Masih sekolah dan menikah.
"Tidak ada angan sama sekali dalam pikiranku untuk melakukannya, apalagi menikah dengan laki - laki yang seusia dan tanpa cinta, haruskah aku menerima takdir yang telah Engkau tuliskan untukku ya Allah....", Tita Andriana.
"Harusnya aku menikah dengan gadis kecil impian gue, bukan cewek asal comot dari bunda. Dan lagi gue masih remaja, masih hura - hura, bukannya bertanggung jawab menghidupi anak gadis orang" Kennan Wijaya Atmadja.
Pernikahan di usia remaja yang masih labil akan ada banyak kesalahpahaman diantara mereka. Mampukah Tita bertahan dengan sikap Kennan yang dingin dan sulit ditebak. Ataukah Tita akan memilih ikhlas meninggalkan Kennan.....
Diusahakan sering update, dukung author dengan vote, like n komen ya...
Masih sering proses revisi.🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Tengyu so much readers😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Galau yang Terobati
Tita memutuskan untuk mampir ke kafe yang dulu menjadi tempatnya bekerja paruh waktu sepulang dari sekolah.
Dia duduk termenung setelah beberapa saat lalu menyusuri jalan tak tentu arah sepulang sekolah.
Dia bimbang, Hani sudah pulang lebih dulu, sedangkan jika pulang dia bingung harus berbuat apa.
Pekerjaan rumah sudah dikerjakan Mbok Darmi dan Mbak Rani. Mau memasak atau buat kue seperti yang dilakukannya di panti asuhan, tidak mungkin.
Mood Tita sedang tidak baik apalagi kalau Bunda di rumah pasti Tita dimanja tidak diperbolehkan bekerja, dan hanya akan membuat suami kulkas dua pintu semakin sengit melihatnya. Tita tidak bisa berbuat apa - apa selain bengong di kamar. Hal yang paling menyebalkan bagi Tita.
Tita sudah hafal dengan tata letak kafe yang beberapa bulan lalu masih menjadi tempatnya bekerja paruh waktu, karena pernikahan mendadaknya akhirnya dia memutuskan untuk berhenti.
Tita memilih duduk di pojok yang tidak terlalu terekspose namun bisa leluasa memandang ke luar dinding kaca untuk membuang pikiran yang sedang berkecamuk di dadanya.
Entah apa yanag dipandangnya, hanya menatap jalanan yang dipenuhi orang berlalu lalang dan kendaraan yang lewat. Tak henti dia mengaduk oreo milkshake yang dia pesan sebelumnya.
Merenungi hari - harinya beberapa bulan ini sebagai seorang isteri dari lelaki yang usianya sebaya dengannya, tanpa ada cinta di dalamnya.
Bahkan sikap dingin sang suami membuat Tita tidak mampu untuk mendekati maupun mengenalnya lebih dekat. Mereka seperti orang asing yang hidup bersama, tanpa sapa maupun kata.
Kalo di novel remaja yang Tita baca, biasanya pernikahan karena dijodohkan saling memberi perhatian dan kehangatan di depan keluarga tapi tidak untuk pernikahannya. Bisa dikatakan mereka saling menghindar, entah berapa kali Tita berusaha menerobos tembok yang dibangun suami dinginnya itu hanya menambah Kennan semakin jauh menghindar.
Hah,Tita membuang nafas kasar.
Kalo saja aku mau sedikit melanggar wejangan nenek mungkin aku tidak akan mengalami ini. Aku bisa saja dekat dengan Andra, berkompromi dengan keadaan. Kalaupun aku harus mengalami pernikahan di usia belia setidaknya aku nyaman dengan cowok itu. Urusan cinta bisa disemai sambil berjalan. Dengan adanya cinta, perhatian bahkan kepedulian dari Andra bukankah tidak sulit untuk menumbuhkan rasa di hatiku. Bukankah ada pepatah cinta ada karena terbiasa....(He...he...he Tita berandai andai)
Tidak seperti saat ini.... jangankan perhatian atau setidaknya sedikit saja rasa peduli. Yang ada hanyalah pagar tembok kebencian yang semakin menjulang tinggi.
Mengingat Andra, membuat mata Tita sedikit berair, tenggorokannya berasa kering. Tita pun menyeruput oreo milkshake yang sudah sejak tadi diaduknya.
Masih ingat bagaimana reaksi Andra tadi siang, ahh....betapa dia sangat jahat terhadap cowok baik itu.
Tita hanyalah seorang gadis remaja yang menginginkan kondisi seperti yang diinginkan layaknya gadis seusianya. Tanpa harus berpikir berat.
Bagaimana itu tidak berat jika selama pernikahannya banyak hati yang harus dia jaga.
Perasaan ayah bunda mertua yang sudah menyayanginya seperti anak kandung sendiri.
Naura yang selalu tersenyum ceria saat bersamanya, mungkin dia menemukan seorang kakak perempuan yang bisa diajak bicara, berbagi layaknya teman. Tidak seperti Kak Vina yang usianya terpaut jauh yang bisanya hanya menggurui, kata Naura yang lebih suka dipanggil Rara.
Perasaan Bik Masih dan Pak Udin yang sudah merawatnya, mengharapkan kebahagiaan darinya.
Dan lagi menjaga perasaan suami dinginnya yang paling penting. Bukan hanya perasaan melainkan segala nya harus dia jaga. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki jangan sampai Tita membuat kesalahan yang membuat salah paham antara dirinya dan suami es baloknya.
Kalau saja cowok itu mau sedikit saja bersuara dengannya, mungkin memberi tahu apa yang disukai atau tidak disukainya, apa yang boleh ataupun tidak diperbolehkannya, membuat aturan yang Tita bisa membaca dan memahami mungkin. Setidaknya Tita mempunyai rambu untuk menentukan cara berikap. Pasti tidak akan seberat ini beban pikiran Tita.
Tita memfokuskan pandangannya saat melihat seorang ibu - ibu berpakaian lusuh tanpa alas kaki menggendong anak kecil berjalan mengelilingi kendaraan yang berhenti karena lampu merah senang menyala. Wajahnya terlihat sangat lelah.
"Astagfirullahaladzimi", Tita refleks beristigfar dengan mengusap dadanya "Kenapa aku tidak bersyukur sama sekali", gumamnya pelan.
Bagaimanapun mereka sudah terlanjur menikah, hanya bisa untuk dijalani. Kenapa Tita hanya mengeluarkan keluhan padahal nikmat Allah yang melimpah sudah dia dapatkan dibanding orang diluaran sana.
Tanpa sadar kristal bening mengaburkan pandangan Tita. Diapun menunduk mengusapnya pelan, sedikit terisak membuat dadanya sedikit perih.
"Papa...mama...Tita kangen", gumamnya lirih.
...🍭🍭🍭🍭...
"Tita", suara bariton cowok yang terdengar tidak asing memanggil namanya.
Tita yang semula menunduk mengangkat kepalanya dan....
"Kak Putra", Tita terkejut.
"Kamu ngapain? lama gak ketemu, apa kabar?!", berondong cowok yang langsung mengambil tempat duduk di depannya tanpa permisi.
Tita tersenyum tipis sedikit malu kemudian menghapus jejak cairan bening yang mungkin tertinggal di sana.
Putra seakan tidak peduli dengan Kondisi Tita yang sembab seperti menangis. Dia pura - pura tidak tahu karena jika Putra menunjukkan rasa peduli pasti Tita tidak akan jujur. Putra sudah hafal dengan tabiat Tita yang tidak mau terbuka walaupun dia memiliki masalah seberat Gunung Merapi.
(Emang author sudah tahu seberat apa gunung merapi.... terserah author lah. suka - suka😃😃)
"Tita baik - baik aja Kak, gimana Kakak?" Tita.
"Everything so good", Putra sok ngebule.
Tita tersenyum, "Syukurlah...kafe rame?"
"Alhamdulillah, masih bisa buat menabung", jawab Putra tersenyum manis.
Titapun tersenyum, "Kangen juga ternyata", Tita bergumam sambil memindai kafe yang dulu membantunya mengisi waktu luang sehingga tidak ada waktu buat Tita bersedih mengingat masa lalu.
"Kangen sama gue...Kakak emang ngangenin?", Putra menggoda saat mendengar Tita bergumam kangen.
Tita mendelik, "Ndak ya... kangen sama suasana kafelah", Tita mengibaskan tangannya.
"Kak Putra kepedean ih...", Tita mengerucutkan bibirnya.
Putra tersenyum, dia senang dapat menggoda Tita.
"Ehm...Winda sama Fadhil masih di sini Kak?", Tita bertanya.
"Masih. Mereka shift pagi hari ini. Sore itu anak - anak baru", Putra menunjuk dengan dagunya.
"Oww...pantesan, gak ada yang kenal", Tita
"Kamu gak pengen kerja lagi?", Putra bertanya karena tahu bahwa selama mengenal Tita, gadis itu tidak menyukai waktu luang.
"Nanti tanya suami dulu", Tita terbuka karena dia memang mengatakan akan menikah saat meminta izin untuk berhenti bekerja dari kafe.
Putra mengangguk mengerti, "Ya harus itu....Izin suami itu penting, daripada membuat salah paham".
Tita mengangguk dengan senyum tipis. Lalu memandang ke luar, " Loh kok hujan....".
Mendengar itu, Putra pun memandang keluar melalui dinding kaca dan memang di luar hujan turun.
"Sepertinya akan lebat dan lama", Putra mengamati langit di luar yang tiba - tiba menggelap.
"Ya... sepertinya begitu", Tita membenarkan.
Putra mengangguk setuju.
"Tita numpang kamar ganti ya Kak, mau sholat ashar. Takut hujannya lama", Tita meminta izin.
"Yoo... masih tau tempatnya kan?!" Putra.
Dijawab Tita dengan senyuman.
...🍭🍭🍭🍭...
"Ta...bisa minta tolong?", Putra bertanya saat Tita keluar selesai sholat.
"Ya...tolongin apa Kak?", Tita
Putra menunjuk dengan dagu suasana kafe.
Tita terbelalak melihat pengunjung kafe yang sangat ramai, "Alhamdulillah....siap bos. Kerja baik gaji naik".
Tita langsung memakai apron yang berlogo kafe untuk melindungi seragam sekolahnya yang berwarna putih.
Dengan sigap Tita melayani pengunjung, mulai dari mencatat pesanan hingga mengantarkan pesanan.
Tidak butuh waktu lama untuk Tita menyesuaikan diri dengan kondisi kafe. Dengan gesit dia membantu menyelesaikan pekerjaan meskipun pengunjungnya sangat ramai. Tita menunjukkan sikap yang ramah dan tidak canggung dalam melayani pengunjung yang sebagian besar adalah anak remaja itu.
Putra tersenyum melihat Tita yang semangat untuk bekerja.
"Semoga ini mengalihkan kesedihan Ta", Putra menggumam lirih.
🍨🍨🍨🍨
Like
Vote
Komen
Tambahkan favorit❤
Tengyu so much sudah mau mampir😍😍😍
..selalu sehat walat. sukses selalu dan terus semangat berkarya. .💪🏻💪🏻🔥