NovelToon NovelToon
Death Game

Death Game

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Supernatural / Barat / Tamat
Popularitas:83.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Isqa

Berkisah tentang dunia Guide.

Sebuah dunia hitam di mana terdapat para Dewa di kayangannya. Dan tiga belas bangsa, namun tiga di antaranya tenggelam dalam pembantaian. Lima kemampuan, beserta lantunan nyanyian aneh yang mengikat semua makhluk dalam perjanjian berdarah.

Tak disangka, demi mengubah nasib, orang-orang dari dunia manusia pun datang ke sana.

Salah satunya Riz si korban perundungan, bersama Toz dan juga Reve sang pembawa ular, mereka malah bertemu rekan-rekan aneh dan jatuh ke dalam peperangan melawan penyimpang.


IG : miqaela_isqa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siksaan induk beruang

Entah menyesal atau sudah biasa dengan kehidupan di dunia Guide, perkataan yang ia tabur terasa seperti menertawakan dirinya dan juga kehidupannya.

Doxia Mero dan Riz sama-sama terdiam akhirnya. Keduanya pun tenggelam dalam pemikiran masing-masing, sampai akhirnya sebuah suara cukup berisik di luar gua mengacaukan keheningan mereka.

“A-apa itu?!” pekik Riz kaget.

“Huush!” Doxia menyuruh Riz diam sambil memperagakan jari yang menempel ke bibir sendiri. Ia juga menginjak unggun yang hidup dengan pelan, sehingga sumber penerangan satu-satunya dalam gua lenyap seketika.

Keduanya sama-sama tak bersuara, kecuali hembusan napas pelan yang menemani diri.

Semakin lama suara berisik itu semakin jelas seperti sebuah pertarungan dahsyat di luar sana. Ada raungan, serta hentakan kuat yang membentur tanah sehingga menimbulkan getaran.

Keringat dingin mengucur pelan di wajah Riz, menandakan ketegangan dirinya tak mampu lagi menutupi ketakutannya. Seorang calon guider, tanpa kemampuan apa pun untuk melindungi diri di dunia yang diselimuti kematian. Suatu kewajaran jika dirinya takut dan menjadi pengecut nantinya.

Sebuah untaian doa mulai ia lantunkan dalam batinnya, berharap semua baik-baik saja. Berharap jika dirinya akan selamat di dunia itu, dan bisa kembali ke pelukan ibunya di dunia manusia.

Di luar gua tempat Riz dan Doxia bersembunyi ....

“Hhahahaha! Mati kau!” ucap seseorang penuh keangkuhan.

Cambuk besar di tangan ia ayunkan dengan kasar pada sebuah makhluk besar mirip beruang. Beruang besar itu meraung-raung sambil memeluk beruang kecil di tubuhnya.

Raungan beruang itu sangat keras seolah berteriak kesakitan mengharapkan pengampunan dari guider assandia yang menyiksanya.

Tak ada iba, kecuali ekspresi puas dari siksaan yang dilakukannya. Semakin ia mengayunkan cambuk itu, semakin keras teriakan beruang tersebut. Sambil memangku anak beruang dipelukan, beruang itu berjalan tertatih-tatih dengan darah menetes dari setiap cabikan luka tubuhnya.

“Grrooaar!” pekik beruang itu begitu ayunan cambuk memukul kepalanya.

“Beraninya kau mengambil makananku! Dasar binatang tak punya otak! Akan terus kucambuk kau sampai ke tulang-tulangmu!”

Sementara dua pasang mata menatap kaget dari celah lubang kristal snakeya (racun ular) yang dilubanginya.

“Kita harus menyelamatkan binatang itu!”

“Apa kau gila?! Sudah jelas aku sedang bersembunyi! Kalau nanti aku ketahuan bagaimana?!” Doxia tak menyetujuinya.

“Lalu anda akan membiarkan binatang itu begitu saja?! Jangan biarkan ketakutan memakan nuranimu sial*n! Bahkan jika itu binatang, mereka juga butuh bantuan dari manusia seperti kita! Aku akan membantunya!” Riz pun bersikeras pada pendiriannya.

Ia mendorong Doxia yang menghalangi jalannya, menendang kristal dari snakeya (racun ular) secara barbar.

“Sialan! Cepat hancurkan kristal ini br*ngs*k!” perintah Riz pada Doxia, seolah dirinya lupa kalau pria itulah yang sudah menyelamatkannya.

Kristal snakeya (racun ular) cukup keras, sehingga Riz kesusahan untuk menghancurkannya. Raungan beruang itu semakin keras teriakannya, membuat Doxia yang sudah teguh ingin bersembunyi tersentuh juga akhirnya.

Ia pun berdiri, raut wajah yang enggan berubah tajam seolah hendak memangsa orang di depannya.

“Minggir kau bocah!” Doxia menarik kerah baju Riz sehingga bocah itu terpental ke belakang. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah seperti sedang memegang sesuatu.

“Muncullah, issenca! (Kapak merah!)” Doxia langsung mengayunkan tangannya yang bercahaya itu ke depan. Sehingga kristal snakeya (racun ular) dan gua itu langsung hancur seketika.

“Sial*n! Siapa itu!” gerutu laki-laki yang memegang cambuk tersebut. Hampir saja dirinya terkena serangan dari ayunan kapak yang membelah tanah itu.

“Lu-luar biasa,” Riz pun terpana jadinya.

Bagaimana tidak, dalam sekali tebasan, ayunan kapak Doxia mampu membelah dua apa pun di depannya. Bahkan gua tempatnya berteduh hancur akibat tekanan dari kapak yang dikeluarkannya.

“Bukankah kalau begini anda akan tambah ketahuan?!”

“Sial*n! Bukankah kau yang yang mengatakan agar ketakutan tak memakan nuraniku?! Sekarang kau berani mengatakan itu?!” emosi Doxia sambil mengayunkan kapaknya ke arah Riz yang menatap malas.

“Kapak itu, kau assandia!” ucap sang pemakai cambuk kesal. Beruang yang ia siksa tersungkur di depan mereka bersimbah darah.

Sementara, sang anak beruang yang tadinya dalam pelukan, meraung menggoyangkan tubuh induknya karena mulai melemah.

Tontonan yang memilukan, Riz pun langsung berlari menuju beruang itu.

“Ptaassz!” hentakan cambuk menghentikan langkah Riz.

“Siapa yang mengizinkanmu mendekati buruanku?” tekan laki-laki pemakai cambuk. Ia menatap tajam pada Riz yang memendam amarah.

“Buruan?! Dasar tak punya hati! Memang apa yang sudah dilakukan beruang itu sampai kau menyiksanya?!” teriak Riz tak terima.

“Itu bukan urusanmu,” seringai laki-laki itu semakin menjadi-jadi. Ia menggoyang-goyangkan tangannya, sehingga ayunan cambuk itu tampak menari-nari. “Jika kau mengganggu, maka nasibmu juga akan sama seperti beruang itu.”

“Kau!” rahang Riz menegas.

“Tolong saja beruang itu. Laki-laki br*ngs*k ini biar aku yang menghadapinya,” perintah Doxia pada Riz.

Riz pun mengangguk dan mendekati beruang yang terluka. “Kalau begitu, kau duluan yang kusiksa,” laki-laki pemakai cambuk mengalihkan tatapannya pada Doxia.

Raungan anak beruang yang masih berusaha mengoyang-goyangkan tubuh induknya pun teralihkan saat menyadari Riz mendekat.

Anak beruang itu tampak marah, mengeluarkan taring dan cakar di sela-sela air mata yang menetes.

“A-aku hanya ingin membantu,” ucap Riz, perlahan ia masih menggeser pelan langkahnya untuk mendekat.

Riz pun mengulurkan tangannya ke depan, mencoba mengusap kepala anak beruang yang tampak marah dan takut itu. Tak peduli apa yang terjadi, ia harus melakukannya agar bisa mendekat pada induk beruang.

“Grooar!” anak beruang itu mencakar lengannya.

“Uugh!” erang Riz. Rasa sakit dari cakaran anak beruang tak memudarkan keinginannya.

Ia tetap mengangkat lengan yang terluka itu, sampai akhirnya tangan Riz berhasil menyentuh kepala anak beruang dan mengelusnya.

Tanpa keraguan, ia pun memeluk anak beruang itu. Entah naluri apa yang dimilikinya sampai melakukan hal berani tersebut. Akan tetapi, pelukannya berhasil menenangkan anak beruang yang penuh kesedihan didekapannya.

Mata Riz melirik induk beruang yang sudah tergeletak lemah tak berdaya. Sorot mata induk beruang itu memilukan hati Riz, ia pun menyentuh tangan induk beruang yang gemetaran.

Tanpa sadar air mata Riz mengalir. Rasa sakit yang dialami induk beruang itu mengingatkannya pada ibunya.

“Kenapa? Kenapa ada orang yang sekejam ini? Bahkan beruang ini pun memiliki anak yang harus ia besarkan,” lirih Riz saat menyadari seberapa parah luka induk beruang.

“A-apa yang harus kulakukan? Lukanya ...” Riz tak melanjutkan ucapannya.

Air matanya benar-benar tak terbendung, terlebih lagi darah dari luka di punggung induk beruang mengalir jernih ke tanah.

Suara hentakan keras, dari dua senjata guider assandia menimbulkan ketegangan untuk sekitarnya. Ayunan kasar dari cambuk laki-laki tersebut berhasil ditepis Doxia. Bahkan walaupun cambuk itu berhasil melukai pipi Doxia, tapi kemenangan laki-laki tersebut masih jauh dari kata berhasil.

“Menilik dari kemampuanmu, sepertinya kau guider level C,” ucap Doxia padanya.

“Bukankah kau juga begitu?” seringai laki-laki itu masih tertempel jelas di wajahnya.

“Kenapa kita tak saling serius saja? Ini akan sangat menyenangkan.”

“Kenapa tidak? Akan kurobek mulutmu sebagai hukuman karena sudah menyiksa beruang itu,” ekspresi Doxia berubah dingin.

“Lakukanlah! Itu pun jika kau bisa,” laki-laki itu menghentakan cambuknya.

Ia menekuk lengannya, sehingga tangan yang memegang cambuk pun menutupi wajahnya. Cambuk pun mulai berasap, seperti sedang mengumpulkan aliran energi sekitar dan menghisapnya.

Sementara Doxia, ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Sama dengan laki-laki itu, kapak merahnya mulai berasap seperti sedang mengumpulkan energi sekitar di mata kapak tersebut.

Keheningan mencekam sama-sama tercipta dari dua orang yang mulai mengumpulkan energi di senjatanya.

“Sepertinya kalian sedang asyik,” potong seseorang tiba-tiba.

Riz, Doxia dan laki-laki itu menoleh kaget pada sumber suara. Seorang pemuda, dengan rambut merah acak-acakan menatap kosong pada dua assandia yang sedang memasang kuda-kuda.

“Aku mendengar teriakan kematian di sini,” lirih pemuda itu sambil menyisir rambutnya ke belakang dan memamerkan mata emerald yang menggelap tatapannya.

1
PAULUSS
yah
maunya season duanya dong
PAULUSS: yaudah
semangat ya
IM can't wait your story
total 2 replies
arfan
jos bos
miqaela_isqa: makasih sob 👍🏿
total 1 replies
Mafia Girl
😭😭
miqaela_isqa: Emg nyesek 😭
total 1 replies
Mafia Girl
kejam bgt😭
miqaela_isqa: Gitu lah kak 😭😭😭

Omong2 makasih loh udh hadir 😭
total 1 replies
Dodol Garut
lajut up nya thor.
Yissa Erin
loooo
masa udah habis thor
😭😭
aq nungguin lama loooo
kalau dilanjut pasti masih seruu poool
Yissa Erin: siiaaaaap,,pasti ditunggu
semaangaaaaaat💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍🏻👍🏻👍🏻
total 2 replies
『Gres Ier』
Paman, pamer itu tidak baik 😑
miqaela_isqa: 😂 Oalah kok jadi paman.

Tapi makasih byk loh bos udh setia baca karya ini, maaf up nya awut2 an, smog suatu saat bisa bkin karya fantasi yg lebih baik lagi.

Makasih byk untuk smua dukungan ny bos 🙌🏿
total 1 replies
『Gres Ier』
author sakit atau ada keperluan di real life?
miqaela_isqa: Kalau sekarang dua2 nya sih bos 😱
total 1 replies
Machan
jujur, dari awal ampe sekarang baca nama tokohnya blibet bang.

berarti ini beneran dah end apa masih ada boncap bang?

lanjut semangat💪
Machan: kebangun gegara anaknya nangis, trus da notif up dari elu bang

sekalian aja😅
total 2 replies
Machan
othor semedi di gunung ya, makanya lama hiatusnya
miqaela_isqa: Ntar malah nemu jampi santet onlen 😱
total 3 replies
Dodol Garut
lanjut thor.
yyisaerin2
hmmmmm
masih setia menunggu kelanjutan ceritanya
lanjutkan author
semangaaat
Machan
setelah sekian lama purnama merindu, akhirnya up juga.

semangat bang,💪💪
miqaela_isqa: Makasi byk lho kak lien, jadi rindu ane ama kakak 😂
total 1 replies
『Gres Ier』
kupikir gerbang itu menuju dunia manusia Riz, ternyata enggak :v
miqaela_isqa: Hehehe ketipu bos 😂
total 1 replies
『Gres Ier』
wkwkw
Dodol Garut
lanjut up nya thor.
yyisaerin2
jangan lama lama up nya ya author
semangat yaaa
biar bisa tetep lanjut ceritanya
ditunggu up nya
Machan
gua pernah nonton film dewa gitu. keknya horus itu dewa apa ya, gua lupa😂
Machan
klo ra itu dewa matahari bukan sih
『Gres Ier』
sial banget sih Toz nya wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!