnya, Ada seseorang yang memperhatikan nya dari belakan.
Lisa yang kala itu akan menuju tempat mesin fotocopy, ia tak sengaja melihat Sam yang masuk kedalam ruangan Radit.
"Bukan nya itu Samy, kenapa jadi dia yang membawa laporan kepada Pak Radit ya. Wah.. Nita harus tau ini. "Gumam Lisa.
Bergegas ia menyelesaikan pekerjaan, lalu kembali ke ruangannya.
.
.
"Terimakasih, ya Sam." Radit tersenyum ketika menerima berkas laporan yang Sam berikan.
Sam yang tak ingin lama² berada berdua dengan Bosnya ini, cepat membungkuk kan badan lalu pamit keluar ruangan.
.
.
Sampai tiba waktu jam kerja habis, Sam bergegas merapikan semua barang barangnya lalu bersiap pulang. Rencananya hari ini ia akan melihat tempat bekerja Wulan yang ada di dekat Stasiun. Saat ia berjalan keluar, tiba tiba ada yang mencekal pergelangan tangannya dari belakang.
Sam yang tersentak, dan membalikan tubuhnya cepat ia melihat Nita dan Lisa berdiri di hadapannya.
"Sam !! Lo sengaja kan, mau ngambil posisi gue,? Lo pikir gue gak tau lo mencoba buat ngedeketin pak Radit kan.?" Hardik Nita. Sambil menunjuk wajah Sam.
"Maksud lo apa.? Tadi gue cuma di suruh Bu Sinta karena lo lagi keluar, itu aja. Jangan asal nuduh dong !" Kilahnya sedikit emosi.
"Alaah.. Alasan! Lo pikir gue gak tau kemaren lo jalan sama Dia." Nita yang begitu emosi karena pria yang menjadi incaran nya, dekat dengan wanita lain.
"Itu cuma kebetulan, udah intinya gue gak ada apa² sama pak Radit. Puas lo !"
"Kalo sampe lo ketahuan deket sama pak Radit. Awas aja Sam !" Bisik Nita memperingatkan Sam.
Nita dan Lisa pun berlalu pergi meninggalkan Sam yang masih terdiam di sana, setelah mereka menjauh dan tidak terlihat lagi, Sam keluar meninggalkan kantor. Ia berjalan menuju pemberhentian Bus, yang biasa ia tumpangi.
Di dalam Bus, Sam termenung menatap luar dari kaca jendela. Ia tidak menyangka, ini adalah hari terburuh selama ia berada di sini.
"Neng turun dimana.?" Tegur sang kernet Bus, memecah lamunan Sam.
"Oh, iya pak. Tolong berhenti di dekat Stasiun ya." Sam pun memaksakan senyumannya, agar ia tidak terlihat sedang banyak pikiran.
Sesampai nya ia disana. Sam turun dari dalam Bus dan mulai berjalan, menyusuri tempat² konfeksi yang berada di sana.
Beruntung nya, Saat sam melihat seorang Satpam yang hendak menutup gerbang Home industri itu.
Sam berjalan cepat menghampiri bapak itu. "Maaf pak, boleh saya tanya.!"
Satpam yang melihat Sam pun menjawab dengan ramah. "Iya ada perlu apa mbak,?" Balas nya.
"Begini. Apa disini ada pekerja yang bernama Wulan.?" Tanya Sam penasaran.
* Bersambung *