"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"
Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.
"Menikahlah denganku, Ash!"
Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.
Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Abiyan menerima panggilan telepon, sebelumnya ia menarik Asha ke kamarnya ketika ia bersitegang dengan ayahnya. Di tepi ranjang Asha duduk mengamatinya yang menerima telepon dengan wajah yang tampak serius.
"Aku harus pergi, ada pekerjaan. Kamu ikut?"
Asha menelisik wajah Abiyan, ini kali pertama pria itu membahas sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam kepalanya Asha menyimpan rasa penasaran perihal pekerjaan yang Abiyan maksud. Namun, Asha memilih menyimpan pertanyaan itu sedikit lebih lama. Asha takut jika pertanyaannya akan menyinggung Abiyan.
Sejak Abiyan menyeretnya ke dalam kamar, pria itu bungkam dengan ekspresi yang kurang baik. Cukup lama hingga panggilan telepon itu datang, barulah setelahnya Abiyan berbicara pada Asha.
"Kamu ikut?" ulang Abiyan.
Asha menggeleng. "Tidak, Ian. Kamu akan bekerja bagaimana mungkin aku ikut dan mengganggumu."
"Pekerjaanku tidak akan terganggu meski kamu ikut sekali pun."
Asha semakin penasaran dengan pekerjaan yang Abiyan maksud. Haruskah Asha ikut?
Asha menggeleng, ia mengabaikan rasa penasaran dan membiarkan Abiyan bekerja dengan tenang.
"Lagipula aku sangat lelah, Ian. Semalam ... mm kamu tahu sendiri."
Abiyan mengembuskan napasnya berat. "Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu di rumah sejak kejadian tadi, tapi ... tidurlah! Kamu perlu istirahat."
Asha menatap punggung mobil Abiyan yang melaju meninggalkan kediaman Andara. Asha memeluk diri sendiri, lalu membuang napasnya panjang.
Aku tidak tahu jika ternyata Ian bisa berekspresi seperti itu saat ayahnya membahas perusahaan dengannya. Ada apa dengannya?
Asha memeluk dirinya sendiri sebelum berbalik.
"Kamu seharusnya tidak menikahi anak berandal seperti itu."
Asha berbalik. Di belakangnya Zaky sudah bersedekap dada lalu menyender pada pilar penyangga teras. Asha memutar bola matanya jengah lalu menyipitkan matanya dan menelisik Zaky.
"Tidak usah menatapku begitu. Dia memang berandal dan tidak punya masa depan."
Kamu bahkan tidak ingat apa yang terjadi semalam. Huh rasanya sia-sia saja amarahku semalam. Dasar pria bebal!
Asha lagi-lagi memutar matanya. "Jaga bicaramu! Lagipula menikahinya adalah pilihanku." Asha beranjak, meninggalkan Zaky yang tercengung.
Begitu Asha sampai di tengah-tengah tangga Zaky berhasil menyusulnya, menyamakan langkah dan berjalan di sampingnya dalam diam.
Asha memegang kenop pintu kamar Abiyan, Zaky menariknya. Tanpa persetujuan Zaky menyeret Asha ke kamarnya, mengunci pintunya lalu menyimpannya di saku.
Jantung Asha berdetak kencang. Berdebar keras, Asha mundur selangkah. "Apa yang kamu lakukan? Buka pintunya!" Asha menunjuk pintu dengan dada naik turun karena amarah.
"Tenanglah!" Zaky melangkah melewati Asha lalu duduk di sofa kamarnya.
Asha berbalik mengikuti arah tujuan Zaky dengan penuh waspada.
Zaky duduk dengan menyilangkan kaki, bersedekap dada lalu menatap nanar pada udara kosong di depannya.
Asha masih berdiri di tempat yang sama, rasa kesal dan amarahnya masih sama. Namun ia memilih untuk menurunkan egonya, tidak lagi meledak. Tentu Asha tidak ingin tertangkap basah seseorang, berada di kamar kakak iparnya dengan pintu terkunci. Akan jadi apa dirinya nanti?
Tidak ada tanda-tanda Zaky akan melakukan hal gila, Asha bisa bernapas lega. Ia menatap Zaky tanpa menurunkan kewaspadaan. Cukup lama Zaky membungkam mulutnya sendiri, lalu tiba-tiba ia menatap Asha. Tatapan putus asa, sejenak Asha teringat masa lalu.
"Kamu serius memilih Abiyan menikahi Abiyan?"
"Ya Tuhan, kamu menyeretku kemari hanya untuk menanyakan itu?" Asha terkekeh. "Tantu saja aku serius memilihnya."
"Tidak. Maksudku ... benarkah hatimu memilihnya?"
Asha terdiam sejenak. Zaky menatapnya dengan tatapan yang masih sama.
"Aku memang memilihnya dan kami sudah menikah. Apa maksudmu?"
"Sejak kapan? Bahkan hari di mana kamu kembali dari Paris kamu masih mencintaiku dan sebelumnya kamu pun selalu begitu."
"Wah...." Asha menengadah dan memutar matanya. "Seseorang bisa berubah. Kamu juga."
"Apa maksudnya?" Zaky berdiri, berjalan mendekati Asha menuntut jawaban.
Asha mundur, namun Zaky terus mendekat. Dengan langkah tenang pria itu mendekati Asha yang semakin terpojok. Punggung Asha menabrak pintu di belakangnya.
Zaky mengungkungnya di antara kedua tangannya. Menatap Asha tanpa berkedip. "Katakan apa maksudmu!"
Asha gelagapan. Asha lupa jika Zaky masih belum tahu jika dirinya sudah mengetahui perselingkuhan Zaky dengan Rhea. Ia kelepasan. Semalam tentu saja berbeda kasusnya, Zaky sedang mabuk. Tidak satu kata pun yang Asha lontarkan diingat oleh pria itu sekarang. Tapi, kali ini Zaky sedang sadar dan dia menutut penjelasan.
Asha memutar pandangannya ke segala arah. Hingga menangkap gantungan kunci yang menyembul di saku baju Zaky. Asha mendapatkan kesempatannya. Ia menarik gantungan kunci tersebut lalu mendorong Zaky dengan keras hingga pria itu terhuyung ke belakang dengan gerakan cepat Asha gegas membuka pintu di belakangnya.
"Renungkan apa kesalahanmu!" seru Asha sebelum ia benar-benar menghilang dari balik pintu.
Asha segera masuk ke dalam kamar Abiyan lalu mengunci pintu. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya bergetar. Rasa kesal dan amarah yang sejak tadi memenuhi dadanya berubah menjadi rasa takut yang diam-diam merambat.
"Aku rasa, aku hanya akan aman di sini ketika ada Abiyan," gumamnya lirih.
"Aku rasa dia sudah gila! Bagaimana bisa dia menyeret adik iparnya ke kamarnya sendiri."
Jantungnya masih berdetak kencang. "Beruntung dia tidak melakukan apa pun. Tapi bagaimana jika nanti dia mengambil kesempatan. Tatapannya benar-benar menakutkan. Aku tidak percaya pernah mencintai pria seperti dia." Asha merutuki Zaky dengan gerutuannya yang tiada henti.
Asha mengambil ponselnya dari dalam tas yang masih tergeletak rapi di samping ranjang bersama koper yang di simpan oleh asisten rumah tangga sebelumnya.
Aku tidak bisa diam saja di rumah dan memberi Zaky kesempatan untuk menuntut jawaban dariku.
Asha menelusuri kontak di ponselnya, dan nama Abiyan kini telah terpampang di layar. Asha ragu untuk menelepon, Asha ingat pria itu sedang bekerja.
"Aku tidak boleh mengganggunya," gumam Asha.
Asha menatap nanar ponselnya, lalu tiba-tiba pikirannya teringat Ace. Asha gegas mencari nomer telepon sahabatnya itu.
"Hallo," sambutnya begitu panggilan telepon terhubung.
"Bisakah kita bertemu?" Ahsa langsung mengutarakan niatnya.
"Ada apa? Ini hari pertamamu setelah menikah. Bukankah seharusnya kamu sedang bersama suamimu?"
"Um— itu ... dia sedang bekerja. Dan aku butuh teman bicara. Aku berharap bisa meninggalkan kediaman Andara secepatnya."
"Apa maksudmu? Suamimu menyakitimu?" Ace menyahut khawatir.
"Tidak, bukan begitu." Asha menggaruk pelipisnya seolah Ace dapat melihat perubahan ekspresinya. "Aku akan menjelaskannya nanti."
"Baiklah, kita bertemu di kafe sebelumnya. Di sana ada ruang private."
"Aku akan bersiap." Asha memutus sambungan telepon. Membersihkan diri dan berganti pakaian.
Hanya ada empat stel baju yang ia bawa, yang dua stel adalah piyama dan satu stel lagi sudah ia pakai. Tersisa dalaman crop top, mini leather skirt berbahan kulit dan jaket kulit oversize yang ia padukan dengan boots hitam senada dengan rok dan jaketnya.
Asha mengambil tas selempang kecil miliknya untuk menyimpan ponsel dan membuka pelan pintu kamar Abiyan. Ia menyembulkan kepalanya sedikit mengintip pintu kamar Zaky yang tertutup rapat. Asha bernapas lega.
Ia gegas keluar dan turun, namun di ruang keluarga ada Zaky dan Roy Andara yang tengah membahas sesuatu. Asha terpaksa mendekat.
Zaky mengerutkan kening, matanya menyipit.
"Aku akan bertemu teman sebentar Ayah," pamit Asha tanpa memedulikan ekspresi Zaky.
Roy mengangguk.
Zaky berdiri menahan Asha dengan kalimatnya. "Ganti pakaianmu dengan yang lain, Ash!"
Asha berbalik. "Memangnya ada apa dengan pakaianku?"
"Ganti saja! Aku tidak suka."
Asha terdiam ia tidak habis pikir.
Roy menatap Zaky dengan aneh, ia heran.dengan pernyataan Zaky lalu bertanya, "Apa hubungan kamu tidak suka dengan gaya berpakaian Asha?"