NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:55.2k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Van, kami balik dulu, ya," ucap Yasmine pelan. Suaranya terdengar canggung, seolah ingin cepat-cepat pergi dari suasana yang terasa mencekam itu.

"Iya, Mbak, kami juga balik dulu. Assalamu’alaikum," timpal Jefri cepat, diikuti anggukan kecil dari Bisma yang tampak tak enak hati.

Vana mengangguk pelan, berusaha tersenyum meski wajahnya masih tegang. "Iya. Hati-hati di jalan, ya."

Ketiganya segera melangkah pergi, meninggalkan area parkir itu bersama udara berat yang masih menggantung. Kini hanya tersisa Vana, Leo, Aksa, Aska, Agam, dan Kenan.

Leo berdiri diam beberapa saat, menatap kedua anaknya dengan pandangan yang serius tapi lelah. Napasnya ditarik panjang, seperti menahan segala kekesalan dan kelelahan dari setiap gebrakan terbaru dari kedua anaknya ini, dan belum lagi pekerjaan dikantor yang membuat nya semakin pusing.

"Masuk mobil sekarang!. Kita pulang,"ucap Leo akhirnya, tegas dan tanpa nada kompromi.

Kedua remaja itu spontan mengangkat kepala, mata mereka basah menatap sang ayah. Entah kenapa, akhir-akhir ini air mata terasa begitu mudah keluar — seolah setiap kata keras dari Leo langsung mengetuk perasaan mereka.

"Adek mau sama Mami, Pi…" suara Aska lirih, nyaris seperti bisikan.

"Maafin Abang, Pi," sambung Aksa pelan, menunduk. "Abang cuma mau ketemu sama Mami aja…"

Leo tak langsung menjawab. Pandangannya hanya bergeser sebentar ke arah Vana yang berdiri di belakang Aksa dan Aska. Udara di antara mereka seperti berhenti; hanya suara kendaraan yang sedang melintas dan langkah pejalan kaki yang mondar mandir disekitar area itu.

"Masuk,"ucap Leo lagi, kali ini lebih pelan tapi tetap tak bisa ditolak.

"Tenang Le, lo buat mereka takut. "ujar Agam perlahan, mencoba menenangkan.

"Papi bilang masuk ke mobil sekarang. Jangan pancing emosi papi. papi udah cukup lelah sama pekerjaan papi. " ucap Leo tanpa menghiraukan ucapan Agam.

Kenan menepuk bahu Leo pelan. "Tenang dulu, Le. Jangan kebawa emosi."

Agam ikut menengahi dengan suara rendah, "Sebaiknya kalian masuk ke mobil dulu," ucapnya pada Aksa dan Aksa.

Aksa dan Aska saling berpandangan — cemas, ragu, lalu akhirnya menurut. Mereka berjalan ke arah mobil dengan langkah berat. Agam segera membukakan pintu belakang, membantu keduanya masuk tanpa banyak bicara. Kenan berdiri di sisi kanan, menatap kosong ke jalan, wajahnya tegang tapi tak berucap.

Begitu pintu mobil tertutup, Leo menarik napas panjang dan memejamkan mata sejenak. “Kamu juga ikut,” katanya tiba-tiba.

Vana tertegun. “Aku?” tanyanya pelan, nyaris tak percaya.

Leo hanya menatap sekilas, tak menjawab.

Vana menoleh pada Kenan dan Agam, mencari dukungan. Keduanya hanya memberi anggukan kecil — isyarat agar ia menurut.

Tanpa banyak bicara lagi, Vana melangkah masuk ke mobil. Leo menyusul, duduk di tengah bersama Leo, sementara itu Kenan yang kini memegang kemudi. Agam duduk di sisi depan, diam dengan pandangan lurus.

Mobil melaju pelan meninggalkan area parkir. Di dalam kabin, suasana sunyi benar-benar mencekik. Aksa dan Aska duduk diam di kursi belakang, mata mereka sembab. Leo menatap lurus ke depan, sementara Vana menunduk, jemarinya saling menggenggam di pangkuan.

Aksa dan Aska duduk diam di kursi belakang, mata mereka sembab. Vana di depan mereka, menunduk, menggenggam jemarinya sendiri yang bergetar. Leo menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.

"Pi…" suara Aska pelan, nyaris tak terdengar.

Leo tak menoleh. "Kenapa?" tanyanya tanpa ekspresi.

"Kalau… kalau kami salah, maafin kami ya, Pi. Tapi… kami cuma pengen deket sama Mami. Nggak pengen bikin Papi marah." ucap Aska.

"Kita bicarakan dirumah. " jawab singkat Leo.

Vana dan kedua remaja itu hanya terdiam mendengarkan jawaban Leo. Di depan mereka, Agam dan Kenan sama-sama menghela napas panjang, seolah sudah kehabisan tenaga menghadapi situasi ini.

Tiga puluh menit kemudian,

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan rumah besar milik Leo. Begitu kendaraan berhenti sempurna, para pengawal segera maju dan membukakan pintu.

Leo turun pertama, tatapannya tajam dan dingin. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung melangkah masuk, meninggalkan mereka semua di belakang.

Aksa menelan ludah, wajahnya pucat. "Mi… abang takut." ucapnya.

"Adek juga…" Aska menimpali lirih, merapatkan badannya pada Vana.

Keduanya menggenggam tangan Vana erat-erat. Melihat kemarahan Leo barusan saja sudah cukup membuat lutut mereka lemas.

Vana mengusap kepala keduanya pelan. "Jangankan kalian… mami juga takut, sayang." ujar Vana.

Sungguh ia juga sangat takut melihat tatapan Leo yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.

Agam menyandarkan satu tangan ke pinggang sambil menghela napas. "Masuk aja. Singa itu nggak bakal makan kalian."

Kenan mendengus. "Udah Om bilang jangan bikin ulah, tapi kalian nggak mau dengerin. Ya udah… tanggung sendiri deh risikonya."timbal Kenan membuat Aksa dan Aska menghela nafas.

Agam menatap Kenan tajam. "Nggak usah didengerin om kalian itu. Ayo, masuk. Cepetan."

Aksa dan Aska saling pandang, lalu kembali menatap Vana dengan wajah memelas.

Vana mengangguk kecil. "Ayo, Mami ikut." ucapnya.

Mereka bertiga berjalan masuk perlahan, seolah tengah melangkah menuju sarang singa yang siap mengamuk. Sesampainya di ruang tamu rumah mewah itu, sosok Leo tak terlihat. Hanya beberapa pelayan yang berdiri menanti.

"Tuan besar kalian di mana?" tanya Agam.

"Tuan besar ada di ruang kerja, Tuan. Beliau juga meminta Tuan Agam dan Tuan Kenan menemui beliau segera," jawab salah satu pelayan, membuat Agam dan Kenan saling berpandangan.

"Ada apa lagi ini?" gumam Kenan, keningnya berkerut. Tumben sekali sahabatnya itu memanggilnya ke ruang kerja.

Agam mengangkat bahu. "Entahlah. Lebih baik kita temui dia sebelum kita jadi santapannya."

Kenan mengangguk setuju.

Sebelum beranjak, Agam menoleh pada dua bocah di samping Vana.

"Bawa Mami kalian bersenang-senang dulu, ya. Uncle sama Om Kenan mau ketemu Papi kalian dulu."ucap Agam.

"Oke, Uncle!" jawab keduanya kompak.

Kenan dan Agam kemudian melangkah menuju ruang kerja Leo—ruangan yang menjadi saksi bisu keseharian Leo, tempat dimana pria itu selalu menarik napas terakhir untuk menenangkan pikirannya.

Kini, di ruang tamu besar itu hanya tersisa Vana, Aksa, Aska, dan beberapa pelayan yang berdiri rapi. Suasana hening, hanya terdengar detak jam dinding yang terasa semakin keras.

Vana menatap kedua remaja itu dengan kedua tangan berkacak pinggang. Ada nada pura-pura marah dalam suaranya, tapi sorot matanya mengandung kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan..

"Bagus, ya, kalian berdua. Lagi sakit malah keluyuran. Keluar rumah tanpa izin Papi kalian pula."ucap Vana membuat keduanya langsung berbalik.

Aksa dan Aska meneguk ludah kasar mereka, melihat tatap Vana. Kali ini mereka lebih takut dengan kemarahan Vana di bandingkan kemarahan papi mereka tadi.

Tak disangka, Aksa dan Aska langsung jatuh berlutut di depan Vana sambil memegang telinga mereka. Gerakan itu begitu mendadak hingga Vana dan juga para pelayan membelalakkan mata mereka.

"A-apa… yang kalian lakukan?" Vana mundur selangkah, terkejut.

Aksa menunduk dalam-dalam. "Maafin Abang, Mi… Abang cuma mau ketemu Mami." ucapnya dengan penuh penyesalan.

"Iya, Mi… Adek kangen sama Mami. Tadi Adek udah minta izin sama Om Kenan, tapi Om nggak bolehin… jadi Adek sama Abang kabur aja."tutur Aska.

Vana langsung jongkok, mencoba menarik tangan mereka agar berdiri.

"Berdiri dulu, kalian. Kenapa berlutut kayak gini? " ucapnya.

Namun keduanya justru menggeleng keras.

"Nggak, Mi. Kami sadar kami salah." Aksa tetap menunduk.

"Iya, Mi… Adek juga salah." sahut Aska dengan suara bergetar.

Para pelayan saling pandang, terkejut melihat kedua tuan muda mereka yang biasanya begitu keras kepala kini menjadi sangat patuh dan penurut.

"Ini beneran, kan? Kita nggak salah lihat, kan?" bisik salah satu pelayan pada pelayan lain dengan tak percaya dengan apa yang mereka liat.

"Baru kali ini kedua tuan muda kita tunduk sama seorang perempuan."sahut pelayan satu lagi, tanpa mereka sadari Aksa telah mendengar semua ucapan mereka.

Aksa mendongak, menatap mereka dengan tatapan dingin yang langsung membuat pelayan itu kaku di tempat.

"Dia Mami kami." katanya tegas.

"Dia tidak sama dengan perempuan di luar sana."ucap Aksa tajam.

Hening.

Semua pelayan menunduk serempak, tak ada yang berani mengangkat wajah sedetik pun.

Bersambung,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!