Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Area kedatangan VIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta pagi itu tampak begitu lenggang dan dijaga ketat. Mobil Rolls-Royce hitam milikku sudah terparkir rapi di tempat khusus. Aku berdiri menanti di lorong privat bersama dua orang pengawal pribadi yang bersiaga beberapa langkah di belakangku.
Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Pesawat jet pribadi yang membawa Kak Olan dari Singapura akhirnya tiba.
Namun, di balik perasaan legaku karena akan bertemu kembali dengan kakak kandungku, ada satu desiran cemas yang perlahan merayapi dadaku. Rasa cemas itu muncul bukan karena Kak Olan, melainkan karena sosok lain yang hampir bisa dipastikan mengekor bersama kakakku.
Siapa lagi kalau bukan Ko Felix atau nama lengkapnya Felix William Tan.
Pria keturunan Tionghoa yang usianya dua tahun lebih tua dari Kak Olan itu adalah sahabat karib sekaligus mitra bisnis Kak Olan di Singapura. Di mana ada Kak Olan, di situ pasti ada Ko Felix. Mereka menangani hampir seluruh ekspansi bisnis investasi keluarga kami di luar negeri, mulai dari pasar modal Singapura, London, hingga proyek properti megah di kawasan Asia Tenggara.
Masalahnya, jika Kak Olan saja sudah cukup membuat lawan bisnisnya gentar, Ko Felix berada di tingkatan yang lebih mengerikan.
Pria itu berwajah sangat rupawan dengan struktur rahang yang tegas dan kulit putih bersih. Namun, aura di sekelilingnya selalu terasa dingin membeku.
Wajahnya nyaris tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun datar, kaku, tanpa senyum dan matanya... mata tajam berwarna cokelat gelap itu bagaikan mata burung elang yang siap mencengkeram mangsanya tanpa ampun.
Jujur saja, meskipun aku dikenal sebagai CEO Glowinc Group yang tegas di depan para staf dan musuh-musuhku, di hadapan Ko Felix, aku selalu merasa seperti seorang adik kecil yang siap dihakimi kapan saja.
"Semoga saja Ko Felix ada urusan lain di Singapura dan tidak ikut pulang ke Jakarta," batinku berdoa dalam hati.
Namun, doa pelanku itu seketika sirna ketika pintu kaca kedatangan VIP bergeser terbuka secara otomatis.
Dua orang pria melangkah keluar dengan irama kaki yang berwibawa dan penuh dominasi. Di sebelah kiri, Kak Olan tampak gagah mengenakan coat hitam panjang dengan kemeja putih tanpa dasi, rambutnya ditata rapi ke belakang.
Dan di sebelah kanannya... sosok tinggi menjulang dengan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit kelas atas Savile Row melangkah anggun.
Ko Felix Tan.
Pria itu benar-benar ikut pulang.
"Tita!" panggil Kak Olan, wajah tegasnya seketika mencair menjadi kehangatan penuh kerinduan saat matanya menangkap keberadaanku.
Kak Olan mempercepat langkahnya, melepas kaca mata hitamnya, lalu merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangat seorang kakak. Aku membalas pelukannya erat, menghirup aroma parfum kayu cedarwood khas milik Kak Olan yang selalu memberikanku rasa aman.
"Adik manis Kakak..." bisik Kak Olan lembut di dekat telingaku, mengelus rambutku. "Maafkan Kakak ya, baru bisa pulang sekarang."
"Nggak apa-apa, Kak Olan," sahutku pelan saat pelukan kami terlepas. "Tita senang Kakak pulang."
"Kamu tidak apa-apa, kan? Pria brengsek itu tidak menyakitimu secara fisik, kan?" cecar Kak Olan, jemarinya memegangi kedua bahuku, memeriksa penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan aku dalam keadaan utuh.
"Tita baik-baik saja, Kak. Semua sudah Tita selesaikan dengan bantuan tim hukum," jawabku menenangkan.
Saat itulah, sebuah bayangan tinggi perlahan menutupi pantulan cahaya matahari di depanku.
Suhu udara di sekitarku rasanya mendadak anjlok beberapa derajat. Aku menelan ludah parau, mengalihkan pandanganku perlahan dari Kak Olan ke arah pria yang kini berdiri tepat di samping kakakku.
Ko Felix berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana kainnya. Posturnya yang tinggi atletis serta bahunya yang tegap membuatnya tampak sangat mengintimidasi. Wajah tampannya benar-benar bersih dari senyuman, datar dan dingin bagaikan patung marmer mahal.
Dan tatapan mata elang itu... mata cokelat gelapnya yang tajam menusuk langsung menatap ke arahku. Tidak ada kehangatan di sana, hanya ada kecerdasan murni dan kecermatan yang sanggup membongkar kebohongan siapa pun dalam hitungan detik.
Aku merinding seketika. Bulu kuduk di leherku berdiri secara refleks. Tatapan mata Ko Felix benar-benar sukses membuatku merasa ngeri dan cemas secara bersamaan.
"Halo... Ko Felix," sapaku memberanikan diri, menyunggingkan senyum sopan walau terasa sedikit kaku di bibirku.
Ko Felix tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati wajahku selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan menyiksa. Tatapan mata elangnya menyapu penampilanku, seolah sedang menilai seberapa besar rasa sakit atau trauma yang kusembunyikan di balik riasan tipisku.
"Kamu makin kurus, Titania," ucap Ko Felix akhirnya. Suaranya terdengar berat, dalam, dan teramat dingin, tanpa ada intonasi ramah sama sekali.
"Ah... iya, Ko. Efek pekerjaan kantor agak padat belakangan ini," sahutku beralasan, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap terdengar tenang.
"Bukan karena pekerjaan," potong Ko Felix cepat dengan nada datar yang menusuk. "Tapi karena kamu membiarkan pria parasit hidup di sekitarmu terlalu lama."
Jleb.
Kalimat singkat itu mendarat tepat di dadaku. Tidak ada kata manis atau basa-basi dari mulut seorang Felix Tan. Pria itu selalu melontarkan fakta mentah yang paling pahit tanpa peduli perasaan orang di hadapannya.
Kak Olan yang mengerti ketakutanku pada sahabatnya hanya terkekeh pelan, menepuk bahu tegap Ko Felix. "Felix, jangan menakut-nakuti adikku. Dia baru saja lepas dari masalah besar."
Ko Felix hanya menarik napas pendek dari hidungnya, mengalihkan pandangan mata elangnya ke arah luar terminal VIP di mana mobil Rolls-Royce kami sudah menunggu. "Saya tidak menakut-nakutinya, Olan. Saya cuma menyebutkan fakta."
"Ayo, kita masuk ke mobil dulu. Udara Jakarta panas sekali hari ini," ajak Kak Olan, merangkul bahuku dan membimbingku melangkah menuju mobil.
Selama berjalan menuju mobil, aku bisa merasakan keberadaan Ko Felix yang mengekor tepat di belakang kami. Langkah kakinya begitu mantap dan tidak bersuara, memancarkan dominasi yang membuat para petugas VIP dan pengawal pribadi di sekeliling kami secara refleks menundukkan kepala saat ia melintas.
Pintu mobil Rolls-Royce dibukakan oleh pengawal. Kak Olan masuk terlebih dahulu dan duduk di kursi belakang sebelah kanan, disusul olehku di tengah, dan Ko Felix di sebelah kiri.
Suasana di dalam kabin mobil yang luas itu mendadak menjadi sangat sunyi dan penuh tensi.
Sopir perlahan menjalankan kendaraan membelah jalan tol menuju pusat kota Jakarta. Kak Olan merengkuh jemariku, menatapku dengan binar mata yang kini berubah penuh dendam dan kebencian yang mendidih.
"Kakak sudah dengar laporan dari Siska tadi pagi," ucap Kak Olan dengan nada suara yang merendah, sarat akan bahaya. "Ibu Rahma sudah kamu usir dari rumah utama, kan?"
"Sudah, Kak," jawabku pelan. "Semua aset perhiasan dan barang-barang berharga yang dibeli Aris pakai uang penggelapan sudah disita oleh tim hukum."
"Bagus," puji Kak Olan dengan senyum miring yang dingin. "Tapi itu baru pembuka. Pria brengsek bernama Aris Pratama itu harus membayar harga yang jauh lebih mahal atas apa yang sudah dia lakukan padamu selama bertahun-tahun ini."
Kak Olan mengepal tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Siang ini, setelah kita makan siang bersama Mami dan Papi di penthouse, Kakak akan langsung mendatangi kantor polisi tempat Aris ditahan," tegas Kak Olan dengan mata berbinar penuh amarah. "Kakak sudah mengatur izin khusus untuk masuk ke sel tahanannya tanpa ada kamera atau pengawasan petugas."
Mendengar ucapan Kak Olan, jantungku berdegup kencang. Aku tahu betul bahwa Kak Olan akan menggunakan tangan dinginnya untuk menghajar Aris hingga babak belur di dalam sana.
Namun, perhatianku seketika teralih pada sosok pria yang duduk di sebelah kiriku.
Ko Felix menyandarkan tubuh tingginya di kursi kulit, menyilangkan tangannya di dada. Mata elangnya menatap lurus ke luar jendela mobil, namun raut wajah kaku dan dinginnya memancarkan ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan meluap-luap milik Kak Olan.
"File rekam medis, laporan penggelapan dana, serta daftar aset atas nama Larasati sudah ada di tablet saya," ucap Ko Felix tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat tenang namun bagaikan hembusan angin es dari kutub. "Saya sudah menghubungi koneksi kita di tingkat pimpinan kepolisian daerah. Penjara untuk Aris Pratama tidak akan menjadi tempat menunggu persidangan yang nyaman."
Aku menelan ludah parau, melirik Ko Felix dari sudut mataku.
Di dalam hati, aku mulai membayangkan betapa mengerikannya situasi jika Ko Felix ikut melangkahkan kakinya ke dalam sel tahanan Aris bersama Kak Olan.
Kak Olan mungkin akan menghajar fisik Aris dengan kepalan tangannya, tetapi Ko Felix... pria berdarah dingin ini sanggup mematahkan mental dan menghancurkan sisa hidup seseorang hanya dengan beberapa perintah singkat kepada jaringan kekuasaannya.
"Tuhan... tolong jangan sampai Ko Felix ikut ke sel tahanan nanti", batinku menjerit panik.
Aku benar-benar berharap Kak Olan pergi sendirian atau paling tidak Ko Felix ada urusan bisnis lain di Jakarta sore nanti. Jika sampai dua singa berdarah dingin ini masuk bersamaan ke dalam sel Aris, aku bahkan tidak tahu apakah Aris masih bisa keluar dari tempat itu dalam keadaan bernapas dengan benar.
"Kenapa, Titania?"
Suara dingin Ko Felix tiba-tiba memecah keheningan kabin mobil.
Aku terlonjak kaget, mendapati mata elang Ko Felix kini sudah kembali tertuju padaku. Pria itu menyadari lirikan cemas dan ketakutan kecil yang memancar dari mataku.
"A-apa, Ko?" tanyaku gugup.
"Kamu dari tadi melirik saya," kata Ko Felix tanpa mengubah ekspresi wajah kakunya sedetik pun. "Kamu takut saya ikut kakakmu memberi pelajaran pada mantan suamimu?"
Aku membeku di tempat, bingung harus menjawab apa. Pria ini benar-benar punya kemampuan membaca pikiran yang sangat menakutkan.
Kak Olan tertawa renyah melihat reaksiku, lalu mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Jangan takut, Tita. Felix ini memang mukanya seperti algojo, tapi dia sangat menyayangimu seperti adiknya sendiri. Dia yang paling marah sewaktu dengar berita Aris selingkuh kemarin."
"Saya cuma tidak suka ada orang tidak tahu diri yang berani menyentuh atau merugikan aset milik keluarga ini," koreksi Ko Felix datar dan penuh gengsi, walau aku tahu di balik kalimat kaku itu ada rasa perlindungan yang luar biasa besar untuk keluargaku.
Ko Felix membuang pandangannya kembali ke jendela luar.
"Lagipula..." gumam Ko Felix pelan, suaranya mengandung nada dingin yang membuat bulu kudukku kembali berdiri. "Menghancurkan pria sampah seperti Aris tidak butuh waktu lama. Satu jam di dalam sel bersamanya sudah lebih dari cukup untuk membuat pria itu menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini."
Aku memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang.
Aris Pratama mungkin mengira bahwa hidupnya sudah berada di titik terendah karena mendekam di sel polisi dan kehilangan harta. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa takdir yang jauh lebih kelam sedang melaju cepat menghampirinya.
Dua pria paling berkuasa dan berdarah dingin di kehidupanku sudah tiba di Jakarta, dan masa depan Aris baru saja ditandatangani di atas kertas neraka.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣