NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Ditentang Takdir

Ketika Cinta Ditentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Persahabatan / Angst / Romansa / Roh Supernatural / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.

Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.

Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.

Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.

Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Terpaksa

Sherin pura-pura kaget, menutup mulutnya seolah baru saja keceplosan. "Ah, itu… cuma masa lalu, kok. Seorang penyanyi kafe yang dulu dekat dengan Kak Laras. Dia mengalami kecelakaan dan koma. Lalu tiba-tiba ada keluarga yang mengaku membawanya pergi. Kak Laras sampai sekarang masih berusaha mencarinya."

Wati menghela napas panjang. "Laras terlalu terikat pada masa lalu. Kasihan, sebenarnya. Dia belum bisa move on. Padahal, kalau dia mau lebih terbuka, banyak pria baik di luar sana yang lebih pantas untuknya."

Edward mendengarkan dengan ekspresi datar, tapi sorot matanya tetap tajam, menganalisis setiap kata yang keluar dari mulut ibu dan anak itu. Semakin mereka berbicara, semakin jelas baginya bahwa mereka sedang berusaha mengalihkan perhatiannya dari Laras—dan mengarahkannya ke Sherin.

Senyum Edward tetap terpasang, tetapi pemahamannya semakin dalam.

Jadi ini alasannya… Mereka ingin aku menjauh dari Laras dan lebih memilih Sherin?

Edward menyesap kopinya perlahan, tidak langsung bereaksi, tapi sudah menangkap maksud tersembunyi dari percakapan ini.

"Jadi, Bayu sudah pergi?" tanyanya pelan, tetap mempertahankan nada santai.

Sherin mengangguk, berharap Edward kehilangan minatnya pada Laras. "Iya. Nggak tahu ke mana, tapi Kak Laras masih saja mencintainya."

Dengan nada ringan, Edward berkata, "Menarik sekali. Laras tampaknya wanita yang setia, ya? Tidak mudah melupakan seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya."

Sherin tersenyum kaku. "Iya… mungkin begitu."

Edward menatapnya dalam. "Tapi kalau Bayu memang sudah pergi, bukankah itu berarti Laras sedang sendiri sekarang?"

Sherin berusaha tersenyum, tapi ada kegelisahan di matanya. "Makanya, kalau Pak Edward mencari seseorang yang lebih bisa diajak bekerja sama, yang lebih terbuka… saya pikir—"

"Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang Laras," potong Edward halus, tapi tegas.

Sekejap, Sherin dan Wati membeku. Mereka saling bertukar pandang, menyadari bahwa usaha mereka baru saja gagal.

Edward mengangkat cangkirnya, menyesap kopinya perlahan. Dalam hatinya, ia justru semakin tertarik. Jika Laras memang ‘bermasalah’ seperti yang mereka katakan, kenapa mereka sampai repot-repot menjelekkan gadis itu?

Semakin mereka mencoba menjauhkannya dari Laras, semakin ia ingin mendekat.

***

Malam itu, di rumah Darma

Darma sedang bersantai di ruang tamu ketika suara bel rumah berbunyi. Wati yang sedang membereskan meja makan menoleh ke arah pintu, wajahnya penuh rasa penasaran. Sherin yang sejak tadi bermain dengan ponselnya pun ikut mendongak.

"Ayah aja yang buka," kata Darma bersemangat, berjalan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, sosok Edward berdiri di sana, mengenakan jas kasual yang tetap memancarkan wibawa. Senyumnya terulas tipis, namun ada ketegasan dalam sorot matanya.

"Pak Edward?" Darma terkejut, tapi segera tersenyum lebar. "Wah, ada angin apa malam-malam datang ke sini? Silakan masuk!"

Edward mengangguk sopan. "Terima kasih, Pak Darma. Tapi saya tidak ingin berlama-lama. Saya ke sini untuk menemui Laras."

Darma mengerutkan kening, sedikit heran. "Laras? Ada apa dengannya?"

Sebelum Edward menjawab, Laras muncul dari dalam, mengenakan kaus sederhana dan celana longgar. Rambutnya masih sedikit lembap, tampaknya baru saja selesai mandi. Saat melihat Edward berdiri di ambang pintu, ekspresi Laras langsung mengeras.

"Ada perlu apa, Pak Edward?" tanyanya dingin.

Edward tidak mengalihkan pandangannya darinya. Dengan nada tenang, ia berkata, "Aku ingin mengajakmu makan malam."

Ruangan mendadak sunyi.

Sherin yang sejak tadi berdiri di belakang Wati meremas jemarinya dengan erat, matanya sedikit membelalak.

Makan malam? Dengan Kak Laras?

Wati yang juga terkejut buru-buru menenangkan ekspresinya. Ia menoleh ke Sherin sekilas, lalu kembali memasang senyum yang dipaksakan. "Wah, kebetulan sekali, Pak Edward. Sherin juga sedang tidak ada acara malam ini. Kalau mau, biar Sherin saja yang menemani—"

"Terima kasih, Bu Wati. Tapi aku hanya ingin makan malam dengan Laras," Edward memotong dengan sopan, tapi tegas.

Darma tertawa senang, menepuk bahu Laras. "Laras, ayo pergi! Pak Edward sudah datang langsung ke rumah, masa kamu menolak?"

Laras melirik Darma, lalu kembali menatap Edward dengan tajam. "Saya tidak lapar."

Edward tersenyum kecil, seolah sudah menduga jawaban itu. "Tidak masalah. Aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu. Lagipula, angin malam cukup bagus untuk menikmati makan malam di luar, bukan?"

Laras mengepalkan tangannya, ragu. Ia bisa merasakan tatapan penuh harap dari Darma, juga kekecewaan yang terselip dalam mata Wati dan Sherin.

"Jangan menolak rezeki, Laras," ujar Darma penuh semangat. "Kapan lagi ada kesempatan makan dengan orang seperti Pak Edward?"

Laras tahu ia tidak bisa terus menghindar. Menghela napas panjang, akhirnya ia berkata, "Baiklah. Saya ambil tas dulu."

Sherin menggigit bibirnya, hatinya terasa panas melihat Laras yang dengan mudahnya mendapat perhatian Edward. Wati pun hanya bisa menutupi kekesalannya dengan senyum tipis.

Saat Laras berlalu ke kamar, Edward melirik sekilas ke arah Wati dan Sherin. Tatapan pria itu begitu tajam, seolah memahami isi hati mereka.

"Terima kasih, Pak Darma," katanya akhirnya, sebelum kembali menunggu Laras dengan kesabaran yang tak tergoyahkan.

Dan malam itu, Laras akhirnya harus menghadapi Edward yang semakin gigih mendekatinya.

Laras keluar dari kamarnya dengan wajah datar. Ia mengenakan kaus polos dan celana jeans yang terlihat nyaman, tanpa riasan sedikit pun. Rambutnya hanya dikuncir kuda asal-asalan.

Edward yang berdiri di ruang tamu melirik sekilas ke arah Laras, ekspresinya tetap tenang, tapi dalam hati ada sedikit kekecewaan. Bukan karena Laras tidak terlihat cantik—gadis itu tetap memancarkan pesonanya meski dengan penampilan seadanya—melainkan karena jelas sekali bahwa Laras tidak menganggap serius ajakannya. Dari cara berpakaian Laras, Edward tahu bahwa gadis itu terpaksa ikut.

Darma yang melihat itu langsung menghela napas. "Laras, ganti bajumu. Pasti Pak Edward mau mengajakmu ke tempat yang bagus. Masa kamu pakai baju begitu?" tegurnya.

Laras menatap ayah tanpa ekspresi. "Aku nyaman dengan pakaian ini, Yah."

Darma mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Tapi—"

"Tidak masalah," potong Edward dengan nada tenang, membuat semua orang terdiam.

Sherin dan Wati yang sedari tadi diam, saling bertukar pandang dengan kecewa. Mereka berharap Edward akan mengurungkan niatnya setelah melihat Laras tampil seadanya, tapi pria itu justru tidak keberatan sama sekali.

Sherin akhirnya tersenyum kecil, mencoba mencari celah lain. "Kak Laras memang begitu, Pak Edward. Dia tidak terlalu peduli dengan penampilan. Berbeda dengan saya yang selalu berusaha tampil rapi dan pantas di setiap kesempatan," ujarnya, menyelipkan nada merendahkan dalam kata-katanya.

Edward menoleh ke arah Sherin, matanya tajam tapi senyumnya tetap sopan. "Itu bagus, Sherin. Tapi setiap orang punya cara sendiri untuk merasa nyaman. Penampilan bukan hal utama bagiku."

Sherin terdiam, rahangnya mengatup rapat.

Wati mencoba mengendalikan suasana. "Tapi, Pak Edward… kalau Laras berpakaian lebih pantas, tentu akan lebih baik, 'kan? Setidaknya agar tidak membuat Pak Edward malu saat mengajaknya ke tempat yang bagus."

Laras menatap Wati dengan tajam. "Kalau memang aku memalukan, aku tidak perlu pergi."

Edward terkekeh pelan, merasa tertarik dengan sikap Laras yang selalu melawan. "Aku tidak mudah merasa malu, Laras."

Tatapan mereka bertemu. Edward tetap tenang, sedangkan Laras hanya bisa menahan kekesalannya.

Darma menghela napas berat. "Ya sudah, terserah kamu. Jangan buat Pak Edward menunggu lebih lama."

Laras mengangguk tanpa ekspresi, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah malas.

Edward mengikuti dari belakang, lalu sebelum keluar, ia melirik sekilas ke arah Wati dan Sherin.

"Terima kasih sudah mengizinkan Laras pergi," ucapnya dengan nada tenang, sebelum akhirnya pergi bersama gadis yang paling mereka harap tidak terpilih.

Sherin mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, hatinya terasa panas. Sedangkan Wati, meski masih tersenyum, tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

Dan di luar sana, Laras melangkah ke dalam malam dengan perasaan tak nyaman.

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
abimasta
semoga edward melepaskan laras
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apapun itu. selicik apapun rencana Sherin.. semoga itu bisa merubah niat Edward menikahi laras. bayu temukan laras secepatnya ya
abimasta
selamatka laras dar keegoisan ortunya bayyuu dan habisi edward yg sudah menabrakmu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
selamatkan laras, Bayu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
yes bayu kembali... 😭😭😭😭😭... selamatkan juga laras dari kejahatan Edward & Sherin, bayu...
syisya
ayo bay muncullah
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apakah Edward memang se maha Kuasa itu? tak adakah hukum untuknya? bisa semena-mena begitu?
Ranasartika Lacony
lsg viralin aja Bon, si Edwin
Ranasartika Lacony
lsg viralin aja Bon, si Beni
abimasta
laras lagi yang jadi korban
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apa yg laras khawatirkan pun terjadi. lekaslah sembuh bayuuu... boni & laras butuh hadirmuuuu
Dek Sri
lanjut
syisya
belum tau aja tu darma&wati kalau calon mantu yg selama ini kalian tidak restui itu adalah pewaris tunggal, bos besar..hidup laras nantinya akan bahagia tanpa dia tau perjuangan hubungan mereka selama ini tidak sia" bahwa bayu sebenarnya adalah anak orang kaya..sabar ya bon sebentar lagi semoga semua perbuatan baikmu akan dibalas oleh bayu karna dia tidak akan benar" meninggalkanmu yg sudah dianggap seperti saudara
Vincen Party
tenanglah....Bayu psti akan DTG genti membantumu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bagus laras. ayo bayu, cari solusi. semangat!
Vincen Party
jujur.....maaf TPI q GK suka cerita Edwar terlalu byk Thor.....tlng fokus ke bayu dan boni
abimasta
jangan sampai laras jatuh ke tangan edward
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bayu, kenapa kau tak meminta papamu mempertemukanmu dengan boni & laras?
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga laras berhasil menyelamatkan adiknya. semangat laras
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ini bukan naif tapi tamak. mereka akan terjebak edward
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!