NovelToon NovelToon
Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:6.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: RR Maesa

Sean Joris adalah Presdir muda tampan yang terlanjur kaya dan sangat sibuk, karena di desak menikah, maka dibuatlah “Kontes Menjadi Istri Presdir”.

Samuel atau biasa dipanggil Sam adalah teman juga asisten pribadinya Sean.

Nah apa yang terjadi jika dalam kontes, Sean meminta Samuel untuk bertukar tempat menggantikannya menjadi presdir dan Sean menjadi asistennya?

Lorena Ayala adalah salah satu peserta kontes yang kehilangan dompetnya dan terpaksa menumpang di rumah kontrakannya Sean, sang Presdir yang asli.

Apakah Sean akan menemukan cinta sejatinya lewat kontes itu?

Follow IG@rr_maesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH-20 Tamu wanitanya Sean

Lorena menatap ruang mencuci pakian itu. Diruangan itu terdapat alat-alat mesin cuci beraneka ragam. Melihatnya saja membuatnya bingung. Kenapa banyak mesin cuci di ruangan itu?

Dilihatnya lagi baju bajunya Sean yang sudah dia masukkan dalam keranjang. Di tangannya ada handphonenya yang sudah dia bungkus dengan plastik tarsparant jangan sampai handphonenya terkena air.

Dikamarnya Sean membukakan matanya dengan malas, kepalanya masih terasa pusing akibat pengaruh obat. Dilihatnya kearah jendela sudah mulai gelap. Diapun bangun, dan keluar kamar. Rumah itu terlihat sepi tidak ada orang, tentu saja sepi karena penghuni aslinya hanya dia sendiri, pelayan-pelayan ada di tempat kerjanya masing masing. Eh tidak sendiri, ada tetangga kamarnya yang centil itu. Hih gayanya, genit banget mau merayu rayu Sam, sok cakep banget. Tapi kemana dia? Ko sepi? Apa dia sedang tidur siang?

Sean berjalan perlahan menuju kamarnya Lorena, menempelkan telinganya ke pintu kamar itu tidak terdengar apa-apa dari dalam. Kemana dia?

Akhirnya dia turun tangga, dan bertemu dengan Pak Roby.

“Kemana wanita itu?” tanya Sean.

“Sepertinya diruang mencuci pakaian,” jawab Pak Roby.

Sean tidak menjawab, kakinya melangkah menuju ruang mencuci pakaian, dia jadi ingin tahu cara wanita itu mencuci pakaian dengan tangannya. Sudah bisa dibayangkan pasti bajunya akan rusak oleh deterjen.

“Ehem!” terdengar suara yang berdehem.

Lorena menoleh pada yang berdehem itu, ternyata si pria usil berselimut itu sudah berdiri di pintu dengan menggunakan jaketnya, tidak menggunakan selimutnya lagi.

“Kau sedang apa disitu?” tanya Lorena, sambil berkacak Pinggang. Dia sedang tidak mau diganggu sekarang.

“Jangan mengangguku! Aku sedang berkonsentrasi,” ucap Lorena dengan ketus.

“Konsentrasi untuk apa?” tanya Sean.

“Aku bingung kenapa disini banyak sekali mesin cuci?” jawab Lorena.

Tiba-tiba terdengar langkah mendekati ruangan itu. Lorena menoleh pada Sean yang menoleh pada yang menghampirnya.

“Ada apa?” tanya Sean pada yang datang.

“Ada tamu Pak,” jawab Pak Roby.

Ternyata Pak Roby, batin Lorena. Dia menoleh pada  pojok kran di sebelah kiri, sepertinya dia bisa mencuci pakaian disana.

“Tamu siapa?” terdengar Sean bertanya.

“Nona Vanessa,” jawab Pak Roby.

“Apa? Vanessa?” tanya Sean terkejut. Bukan Sean saja yang terkejut, Lorena juga terkejut, siapa Vanessa?

“Baiklah suruh tunggu diruang tamu,” jawab Sean. Lorena melihat pria itu menjauh dari pintu tempat dia bersandar.

“Vanessa? Siapa Vanessa?” gumam Lorena. Lama-lama dia jadi tertarik dengan yang namanya Vanessa itu. Akhirnya dia meninggalkan ruang mencuci pakaian itu. Dia berjalan ke ruang tamu, mau lihat tamu yang bernama Vanessa itu.

Lorena mengintip dibalik pintu, melihat ke ruang tamu.

Sean menghampiri tamunya, seorang wanita cantik yang pakaian yang membentuk badan, dia terlihat sangat cantik dengan bodynya yang bagus.

“Ternyata Sean dikelilingi wanita wanita cantik,” gumam Lorena.

Lorena masih diam disitu memperhatikan.

“Hemm pasti itu pacarnya Sean yang menjenguk Sean karena tahu kalau dia lagi sakit, sepertinya aku punya ide,” gumam Lorena.

Dilihatnya Vanessa pindah duduknya ke samping Sean, memegang tangan Sean juga memegang keningnya. Lorena mencibir.

“Hem dia mau mesra-mesraan, tidak bisa! Dia juga menggangguku bersama Pak Sam, aku juga akan mengganggunya,” ucap Lorena. Diapun merapihkan bajunya, menegakkan punggungnya, merapihkan rambutnya, membusungkan dadanya, berjalan masuk ke ruang tamu.

“Ehm! Ehm! Ehm!” Lorena berdehem.

Sean dan Vanessa menoleh padanya. Sean mengerutkan keningnya, bertanya-tanya mau apa Lorena menghampiri mereka. Sedangkan Vanessa bertanya-tanya siapa wanita cantik yang ada di rumahnya Sean itu?

“Hai!” sapa Lorena pada Vanessa.

“Kau siapa?” tanya Vanessa, menatap Lorena.

“Aku kekasihnya Sean,” jawab Lorena, sambil mengulurkan tangannya pada Vanessa yang dengan ragu membalasnya.

“Lorena,” ucap Lorena dengan bangga.

“Vanessa,” jawab Vanesaa, menatap Lorena dari atas sampai bawah.

“Kekasih?” Vanessa tampak terkejut, lalu menoleh pada Sean.

Sean langsung berdiri.

“Bukan! Dia bukan kekeasihku! Dia.. dia..” elak Sean.

“Kalau bukan kekasih, kenapa dia ada di rumahmu?” potong Vanessa menatap Sean.

“Dia dia pembantuku! Pelayan disini!” ucap Sean. Mendengar ucapan Sean membuat Lorena jadi kesal, enak saja Sean mengatakan dia pembantunya, pelayannya, Hem!

“Sayang, kenapa kau seperti itu? Tega sekali kau bicara begitu?” tanya Lorena dengan wajah disedih sedihkan.

Wajah Sean langsung berubah merah padam, dia kesal pada wanita itu. Apa maksudnya wanita itu mengaku ngaku kekasihnya pada Vanessa?

Vanessa menoleh pada Sean.

“Jadi kau tinggal serumah dengan pacarmu?” tanya Vanessa.

“Bukan, dia berbohong!” ucap Sean.

“Sayang, jangan seperti itu! Jangan mentang-mentang ada gadis yang lebih cantik dariku, kau mengingkari diriku!” kata Lorena diplomatis. Wajah Sean semakin merah padam. Dia benar-benar marah pada Lorena.

“Sudah, sudah, tidak apa-apa. Aku hanya sebentar kesini,” kata Vanessa, lalu dia berdiri, meraih tasnya dan menatap Sean.

“Yang penting aku sudah melihatmu, kau sudah lebih baik sekarang, aku pulang,” kata Vanessa.

“Van, yang dkatakan wanita itu tidak benar,” ucap Sean.

Lorena buru-buru mendekati Sean dan memeluk tangannya.

“Sayang, kenapa kau terus terusan bicara begitu? Biarkan saja wanita itu tahu kalau kita tinggal serumah sudah cukup lama,” kata Lorena, satu tangannya mengusap dadanya Sean. Pria itu benar-benar menahan marah.

Vanessa tidak bicara apa-apa lagi, dia keluar ruangan.

Sean melepaskan tangannya Lorena, dan mengejar Vanessa.

“Van tunggu! Kau salah faham!” teriak Sean.

“Dia bukan kekasihku! Dia juga tidak lama tinggal disini!” teriak Sean lagi, tapi Vanessa tidak menjawab, dia sudah memasuki mobilnya.

Akhirnya Sean hanya menatap mobil Vanessa yang melaju meninggalkan rumah itu.

Lorena berdiri dipintu dengan senyum kemenangannya.

“Rasakan, pacarmu pergi!” umpatnya.

Sean membalikkan badannya menatap Lorena dengan pandangan marah. Lorena buru-buru pergi akan menghindar, tapi dipanggil Sean.

“Tunggu!” teriak Sean. Lorenapun menghentikan langkahnya.

“Apa kau gila?” tanya Sean. Lorena yang disebut gila jadi kesal, dan membalikkan badannya.

“Enak saja kau bilang aku gila!” bentaknya.

“Apa yang kau lakukan barusan? Kau membuat Vanessa berfikir macam-macam!” kata Sean.

“Biarkan saja, itu pembalasanku karena kau menggangguku mendekati Pak Sam!” balas Lorena.

“Kau tau siapa dia?” tanya Sean.

“Dia pacarmu kan? Dia sok perhatian memegang keningmu, memegang tanganmu, kalian duduk berdekatan! Huh!” jawab Lorena mencibir.

“Dia itu sepupuku. Dia Dokter! Dia disuruh ibuku untuk melihat keadaanku!” jawab Sean membuat Lorena terkejut.

“Sepupu? Dokter? Disuruh ibumu?” Lorena langsung pucat.

Sean tidak bicara, giginya menggeretuk karena kesal.

“Jadi dia bukan pacarmu? Bukan kekasihmu?” tanya Lorena.

“Kau hanya membuat masalah! Apa kata ibuku kalau tahu aku serumah dengan pacarku?” bentak Sean.

Lorena terdiam, wajahnya semakin pucat.

“Apa? Ibumu? Apa ibumu akan marah dan akan menikahkan kita?” tanya Lorena menjadi cemas.

“Kau fikir apa yang akan dilakuakn ibuku jika aku serumah dengan kekasihku? Aku tidak mau menikah dengamu!” teriak Sean.

“Aku juga tidak mau menikah denganmu! Ayo buru kejar Vanessa. Cepat telpon dia!” kata Lorena.

“Percuma! Dia pasti sudah menelpon ibuku! Kenapa kau datang ke rumah ini malah membuat masalah?“ Sean masih berteriak kesal.

Lorena buru-buru mendekati Sean dan memeluk tangannya.

“Sean, tolong, aku tidak mau menikah denganmu! Aku sedang ikut kontes menjadi istri Presdir! Aku tidak mau menikah dengan Asisiten, aku mau menikah dengan Presdir!” kata Lorena.

Dia takut kalau Sean yang seorang asisten presdir tahu dia putri seorang bangsawan yang kaya raya, Sean akan meninggalkannya seperti pacar-pacarnya yang dulu. Jadi dia harus bisa mendapatkan Presdir, bukan asistennya.

Sean menepiskan tangannya Lorena, berjalan menuju tangga.

“Sean! Sean!” panggil Lorena. Sean tidak menjawab, dia malas bicara dengan Lorena.

Tiba-tiba terdengar suara “Meoong meoong”.

Sean menghentikan langkahnya, kenapa ada suara kucing dirumahnya?

Lorena juga menoleh kearah suara mengeong. Ada yang menarik saat mereka melihat kucing yang melintas.

Sean mengerutkan keningnya, memicingkan matanya melihat kucing itu. Kucing itu membawa sesuatu dimulutnya.

“Apa itu?” gumam Sean. Dan kemudian matanya terbelakak, lalu menoleh pada Lorena yang juga menoleh padanya. Kucing itu berjalan menuju pintu keluar.

“Celana dalamku!” teriak Sean.

“Apa?” tanya Lorena masih bingung.

“Celana dalamku dibawa kucing! Lorena, apa kau tidak menutup pintu dapur?” teriak Sean.

Lorena menatap kucing yang sudah sampai pintu. Benar kucing itu menggigit celana dalamnya Sean.

“Kejar kucing itu!” teriak Sean, sambil berlari menuju kucing itu. Merasa ada yang mengejarnya, kucing itu terus berlari keluar.

“Cepat kejar! Jangan diam saja!” teriak Sean semakin kesal saja karena Lorena hanya mematung.

“Kejar buruan!” teriak Sean lagi, dia berlari mengejar kucing itu.

“Meng! Meng!” panggil Sean. Lorena pun segera keluar juga mengejar kucing.

“Ssst kau disana tahan kucing itu!” kata Sean, menyuruh Lorena berjaga di sebrangnya. Lorena menurut dan berjaga disebrangnya, kucing ada diantara mereka.

Sean berjongkok, menatap kucing yang masih menggigit celana dalamnya.

“Meng meng, sini meng! Kembalikan celana dalamku!” kata Sean dengan lembut.

“Meng meng sini meng! Kembalikan celan dalam pria usil itu!” kata Lorena. Sean melotot pada Lorena.

Kucing itu diam saja. Sean mendekatinya, juga lorena.

“Meng meng,” panggil mereka, tangan mereka mengulur akan menangkap kucing itu. Kucing itu tampak bingung menatap pria dan wanita yang mendekatinya itu.

Sean menoleh pada Lorena supaya lebih mendekat. Tiba-tiba kucing itu melompat masuk melewati celah pagar.

“Dia keluar!” teriak Lorena.

“Cepat kejar! Aku tidak mau kucing itu membawa celana dalamku keliling komplek! Ayo kejar!” teriaknya pada Lorena, diapun berlari menuju pintu gerbang rumahnya diikuti Lorena. Sampai di Gerang mereka celingukan mencari kucing itu. Dilihatnya kucing itu berjalan dipinggir trotoar.

“Ayo kejar!” teriak Sean lagi. Merekapun mengejar kucing itu. Tahu ada yang mengejar malah membuat kucing itu ketakutan dan ikut berlari, kemudian menghilag masuk ke halaman rumah tetangga.

“Aduh bagaimana ini! Kucing itu membawa celana dalamku! Kau sih tidak menutup pintu dapur!” teriak Sean sambil tengengah-engah berhenti berlari, matanya mencari-cari kucing yang kini menghilang dari pandangannya.

“Kemana kucing itu?” tanya Lorena, dia juga kelelahan dan kecapaian.

Sean menatap wanita itu dengan pandangan tajam. Lorena melengos.

“Semua karena kau! Bagaimana kalau kucing itu masuk ke rumah tetangga membawa celana dalamku? Sangat memalukan!” teriak Sean.

“Aku juga tidak tahu kalau kucing itu suka celana dalammu!” jawab Lorena, membuat Sean semakin kesal. Tidak ada lagi yang bisa dikatakannya selain meninggalkan Lorena. Dia benar-benar kesal, masa Presdir berlari-lari mengejar kucing yang menggigit celana dalamnya? Benar-benar menjatuhkan harga dirinya!

“Sean! Sean!” panggil Lorena, tapi pria itu masih berjalan bergegas tidak mau menoleh.

“Kau harus bertanggungjawab!” teriak Sean.

“Kau jangan khawatir, tetanggga tidak akan tahu kalau itu celana dalammu! Kau kan masih punya banyak celana dalam!” kata Lorena. Kini Sean membalikkan badannya.

“Kau yakin tetangga tidak akan tahu?” tanya Sean. Lorena mengangguk.

“Apa kau sudah mencuci celana dalamku?” tanya Sean. Lorena menggeleng.

“Di setiap celana dalamku, ada namaku!” teriak Sean, lalu membalikkan badannya kembali berjalan meninggalkan Lorena.

“Celana dalam? Ada namanya? Celana dalammu ada namanya? Hihihi…” Lorena malah tertawa.

“Celana dalam orang kaya diberi nama? Hihihi…” ulangnya.

“Diam!” bentak Sean, sambil terus berjalan. Wanita itu malah terus tertawa-tawa. Kenapa hidupnya jadi berantakan begini, Presdir Sean? Batinnya dengan lesu.

************

Jangan lupa like vote dan komen

1
Sri Lestari
Luar biasa
Hestiana Unun
tolong dong novel yg heatus dilanjulin
Erna Dwi Rahayu
sbg ibu jahat skali ny gracya , anak lg panik istrinya knapa² yg dipikirkan hanya soal warisan² aja. kliatan jelas tdk ada kasih sayang antar Sean & mommy nya
Roroazzahra
serunih
KING'Tozis - Fingerstyle Ndr
gw baru ketemu seorang presdis dan asisten terbodoh disini
Fitry Kamil
tk lem tobat nyonya grace
KING'Tozis - Fingerstyle Ndr
semoga Indri bsa jadi teman yang baik buat Lorena ke depan♥️🤝
Irna Wati Dharmin
ceritax menarik
Irna Wati Dharmin
lanjut thor
Selene
bhuakakakaka.... Sam nikah 🤣
Selene
ingat thor.... abstrak... ab...strak 🤣🤣🤣
Youla Pandelaki
ckck..ceritanya koq gini thor
Punnie Altaf
analisa Sam lebih hebat
Punnie Altaf
damian siapa thor
Neny Indrawati
ngakak habis😀😀😁😁
Laila Nia
sam jdi tumbal...🤣🤣🤣
dina r
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ngakakk bangettt
Candrarini Setyanto
aku tunggu thor..
Sri Menanti
makasih Thor, ceritanya bagus dan Endingnya menyenangkan💕😍
sehat selalu, ditunggu cerita cerita berikutnya 🙏
SantosaDebora
Awal2 crtanya biasa aj tp tnyata makin lama makin menarik. Alurnya gk pasaran..serasa kyk nonton drama Korea😆..salamm..sukses sllu!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!