Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARMI YANG TIDAK JERA
Pintu kamar terbuka lebar. Parmi langsung tersungkur ke lantai.
Beni yang mebawa Pak Imam, dan Rohmat yang membawa Bu Bidan. Keheranan dengan Parmi yang tergeletak di lantai.
"Loh, Parmi! Kenapa tiduran di lantai?" Tanya Rohmat heran.
"Iya, Bi Parmi, kenapa nggak duduk di kursi saja?"
Beni menyela. Mereka menatap ke sekeliling kamar.
Parmi yang mendengar suara mereka membuka mata.
"Bang Rohmat! Beni, dan anda semua nya?" Parmi segera bangkit, lalu menangis haru.
"Huhu, syukurlah kalian datang. Tadi, tadi ada arwah Yusuf, dan Seruni datang, mereka mencoba ingin membun*hku. Tolong aku, huhu. Mereka juga yang membuat kamar ini berantakan, dan membuat Ndoro semakin kesakitan." Ucap Parmi dengan isakan tangisnya.
Rohmat, dan yang lainnya menatap Parmi heran.
"Kamu kenapa? Kamar baik-baik saja. Dan ibu pun terlihat tidur. Kamu mimpi ini, pasti." Ujar Rohmat merasa Parmi aneh.
"Tidak ada Roh, dari seseorang yang meninggal akan
gentayangan. Apalagi ingin mencelakai manusia, Parmi. Bila pun ada, itu bukan Roh mereka. Tapi mereka itu adalah jin jahat yang menyerupai orang yang telah meninggal." Pak Imam menambahkan.
Parmi terdiam mendengar ucaoan Pak Imam. Ia pun menatap ke sekeliling, dan terpaku. Karena semua nya baik-baik saja tidak seperti yang ia lihat barusan, semua benda yang berjatuhan di lantai, beling yang berserak di mana-mana, karena terjatuh, kini sudah tak nampak, semua terlihat biasa saja seperti semula. Seolah kamar itu tidak terjadi apa-apa.
Apa sebenarnya yang terjadi? Apa aku barusan bermimpi?! Ah Ya ampun..., cuma mimpi inimah, pasti cuma mimpi. Ya ampun syukurlah.
Parmi menghela napas lega.
Rohmat yang merasa Pami ketiduran saat menjaga Ibunya pun hanya menghela napas.
"Parmi, sana cepat panggil istriku. Ibu mau di rukiyah, dan di obati oleh Bidah Asih." Titah Rohmat.
"Iya, Bang." Parmi patuh lalu segera menuju kamar Sulis. Dalam benaknya kembali muncul pertanyaan.
Loh! Bukannya Bang Rohmat tadi sama Embak Sulis sedang berduaan di kamar ya? Kok nyuruh aku manggil?! Oh, mungkin habis main, terus Bang Rohmat, pergi manggil, Bu Bidan.
Parmi terus berusaha berpikir positif.
Sesampainya di depan pintu kamar, Sulis. Parmi segera mengetuk daun pintu yang tertutup rapat itu.
TOOOKKK...
TOOKKK...
Klaim
"mbak Sulis, mbak! Di panggil sama Bang Rohmat." Serunya. Masih tidak ada jawaban dari dalam.
Parmi pun berniat akan mengetuk kembali. Namun pintu tiba-tiba di buka.
KREK!
Seno terlihat terkejut. Namun berusaha setenang mungkin. Parmi menatap suaminya penuh tanda tanya. Terlihat juga, Sulis yang hanya berbalutkan handuk sampai dadanya, hingga dadanya yang besar terlihat menonjol.
Dada Parmi mulai bergemuruh. Rasa cemburunya menguar. "Ngapain kamu di kamar Embak Sulis, Mas?!"
Tanya Parmi ketus. Tangannya mulai mengepal.
"Lah, la kamu ngapain depan kamar, Embak Sulis?"
Tanya balik Seno.
"Aku ke sini karena di suruh. La kamu, ngapain di dalam kamar, berduaan." Ketus Parmi, hampir saja keceplosan memaki.
"Parmi, jangan salah paham. Aku di sini karena di mintai tolong sama, mbak Sulis. Kran kamar mandinya rusak. Jadi aku yang benerin. Bang Rohmat kan pergi."
Ucap Seno beralasan.
"Iya, Parmi. Enggak ada orang di rumah. Hanya ada Seno, yang terlihat. Jadi aku yang menyuruhnya benerin. Sudah terlanjur buka baju, masa mau keluyuran keluar rumah. Sudah beres, kran nya sudah berfungsi. Sudah sana kalian pergi, aku mau mandi." Sela Sulis.
Parmi terlihat salah tingkah. Ia pun jadi merasa tidak enak karena sudah berpikir yang tidak-tidak terhadap suami, dan majikannya itu.
"Eh, maaf, mbak. Saya hampir salah sangka. Ya sudah, saya permisi dulu. Iya tadi dapat pesan dari, Bang Rohmat. mbak di suruh ke kamarnya Ndoro." Ucap Parmi. Sulis hanya mengangguk.
itu. Parmi segera keluar sambil menarik lengan suaminya
Setelah di luar kamar, Parmi kembali meminta ketegasan suaminya. "Kamu tadi nggak ngapa-ngapain sama mbak Sulis, kan Mas?"
"Ya ampun Parmi. Enggak mungkinlah aku berhubungan sama majikan kita. Menatapnya aja aku nggak berani. Lagian, aku udah punya kamu yang cantik ini. Ngapain aku liat wanita lain." Tegas Seno.
Parmi yang kegirangan akan kata-kata pujian suaminya tersenyum bahagia. "Iya Mas. Aku percaya kok. Kamu memang lelaki yang setia." Ucap Parmi senang.
Di dapur, Wardah yang sedang memasak bubur, melihat sesuatu yang mencurigakan dari arah luar jendela. "Seperti ada seseorang di sana. Siapa ya? Perasaan keluarga lagi bersama Bude. Dan yang lain sudah pada pergi keladang." Wardah yang penasaran pun melangkah mengendap, menuju tempat orang itu berada.
Saat sudah dekat, dahinya berkerut. "Kamu? Ngapain kamu berada di sini! Pasti kamu yang membuat kekacauan di rumah ini, iya kan?" Ucap Wardah geram.
Pria itu tidak menoleh, tudung kepalanya yang begitu besar, menyulitkan Wardah untuk bisa jelas melihat wajahnya. Namun, dia pun seketika mengenali pria itu. Yah dialah orang yang menolong nya dari percobaan pemerkosaan oleh Jaka, dulu.
Pria itu masih diam. Wardah coba mendekat. "Jangan mendekat! Jaga jarakmu dariku." Ucap pria itu dingin.
"Maaf, aku tadi bicara kasar kepadamu. Aku ingat, kamu orang yang menyelamatkan aku dulu itu kan? Dan aku yakin kamu adalah orang baik. Tapi, sejak itu aku sering melihatmu berdiri diam seperti ini. Aku yakin, kamu berniat sesuatu kepada keluarga ini. Jika tak keberatan, berceritalah kepadaku, agar aku tak ber soudzon kepadamu. Soalnya, sejak aku sering melihatmu di sekitar sini, keluarga ini terjadi banyak keanehan, dan fatalnya, Pakdeku meninggal." Ucap Wardah yang ingin menguak rasa penasarannya.
Pria itu tetap diam lalu terlihat bibirnya di angkat
keatas. "Suatu saat kau akan tahu. Dan jangan pernah halangi aku akan hal itu. Apa pun yang akan aku lakukan kepada keluarga ini. Mereka semua pantas mendapatkannya." Pria itu membuang napas kasarnya.
Wardah membeku. Jadi, secara tidak langsung, pria itu membenarkan dugaannya selama ini. "Ja-jadi, kaulah dalang dari semua ini? Kau juga yang mewafatkan Pakdeku, iya?"
"Kalau itu, itu bukan ulahku. Jika kau penasaran, tanyalah kepada Budemu, dan Sulis. Mereka lebih tau dengan semua itu." Pria itu lalu pergi tanpa menoleh sedikitpun kepada, Wardah.
Wardah yang masih ingin bertanya, me coba mengejar. "Hi tunggu! Aku belum selesai bertanya." Wardah mencoba berlari mengejar pria tersebut, yang berjalan cepat menuju ke dalam hutan.
Hingga sampailah Wardah pun di dalam hutan yang terlihat begitu senyap.
"Hoss... Hoss...! Kemana dia? Kok nggak kelihatan lagi." Dengan napas tersengal Wardah menyusuri hutan, yang sudah tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan manusia di sana.
Bulu kuduknya merinding, namun sudah terlanjur di dalam hutan, ia pun berjalan pelan sambil mengamati keadaan sekitar.
"Mengapa cepat sekali jalannya. HAIII...!!! Kamu di mana? Aku masih ingin bertanya kepadamu...!" Wardah berteriak keras. Hingga ia tak terasa telah melangkah jauh ke dalam hutan.
Bulu kuduk nya meremang sempurna. Ia menoleh kekana dan kekiri.
Sampai akhirnya, ia melihat pohon beringin besar yang terlihat sudah sangat tua, namun tetap kokok.
Darahnya berdesir, dan detak jantungnya berpacu terasa lebih cepat. Pohon itu, seperti ada kekuatan magis, yang mengingatkannya akan sesuatu yang tak apa itu.
Namun sangat membuatnya larut dalam kesedihan.
Air matanya tiba-tiba jatuh dengan sendirinya. Ada rasa kepiluan yang mendalam, kala ia menatapnya. Wardah mendekat, lalu memegang pohon tersebut.
Tiba-tiba muncullah bayangan-bayangan di dalam
kepalanya, Ia memejamkan mata.
"Ade! Ade harus kuat ya? Abang berjanji akan selalu menjaga Ade. Kita sudah nggak punya siapa-siapa lagi, Dek. Huhu..., Ayah dan Bunda sudah di bun*h orang-orang jahat itu, Dek. Adek... kita harus membalasnya. Mereka harus mati juga, seperti Ayah dan bunda kita,
Dek."
"Ade...!"
"Ade...!"
Bayangan, dan tangisan dari seorang anak kecil... begitu jelas terngiang di telinga Wardah di dalam alam bawah sadarnya. Ia pun menangis sesenggukan.
"Abang....! Abang...! AAABBBAAANNNGGG...!!!"