Andre Pratama kalah taruhan dengan teman-temannya. Sebagai hukuman, dia harus melamar seorang wanita yang sangat tidak dia harapkan.
Namun, demi memenuhi janji dengan teman-temannya, dia melakukan lamaran tersebut. Padahal, dia masih menjalin hubungan dengan sang primadona di kampusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Tragedi
Hari kelulusan itu akhirnya datang juga, Andre bersorak gembira. Berfoto bersama teman yang lulus serentak. Tidak ketinggalan, keluarga Dewi ikut menyambut kelulusannya.
Usai acara wisuda berlangsung, mereka berencana berfoto keluarga di studio foto.
Saat keluar gedung, mata Andre bersirobok dengan mata Anggita yang tengah berjalan keluar.
"Hai ...." Anggita menyapa Andre lebih dulu. Tampak jelas sirat kerinduan dari sorot sendu Anggita padanya.
"Hai ...." Andre membalas acuh. Pandangannya dialihkan ke arah lain, guna memutus kontak mata mereka.
Entah siapa yang berjalan lebih dulu, Andre dan Anggita telah berdiri di pojokan yang sepi. Mereka berdiri berhadapan, saling mengunci pandangan di udara.
"Andre, aku minta maaf." Anggita berkata lirih. Suaranya terdengar tulus mengucap maaf.
"Sama-sama, aku juga minta maaf. Selamat ya, atas kelulusanmu." Andre mengulurkan tangan.
Anggita menyambut uluran tangan Andre dengan senyum terkembang, mereka berdua berjabat tangan dengan saling menggenggam erat.
Lantas, tidak membutuhkan waktu lebih lama lagi. Andre dan Anggita telah berada pada posisi yang saling berpelukan erat.
"Aku sayang kamu." Anggita berbisik di dada bidang Andre.
Andre tidak membalas ungkapan Anggita, dia mengelus punggung Anggita dengan perasaan sayang.
Andre mengurai pelukan mereka, lalu berdiri mundur satu langkah ke belakang.
Mata Anggita melirik sekilas, tampak Dewi tengah berdiri agak jauh dari mereka dengan tatapan nanar.
Pikiran licik muncul di kepala Anggita. Lantas, dia maju ke depan membabat jarak dengan Andre, mengecup pipi lelaki itu sekilas.
Mendapati Andre yang tidak menolak kecupan singkatnya, Anggita lalu mencium bibir Andre. Yang ternyata dibalas oleh lelaki itu. Untuk beberapa detik, mereka saling merampas napas masing-masing.
Dering ponsel mengagetkan Andre, memutus aktifitas yang dia lakukan bersama Anggita. Wajahnya merah padam, sedangkan Anggita tertunduk malu dengan senyum terkembang.
"Halo, Pa." Papa mertuanya yang menghubungi.
"Kamu di mana? Kami udah menunggu dari tadi. Orang tua beserta kakakmu juga udah berkumpul di sini." Pertanyaan Pak Bambang mengagetkan Andre. Dia lupa jika ada acara keluarga setelah ini.
"I-iya, Pa. Andre lagi jalan ke sana." Panggilan di putus sepihak.
Andre menatap Anggita gusar. "Gita, aku duluan ya. Udah ditunggu."
"Hmmm. Nanti aku hubungi kami, ya ...."
"Oke."
Andre terkesiap, saat Anggita mengecup pipinya sekilas. Lalu wajah gadis itu tertunduk malu-malu, dengan rona merah menghiasi kedua pipinya.
Sebelum pergi, Andre mengelus pucuk kepala Anggita.
Dua keluarga yang disatukan oleh pernikahan itu, sekarang sedang berfoto dengan berbagai pose.
Andr sekilas melirik Dewi yang sedari tadi wajahnya tampak murung, tidak seperti tadi pagi yang antusias menyambut kelulusannya.
"Sekarang kalian poto berdua." Ibunya Andre berbicara pada nya dan Dewi.
"Iya ...." Andre menanggapi dengan senyum Dia tidak masalah jika harus berpoto berdua dengan Dewi.
Dewi masih berdiri mematung, seperti enggan untuk berjalan ke arah Andre yang telah menunggu.
"Dew, ayoo." Andre mengulurkan tangan, mengajak Dewi mendekat padanya.
Andre dan Dewi poto dengan berbagai gaya yang diarahkan sang fotografer.
"Istrinya senyum, dong. Rileks."
Andre merangkul pinggang Dewi dari samping, kedua pandangan mereka mengarah pada kamera di depan.
Andre tersenyum lebar, dia tampak bahagia. Sedangkan Dewi, tampak sebaliknya.
Dewi terlihat kaku dan tidak bersemangat, senyumnya terkesan dipaksakan. Kejadian yang dia lihat di area gedung tadi membuat suasana hatinya kacau.
Ah, bukan hanya suasana hatinya yang kacau. Hatinya terasa tersayat-sayat. Ingin rasanya dia berteriak, lalu mencakar wajah Anggita. Namun, raganya begitu lemah. Bagaimana jika ternyata, Andre malah lebih memilih membela Anggita daripada dirinya?
Ya, pada kenyataannya, Dewi tidak pernah mengerti seberapa penting arti dirinya bagi Andre, suaminya.
Kebahagiaan yang seharusnya mereka rasakan bersama, nyatanya hanya Andre dan Anggita yang lebih berhak merasakannya. Siapakah dia dibanding Anggita untuk Andre.
Mengingat itu, wajah Dewi kembali panas. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan buliran bening di kedua pipi.
Sekuat tenaga Dewi menahan agar air mata itu tidak tumpah, dia tidak ingin dipandang oleh Andre. Walaupun, hatinya tengah merasakan sakit tak berdarah.
Andre yang menyadari perubahan Dewi, langsung menanyakan pada wanitanya.
"Dew, kamu ... enggak kenapa-kenapa, kan? Dari tadi diam aja," tanya Andre cemas dengan tangan menyentuh bahu Dewi.
Perlakuan yang Andre berikan justru merapuhkan pertahanan Dewi. Sebulir bening menetes di pipi Dewi, yang langsung diseka kasar olehnya.
"Aku, enggak papa. Mau ke toilet dulu, ya ...." Dewi berjalan cepat menuju toilet studio, mengabaikan pandangan tanya dari keluarga yang melihatnya.
Di bilik toilet, Dewi menangis. Dia menutup mulutnya dengan tangan, agar tangisnya tidak pecah dan terdengar orang lain.
Dari dulu, Dewi selalu menangis dalam diam. Dia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun. Bagi orang yang tidak memiliki kepekaan tinggi, tentulah mengira jika Dewi adalah orang yang santai dan tidak memiliki masalah apapun.
Karena setiap harinya, selalu senyum yang Dewi tampakkan di wajah. Mereka tidak pernah mengerti, jika senyum yang Dewi tampilkan adalah kekuatan baginya menyembuhkan luka.
Setelah merasa puas dan tidak ingin terlalu lama di dalam toilet. Dewi segera mencuci wajahnya, menghapus jejak basah agar tangisnya tersamarkan. Dia tidak ingin, Andre maupun keluarga yang lain merasa curiga atas perubahan sikapnya tersebut.
Dewi melangkah gontai keluar dari toilet. Sejujurnya, jika dia bisa memilih. Ingin rasanya pulang, dan menenggelamkan diri di balik selimut, atau memasak berbagai menu makanan untuk meringankan beban di hatinya.
Sayangnya, acara keluarga mereka belumlah selesai. sehingga Dewi harus menahan diri sampai acara selesai.
Dewi tersentak kaget, Sampai langkahnya mundur ke belakang mendapati Andre yang berdiri menunggunya. Padahal, dia sedang tidak ingin berbicara dengan lelaki itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Andre benar-benar khawatir melihat keadaan Dewi.
Dia tidak bisa menahan diri untuk menyembunyikan rasa cemasnya. Lantas, Andre memutuskan menyusul Dewi ke toilet, menunggunya di luar dengan gelisah. Rasanya, Andre ingin masuk ke dalam menemui Dewi, melihat keadaannya secara langsung. Kenapa Dewi begitu lama di dalam sana?
Dewi menepis tangan Andre yang berada di lengannya.
Siapa sangka, penolakan Dewi malah membuat Andre memeluknya erat.
Dewi tidak membalas pelukan suaminya tersebut.
"Aku khawatir padamu. Takut terjadi apa-apa. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja." Andre mengeratkan pelukan, mengabaikan penolakan Dewi padanya.
"Ayo, kita sudah ditunggu." Dewi mengalihkan pandangan, tak kuasa menerima tatapan sendu suaminya. Dia berjalan meninggalkan Andre di belakang.
"Dewi, kamu kenapa? Aku ada salah padamu? Wajahmu tampak murung." Andre masih berusaha meminta penjelasan. Lelaki itu mencekal lengan Dewi dengan erat.
"Sakit ... Kak." Dewi merintih kesakitan.
"Katakan, apa salahku? Pagi tadi kamu baik-baik aja, kan?" tanya Andre lagi.
"Aku enggak kenapa-kenapa. Kakak enggak salah. Aku yang salah karena telah terlalu berharap padamu. Sekarang, enggak akan lagi. Hatiku juga bisa sakit, Kak. Maafkan aku." Entah dapat kekuatan dari mana, Dewi bisa mengatakan kalimat itu di hadapan Andre. Tanpa tangis. Suaranya terdengar tegas.
Andre terpaku di tempat. Masih mencerna apa yang dikatakan Dewi padanya.
Dewi telah berlalu meninggalkan Andre.
Entah bagaimana kelanjutan kisah mereka, Dewi sudah tidak peduli lagi.